Locita

Kyai Saleh dan Seorang Pemuda Gila

SUATU hari Kyai Saleh mengajak Yusran dan Tesa ke toko buku. Kyai Saleh ingin menambah koleksi bukunya. Di tengah jalan, mereka bertemu seorang pemuda yang berpenampilan awut-awutan. Rantasa’ dalam istilah orang Makassar. Sekilas, pemuda itu terlihat seperti orang gila. Yusran terpaksa menginjak rem ketika si pemuda melompat dan menghadang laju mobil mereka.

“Kamu ini tidak memiliki ilmu tinggi. Ilmumu hanya untuk dibicarakan bukan untuk pembebasan. Ilmu kamu sangat rendah. Hanya kulit-kulit saja!”  si pemuda tiba-tiba berteriak lantang sembari menunjuk Kyai Saleh.

Yusran naik pitam. “Hei! Jangan kurang ajar!”

Dia menghampiri pemuda itu dan hendak menamparnya. Kyai Saleh bergerak sigap menahan tangan Yusran.

“Apakah kamu tidak sadar dengan siapa kamu berbicara? Dia Kyai Saleh!” sergah Tesa dengan nada tinggi. Dia pun terlihat kesal.

“Aku kenal. Dia kyai Saleh. Kyai yang terkenal di kota ini. Katanya ilmunya tinggi. Tetapi ilmuku lebih tinggi dari Kyai Saleh ini”

“Weh…. Jagaki mulutmu nah!” Yusran kembali berteriak.

“Tenang Yusran!” Kata Kyai Saleh.

Si pemuda malah tertawa-tawa dan bersiul-siul. Kyai Saleh mengernyitkan dahi dan membatin, Siapa anak muda ini?

“Baiklah. Bisakah engkau membuktikan ucapanmu, nak?” Kata Kyai Saleh penasaran. Ini kali pertama seseorang merendahkan ilmunya.

“Bisa dong. Kyai! Ikuti aku.”

Dengan santai, pemuda tadi berjalan menuju ke arah pasar tradisional. Kyai Saleh, Yusran dan Tesa mengikuti langkah pemuda itu dengan wajah bingung.

Si pemuda berjalan berkeliling pasar. Beberapa saat kemudian, dia berhenti di depan seorang ibu tua yang berwajah murung. Di depannya ada kain selendang berwarna perak yang dijualnya dan beberapa pakaian bekas.

Waahh.. ini kain yang bagus. Berapa harga kainnya Ibu?” Si pemuda bertanya sembari mengangkat kain berwarna perak itu.

“Lima ratus ribu, dek,” suara ibu itu lemah. Wajahnya tak bersemangat. Dia tak berselera menjawab. Dia tahu si pemuda dekil itu tak mungkin membeli kain jualannya.

“Wah…. Murah ini,” si pemuda mengangkat dan memerhatikan kain tersebut dengan seksama.

“Saya dan Kyai Saleh akan membeli kain Ibu”

Si ibu memandangi sejenak pemuda itu dengan penuh harap. Namun, dia kembali lesu. Dia tidak yakin dengan kalimat pemuda tadi.

“Kyai, beli lah dengan seluruh uang di dompetmu itu. Harga kain ini setara dengan uang yang ada di dompet dan kantong celana Kyai. Bu, saya mau beli kain ini seharga 4 juta!” Kata sang pemuda.

Yusran, Tesa dan ibu itu terkejut. Ibu itu memandangi wajah si pemuda. Dia berharap pemuda itu tidak main-main. Sementara itu, Yusran dan Tesa semakin yakin kalau dia orang gila.

“Nak. Uang yang saya punya tidak sebanyak itu!”

“Ya… saya tahu. Uang kyai hanya Rp 2.150.000. Saya punya uang Rp 1.850.000. Saya akan menambahkan kekurangan uang Kyai Saleh”

Kyai Saleh takjub. Pemuda itu bisa mengetahui jumlah uang yang dibawanya dengan detil. Kyai Saleh semakin penasaran. Dia seperti tak punya pilihan, kecuali mengikuti “permainan” si pemuda. Dia segera mengeluarkan dompetnya.

“Kyai!” Yusran menyela, “jangan ikuti Kyai! Dia orang gila. Masak mau beli empat juta? 500 ribu ji harganya itu kain Kyai.”

“Iya…Kyai! Tidak usah diladeni. Gila ini orang,” Tesa ikut nimbrung.

Si pemuda berlagak cuek. Dia mengeluarkan uang dari kantong celana dan menyerahkan kepada ibu penjual kain tadi. Kyai Saleh pun “terpaksa” mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan seluruh isinya kepada ibu itu.

Sang ibu tak kuasa menahan haru. Dia meraih dan menciumi tangan Kyai Saleh. Lalu, berdiri dan memeluk haru pemuda itu. Air matanya mengalir cepat.

“Terima kasih, terima kasih,” ucapnya berkali-kali sembari menciumi uang itu berkali-kali.

Kyai Saleh tidak mengerti mengapa ibu tadi menangis.

“Mengapa ibu menangis?”

“Kyai. Hari ini saya harus membayar utang ke seseorang.  Kalau tidak, rumah kami yang akan disita. Saya bingung darimana dapat uang. Kain ini adalah satu-satunya barang berharga yang bisa saya jual”

“Berapa utang ibu?”

“Empat juta kyai!”

Kyai Saleh terkesiap kaget. Jumlah utang ibu itu persis sama dengan harga kain yang diminta oleh si pemuda. Kyai Saleh menoleh ke belakang. Aneh, si pemuda sudah tidak ada. Kyai Saleh memandang sekeliling. Tetap nihil. Si pemuda sudah menghilang. “Jadi ini maksudnya?” Kyai Saleh menggumam. Dia mulai mengerti.

“Yusran, Tesa. Apa kamu lihat pemuda tadi?”

Yusran dan Tesa kompak menggelengkan kepala. Mereka pun terkejut setelah menyadari pemuda tadi menghilang.

“Ini Kyai. Kainnya” si ibu penjual menyerahkan kain setelah menyimpannya dengan rapi di kantong plastik. Dia merapikan jualannya yang lain dan bersiap untuk pulang.

“Tidak bu. Biar buat ibu saja” Kata Kyai Saleh.

“Jangan kyai. Ini sudah jadi hak Kyai”

“Apa ibu mengenali pemuda tadi?”

“Tidak Kyai. Saya juga baru hari ini melihatnya”

Kyai Saleh menerima kain itu. Pikirannya tertuju kepada pemuda tadi. Dia merasa mulai mengenali pemuda itu. Dia seperti mursyid abadi dari semua wali di dunia.

“Kyai… siapa anak muda itu?” Tesa bertanya keheranan

“Mungkin dia wali. Mungkin juga dia lebih dari seorang wali. Dia datang mengingatkan saya untuk lebih peka dengan keadaan. Jangan cuma pengajian. Mungkin banyak orang yang seperti ibu ini di tengah-tengah kita.” Kyai Saleh menjawab dengan suara datar. Hari ini dia mendapat pelajaran penting dari pemuda gila tadi. Yusran dan Tesa mengangguk-angguk.

“Awwe… saya hampir memukul seorang wali,” kata Yusran dengan nada menyesal.

“Makanya, jangan terlalu  cepat emosi,” Tesa berkata dengan setengah mengejek.

“Jadi, bagaimana kyai? Kita kemana ini,” Yusran bertanya.

“Ya.. sudah kita pulang saja. Lain kali-lah kalau ada rezeki, saya ajak kalian lagi.”

“Rugi ki ini hari Kyai?”  Tanya Tesa.

“Tidak. Nak Tesa. Hari ini saya beruntung. Tuhan memberi peringatan melalui pemuda itu, agama bukan hanya di mimbar pengajian”

“Tapi dua juta kyai.”

“Itu rezeki ibu tadi, bukan rezeki saya. Saya bahagia karena Tuhan memercayakan rezeki ibu itu dari tangan saya. Saya terciprat pahala dan rasa bahagia”

Tesa tersenyum. Yusran mempercepat laju mobil menuju ke rumah Kyai Saleh.

admin

tukang utak-atik locita.co

Tentang Penulis

admin

tukang utak-atik locita.co

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.