FeaturedSiapa

Juang Malibu Manyala, Musisi yang Berbicara Pilkada Sulsel Wawancara bersama Juang Malibu Manyala

SOFA empuk di ruang tamu sekolah kreatif Prolog, menampung seorang pemuda yang sedang berapi-api mengeluarkan pendapatnya.

Namanya adalah Juang Malibu Manyala, seorang pemuda kelahiran Lapri 27 tahun silam. Namanya besar di lingkungan skena musik di Makassar dan Sulawesi Selatan. Locita.co berkesempatan nongki-nongki bersamanya Senin sore (8/1/2018) kemarin. Saat itu cerita kosong kita berada pada kematian majalah Rolling Stone Indonesia.

“Sebagai orang yang senang membaca, saya sedih Rolling Stone mati. Tapi sebagai pegiat skena di kawasan timur Indonesia, saya senang majalah itu tutup,” tuturnya.

Menurutnya, majalah tersebut tidak membuka ruang untuk para musisi di luar Jawa. Dengan begitu menurutnya para musisi sudah tidak perlu lagi ada platform yang mendikte selera musik pembaca. Lanjutnya, para musisi kemudian ditantang bertarung dengan karya dan gimmick secara kreatif menggunakan semua fasilitas yang ada.

Begitulah Juang (sapaan Juang Manyala). Dia memang terkenal memiliki visi yang berbeda terhadap skena. Hal itu diakui oleh Irwan Setiawan, salah satu personel kelompok musik Clementine.

“Begitu memang dia. Sekalipun kadang lappo-lappo (meledak-ledak) bicaranya,” lanjut Irwan yang juga pegawai kantoran ini.

Di sekitar tahun 2010-an, nama Juang menyalak di skena musik Makassar karena melakukan tur Jawa dan Sulawesi bersama bandnya, Melismatis. Albumnya laris manis di lapakan-lapakan rilisan fisik di Makassar. Dia juga mendirikan label rekaman independen atas nama Vonis Records. Selain dari itu, lulusan manajemen musik ini juga menggarap soundtrack film. Salah satunya adalah film Athirah, yang merajai Festival Film Indonesia tahun 2016. Keterlibatannya di film juga mengantarkannya sebagai pengarah musik untuk film Suhu Beku.

Selanjutnya dia adalah founder dari Prolog, sebuah sekolah creativepreneur yang kini menjadi ekosistem seni kreatif yang terletak di Tanjung Bunga, Makassar.

Ayah satu anak ini lahir dari keluarga yang dibesarkan dari garis darah politik. Dengan latar belakang seperti itu Locita.co kemudian berniat mengajaknya berbincang dengannya soal Pilwalkot dan Pilgub dalam korelasinya terhadap pembangunan industri kreatif dan skena musik di kawasan Sulsel, sebagai lanjutan tulisan, “Arah Dukungan Pegiat Industri Musik di Pilkada Sulsel“.

Juang Manyala di Rumata Art Space (sumber foto: revi.us)

Menurutmu apa Pilgub atau Pilwalkot bisa membantu perkembangan industri atau skena musik?

Bisa

Dengan?

Dengan kekuasaan tertinggi bisa melakukan apapun. Kalau kita bilang bisa, ya. Mereka bisa dibilang kompeten sekali untuk melakukan itu. Cuma kalau pertanyaannya, ‘Apakah tanpa kekuasaan politik atau pemerintah, skena tidak bisa maju?”. Jawabannya itu, ‘Bisa tanpa pemerintah’

Pandangamu kalau band lokal di Makassar, tiba-tiba bicara politik atau menyatakan dukungan secara ekspilist kepada kandidat seperti yang dilakukan Glenn Fredly atau Tompi. Menurutmu kalau di Makassar atau Sulawesi itu menjadi trend, apakah itu bagus?

Tidak apa-apa kalau kepentingannya ada di situ, dan kalau dia merasa itu penting. Ketika dia masuk sebagai tim dan memiliki daya yang besar. Sejauh ini kan belum ada sosok yang bisa mati-matian kita perjuangkan seperti Tompi dan yang lain-lain perjuangkan.

Menurutmu saat ini belum pantas yang bisa diperjuangkan seperti ini di Pilgub Sulsel atau Pilwalkot Makassar?

(tertawa) Harusnya ada.

Apakah pemerintah banyak membantu proyek-proyekmu seperti tur, penggarapan scoring, saat hendak membuat konser, hingga di Prolog ini?

Pembangunannya tidak membantu sama sekali. Tetapi ketika kita melahirkan banyak program, setelah kita mapping, banyak program yang harusnya kita bekerjasama. Bentuknya itu bukan dari segi funding atau finansial. Bantuannya sejauh ini dalam bentuk fasilitas ji. Fasilitas rekomendasi. Misalnya, kemarin Prolog masuk membawa program creativepreneur di sekolah-sekolah di Makassar, ya sewajarnya sesuai SOP sekolah.

Apa harapanmu Pilgub dan Pilwalkot untuk skena?

Kalau saya berharap sekali pemerintah nantinya sadar bahwa bukan hanya pembangunan fisik saja yang mampu mengubah keadaan kota menjadi lebih baik, yang mampu menunjang ekonomi menjadi lebih baik. Kalau mereka selalu mengatasnamakan ekonomi kreatif, seperti apa gerakannya?

Karena sebenarnya harapan saya yang paling besar, ada sosok pemerintah yang menduduki kekuasaan nanti yang melayani rakyat dan paham bahwa sebenarnya kesenian, utamanya musik dan festival adalah penting untuk membangun pikiran-pikiran manusia menjadi lebih baik. Menuju ke gold generation.

Saya maunya ada pemerintah di Sulawesi Selatan dengan menyadari, kalau kesenian dan gagasan-gagasan di dalamnya seperti: festival, produk-produk ekonomi di dalamnya mampu membangun karakter manusia sekarang. Bukan hanya membantu pertambangan, bukan hanya membantu pembangunan jembatan.

Tapi mungkin lebih bagus dipikirkan manusianya. Dan kita tidak bisa bohong bahwa seni itu bukan hal yang bisa ditawar-tawar. Enaknya, asiknya itu di seni.

Juang di salah satu acara diskusi musik (sumber: revi.us)

Apa ko punya kekecewaan terhadap pemerintahan (gubernur ataupun walikota) yang sudah mau berakhir periodenya ini?

Kedua-duanya sangat. Kalau walikota itu saya tidak respek dengan cara berpikirnya itu tadi. Dia masih sangat terlalu tidak modern caranya berpikir tentang kesenian. Tidak aspiratif juga. Misalnya, pernah saya salah seorang yang diundang sebagai musisi untuk bikin regulasi tentang kebijakan kesenian dalam hal ini musik.

Hampir tiga bulan itu kami bolak-balik berpikir, design thinking, brain storming, dan lain-lain. Semua prototype yang kita lakukan tidak terjadi. Yang terjadi itu di F8 (salah satu festival waterfront di Makassar).

F8 itu menurutku festival yang tidak manusiawi yang dibangga-banggakan. Pertama, waktu itu ada teman saya yang hamil istrinya. Dia hendak datang ke sana. Tidak ada akses yang nyaman bagi dia. Padahal festival itu harus membuat nyaman penontonnya kan.

Di luar negeri, festival dibuat untuk penontonnya merasa senang. Misalnya kayak Fuji Rock atau Laneway. Apa yang terjadi di F8? Pertama, tidak ada akses untuk jalan masuk dan jalan keluar yang berbeda.

Tempat parkir tidak nyaman, tukang parkir terserah dia mau kasih berapa. Dia sebut ini festival waterfront terbesar di dunia. Tidak ada sekali nuansa water di situ. Malah gelap itu tempat. Malah banyak orang yang sudah makan bakso goreng, dibuang tusuknya ke laut.

Semua tujuan-tujuan tidak ada yang tepat. Selalu menjadi seremonial untuk walikotanya, bukan untuk warganya. Dua kali F8 saya tidak  melihat masyarakat yang naik ke panggung dan mengambil penghargaan.

Kalau gubernur sebenarnya tidak terlalu terasa. Tidak terlalu terasa dampak kerjanya. Sebenarnya banyak kekecewaanku tapi di luar kesenian.

Misalnya, sesulit apasih mengurus rumah sakit? Kenapa sih, rumah sakit lebih banyak VIP dari yang biasa? Atau kenapa tidak semua VIP? Kenapa VIP mesti besar ruangannya? Itu mengganggu di proyek berkesenianku. Ketika saya ke rumah sakit, anakku sakit, saya lihat orang yang dibawa, tidur hujan-hujan di teras rumah sakit. Anakku harus masuk UGD bayi, tapi pas masuk UGD bayi, banyak orang dewasa dan penyakitnya menular.

Ada kecenderungan hasil survey bahwa kelompok anak muda dan komunitas underground seperti punk dan metal. Mereka cenderung tidak partisipatif. Juga jutaan penduduk Sulel yang golput. Menurutmu itu bagaimana?

Di luar dari itu, semua rakyat Indonesia harusnya memilih dan berpartisipasi. Setidaknya kita menggantungkan harapan. Saya sebenarnya tidak pernah setuju dengan golput. Saya tidak tau sih kalau misalkan pilihannya seperti Kim Jong-un atau Donald Trump (tertawa). Tapi kalau misalnya kira-kira masih bisa dinegoisasi, ya kenapa tidak?

Bagi saya golput itu seperti orang yang egois. Karena dia mengeluh banyak hal tapi tidak mau memilih pemerintah, tapi ini kan administratif. Sulit juga kalau kita golput tapi banyak kita mau. Bagaimana caraku ke luar negeri dapat beasiswa? Bagaimana caraku bisa tur atau konser?

Golput kan bisanya karena ada yang tidak memilih karena pesimis, ada yang juga karena merasa tidak perlu ada pemerintah. Saya tidak sepaham soal itu, karena semua negara sekarang sudah menjalankan administratif toh? Jadi intinya harus ada yang menduduki posisi pemegang kekuasaan untuk melayani masyarakat (tertawa).

Kalau misalnya ada kandidat yang mengajakmu menjadi tim sukses, apa ko mau bergabung?

Saya ditawari banyak kandidat baik Pilwalkot atau Pilgub. Tapi sejauh ini tidak. Ada yang menawarkan tapi dia bukan pilihanku. Ada yang menawarkan tapi saya belum yakin untuk jadi tim kreatifnya.

Juang kemudian menyebutkan beberapa nama kandidat yang hendak meminangnya

Terus, misalnya ko dapat kesempatan masuk jadi caleg atau ke pemerintahan iya?

Sebenarnya saya dibesarkan di lingkungan politik. Tiap hari saya mendengar keluhan warga. Saya berada di tengah-tengah, merasakan kehidupan yang glamor, juga mendengar keluhan dari kalangan bawah. Makanya saya percaya kalau ada pemegang kekuasaan dari orang yang baik, kesenian bisa berubah. Yang paling disesalkan saat ini, seakan-akan partai yang punya negara. Kedua, banyak sekali koruptor dibiarkan merajalela bahkan mencalonkan pun bisa.

Terakhir, masih lebih memungkinkan kita memilih koruptor. Cuma kita sudah diset dengan aturan pemerintah. Susah. Aktivis dan pegiat seni idealis kayak kita ini susah bertarung dengan para koruptor dan pengusaha gelap.

Misalnya nomor satu saya, nomor dua koruptor, nomor tiga misalnya pengusaha gelap. Susah untuk saya bersaing. Karena kandidat yang lain punya uang banyak, mereka ji yang bisa bersaing. Istilahnya, ‘lapangan tidak pernah rata’.

Saya mau ji masuk politik, kalau lapangan sudah rata (tertawa). Tiap hari saya berpolitik ji di kesenian. Politik kan hal-hal untuk memperbaiki asas-asas kenegaraan. Jadi penting untuk misalnya KPU lebih idealis dan independen. KPU harusnya memiliki cara-cara yang lebih kreatif biar ‘lapangan rata’.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Keributan dan Kesalehan yang Mendadak

Next post

Darurat Pelecehan Seksual, Dari Jakarta, Hollywood Hingga Angelina Jolie