Locita

Facebook, Diprotes Karena Dicintai?

AIS merasa geram melihat segerombolan orang melakukan demo ke kantor perwakilan FB di Jakarta. “Apa urusan mereka? Kalau FB mau boikot kalian ya suka-suka FB dong!” Begitu hati Ais menggerutu.

Kata munafik segera muncul di otak Ais. Di satu sisi, mereka berteriak kafir-kafir tetapi sekarang mereka menuntut “keadilan” dari perusahaan yang dimiliki orang kafir itu. Ah, sudahlah! Ais mematikan laptop.

Azan magrib sudah terdengar dari masjid Nurul Autar. Ais merasa perlu menanyakan sikap Kyai Saleh terhadap peristiwa ini.

Ais harus kecewa. Kyai Saleh tidak datang ke masjid. Hari ini tidak ada pengajian. Ais merasa sedikit kesal. Dia segera ingin mendapatkan jawaban dari Kyai Saleh. Kyai berusia sepuh itu biasanya memberikan jawaban-jawaban alternatif yang menenangkan.

Meski tidak ada kajian, para jamaah tetap berkumpul bersama sembari menunggu azan Isya.

“Kemana Kyai Saleh?” Tanya Ais.

“Kayaknya ada undangan di daerah.”

Dee… sibuk sekali Pak Kyai bela. Padahal, ada yang mau kutanyakan.”

“Tanyakan mi sama saya. Bisa ji ku jawab itu.” Kata Yusran menggoda Ais.

“Bisa pi itu. Nanti jawabanmu menyesatkan bela.”

“Apakah yang merisaukan pikiranmu, duhai ukhti!” Giliran Tesa yang mencandai Ais.

Itue… bisanya itu ada yang demo Facebook baru kemarin dia tongji bilang mau boikot. Giliran diboikot sama facebook eh, moro-moroki.

“Tidak apa-apa ji… biarkan mi saja,” jawab Yusran.

Dee… jawabanmu Yus. Bikin dongkol ji,” wajah Ais cemberut.

“Jadi apa ji memang… kan hak dia to mau demo atau tidak. Dia tong ji yang kepanasan bukan kita.”

“Maksudku… kalau memang membawa nama agama harusnya konsisten. Kalau memang tidak suka orang kafir, sekalian jangan pakai produknya. Ini malah kesannya orang Islam yang ngemis-ngemis ke orang kafir supaya diizinkan pake produknya.”

“Betul juga, ukhti!” Perbincangan mereka berakhir ketika muadzin mengumandangkan azan Salat Isya.

***

Keesokan harinya. Kyai Saleh sudah tiba dari daerah. Meski malam ini tidak ada pengajian, tetapi Ais tetap menghadap Kyai Saleh untuk melanjutkan pertanyaan yang tertunda kemarin.

“Kyai… bagaimana menurutta kalau orang berbicara tetapi tidak sesuai kenyataan.”

“Itu ciri-ciri orang munafik.”

“Berarti munafik mi itu orang yang kemarin demo di kantor Facebook padahal sebelumnya mereka tongji yang bilang tidak mau mi pake Facebook.”

“Jangan terlalu cepat menuduh sesama muslim sebagai orang munafik. Jika tuduhanmu salah, maka kamu bisa dianggap sama dengan yang kamu tuduhkan. Kalaupun tuduhan kamu benar, tetap tidak baik.”

“Tapi bagaimana ka memang Kyai…mereka selalu teriak kafir-kafir. Baru ternyata butuh juga dengan benda-benda orang kafir,” sela Tesa.

“Anakku semua. Istilah kekafiran adalah istilah teologis. Ayat-ayat Alquran yang menisbatkan kepada kekafiran kebanyakan bersandar pada hubungan kepada Allah atau hubungan yang bersifat vertikal. Itulah sebabnya, orang-orang yang tidak menyembah seperti cara muslim menyembah disebut kafir. Dalam beberapa situasi Nabi menggunakan istilah kafir sebagai identitas politik, seperti istilah kafir harbi dan kafir dzimmi. Tapi ingat, orang yang tidak bersyukur kepada Allah juga diberi istilah kafir. Hadis Nabi mengatakan orang yang meninggalkan salat secara sengaja pun disebut sebagai kekafiran. Jadi tidak melulu kepada non-muslim.”

“Apa boleh kita teriak kafir kepada mereka?”

“Islam mengajarkan persahabatan. Jika teriakan kafir disertai dengan niat penghinaan terhadap mereka, rasanya tidak tepat. Rasulullah sangat baik memperlakukan kaum kafir dzimmi. Di dunia sosial kita saat ini, istilah kafir yang semula istilah teologis mengalami perluasan makna menjadi pejoratif. Karena itu, kepekaan kita dalam berkomunikasi penting. Menyebut mereka dengan kata kafir atau tidak, tidak akan mengubah status teologis mereka dalam perspektif agama kita.”

“Bolehkah kita menggunakan barang non-muslim seperti Facebook?”

“Para ulama memberikan defenisi, hadlarah, dan madaniah. Ada pula menggunakan istilah tsaqafah menggantikan istilah hadlarah. Di dunia barat kita mengenal istilah culture dan civilization. Intinya, hadlarah adalah sistem nilai, cara pandang, dan sistem sosial dimana perilaku mereka disandarkan. Pada bagian ini kita cukup ketat untuk mengambilnya. Bahkan sebagian ulama menyebut penggunaan hadlarah mereka, haram. Sedangkan madaniah adalah hasil kreasi yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sebut saja hasil teknologi yang dinikmati oleh sebagian besar umat Islam di dunia ini adalah hasil kreasi orang-orang Barat yang sebagian besar atau bahkan seluruhnya bukan orang Islam. Madaniah pun bisa dibagi dua madaniah  umm (umum) dan madaniah khas (khusus).”

“Tetapi bukankah itu bukan sikap kemunafikan ketika di satu sisi kita menyebut non-muslim sebagai orang kafir, tetapi di sisi lain kita menggantungkan hidup kepada mereka.”

“Ya.. itu kelemahan kita sebagai umat Islam. Tetapi, itu tidak berarti kita tidak boleh bertransaksi dengan mereka. Para ulama sudah memberi titik batasan yang bisa digunakan.”

“Seperti kemarin, ada kelompok orang yang mendemo kantor Facebook. Protes karena diblokir akunnya. Padahal, dari mereka juga ada yang koar-koar mau blokir Facebook. Bagaimana itu Kyai?”

“Itu sikap cinta. Seseorang yang sangat mencintai kekasihnya pasti sedih ketika ditinggalkan.”

Deeh…..bisanya itu, Kyai.”

“Hehehehe…..Demo itu hak mereka. Terserah mereka. Cuma menurut saya, Facebook ini bukan barang jual beli. Dia adalah rumah virtual yang tanpa batas, dimana semua manusia dari berbagai ras, agama, dan identitas sosial lainnya berkumpul bersama-sama. Tetapi, kita disana bukanlah pemilik, kita hanya tamu yang diizinkanuntuk masuk dengan beberapa persyaratan yang kita setujui sebelum log in. Pemiliknya adalah penciptanya sendiri. Jadi, ketika kita memprotes kebijakan Facebook itu sejatinya menunjukkan keterjajahan kita.”

“Jadi apa yang sebaiknya dilakukan?”

“Jangan melawan peradaban dengan kemarahan. Jangan lawan pengetahuan dengan pedang. Lawan peradaban dengan peradaban. Lawan pengetahuan dengan pengetahuan. Para pahlawan Islam bukan hanya mereka yang berteriak jihad di medan perang, tetapi mereka yang menggoreskan pena dan membangun intelektualitas. Dunia mengenali Al-Kindi, Avicenna, Al-Khawarizmi, Al-Jabar, Averroes sebagai intelektual penting dalam sejarah peradaban dunia. Warisan pengetahuan mereka sekarang dikembangkan di Barat sana. Bukankah Mark Zuckerberg mengakui kalau dia tidak akan bisa mengembangkan Facebook andaikata Al-Khawarizmi tidak menemukan angka 0?”

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

1 comment

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.