Locita

Ketika Musik Dangdut Terdengar dari Masjid Tua

SEMBURAT jingga di langit. Matahari sebentar lagi tenggelam. Kyai Saleh sedang dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis mengisi undangan ceramah maulid di pinggiran kota.

Kyai Saleh menepikan mobil ketika waktu magrib sudah tiba. Tempat yang ditujunya adalah masjid yang terletak di pinggir jalan protokol. Suara mengaji dari kaset radio tua terdengar kurang jelas.

Suasana masjid sepi. Tak ada satupun orang yang berkunjung untuk salat berjamaah kecuali satu orang saja yang usianya setua Kyai Saleh. Kyai Saleh tertegun. Padahal, di sekitar masjid itu merupakan perkampungan warga.

Kyai Saleh segera mengambil air wudhu. Satu-satunya orang yang ada di masjid itu berdiri dan mengumandangkan suara azan. Seusai azan, lelaki itu mengucapkan ikamah dan mempersilahkan Kyai Saleh menjadi imam.

“Beginilah pak. Setiap hari cuma saya yang datang ke masjid. Dulu ada empat orang jamaah tetap, termasuk saya. Dua orang sudah pindah kampung. Satu lagi sedang sakit. Tinggallah saya seorang,” demikian penjelasan lelaki tadi ketika Kyai Saleh bertanya tentang sepinya masjid.

Kyai Saleh manggut-manggut. Dia berjanji esok hari akan datang kembali dengan membawa beberapa orang santrinya untuk ikut berjamaah. Lelaki yang menyebut dirinya bernama Ahmad itu hanya mengangguk-angguk kecil. Sepertinya dia tidak yakin dengan kalimat Kyai Saleh.

***

“Mau kemana, Kyai?” Tanya Yusran dan Tesa serempak ketika Kyai Saleh mengajaknya ke suatu tempat.

“Ikut mi saja. Bawa amplifier, mic, dan cd player masjid ke mobil,” perintah Kyai Saleh.

Yusran dan Tesa manut saja meski sedang kebingungan.

“Jangan lupa bawa pula cd dangdut.” Kata Kyai Saleh selanjutnya. Yusran dan Tesa semakin kebingungan.

“Hari ini kita tidak salat magrib di masjid Nurul Autar. Saya mau ajak kalian salat di suatu tempat.”

“Dimana Kyai?”

“Jangan mi banyak tanya, Ikut mi saja.”

***

Yusran menyetir dan mengarahkan mobil sesuai perintah Kyai Saleh. Setengah jam berselang, mereka tiba di sebuah masjid tua. Yusran dan Tesa belum mengerti mengapa Kyai Saleh membawa mereka ke tempat ini. Kedua santri Kyai Saleh itu hanya manut saja ketika sang kyai memerintahkan menurunkan semua barang bawaan mereka ke masjid tua itu.

“Eh, pak. Datang betul ki,” seseorang menegur Kyai Saleh.

Kyai Saleh membalikkan badan. Rupanya pak Ahmad. “Iye pak. Saya mau sumbangkan ini amplifier, mic, dan cd player. Barang lama tapi masih bagus. Kemarin saya dengar, suara mengaji dari masjid ini tidak enak.”

“Terima kasih pak.”

Setelah perangkat-perangkat elektronik itu terpasang. Kyai Saleh meminta untuk mengetesnya. Tesa segera mengambil cd mengaji. Suaranya terdengar nyaring. Kyai Saleh tersenyum puas.

“Tesa, tadi kamu bawa ji cd dangdut toh?”

“Ada ji kayaknya Kyai. Saya cari dulu di mobil.” Tesa segera bergerak ke arah mobil. Dia mengernyitkan dahi. Untuk apa Kyai Saleh meminta cd dangdut itu.

“Ini Kyai, ada ji saya bawa.”

“Putar ki.”

“Ndak salah ji, Kyai. Ini masjid!” Yusran menyela.

“Putar mi saja.”

“Kyai…. Serius ki ini?” Tesa bertanya.

Dia masih belum percaya kalau Kyai Saleh memintanya memutar lagu dangdut di masjid menjelang waktu salat magrib.

Pak Ahmad pun ikut kebingungan. Dia tidak menyangka kalau lelaki yang kemarin singgah salat magrib itu seorang kyai. Dan, dia semakin tidak menyangka kalau kyai itu ingin memutar lagu dangdut.

“Kyai… tabe. Jangan ki,” pinta Pak Ahmad.

“Tenang maki pak Ahmad. Ndak apa-apa ji.” Tesa pun dengan perlahan memasukkan cd dangdut ke cd player dan memutarnya.

Segera, alunan musik dangdut koplo yang sedang nge-trend terdengar membahana dari masjid. Kyai Saleh tersenyum sembari menggoyang-goyangkan kepala menikmati alunan musik tersebut. Yusran, Tesa, dan Ahmad hanya melongo.

***

Tidak lama kemudian, suasana masjid menjadi gaduh. Warga yang mendengar suara dangdut dari arah masjid berdatangan. Wajah mereka terlihat marah.

Haiiiiiii!!! Siapa di dalam sana???” Terdengar teriakan keras dari arah luar masjid.

Kerumunan warga semakin ramai. Kyai Saleh meminta Tesa mematikan alunan musik dangdut itu. Kyai Saleh kemudian keluar masjid menemui para warga yang berkumpul di halaman masjid.

“Siapa kalian ??? Beraninya kalian menghina masjid kami dengan memutar dangdut,” kata salah seorang diantara mereka. Wajahnya garang. Matanya geram menahan amarah.

“Pasti kalian ini aliran sesat,” teriak yang lain.

Ahmad terlihat ketakutan. Yusran dan Tesa pun terlihat cemas. Mereka khawatir terjadi sesuatu kepada Kyai Saleh.

“Bapak-bapak sekalian. Maaf. Saya Saleh dari kampung Kalimana. Bapak salah kalau menganggap ini masjid. Ini bukan masjid!”

“Kurang ajar kamu…. Tidak kah kamu lihat bentuknya.”

“Pukul saja!!!” Kyai Saleh tersenyum tenang.

“Bapak-bapak sekalian…. Kalau ini masjid. Coba siapa yang pernah salat berjamaah di sini. Angkat tangan!”

Suasana gaduh sedikit mereda. Kata-kata Kyai Saleh tampak menyentak kesadaran mereka. Mereka saling berpandangan. Tak satupun di antara mereka yang mengangkat tangan.

“Eh… ada apa ini ribut-ribut,” salah seorang datang menyela, tampaknya dia orang yang berpengaruh di lingkungan itu.

“Ini Pak Lurah… ada orang putar musik dangdut di masjid.” Lelaki yang disebut pak lurah itu memandang ke arah Kyai Saleh.

Dia mengernyitkan dahi. “Kyai Saleh???” Pak Lurah tampak mengenali.

Kyai Saleh tersenyum kecil.

“Warga sekalian. Beliau ini adalah Kyai Saleh. Kalian pasti sering mendengar namanya.” Kata Pak Lurah memperkenalkan Kyai Saleh.

Para warga saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak menyangka orang yang mereka tuduh sesat adalah seorang kyai.

“Bapak-bapak sekalian. Setiap hari, pak Ahmad azan di tempat ini tetapi kalian tidak pernah datang, tidak menghiraukan sama sekali. Setiap hari, suara mengaji diperdengarkan di masjid ini tetapi kalian tidak mendengarkan. Lalu mengapa anda datang ketika mendengar suara dangdutan?”

“Tidak layak… musik diperdengarkan di masjid, Kyai Saleh.”

“Anda benar… itu artinya kalian ini sebenarnya mencintai masjid. Selayaknya kalau kalian menganggap ini masjid, kalian harus memperlakukannya sebagai masjid. Jadi, karena kalian semua sudah ada di halaman masjid, ayo ambil air wudhu dan ikutlah bersama kami salat berjamaah. Pak Ahmad, silahkan azan!” Pak Lurah yang merasa terjebak akhirnya mengambil air wudhu, diikuti oleh para warga.

Yusran dan Tesa manggut-manggut. Kebingungan mereka terjawab. Pak Ahmad terharu. Dia mengumandangkan azan dengan sedikit menitikkan air mata. Baru kali ini, masjid tua ini dipenuhi oleh jamaah.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

1 comment

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.