Syahdan

Kebenaran Yang Membingungkan

“Ketika filsafat bekerja, bahasa libur”

Kalimat Kyai Saleh itu terngiang-ngiang di telinga Sampara seusai pulang dari masjid. Kalimat itu terasa aneh tetapi enak didengar. Bahasa libur? Bagaimana caranya? Pertanyaan- pertanyaan itu mengendap di kepala Sampara.

Sampara yang kini tinggal di rumah Kyai Saleh-sejak kepergian istri beliau- seringkali mencari waktu yang tepat untuk bertanya. Sebagai santri yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, beberapa kalimat Kyai Saleh sulit tercerna oleh otaknya.

Sampara sepertinya menemukan waktu yang tepat.

Pagi hari, Kyai Saleh sedang berada di teras rumahnya. Sampara segera ke dapur dan membuatkan kopi. Setelah tirisan kopi sudah siap, Sampara segera membawanya ke teras rumah.

“Terima kasih, Sampara!” Ucap Kyai Saleh ketika melihat Sampara muncul menghidangkan segelas kopi.

“Kyai, ada yang ingin saya tanyakan kepada kita.” Kata Sampara setelah beberapa jenak terdiam.

“Apa sedeng?”

“Tadi malam di masjid, ada kalimat ta yang bikin bingung ka.”

“Kalimat yang mana?”

“Itu… Kyai. Kalau bekerja filsafat, bahasa libur. Bagaimana caranya bahasa libur?”

“Oooo…. Itu bahasa kiasan, Sampara. Itu ungkapan dari seorang filosof bahasa.”

“Apa mi maksudnya, Kyai?”

“Filsafat biasanya tidak mudah dipahami karena diungkapkan dengan cara berbahasa yang aneh, yang berbeda dengan yang dipahami banyak orang. Kalau dalam agama, para sufi biasanya membuat kekacauan berbahasa. Mereka membuat bahasanya sendiri sehingga orang tidak mudah mengerti. Syekh Siti Jenar misalnya. Ketika orang mendatangi dan mencarinya, dia bilang. Disini tidak ada Siti Jenar, disini hanya ada Tuhan! Orang bingung mehamaminya. Dari kebingungan itulah biasanya muncul kesalahpahaman.”

“Siapa itu Siti Jenar, Kyai?”

“Ooo… dia seorang ahli agama yang hidup di era wali songo. Saya menganggapnya dia seorang sufi. Dia melakukan pendalaman agama dengan menyepi dari keramaian. Dia, dalam pencariannya tiba pada kesimpulan kalau manusia dan Tuhan itu satu, menyatu. Manunggaling kawulo-gusti. Tuhan-manusia adalah kesatuan.”

Sampara terdiam. Sejatinya, dia belum mengerti kalimat Kyai Saleh tetapi dia juga tidak memiliki stok pertanyaan.

Kyai Saleh tampaknya memahami kebingungan Sampara.

“Begini, Sampara. Kebenaran menjadi persoalan, bukan karena manusia tidak bisa menemukan kebenaran tetapi karena alat untuk menjelaskan kebenaran sangatlah terbatas. Ibarat lautan, manusia hanya bisa mengambil satu gelas untuk menjelaskan lautan. Tentu tidak cukup, meski itu bisa mewakili.”

“Apa yang membatasi manusia?”

“Pengetahuan dan bahasa. Ilmu manusia ini hanyalah secuil. Pengetahuan manusia terbatas. Bahasa yang digunakan manusia juga sangat terbatas. Di tengah keterbatasan itulah, manusia harus bijak. Setiap kabar kebenaran yang datang kepada kita, sebaiknya tidak begitu saja diterima pun juga tidak begitu saja ditolak.”

“Kenapa kita bilang bahasa itu terbatas?”

“Bahasa itu sistem, Sampara. Ibarat permainan, aturan dalam sepakbola tidak bisa diterapkan begitu saja dalam aturan bulu tangkis. Meski sama-sama olahraga, tetapi mereka punya aturan berbeda-beda. Bahasa pun begitu. Bahasa agama, bahasa filsafat, bahasa politik, bahasa sastra, berbeda aturan mainnya. Jika dikacau balaukan, maka yang muncul kekacauan.”

“Itu mi yang terjadi di Indonesia, Kyai?”

“Ya. Sebagian dari kita ini berdebat panjang lebar, hanya karena cara kita berbahasa yang berbeda.”

Perbincangan terhenti. Ais, Yusran, Tesa, dan beberapa orang santri perempuan datang. Mereka membawa sagu, ikan, dan beberapa jenis penganan.

“Assalamu Alaikum, Kyai!”

“Wa alaikum salam. Wah, ada apa ini pagi-pagi sudah datang bertamu?”

“Ini, Kyai. Ada yang kirimi ka, sagu.” Ais yang menjawab. “Sudah lama-lama ini, tidak makan kapurung, Kyai!”

“Wah…. Betul. Sejak ibu meninggal, saya belum pernah mi lagi makan kapurung.”

Kyai Saleh tersenyum sumringah.

“Ada ji yang bisa bikin kapurung?” Kyai Saleh bertanya.

“Istri saya bisa ji Kyai. Tapi mungkin tidak seenak buatan ibu.” Sampara menyela. Dia mengambil bahan-bahan makanan dan membawanya ke dapur.

Tak lama kemudian, Sampara kembali muncul.

“Kulanjutkan tadi pertanyaanku, Kyai. Bagaimana pendapatta kepada orang yang suka bilang bid’ah, Kyai. Apa juga karena persoalan bahasa?”

Kyai Saleh tersenyum melihat antusiasme Sampara.

“Bid’ah itu disepakati kebenarannya oleh semua kelompok dalam Islam. Siapapun kelompok agama itu. Kullu bid’atin dalalah wa kullu dalalatin finnar. Semua bid’ah adalah kesesatan dan semua kesesatan itu di neraka.”

Sampara terhenyak.

“Trus, kenapa pale orang berbeda pendapat tentang bid’ah.” Yusran menyela.

“Yang diperdebatkan bukan bid’ahnya, tetapi ukuran bid’ah. Ada yang ketat, ada yang longgar. Contohnya maulid. Bagi yang bilang itu bid’ah karena menganggap perbuatan itu tidak memiliki dasar dalam Islam. Sedangkan bagi yang menganggapnya bukan bid’ah, maulid adalah syiar Islam. Melaksanakan maulid atau tidak, ya tidak masalah karena posisinya sebagai syiar Islam yang berisi pesan-pesan ajaran Islam. Maulid berisi salawat dan pujian kepada Nabi, bukankah memuji nabi adalah perintah?”

“Jadi, bagaimana cara kita untuk menemukan kebenaran sejati.”

“Setiap manusia bisa menemukan kebenaran sejati, yang tidak mungkin ditemukan adalah kebenaran tunggal nan mutlak karena keterbatasan tadi.”

“Bukankah Tuhan adalah kebenaran tunggal.”

“Betul. Bagi setiap agama, Tuhan adalah kebenaran yang mutlak. Tetapi kebenaran tentang Tuhan di masing-masing agama berbeda. Sehingga ketika dua agama berdialog, maka yang lahir adalah perdebatan.”

“Maksud Kyai, konsep tentang Tuhan pun tidak mutlak?”

“Bukan? Tuhan itu mutlak adanya. Jangan meragukan kemutlakan Tuhan. Tetapi ketika Tuhan dikonsepsi oleh sistem, bahasa, kebudayaan, sejarah, dan agama yang berbeda, konsep tentang Tuhan menjadi berbeda. Bukan karena Tuhan tidak mutlak tetapi bahasa yang kita gunakan yang terbatas dan berbeda.”

“Jadi, bagaimana caranya kita menemukan kebenaran mutlak yang tidak diperdebatkan.”

“Ketika bahasa menjadi hantaran kebenaran, maka perbedaan pasti tercipta. Jadi diamlah! Itu salah satu cara.”

“Cara lainnya?”

“Hati yang lebar untuk menerima perbedaan.”

Hening.

Tak lama kemudian, istri Sampara muncul dan memberitahu kalau hidangan kapurung sudah siap.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Kartini Menulis Bukan Pamer Kebaya

Next post

Surat Cinta Untuk Respiratori Saddam Al-Jihad