Syahdan

Maulid Kenabian

HUJAN turun masih dengan semangat yang sama dua hari belakangan. Beberapa sudut kota mulai kewalahan menerima volume air yang semakin deras. Desember sudah tiba. Siklus hujan berada pada titik yang paling puncak.

Di tengah cuaca yang kurang bersahabat itu, warga Kelurahan Kalimana terlihat sedang sibuk. Para lelaki sibuk membenahi dan merias masjid, sedangkan ibu-ibu sibuk membuat tello bunga male (pohon telur maulid).

Di rumah Kyai Saleh pun terlihat kesibukan kecil. Istri Kyai Saleh dibantu dua orang tetangga tampak terlihat sibuk di dapur mengolah masakan untuk persiapan acara maulid yang akan digelar sebentar malam. Setiap tahun, pada bulan maulid, warga Kalimana menyambut dengan penuh suka cita.

Kyai Saleh memandang hujan dengan perasaan bahagia. Ingatannya melayang ke baginda Nabi Muhammad SAW. 12 rabiul awal, 15 abad yang lalu, seorang manusia terpilih lahir ke dunia. Tangisan kecilnya mengundang burung ababil datang untuk memerangi tentara gajah Abrahah yang serakah.

Lelaki ini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyebarkan kebaikan dan menegakkan agama rahmatan lil alamin; Islam. Sebagai Nabi, dia tak sedikitpun meminta keringanan dari Tuhan. Dia membangun fondasi Islam dengan perjuangan, doa, dan pengorbanan.

Air mata Kyai Saleh tiba-tiba menetes. Keharuan merebak dan menyergap batinnya. Kerinduannya kepada Nabi Muhammad merasuk sedemikian hebat. Ucapan salawat terus menerus terucap dari bibirnya. Entah mengapa, Kyai Saleh seperti merasakan kehadiran Nabi Muhammad di sekelilingnya. Kyai Saleh buru-buru menjatuhkan diri dan bersujud.

***
Di luar, hujan masih awet. Kyai Saleh memilih menonton teve. Hari ini, ada jutaan umat Islam sedang berkumpul di lapangan monas, Jakarta. Katanya, mereka sedang reuni. Banyak isu yang berseliweran tentang gerakan itu. Namun, hati Kyai Saleh bahagia, acara itu menyertakan peringatan maulid Nabi Muhammad Saw.

Kebahagiaan Kyai Saleh benar-benar membuncah ketika satu persatu mengenali tokoh-tokoh Islam yang anti-maulid juga turut serta duduk dengan khusyu. Kyai Saleh semakin tersenyum lebar ketika wajah kawan lamanya tertangkap kamera.

Dulu, kawannya itu sangat anti maulid. Segala jenis argumen dia ungkapkan di depan Kyai Saleh tentang maulid yang bidah dan membahayakan akidah. Tetapi kini, dia duduk dengan tenang sembari sesekali ikut mendendangkan shalawat nariyah.

Kyai Saleh lalu memindahkan chanel TV. Berita bencana banjir, longsor, dan badai cempaka merusak sebagian wilayah Indonesia. Beberapa orang dengan wajah cemas, ketakutan, dan memelas membuat Kyai Saleh bersedih. Sejenak Kyai Saleh memejamkan mata dan berdoa agar mereka yang sedang tertimpa bencana bisa terselamatkan.

Kyai Saleh kembali memindahkan chanel tv yang menyiarkan kerumunan jutaan orang tadi. Kyai Saleh sangat berharap jutaan umat Islam yang berkumpul itu berdoa untuk saudara-saudaranya yang sedang tertimpa musibah.

Wajah Kyai Saleh semakin murung. Satu persatu, orator yang tampil di panggung hanya bicara tentang politik, tentang kebanggaan, tentang jumlah massa yang mencapai jutaan, tentang Islam yang kuat, tentang simbol, bendera, dan segala fantasi kejayaan.

Tak ada satupun yang memberi simpati kepada saudaranya yang sedang tertimpa musibah. Minimal secuil doa.
Ah, Kyai Saleh menggerundel. Dia segera mematikan teve. Cuaca semakin buruk. Hujan turun semakin deras. Guntur terdengar bersahutan, sesekali diiringi kelabat kilat.
***
“Daeng. Kelurahan sebelah kebanjiran! Tadi Saribanong dari sana,” kata istri Kyai Saleh. Kelurahan sebelah yang dimaksud oleh isteri Kyai Saleh adalah pemukiman orang Toraja. Daerahnya memang rendah. Setiap musim hujan tiba, banjir pasti melanda.

Inna lillah wa inna ilaihi rajiun. Bagaimana keadaan mereka? Banyakmi rumah yang masuk air kodong
Kalau hujan terus, mereka pasti mengungsi semua.”

Kyai Saleh hanya terdiam. Sesekali menatap langit sembari berdoa agar terhindar dari musibah. Menjelang sore, hujan sudah mulai reda. Berita tentang banjir di kelurahan sebelah semakin terdengar. Beberapa warga harus meninggalkan rumah.

Malam ini kita tidak jadi merayakan maulid seperti biasa! Kata Kyai Saleh.
Kenapa kyai? Yusran bertanya. Dia sudah bersusah payah membenahi masjid, membuat spanduk, dan segala keperluan untuk maulid.

“Tetangga kampung kita kebanjiran. Tidak elok rasanya kita melakukan maulid.”

“Jadi ditunda, Kyai?” Dengan hati-hati Yusran kembali bertanya.

“Bukan ditunda. Maulid kita tahun ini adalah mengurusi orang banjir. Bawa semua telur bunga male, songkolo, dan semua makanan yang telah disiapkan untuk kita bawa ke kelurahan sebelah.”

“Bukannya maulid itu perayaan spritual, Kyai? Maulid itu gerakan keagamaan, bukan gerakan sosial, Kyai.” Yusran masih bertahan. Dia tidak rela upayanya mempersiapkan maulid akbar jadi anti klimaks.

“Ah, kamu ada-ada saja Yus. Maulid itu ekspresi cinta kepada Nabi. Dan sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan. Manusia mulia ini bahkan tak segan menyuapi pengemis Yahudi di jalanan. Dia tegak berdiri membela para budak. Dan, berada di garis terdepan dalam urusan kemanusiaan. Jika kamu mengaku mencintai nabi, maka cintailah kemanusiaan. Itu hakikat maulid, itu hakikat Islam.” Suara Kyai Saleh terdengar lantang.

“Kan, bisa habis kita menolong tetangga-tetangga kita bikin maulid sebagaimana biasanya. Di kelurahan sebelah itu, banyak non muslimji.” Sampara ikutan menimpali.

Astagfirullah, Sampara. Sempat-sempatnya kamu berpikir begitu di saat musibah,” suara Kyai Saleh meninggi. Wajahnya terlihat memerah. Sampara tertunduk lesu. Dia tidak menyangka akan disemprot oleh Kyai Saleh.

“Ini yang kadang-kadang bikin saya sedih. Yang kalian ingin dari agama adalah perayaan artifisialnya. Kalian lebih mementingkan simbolnya ketimbang subtansinya. Apa gunanya kita berkerumun, meneriakkan rasa cinta kepada Nabi, lalu kita mengabaikan perasaan tetangga kita yang sedang menderita?? Apa gunanya berbondong-bondong di satu titik, meneriakkan agama tetapi penderitaan sesama manusia terabaikan.”

“Tapi kan bisa ji besok kita bikin lagi maulid seperti biasanya, Kyai. Saya rindu mendengar kisah Nabi diceritakan.” Tesa mencoba mendukung Yusran. Seperti Yusran, dia pun sudah berlelah-lelah menyiapkan acara maulid.

Ndak. Saya putuskan tahun ini model maulid kita adalah maulid kemanusiaan. Shalawat kita adalah shalawat kemanusiaan. Kita meneriakkan kecintaan kita kepada nabi dengan cara menolong sesama manusia. Kita tidak akan melakukan perayaan dalam musibah. Tahun depan baru kita maulid seperti biasa.”

Dengan sedikit dongkol, Yusran, Tesa, Sampara dan semua warga berjalan dengan membawa semua makanan maulid ke kelurahan sebelah.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Puncak Spiritualitas

Next post

Lima Potensi Kekalahan Jokowi