Syahdan

Abu Tours, Kamu Jahat

HARI-hari Sampara sedang memasuki episode menyedihkan. Bayangan untuk segera mencium aroma Masjid Haram, menghirup udara tempat Nabi Muhammad dilahirkan, dan ikut dalam gegap gempita spiritual yang mengharukan, sirna dalam sekerlip mata. Padahal, seharusnya minggu depan dia sudah berangkat untuk umrah. Gara-garanya, pemilik Abu Tours harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Semua jamaah yang sudah terjadwal pemberangkatannya akhirnya tertunda, termasuk Sampara. Setahun yang lalu, dia bertemu dengan seorang kawan lama yang baru pulang dari ibadah umrah. Sang kawan kini malah menjadi agen dari perusahaan travel untuk merekrut sebanyak mungkin peminat.

“Lammoro’ji, 13 juta bisa maki berangkat!” Kata sang agen setelah menjejali Sampara dengan pengalaman spiritual di Mekkah yang memesona jiwa. Sang agen tidak lupa membandingkan harga perjalanan antara Abu Tours dan agen perjalanan umrah lainnya. Perbedaannya memang cukup signifikan. Nyaris setengah!“

“Ndak cukup uangku bela!” Sampara sebenarnya tertarik tetapi dia sadar diri. Meski dianggap murah namun uang Sampara tetap tidak mencukupi.

“Berapa uangmu?”

“Ada di tabunganku 7 juta!”

“Begini saja. Mendaftarmi saja dulu. Sayapi tambah kekurangannya dulu. Kan, juga tahun depan baru berangkat. Dua bulan sebelum berangkat baru kau lunasi.” Sampara mendelik. Tawaran ini sangat menggodanya.

“Aiii…Siapa tahu saya tidak bisa lunasi utang menjelang berangkat. Janganmi deh.” Sampara mencoba realistis meski kalimat godaan itu sudah mulai menyerangnya.

“Daeng. Kalau berniatki menjadi tamu Allah. Allah akan memudahkan segala urusanta. Yang penting kita usaha dengan sungguh-sungguh. Kita tauji to, berapa jumlah pahala kalau beribadah di masjid haram?”

Sampara mengangguk-angguk. Dia sudah pernah mendengar dari Kyai Saleh. Seseorang yang salat di masjid haram bakal mendapatkan pahala 100.000 lebih banyak dari masjid lainnya. Setelah berdiskusi dengan sang istri, Sampara merelakan tabungannya untuk mendaftar. Tabungan yang berasal dari sisihan rejeki selama bertahun-tahun direlakannya untuk memenuhi impiannya beribadah di Mekkah. Sang kawan benar. Setelah pendaftaran itu, semangat Sampara untuk bekerja lebih giat. Dan, dia merasakan rezekinya lebih lancar setelah itu. Enam bulan kemudian dia bisa melunasi utangnya.

“Apa kubilang… dimudahkan rezeki ta to!” Kata sang agen dengan mata berbinar ketika Sampara datang melunasi utangnya.

Sampara menyambut kalimat itu dengan senyum lebar. Bayangan tentang Mekkah sejak itu mulai merasuk di benaknya. Impiannya akan segera terwujud. Akan tetapi, impian itu amblas. Serupa bangunan pasir di pinggir pantai yang disusun pelan dan penuh dedikasi, namun lenyap seketika oleh jilatan ombak. Pemilik Abu Tours sudah ditahan. Obsesinya untuk berangkat ke Mekkah ambruk. Pun, uang puluhan juta tak jelas pula. Sang agen pun tak tahu di mana rimbanya.

Hari ini, dimana dia seharusnya menghirup udara Mekkah, namun nasib justru membawanya ke titik kepedihan.

“Abu Tours, kamu jahat!” umpat Sampara kesal.

***

“Kenapako Sampara? Saya perhatikan akhir-akhir ini kau murung. Selalumi juga terlambat ke masjid,” tegur Kyai Saleh suatu hari setelah salat Magrib.

“Tidakji Kyai,” Sampara mencoba menghindar. Dia merasa malu telah menjadi ‘korban’ dari Abu Tours.

“Janganmi bohong. Pasti ada sesuatu yang terjadi.”

Anu, Kyai….” Sampara masih enggan bicara.

“Sampara jadi korban Abu Tours, Kyai!” Yusran angkat suara menyela.

Sampara memandang wajah Yusran. Dia tidak menyangka kalau Yusran mengetahuinya.

“Benarkah, Sampara!” Kyai Saleh memandangi Sampara. Sampara tertunduk lesu dan mengangguk pelan.

“Itumi juga Kyai. Saya paling kesal dengan orang begini. Dahi gosong, janggut panjang, tampang alim tetapi jatuhnya menipu umat.” Yusran mengepalkan tangan.Wajahnya terlihat kesal.

“Jangan terlalu cepat memberi penilaian, Yusran!”

“Apalagi, Kyai. Liat maki Sampara. Uangnya ludes, baru tidak bisaji berangkat. Tidak kembali juga uangnya. Saya baca di koran, gaya hidup orang ini mewah-mewah. Mobilnya deh yang mahal sekali. Padahal ini uang jamaah.”

“Ya, karena itu dia sudah menerima resikonya. Dia sudah akan dihukum penjarakan?”

“Tapi modusnya itu Kyai. Dia memanfaatkan impian orang Islam yang ingin bertamu ke rumah Allah. Bagaimana mungkin orang setega itu. Menjual agama untuk kepentingan diri sendiri.”

“Boleh jadi, niatnya tidak menipu.”

Trus apa Kyai? Faktanya dia menipu banyak orang. Ternyata dia tidak bisa memberangkatkan orang dan juga tidak bisa mengembalikan uang orang.”

“Dia hanya kurang jujur menyampaikan kelemahan dari sistem yang dijalankannya. Dalam jual beli ada disebut gharar. Ujungnya bisa menjadi penipuan.”

“Apa gharar itu Kyai?”

“Sederhananya, gharar adalah ketidakjelasan. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh satu pihak. Tidak dijelaskan kelemahan, bahaya, ketidak jelasan akibat, resiko dan sebagainya. Jual beli yang mengandung gharar dilarang karena bisa menimbulkan rasa ketidakadilan dari satu pihak, seperti yang dialami Sampara dan korban lainnya.”

Iye, Kyai. Kalau dijelaskan kemungkinan resiko tidak jadi berangkat tentutidak akan banyak peminatnya.”

“Benar. Disitu letak gharar-nya. Resikonya tidak diungkapkan dengan jujur. Dia menggunakan skema Ponzi. Nyawa dari bisnisnya adalah investasi massa. Subsidi silang. Yang mendaftar belakangan pada prinsipnya menyumbang pendaftar yang terdahulu, begitu seterusnya. Semakin banyak orang mendaftar semakin bisa dilakukan. Karena itu, yang dipermainkan adalah tempo. Uang yang menumpuk selama kurun waktu tertentu bisa digunakan untuk usaha lain yang bisa menghasilkan keuntungan cepat sehingga semua orang bisa diberangkatkan. Persoalan dari skema Ponzi adalah ketika pendaftar mulai berkurang atau kepercayaan semakin menurun, maka pasti bermasalah.”

“Jadi bagaimanami Sampara kodong?”

“Sabar Sampara. Niatmu untuk beribadah pasti sudah sampai ke Tuhan. Sejatinya kamu sudah menjadi tamu Allah. Kesabaranmu untuk menerima semua ini bisa menjadi tanda bahwa ibadah umrahmu telah diterima oleh Allah.”

Sampara hanya terdiam. Kalimat Kyai Saleh cukup meresap di hatinya.

“Bisakah begitu, Kyai?” Yusran bertanya lagi.“

Inti dari ibadah adalah pembentukan karakter diri. Bukan mempersolek diri dengan simbol artifisial. Allah tidak melihat simbol yang melekat pada dirimu tetapi bagaimana hatimu bekerja untuk kemanusiaan. Itu tujuan dari semua proses ibadah yang kita lakukan.”

“Kayak ini mi Kyai. Pemilik Abu Tours itu jidat hitam, janggut panjang tapi menipu saudara sendiri.”

“Saya tidak berani menilai orang lebih dalam karena saya tidak pernah bertemu dengannya. Tetapi kebaikan dan kejahatan bisa diukur dari dampaknya terhadap kemanusiaan. Semakin banyak orang menangis tertindas karena perbuatan kita, maka bersiaplah menerima kemarahan Tuhan. Sebaliknya, semakin banyak orang berbahagia karena kebaikan yang kita berikan, maka bersiaplah menerima senyuman Tuhan.”

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Rahasia Nama Jokowi dan Mukjizat Angka-angka Al-Qur'an

Next post

Gatot Nurmantyo Pensiun: Kemana Ia Akan Berlabuh?