Syahdan

Kyai Saleh dan Mantra Pejinak Buaya

TUJUAN Kyai Saleh datang ke pesantren Kyai Jafar, bukan hanya untuk membawa Dylan pulang tetapi juga untuk menziarahi makam kawan lamanya, Kyai Barak. Inilah kali pertama Kyai Saleh memiliki kesempatan berziarah.

Enam tahun yang lalu, ketika berita kematian Kyai Barak datang, istri Kyai Saleh sedang dirawat di rumah sakit. Kyai Saleh tidak berkesempatan untuk datang kecuali mengirimkan doa dari kejauhan.

Seusai salat Asar bersama Kyai Jafar, Kyai Saleh menuju ke makam Kyai Barak. Jaraknya relatif jauh. Butuh waktu satu jam perjalanan dengan kecepatan sedang.

“Saya terharu ketika mengimami salat jenazah beliau. Wangi harum semerbak tercium dari jasadnya. Sungguh beliau seorang yang saleh. Semoga kelak kita bisa mengikuti akhir hidup seperti beliau,”  kata Kyai Jafar dalam perjalanan.

“Amin,” sambut Kyai Saleh

***

Sejam berselang, mereka tiba di areal pekuburan. Santri yang membawa mobil segera mengambil posisi parkir yang tepat. Kyai Jafar dan Kyai Saleh segera turun dari mobil.

Sebelum menziarahi kuburan Kyai Barak, kedua kyai itu berjalan menuju makam Kyai Bisri, guru mereka. Mata Kyai Saleh dan Kyai Jafar agak berkaca-kaca ketika menyentuh nisan makam itu, sembari melantunkan doa terbaik untuk sang guru. Mbah Bisri, begitu beliau dikenal adalah orang yang sangat berpengaruh membentuk kepribadian dan pengetahuan keagamaan mereka.

Setelah berpuas diri melantunkan doa, Kyai Jafar menggamit lengan Kyai Saleh. Keduanya berjalan menuju makam Kyai Barak.

Suasana haru pun menyeruak di hati Kyai Saleh begitu tiba di makam Kyai Barak. Segala doa terlantun dengan khusyu.

Setelah hening beberapa jenak, Kyai Jafar tiba-tiba tertawa riuh. Kyai Saleh mengerti dan ikut tertawa. Ingatan kedua kyai ini tiba di satu peristiwa beberapa puluh tahun yang lalu. Kala itu, Kyai Jafar, Kyai Saleh, dan Kyai Barak masih menjadi santri Mbah Bisri.

***

Jafar Sabrang dan Muhammad Saleh adalah murid Mbah Bisri yang paling menonjol. Penguasaan kitab kuning mereka sangat bagus diantara para santri. Sebaliknya, Ahmad Mubarak dikenal sebagai santri paling bodoh. Dia kesulitan mencerna dengan cepat pelajaran dari gurunya.

Jafar dan Saleh diberi tugas oleh Mbah Bisri untuk membimbing Barak secara khusus. Sejak itulah, ketiganya bersahabat. Meski terkenal bodoh, tetapi Barak memiliki hati yang tulus. Dia percaya apa pun yang diperintahkan oleh Jafar dan Saleh agar bisa mendapatkan pengetahuan keagamaan seperti kedua sahabatnya itu.

Jafar-lah yang senang mengerjai Barak. Sebelum mendaras kitab, Jafar biasanya menyuruh Barak untuk memanjat kelapa terlebih dahulu. Katanya, itu adalah syarat untuk bisa cepat membaca kitab. Barak dengan lugu mengikuti saja. Padahal, Jafar hanya ingin makan kelapa muda.

Suatu ketika, Mbah Bisri memanggil ketiganya, seusai Salat Isa. Panggilan ini terasa istimewa. Tidak biasanya Mbah Bisri memanggil para santri setelah Salat Isa. Semua santri tahu kalau Mbah Bisri punya kebiasaan tidur cepat setelah Salat Isa.

“Anak-anakku. Malam ini aku ingin memberikan ilmu yang istimewa kepada kalian. Ilmu itu dapat menyelamatkan kalian dari marabahaya.”

Jafar, Saleh, dan Barak tersenyum girang. Mereka begitu gembira mendapatkan sesuatu yang istimewa dari guru mereka yang dikenal memiliki ilmu-ilmu khas.

Mbah Bisri menyerahkan tiga gulungan kertas kepada ketiga santrinya itu.

“Malam ini kalian harus mempelajari baik-baik isi tulisan dalam kertas ini. Khasiatnya tergantung dari kemampuan kalian menginterpretasinya. Besok pagi temui aku di pinggir sungai. Ingat, kalian tidak boleh saling memberitahu isi kertas itu satu sama lain. Jika kalian saling memberi tahu, khasiat ilmu itu akan hilang. Dan kalian semua akan meninggal dunia.”

Ketiga santri itu terperanjat kaget. Mereka menerima gulungan kertas itu dan meminta izin pamit.

Setibanya di kamar, ketiga santri itu membuka gulungan kertas. Jafar dan Saleh terlihat mengernyitkan dahi. Gulungan kertas ini berisi kalimat-kalimat berbahasa Arab yang disusun secara acak. Tak lama kemudian, Jafar tersenyum. Begitu pula Saleh. Kedua santri ini sepertinya telah memahami maksud dari isi gulungan kertas.

Berbeda dengan kedua karibnya itu, Barak hanya termangu memandangi gulungan kertas itu. Jangankan mengetahui susunan kalimat yang tersebar acak itu, membacanya saja Barak membutuhkan waktu yang lama. Tulisan kertas itu tidak terlalu jelas dan tidak memiliki harakat (baris) pula. Setelah mengerti bacaannya, Barak memutuskan untuk menghapal kalimat-kalimat di kertas itu.

Keesokan harinya, ketiga santri itu menuju ke sungai yang tidak jauh dari pesantren. Disana, Mbah Bisri sudah menunggu. Di dekatnya ada tiga buah nangka yang ranum.

“Anakku. Aku ingin makan buah nangka ini di gubuk sebelah,” Mbah Bisri menunjuk gubuk di seberang sungai.

“Aku ingin kalian membawa nangka ini ke seberang sungai. Jika kalian berhasil membawa nangka ini ke seberang, aku akan menikmatinya dengan senang hati.”

Ketiga santri itu saling berpandangan. Mereka belum mengerti maksud dari gurunya itu. Mengapa Mbah Bisri mau makan di seberang? Mengapa tidak memakan di sini saja?

Tanpa memerdulikan kebingungan para santrinya, Mbah Bisri berjalan menuju sampan kecil yang terikat di pinggir sungai. Sambil berdendang kecil, Mbah Bisri mengayuh perahu itu ke seberang sungai. Jarak kedua sisi sungai tidaklah terlalu jauh. Hanya sekitar 30 meter. Dengan beberapa kali kayuh saja, Mbah Bisri sudah tiba.

Setibanya di seberang, Mbah Bisri mendorong perahu itu dan berhenti di tengah. Perahu itu seolah-olah terhenti oleh batu hingga tidak bergerak sama sekali.

“Ambillah nangka itu dan bawalah ke sini, dengan cara apapun yang kalian pikirkan. Ilmu yang saya berikan kepada kalian semalam akan membantu kalian. Bacalah!”Teriak Mbah Bisri dari seberang.

Saleh maju pertama kali. Sebagai anak Makassar, dia merasa memiliki kemampuan berenang yang baik. Jarak sungai ini tidaklah sulit untuk ditaklukkan.

Saleh mengambil nangka itu dan berjalan ke tepi sungai. Dia memejamkan mata dan membaca isi gulungan kertas yang diberikan Mbah Bisri semalam. Dia kemudian melompat ke sungai. Gerakan renangnya cukup lincah. Meski satu tangannya memegang buah nangka, tetapi gerakannya tetap terlihat cepat.

Alangkah terkejutnya Saleh ketika ekor matanya menangkap pergerakan seekor buaya dari arah hulu sungai. Buaya itu bergerak cepat dan menghilang. Saleh ketakutan. Dia mempercepat gerakannya. Dia tiba di tepi sungai dengan wajah sedikit pucat. Dia menghela napas lega ketika melihat buaya itu muncul di jalur tempatnya berenang tadi.

“Mana buah nangkanya?” tanya Mbah Bisri. Saleh terperanjat. Nangka itu terlepas dari tangannya ketika menghindari kejaran buaya tadi.

“Maaf guru!” Kata Saleh dengan nada lemah. Dia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi amanat dari gurunya.

Mbah Bisri lalu memberi kode kepada Jafar dan Barak untuk bergerak. Jafar yang maju duluan. Dia tidak memiliki kemampuan berenang seperti Saleh. Lagi pula, kemunculan buaya membuatnya berpikir ulang untuk berenang. Dia menemukan solusi. Dia mengambil bambu panjang yang terletak di pinggir sungai dan membuat kait di ujungnya. Bambu itu cukup untuk menjangkau perahu Mbah Bisri tadi. Dengan sekuat tenaga, Jafar berhasil menarik perahu itu ke sisi nya.

Dengan tenang, Jafar mengambil nangka dan mengayuh perahu menuju seberang. Saleh tersenyum melihat kecerdikan sahabatnya itu. Jafar sepertinya akan mampu memenuhi amanat gurunya. Namun tanpa dinyana, perahu itu tiba-tiba oleng. Buaya tadi muncul dan mengibaskan ekornya. Perahu itu pecah berantakan. Jafar yang panik dengan sekuat tenaga berenang menuju tepi sungai menghindari buaya.

Seperti Saleh, dia pun menarik nafas lega bisa selamat dari terkaman buaya tadi.

“Mana nangkanya?”

“Maaf guru.” Jafar terkulai lemas. Tadi, nangka itu diletakkan diatas perahu.

Kini giliran Barak. Jafar dan Saleh cemas. Mereka tahu Barak tidak pandai berenang. Bagaimana caranya Barak bisa sampai kesini. Apalagi, ada buaya di sungai yang siap beraksi terhadap gerakan aneh.

Barak menarik nafas panjang sambil membaca isi gulungan yang dihafalnya dengan susah payah semalam. Setelah hatinya yakin, Barak melompat ke sungai. Dia pasrah. Dia hanya ingat, kalau isi dari gulungan kertas itu adalah ilmu yang dapat menghindarkan diri dari marabahaya. Barak meyakini itu!

Jafar dan Saleh berdiri bersamaan. Keduanya terkejut melihat kenekatan Barak. Selama beberapa detik, Barak tenggelam di sungai. Jafar dan Saleh cemas bukan kepalang. Aneh! Wajah Mbah Bisri tak sedikit pun terlihat cemas. Dia bahkan dengan tenang berjalan menuju gubuk.

Jafar dan Saleh semakin ketakutan. Wajah mereka terlihat gelisah. Barak tak jua muncul. Mereka bahkan telah menduga, Barak akan menemui akhir hidupnya di sungai ini.

Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sungai beriak kencang. Barak muncul ke permukaan sungai dengan mendekap erat buah nangka itu. Jafar dan Saleh semakin terkejut demi melihat Barak duduk di atas buaya itu dengan wajah sedikit tegang. Si buaya terlihat jinak dan tenang mengantar Barak ke tepi sungai.

Barak berhasil membawa nangka itu ke seberang. Mbah Bisri tersenyum menyambut nangka tersebut. Dengan lahap, dia menikmatinya. Bahkan tak sedikitpun membaginya kepada para santrinya itu.

“Mbah Yai, terangkanlah kepada kami apa yang sedang terjadi?”Tanya Jafar kepada Mbah Bisri.

“Kuncinya adalah keyakinan, bukan rasionalitas. Barak tertolong oleh ketidaktahuannya. Dia menikmati gulungan teks yang saya berikan sebagai teks. Dia melepaskan teks dari ikatan-ikatan apapun. Dia menenggelamkan diri dalam teks itu dengan keyakinan penuh. Meski dia tidak paham, tetapi dia yakin kalau gurunya tidak akan menyesatkannya. Meski dia tidak secerdas kalian, dia bahkan tidak tahu berenang tetapi dia yakin dengan gurunya.”

Mbah Bisri berhenti sejenak sembari menikmati biji nangka terakhir. Ketiga santri itu hanya terdiam sembari menunggu kalimat selanjutnya.

“Kalian, Jafar dan Saleh, terlalu rasional. Akibatnya, rasio kalian itulah yang membatasi kalian dengan kekuatan teks itu. Hubungan kalian dengan teks itu akhirnya terputus. Aku tahu kalian membaca teks-teks acak itu dengan urutan-urutan logis bahasa. Jika ingin menemukan kebenaran sejati, maka bodohkanlah dirimu. Semakin kamu memintarkan diri, semakin kamu menjauhkan diri dari kebenaran.”

Jafar dan Saleh saling berpandangan. Mereka tersadar betapa ilmu Tuhan begitu luas. Rahasia-rahasia ilmu Tuhan tidak bisa disingkap dengan satu jalur saja.

“Lalu buaya itu?”

“Hahahaa.. itu sahabat saya. Warisan Mbah Hasyim, guruku. Usianya baru beberapa hari ketika Mbah Hasyim menemukannya. Mbah Hasyim memintaku untuk memeliharanya. Pada mulanya, aku pun khawatir tetapi aku percaya dengan Mbah Hasyim. Benar saja. Buaya itu tumbuh jinak. Dia tidak akan memakan sesuatu kecuali dari tangan saya. Sebenarnya, mantra yang saya berikan kepada kalian semalam adalah mantra penakluk binatang buas. Hanya Barak yang berhasil menggunakannya”

Jafar dan Saleh berdiri menyalami Barak. Santri yang dianggap paling bodoh itu malah paling terdepan mendapatkan ilmu khas dari Mbah Bisri.

***

Hari sudah menjelang senja. Kyai Jafar dan Kyai Saleh meninggalkan kompleks pemakaman. Senyum tak kunjung lepas dari bibir mereka. Sepanjang perjalanan pulang, mereka bernostalgia tentang kenangan puluhan tahun lalu, bersama Barak.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Saatnya Guru Melawan

Next post

Heboh, Milea Tinggalkan Dilan