Syahdan

Abu Janda, Felix Siauw, dan Bendera Rasulullah

“AH, Felix keren semalam di ILC. Mati kutu si Abu Janda.” Kata Tesa.

“Iya di… kenapa tong si Abu Janda itu coddo-coddo tentang hadis sementara dia tidak tahu. Marahmi Pak Mahfud.” Yusran menimpali.

“Kira-kira, bagaimana pendapat Kyai Saleh di?”

“Ah, beliau pasti tidak nonton. Tidak nasukaki lihat orang berkelahi.” Kata Ais.

“Kau, Ais. Kira-kira kalau Kyai Saleh ditanya apa jawabannya?” Tanya Faris.

Ais memperbaiki posisi duduknya seperti cara duduk Kyai Saleh. Dia batuk sedikit, lalu berbicara, “Anakku semua! Ada dua cara melihat fenomena ini. Suudzhon dan husnudzhon. Abu Janda itu sedang berada dalam pencarian. Dia penting bagi bangsa ini untuk menjaga NKRI. Sedangkan Felix dibutuhkan oleh anak-anak muda Islam.” Yang lain tertawa terbahak-bahak. Mimik Ais sangat lucu meniru Kyai Saleh. Mereka terus menerus bercanda, hingga satu suara terdengar.

“Serunya tawwa!” Ais terkesiap kaget. Itu suara Kyai Saleh. Dia tersenyum malu ketika melihat Kyai Saleh sudah berada di belakangnya. Sedangkan yang lain tertawa cekikian melihat wajah Ais yang memerah.

“Ais, kyai. Dia tiru-tiruki.” Kata Tesa menggoda. Ais salah tingkah.

“Tidak apa-apaji. Ais ini santriku yang paling kritis,” kata Kyai Saleh.

Wajah Ais kembali normal dengan sedikit senyum senang.“Dibawa ke rumah sakit itu, kyai, kalau kritis ki.” Kyai Saleh tersenyum mendengar olokan Yusran.

“Apa yang kalian obrolkan, seru sekali?”

“Itu, Kyai… tentang acara ILC kemarin.”

“Nonton jaki kyai?” Ais bertanya.

“Hmmmm.. Ais. Gara-gara kau mi itu, saya harus menonton dan buka internet. Nanti kau bilangi lagi saya tidak up date,” kata Kyai Saleh. Ais tersenyum kecil.

“Jadi, bagaimana menurut ta kyai? Benarkah, bendera yang diklaim oleh Felix sebagai bendera Rasulullah.”

“Kalau mengikuti hadis yang dibaca oleh si Felix, ya benar. Hadis itu bilang panji rasul itu warnanya hitam dan putih, ada tulisan syahadatnya.”

“Apa kubilang, piti kana-kanaiji memang itu Abu Janda,” kata Tesa.

“Belum tentu, Abu Janda salah.”

“Loh, bukannya Kyai bilang Felix benar.”

“Saya ndak bilang Felix benar, Abu Janda salah. Saya bilang, jika mengikuti hadis Nabi berarti benar. Tidak mungkin hadits itu keliru.

“Mulai lagi kyai berbelit-belit. Kalau haditsnya benar, berarti Felix benar dan si Abu Janda salah.”

“Begini. Hadis tentang liwa dan rayah Rasulullah itu banyak. Ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang dhaif.

“Tabe, kyai. Apa itu rayah dan liwa?” tanya Tesa

Rayah itu bendera besar. Liwa bendera kecil, seperti panji-panji.”

“Lanjutki, Kyai.”

“Hadis tentang rayah berwarna hitam dan liwa berwarna putih itu bisa ditemukan dalam HR. Bukhari. Ini hadis sahih. Tetapi hadis ini tidak menyebutkan ada tulisan di dalamnya, hanya warna. Sedangkan, hadis yang menyebutkan ada lafaz la ilaha illaAllah, Muhammad rasulullah itu ditemukan dalam Hadis Thabrani. Ada juga riwayat dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Hadis-hadis ini levelnya hasan, hasan li gairihi, dan dhaif karena ada perawi yang dianggap tidak terpercaya atau gairu tsiqah. Ada pula hadis Abu Daud menyebutkan warna bendera Rasulullah itu kuning.”

“Memang kalau dhaif ndak boleh dipake kyai?” Yusran bertanya dengan mimik serius.

“Boleh. Hadis dhaif boleh digunakan sebagai bagian dari syiar Islam. Tetapi untuk menjadikannya sebagai hujjah, para ulama enggan menggunakan. Dikhawatirkan itu bukan ucapan Rasulullah. Yang mau menggunakan bendera hitam itu sebagai bagian dari syiar Islam, boleh saja.”

“Nah, si Abu Janda salah mentong karena dia menuduh bendera HTI, padahal itu bendera umat Islam,” kata Faris.

“Begini. Abu Janda benar ketika menyebut bendera hitam yang diperlihatkan di foto adalah bendera HTI. Dia mengingatkan kepada negara, bahwa HTI yang sudah dibubarkan itu masih ada. Bendera itu sebagai indikatornya. Itu pesannya.”

“Loh, tadi kyai bilang sesuai hadis. Saya jadi bingung?” kata Faris dengan kening mengkerut.

“Sederhana. Sejak HTI muncul, merekalah yang selalu menggunakan bendera itu sebagai simbol gerakan. Muhammadiyah tidak, NU tidak, SI tidak, FPI tidak, Al-Irsyad tidak, DDI tidak, As’adiyah tidak. Organisasi-organisasi ini punya bendera sendiri. Jadi, secara sosiologis bendera hitam dengan corak seperti itu terasosiasi ke HTI.”

“Tapi kan Felix bilang ini bendera Rasulullah.” Tesa menyela.

“Disitu masalahnya. Bendera Nabi hakikatnya sudah tidak ada. Kalaupun ada pasti disimpan di tempat yang sangat aman. Bendera yang diklaim Felix itu adalah interpretasi terhadap hadis. Itu tiruan. Itupun tidak dijelaskan, standar yang ditiru ada atau tidak. Apakah Felix sudah pernah melihat bendera Rasulullah langsung, lalu yakin bahwa bendera HTI itu sama dengan bendera Rasul. Model hurufnya, letak kalimat, jenis kainnya?”

“Iya … juga ya,” sela Tesa.

“Kandungan hadis yang diucapkan Felix itu bersifat umum. Warna dan isi tulisan. Itu saja! Jadi, siapa saja yang memiliki kain segi empat dengan warna hitam atau putih lalu menulis kalimat la ilaha illah Allah dan Muhammad rasulullah dengan model khat apa saja, itu bisa mengklaim sebagai bendera rasulullah. Contoh, bendera ISIS itu warnanya hitam dan ada tulisan syahadat tetapi model khat-nya berbeda dengan model khat bendera HTI. Dua-duanya boleh mengklaim. Itu hak mereka!”

“Apakah tidak ada petunjuk yang spesifik tentang bendera Rasulullah?” Ais bertanya.

“Hadis yang saya temukan menjelaskan beberapa ciri-ciri seperti warna hitam untuk rayah, putih untuk liwa, ada yang berwarna kuning, ada tulisan syahadat, terbuat dari kain wol, dan digunakan pada saat perang. Ada yang menyebut pake khat madinah di zaman itu. Inilah serangkaian petunjuk tentang bendera Rasulullah. Tetapi, tidak ada satu pun hadis yang memerintahkan untuk menjadikan itu sebagai simbol. Karena itu
bendera negara-negara Islam sekarang bermacam-macam. Pun, zaman khilafah benderanya berbeda sesuai dinasti khalifahnya.” Yusran, Ais, Tesa, dan Faris menganggu-angguk.

“Anakku. Bendera Rasulullah itu sakral. Tidak diserahkan kepada sembarangan orang. Hanya pemimpin perang atau orang yang layak. Rasulullah sangat mengistimewakan benderanya hingga diberi nama Al-Uqab. Ada juga riwayat menyebut nama An-Namr. Dalam kitab Umdat Al-Qaari karya Imam Ainy disebutkan bahwa rayah tidak akan diserahkan kecuali atas izin imam. Ia tidak boleh dialihkan kecuali atas perintah imam.”

“Waahh…. Sakral ya, Kyai,” celetuk Yusran.

“Iya. Jadi, yang selalu mengklaim benderanya sebagai bendera Rasulullah. Perlakukanlah dengan sakral. Jangan diobral-obral di tengah jalan. Dipegang oleh sembarangan orang. Dipakai untuk membunuh sesama muslim, seperti para tentara ISIS. Jika memang mau menisbat kepada Nabi, nisbatlah dengan total.”

“Bagaimana dengan bendera Merah Putih, Kyai?” tanya Ais lagi.

“Itu simbol negara kita…. para ulama di nusantara tidak ada yang mempersoalkan. Bahkan Sayyid Idrus Salim bin Salim Al-Jufri, penyebar Islam di Sulawesi Tengah. Pendiri Pesantren Al-Khairat. Beliau membuat syair yang cukup panjang dalam bahasa Arab tentang bendera kita. Saya kutip satu bait. Begini bunyinya, kullu ummatin laha ramzu azz, wa ramzu azzina al-hamra wal baidha. Setiap bangsa memiliki lambang kemuliannya. Dan lambang kemuliaan kita adalah Merah Putih.” Jawab Kyai Saleh. Para santri Kyai Saleh itu mengangguk-angguk.

“Anak-anakku. Bendera Rasulullah yang sesungguhnya adalah kasih sayang. Kasih sayang yang melindungi semua umat di alam ini. Rahmatan lil alamin,” tutup Kyai Saleh sembari berlalu.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Bitcoin Merajalela, Meski Dilarang di Indonesia

Next post

Cerpen untuk Diana dan Jasmine