Syahdan

Kyai Saleh Salat di Gereja?

KYAI Saleh memenuhi undangan dari komunitas pemuda Gereja untuk berbicara di acara seminar sehari tentang agama sebagai agen perdamaian. Tempat seminarnya berada di aula samping gereja yang berada di kompleks pemukiman warga Katolik. Tempatnya cukup jauh dari kota. Semua tokoh agama diundang hadir. Pesertanya pun beragam. Terbanyak beragama Katolik dan Kristen. Ada juga beberapa orang Islam, Hindu, Buddha, dan konghucu.

Yusran dan Tesa yang menemani Kyai Saleh mengambil tempat duduk di bagian belakang. Setelah para tokoh agama lain berbicara, giliran Kyai Saleh menyampaikan gagasannya.

“Saling belajar itu sangat penting bagi umat beragama. Agar tidak terjebak dalam dinding yang tebal. Saling belajar tidaklah dimaksudkan untuk misi pencampurbauran agama tetapi untuk menemukenali karakteristik setiap agama, agar bisa saling memahami untuk hidup bersama. Saling belajar agama, tidaklah dimaksudkan untuk saling bertukar jalan teologis tetapi untuk saling menghormati. Saya tidak bisa bayangkan andai kata umat Kristiani tidak tahu kalau babi itu haram bagi umat Islam, lalu karena ketidaktahuannya itu dia menyuguhkan babi kepada tetangganya yang muslim. Atau kita tidak mengerti kalau sapi sangat dihormati oleh sebagian umat Hindu, lalu kita menyuguhinya daging coto sapi. Apa yang akan terjadi? Ini contoh kecil, pentingnya saling mengenali identitas religiusitas kelompok agama yang berbeda dengan kita.” Demikian kata Kyai Saleh. Semua hadirin memberi tepuk tangan.

Sang pastor lalu berbisik kepada Kyai Saleh, “Kyai…waktu salat Zuhur sudah masuk. Kita istrahat sejenak. Sesi tanya jawab nanti dilaksanakan setelah istrahat.”

Kyai Saleh melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12.30. Waktu Zuhur sudah lewat. Kyai Saleh menganggukkan kepala. Pastor kemudian meminta kepada moderator untuk break.

“Kalau Kyai Saleh tidak keberatan kami menyediakan ruangan di gereja untuk salat.” Kata sang pastor kepada Kyai Saleh.

“Apakah di sekitar sini tidak ada masjid?”

“Ada tapi jaraknya lumayan jauh.”

“Apakah ada rumah umat Islam di sekitar gereja ini?”

“Ada, Kyai. Tetapi jaraknya pun relatif jauh.”

“Bisakah kalian bersabar menungguku. Aku akan salat di masjid,” sang pastor terdiam sejenak . Dia melirik jam tangannya. Meski dengan sedikit berat, sang pastor menganggukkan kepala.

“Baik Kyai. Kami akan menunggu Kyai.”

***

Kyai Saleh memberi kode kepada Yusran dan Tesa untuk ikut ke mobil. Kyai Saleh meminta Yusran mempercepat laju mobil agar bisa tiba di masjid secepatnya. Kening Kyai Saleh berkerut ketika melihat dua orang santrinya itu tidak ikut mengambil air wudu.

“Mengapa kalian tidak mengambil wudu dan salat Zuhur?”

Anuu.. Kyai. Kami sudah salat tadi di gereja. Kebetulan waktu Zuhur sudah masuk. Jadi saya sama Tesa inisiatif salat. Saya pikir Kyai pun akan salat di sana,” jawab Yusran dengan sedikit tergagap.

“Ooo.. ya sudah kalau begitu.”

“Apa kami harus mengulang salat?” Tesa ikut bertanya.

“Tidak perlu. Salat kalian sah! Saya salat dulu.”

Kyai Saleh melangkah masuk ke masjid untuk menunaikan salat.

***

Tesa penasaran dengan jawaban Kyai Saleh tadi. Dalam perjalanan kembali ke kompleks gereja, Tesa mengajukan pertanyaan.

“Tabe, kenapa Kyai tidak marah dengan sikap kami yang terlanjur salat di sana.”

“Ada tiga pendapat ulama tentang salat di gereja. Boleh, makruh, dan haram. Ibnu Qudamah membolehkan asal bersih dari najis dalam kitab Al-Mughni, Syekh Utsaimin memakruhkan, dan Ibnu Taimiyah mengharamkan dalam kitab Al-Fatawa Al Kubra. Pendapat terbanyak ulama adalah memakruhkan, tetapi bukan sebab bangunan gerejanya melainkan karena dalam gereja itu biasanya banyak patung dan gambar-gambar makhluk hidup. Jadi yang kalian lakukan itu pun ada pembenaran dalam pendapat ulama. Jadi, apa hak saya untuk melarang kalian.”

“Lalu kenapaki tidak salat di sana tadi?”

“Saya hanya salat di tempat yang membuat saya nyaman.”

“Maksud ta tidak nyaman salat di gereja.”

“Disana banyak sekali orang. Diantara peserta boleh jadi ada orang Islam. Tidak semua orang memahami hukum Islam. Ada orang Hindu, Buddha, khonghucu yang mungkin bisa salah memahami. Pun bisa jadi diantara mereka yang beragama Kristen atau Katolik, ada yang tidak senang jika saya salat di tempat ibadah mereka. Saya tidak ingin, orang-orang di sana salah memahami tindakan saya.”

“Kan, pastor-nya sudah izinkan ki.

“Disitumi dibutuhkan kepekaan nak. Tidak semua tindakan kita bisa dipahami dengan baik oleh orang. Saya ini dianggap kyai. Kalau tiba-tiba ada yang foto saya dan viralkan di media sosial, lalu bikin judul seorang kyai salat di gereja. Begitu banyak orang yang akan salah paham. Ada yang menghujat, menghina. Bayangkan gara-gara saya salat, orang lain berdosa. Saya tidak mau kebaikan yang saya lakukan menjadi jalan keburukan bagi orang lain.”

“Tadi Kyai bilang, ada ulama yang membolehkan. Bisa dijelaskan toh?”

Taroi taromu ri taroanna” (tempatkan sesuatu pada tempatnya).”

“Trus saya sama Yusran salat disana…. Kan bisa juga terjadi begitu, Kyai.”

Ka bukanji ko Kyai…. Orang maklum, kalian pemuda yang lagi dalam pencarian. Tidak menarikji diviralkan. Paling kalian dianggap kajili-jili,” Kata Kyai Saleh sembari tersenyum lebar.

Yusran dan Tesa ikut tersenyum mendengar candaan Kyai Saleh.

“Seandainya tadi sepi, mauki salat di gereja, Kyai?” Yusran kembali bertanya.

“Saya salat di tempat saya merasa tenang dan nyaman, di manapun. Seluruh tanah di bumi ini adalah tempat bersujud kepada Allah.”

***

Kyai Saleh tiba di tempat seminar tepat jam 14.00. Acara kembali dimulai. Tanya jawab berlangsung meriah. Kyai Saleh menjawab pertanyaan para peserta dengan lugas diselingi dengan canda. Selang satu jam, acara seminar selesai.

“Kyai, ada yang ingin kutanyakan pada anda?” tanya sang pastor begitu acara sudah selesai.

“Apa itu pastor?”

“Mengapa tadi Kyai menolak salat di gereja? Saya bisa pastikan kalau gereja kami bersih dari najis.”

“Pastor, anda salah memahami saya.”

“Kok, salah. Buktinya Kyai memilih pergi ke masjid meski jaraknya jauh.”

“Itu dia. Saya tidak menolak permintaan anda. Saya hanya bertanya kepadamu, apa kalian bersedia menunggu jika saya salat di masjid. Kalian bersedia. Jadi tidak ada alasan saya untuk salat di gerejamu.”

“Ah, kayaknya bukan itu alasannya, Kyai,” sang pastor memancing Kyai Saleh. Kyai Saleh hanya tersenyum kecil.

“Saya tidak salat di gerejamu karena menghargai kamu. Lagipula masjid masih terjangkau. Masjid-masjid kami saja masih sering kosong, lalu buat apa saya meramaikan tempat ibadahmu… hehehhe.” Kyai Saleh tersenyum lebar. Sang pastor pun ikut tersenyum.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Lomba Menulis "Surat Cinta Untuk Jokowi"

Next post

Embun, Kisah Anak Korban Kekerasan Seksual