Syahdan

Mengenang Sang Guru di Hari Valentine

HUJAN yang awet dan berita tentang kekerasan terhadap pemuka agama yang berseliweran belakangan membuat hati Kyai Saleh sedikit gundah. Agama terus menerus menjadi konsumsi dan komoditas media. Tokoh agama diserang orang gila. Orang gila dipaksa menjadi normal untuk memenuhi kegilaan para penuding. Gara-gara orang gila, orang normal menjadi gila.

Media massa menjadi gila, media on-line pun ikut gila. Semua orang menjadi gila! Kegilaan semakin sempurna ketika seorang pemuda menyerang gereja karena ingin meninggal sebagai mujahid. Dia berharap surga. Disana, 72 bidadari sedang menunggunya.

Kyai Saleh menggelengkan kepala. Agama sedang dipertarungkan, entah oleh siapa dan atas kepentingan apa. Kyai Saleh melipat koran dan menyeruput kopi yang masih hangat.

Mata Kyai Saleh berhenti di kalender yang tergantung di dinding ruang tengah.

“Besok 14 Februari? Astagfirullah. Ini hari yang penting bagiku,” Kyai Saleh menepuk jidatnya, seolah teringat sesuatu.

***

“Anak-anakku semua. Besok hari yang istimewa. Saya ingin ingin berbagi kasih sayang di tanggal 14 Februari besok.” Kata Kyai Saleh di ujung pengajian. Para jamaah saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Kyai Saleh pun tahu soal Hari Valentine, hari kasih sayang sedunia. Hari yang identik dengan dunia para remaja. Keingintahuan para jemaah terpantik.

“Kyai, besok kan hari Valentine. Apa Kyai mau merayakan?” Tanya Yusran.

“Kenapa? Memang tidak boleh?”

“Banyak informasi di media sosial bilang haram hukumnya merayakan Hari Valentine”

“Yang mengharamkan jangan lakukan. Yang bilang tidak haram dan membolehkan ya lakukan. Repot kamma,” kata Kyai Saleh.

“Kalau menurut Kyai Saleh bagaimana?” Tampaknya Yusran tidak puas dengan jawaban Kyai Saleh yang terkesan cuek.

“Kita ini umat Islam, juga umat global. Hari raya kita sebagai umat Islam adalah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Ada peringatan lain yang bersifat parsial seperti maulidan, tahlilan, barzanjian dan walimah. Namun, sebagai masyarakat global ikut dalam perayaan global pun juga tidak apa-apa, dengan catatan tidak merusak norma yang telah ditetapkan dalam agama Islam.”

“Valentine identik dengan dengan pergaulan bebas, Kyai! Banyak anak-anak muda yang melakukan perbuatan tidak baik malam itu,” Ais ikut menyela dari arah jamaah perempuan.

“Nah, itu yang dilarang. Pergaulan bebas, perbuatan zina, mau Valentine atau hari lainnya kalau dilakukan ya haram-lah.”

“Maksud saya, pada hari Valentine dipahami begitu. Sehingga banyak di kalangan pemuda yang terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak-tidak.”

“Itu namanya kekeliruan dalam mengadaptasi kebudayaan. Tidak punya pertahanan kultural sebagai masyarakat global. Nalar budaya Barat itu berbeda dengan nalar budaya kita. Asumsinya bisa sama, yaitu kasih sayang tapi ekspresinya bisa berbeda. Saya tidak melarang jika kalian mengekspresikan kasih sayang dengan cara yang sesuai dengan budaya kita. Misalnya, kalau mereka melakukan pergaulan bebas, kita rayakan dengan sedekah bebas. Sama-sama mengekspresikan kasih sayang dengan tampilan yang berbeda. Mereka dapat dosa, kita dapat pahala.”

“Bukan Valentine namanya kalau sedekah, Kyai. Tidak seruki,” Tesa ikut menyela.

“Itu­mi banyak ulama yang mengharamkan karena niatan kalian yang tidak bagus. Kalian ingin meniru budaya Barat secara total, nalar dan ekspresinya. Kalian ingin menjadi mereka. Saya pun akan melarang perayaan Hari Valentine kalau motifnya begitu.”

“Tabe, Kyai. Tadi kita bilang, besok mau berbagi kasih sayang. Kita juga merayakan Valentine?” Salah seorang jemaah menyela.

“Kan, sudah saya bilang tadi. Asalkan tidak melanggar norma dan etika bersama, tidak ada masalah. Kalau untuk saya, saya punya alasan lain kenapa besok wajib bagi saya membagi kasih sayang.”

“Apa alasanta, Kyai!”

“Ada tong. Begini saja. Saya undang kalian besok datang ke rumah untuk makan dan doa bersama.”

***

Esok hari

Kesibukan kecil terlihat di rumah Kyai Saleh. Sejak pagi, istri Kyai Saleh bersama beberapa orang tetangga sibuk di dapur. Kyai Saleh meminta istrinya untuk memasak masakan terbaik hari ini.

Seusai salat zuhur, rumah Kyai Saleh mulai didatangi oleh warga sekitar. Kyai Saleh mengajak mereka membaca salawatan, membaca Alquran, dan mengikuti doa yang dipimpin sendiri oleh Kyai Saleh. Air mata Kyai Saleh terlihat menetes ketika membacakan doa, nama seorang ulama diulang beberapa kali.

Tak butuh waktu yang lama, makanan yang tersedia di ruang tengah itu ludes diserbu oleh tetamu yang datang. Makanan yang disajikan terasa enak. Suasana dingin menyebabkan selera makan para tamu terlihat lebih tinggi. Semuanya menikmati masakan istri Kyai Saleh yang memang terkenal lezat.

“Acara apa ini hari sebenarnya, Kyai? Kenapa ada acara makan-makan?” tanya seorang warga

“Hari ini istimewa bagi saya. Saya pun berharap bapak-bapak ikut merasakan kegembiraan saya menyambut hari ini.”

“Apami itu, Kyai?”

“Ada tong… silahkan nikmati saja”

Iyo.. janganmi banyak tanya deh. Makanmi saja,” sela warga yang lain.

Selang beberapa menit ngobrol, satu per satu warga dan santri Kyai Saleh pamit pulang. Kecuali Yusran, Tesa, dan AIs. Ketiganya diminta oleh Kyai Saleh untuk tetap tinggal.

Kyai Saleh mengajak ketiga santrinya itu untuk membagikan beberapa paket bungkusan yang sudah tersedia ke beberapa panti asuhan di kota.

Kyai Saleh terlihat menikmati setiap kebahagiaan di mata para anak yatim yang disinggahi.

“Kyai belum menjawab pertanyaan kami semalam. Apa alasan Kyai merayakan hari Valentine,” tanya Ais setelah mereka kembali ke rumah Kyai Saleh.

“Siapa yang bilang saya merayakan hari Valentine.”

“Kan, hari ini Hari Valentine, tanggal 14 Februari”

“Saya tidak merayakan Valentine. Saya belajar tentang Hari Valentine hanya untuk kebutuhan dakwah. Biar saya tidak dibilangi kurang gaul. Setelah saya pelajari, Hari Valentine memiliki kandungan kebaikan karena merayakan inti dari semua agama yaitu kasih sayang. Adakah agama yang melarang kasih sayang?”

“Trus, buat apa acara ngaji dan doa bersama hari ini, Kyai?”

“Saya memperingati hari kelahiran Kyai Hasyim As’yarie. Pendiri Pesantren Tebu Ireng. Kita harus bersyukur Allah SWT menciptakan seorang Kyai besar di nusantara ini. Beliau panutan saya. Ilmu yang saya miliki bersambung sanad dengan beliau. Guru saya di pesantren dulu adalah murid Kyai Hasyim Asy’arie. Idola saya, Gus Dur adalah cucu Kyai Hasyim Asy’arie. Valentine saya adalah mengenang Kyai Hasyim Asyarie. Beliau lahir tanggal 14 Februari 1871 atau 24 Zulkaidah 1287, yang kalian identikkan dengan Hari Valentine. Karena itulah, saya berbagi hari ini sebagai bentuk suka cita karena Allah pernah menitipkan seorang ulama besar di bumi pertiwi kita ini. Saya berharap berkah Tuhan di hari ini beberapa puluh tahun yang lalu tercurah kembali, agar bangsa kita keluar dari kegilaan.”

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Membela Wanita Bercadar

Next post

Saut-Sautan Pro-Kontra Puisi Esai