Syahdan

Kyai Saleh dan Toleransi Ucapan Selamat Natal

RUMAH Gio sedang berbenah. Pohon-pohon natal sudah mulai dirias. Adik perempuan Gio sangat bersemangat mendekorasi pohon natal yang diletakkan di ruang tengah. Gio pun ikut membantu sebisanya.  Semburat kenangan masa kecilnya saat perayaan natal menyeruak.

Hari Natal adalah saat berkumpul dengan keluarga besarnya. Natal selalu membawa keceriaan baginya. Hadiah kecil dari papa dan mama adalah pelengkap yang sempurna.

“Santa sudah datang semalam, Gio. Ini hadiahnya,” kata mama sembari mendaratkan kecupan kecil.

Natal kali ini sangat berbeda bagi Gio. Dia bukan lagi penganut Kristen, dia memutuskan memeluk Islam beberapa bulan yang lalu. Gio bersyukur, orang tuanya sangat open minded. Meski ada butiran kecil di mata ibu ketika Gio memutuskan pindah agama. Tetapi itu tidak menghalangi ibu untuk memberi pelukan hangat seperti biasa. Gio tidak mendapatkan perlakuan berbeda dari kedua orang tuanya.

Relung hati Gio mulai gelisah ketika seorang teman aktivis organisasi Islam kampus memberitahukan kepadanya, kalau seorang muslim tidak boleh mengucapkan selamat natal.

“Kenapa tidak boleh?” Tanya Gio kepada temannya itu.

“Iya.. akhi. Itu artinya kita membenarkan kelahiran Yesus sebagai Tuhan. Bisa kembali kafir kamu nanti Gio.”

Gio gundah. Pengetahuan agamanya tidaklah sedalam temannya itu. Dia baru beberapa bulan memeluk Islam. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ucapan selamat natal adalah persoalan serius dalam Islam. Gio mencintai agama Islam sebagai tempat yang menenangkan. Tetapi bagaimana dia bersikap di rumah? Bagaimana mungkin di saat natal seperti ini dia tidak “terlibat” bahkan untuk memberi ucapan selamat sekalipun.

***

“Kenapako, Gio?” Sarmidi bertanya ketika melihat wajah Gio murung. Di saat kuliah pun, Gio lebih banyak merenung. Padahal Gio adalah anak yang ceria.

“Saya bingung. Baru kali ini saya merasa sedih menjelang natal?”

“Kamu menyesal memeluk Islam?”

“Tidak ji, Sar. Tetapi bagaimana bersikap. Saya dengar dari salah seorang kawan kita mengucapkan selamat natal tidak boleh”

“Siapa sede yang bilang”

“Ada tong. Tapi siapa tahu memang begitu dalam Islam. Jadi, saya bagaimana ini?”

“sebentar sore…ke masjid Nurul Autar. Ikut ki pengajiannya Kyai Saleh”

“Kyai Saleh? Malu ka. Sejak jadi muallaf, saya tidak pernah lagi kesana.”

“Tidak apa-apa ji. Kyai Saleh orangnya santai ji.”

“Oke mi pale.”

“Oke gang. Kutungguki nanti sore na. Sama-sama paki ke masjid.”

***

Tabe Kyai., ada yang saya mau tanyakan.” Sarmidi mengangkat jari ketika Kyai Saleh mulai memberi kesempatan bertanya.

“Iye. Silahkan, nak Sarmidi.”

“Bagaimana sebenarnya posisi mengucapkan selamat natal itu Kyai?”

Kyai Saleh tersenyum. “Natal itu perayaan umat lain, bukan perayaan kita. Kenapa kita mau urusi?”

Sarmidi sedikit keki. Gio juga keki. Dia berharap Kyai Saleh memberi jawaban yang melegakan tetapi sepertinya tidak.

“Jadi tidak boleh mengucapkan selamat natal, Kyai?” Yusran ikut bertanya.

“Kalau tidak ada ji urusanmu. Apalagi selama ini kamu juga tidak pernah menyapa temanmu kecuali saat natal, jangan mi. Kentara ji kalau basa-basi. Rasa-rasanya bukan ji itu yang saudara kita non muslim butuhkan. Kamu  ucapkan atau tidak, tidak batal ji natalan mereka”.

“Bagaimana dengan Gio? Orang tuanya masih Kristen. Masak dia tidak boleh ucapkan selamat natal tawwa.”

“Waah… ini Gio ya? Yang beberapa bulan lalu berikrar masuk Islam disini.”

Gio mengangguk dengan wajah memerah. Dia sedikit malu karena baru kali ini menemui Kyai Saleh.

“Untuk kasus seperti Gio, ulama Mesir Yusuf Qardhawi sudah memberi jalan keluar, boleh mengucapkan selamat natal. Orang yang memiliki kerabat, teman akrab, kolega yang beragama Kristen tidak masalah untuk mengucapkan selamat natal sebagai bentuk persahabatan dan perdamaian. Apalagi jika keluarga itu selama ini berbuat baik kepada kita.  Silahkan cari pendapat Syekh Yusuf Qardhawi tentang ini. Cukup jelas alasannya.”

Mata Gio berbinar.

“Kyai. Lalu kenapa ada yang bilang kepada saya kalau mengucapkan selamat natal itu haram hukumnya.” Gio memberanikan diri berbicara meski dengan kalimat yang terbata-bata.

“Memang, dalam kasus ucapan selamat natal ada dua pendapat ulama yang berbeda. Ulama seperti Syekh Ibnu Taimiyah, Syekh Utsaimin, Syekh Abdullah bin Umar Al-Adni itu melarang dan mengharamkan ucapan selamat natal. Ulama seperti Syekh Yusuf Qardhawi, Syekh Ali Jumuah, Wahba Zuhaily membolehkan. Mereka semua ahli agama, boleh diikuti pendapatnya.”

“Kenapa bisa berbeda pendapat?”

“Cara pandang, nak. Saya melihat ulama yang mengharamkan natal lebih memosisikan natal sebagai ajaran dasar dalam agama Kristen. Mereka meletakkan natal dalam bingkai teologis. Sehingga ketika ada umat Islam yang mengucapkan selama natal itu berarti membenarkan seluruh perangkat teologis Kristen, yang dalam pandangan Islam bertentangan. Misalnya pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan. Jadi, mengucapkan natal berarti mengakui Yesus adalah Tuhan atau anak Tuhan.”

“Terus ulama yang membolehkan?”

“Saya melihat mereka memosisikan natal sebagai perayaan kebudayaan, bukan teologis. Natal adalah ekspresi kebudayaan yang berbasis pada agama. Karena itu ruang kebudayaan, maka bisa diekspresikan secara bersama. Di titik ini, pun terjadi perbedaan pendapat. Syekh Yusuf Qardhawi hanya membolehkan sampai pada ucapan selamat natal tetapi melarang ikut perayaan yang melibatkan liturgi keagamaan umat Kristiani. Rasa-rasanya, kalau saya tidak salah fatwa MUI tahun 1980 atau 1981, itu juga bersepakat untuk melarang ikut terlibat dalam perayaan. Tetapi ada juga yang membolehkan ikut. Saya pernah lihat ada tayangan ulama Mesir ikut hadir dalam perayaan natal.”

“Kyai. Saya pernah baca katanya natal juga diperdebatkan orisinalitasnya dalam masyarakat Kristen sendiri. Katanya hari natal itu bukan ekspresi atas nabi Isa atau Yesus tetapi ekspresi dari Dewa-dewa masyarakat Eropa. Di novel Dan Brown, davinci code juga dibahas.” Ais ikut bersuara.

“Wah.. Ais memang selalu up date. Saya sendiri belum tahu.”

“Tapi, kan yang mengkritik itu tidak bisa memberikan tanggal pengganti, jadi tetaplah 25 Desember yang dipercaya.” Yusran yang menimpali pernyataan Ais.

“Kalau pendapat Kyai sendiri bagaimana?” Tanya Tesa.

Kyai Saleh tidak segera menjawab. Dia berdiam diri sejenak. Mulutnya komat kamit seperti membaca doa.

“Secara pribadi, saya selalu bersyukur dengan tanggal 25 Desember ini.” Jawab Kyai Saleh. Tesa memandang wajah Kyai Saleh dengan keheranan.

“Kok bisa, Kyai? Bukankah Kyai bilang itu perayaan agama lain?”

“Tanggal ini adalah pengingat bagi saya kepada Nabi Isa. Saya kadang-kadang merasa malu karena melupakan Nabi Isa. Padahal, seperti Nabi Muhammad, Nabi Isa adalah manusia paripurna yang dipilih untuk misi kemanusiaan. Sejarah Nabi Isa adalah sejarah kasih sayang. Tangannya adalah obat yang bisa mengobati semua penyakit, bahkan bisa mengembalikan nyawa manusia. Dia penghibur sejati. Ingat, dalam ajaran Islam,  Nabi Isa adalah masa depan kita. Tuhan akan menurunkannya di akhir zaman dan membimbing semua manusia ke jalan yang benar. Allah mengistimewakan Nabi Isa. Lalu apa yang menghalangiku untuk tidak mengistimewakannya? Sehingga di setiap 25 Desember, entah ini benar tanggal kelahirannya atau bukan, saya merasa diingatkan untuk berkirim shalawat kepada Nabi Isa alaihissalam.

“Jadi, boleh ini mengucapkan selamat natal, Kyai?” Faris ikut bertanya

“Faris punya teman dari Kristiani?” Kyai Saleh balik bertanya.

“Jangan mi kalau Faris, Kyai. Jangan dari kalangan Kristiani, dari muslim saja kurang temannya. Itu mi sampai sekarang jomblo terus,” ejek Tesa.

Suasana menjadi gaduh karena tertawa.

“Anakku semua. Ada dua jalur pendapat. Silahkan memilih pendapat ulama yang paling kalian cenderungi. Tetapi jangan sampai menyakiti sesama muslim”

“Maksudnya Kyai?”

“Misalnya kamu posting ucapan selamat natal di laman facebookmu, tetapi mayoritas teman fb-mu itu muslim, apa gunanya? Ingin memancing perdebatan? Kenapa kamu tidak mengirimkan ucapan selamat natal kepada teman lewat jalur pribadi? Bukankah itu lebih tulus”

***

Gio pulang dengan wajah berseri.

Natal tiba. Suasana di rumah ramai. Keluarga kecilnya sedang menggelar perayaan natal. Doa-doa dilantunkan. Gio memilih untuk berdiam diri di kamar. Setelah proses doa dilakukan. Gio keluar kamar dan bergabung dengan keluarganya sembari menyantap makan malam bersama.

“Pa, ma…. Selamat merayakan natal.”

Kedua orang tua Gio tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Terima kasih, anakku”

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Film-Film yang Sebaiknya Tidak Ditonton di Malam Pergantian Tahun

Next post

6 Jomblo Terkeren Sepanjang Tahun 2017 dan Kriteria Pasangannya