FeaturedSiapa

Syarkawi Rauf, dari Baharuddin Lopa, Mandar, hingga Novel Saman

Syarkawi Rauf (43) adalah Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sejak Juli 2015. Ia mengaku perjalanan hidupnya berjalan seperti air. Kala ia menginjakkan kaki di Ibukota, niatnya menuntut ilmu, dan menjadi seorang akademisi, tapi garis tangannya berkata lain.

Bapak tiga orang anak itu tak menyangka, menjadi ketua KPPU di usia 40 tahun. Ia tercatat sebagai pemimpin termuda lembaga negara saat dilantik pada 2015. Lembaga yang digawanginya pun tak main-main, lembaga yang mengawasi segala tindak tanduk, laku kecurangan bisnis di negeri ini.

Dalam sesi wawancara selama sejam bersama Aco’ Pamatte dan Muhammad Farid Salman Alfarisi dari Locita.co, Syarkawi yang mengenakan setelah kemeja putih dan celana hitam ini menjelaskan nilai dan prinsip yang dia pegang teguh sambil santai. Tangannya sesekali terangkat untuk menjelaskan berbagai hal. Diselingi sesekali candaan, wawancara menjadi cair.

Dalam ruangan wawancara yang memiliki beberapa meja serta kursi yang tertata apik itu, dindingnya dihiasi aneka foto komisioner KPPU serta beberapa simbol negara. Saat kami menuju ke ruangan ini, kami melalui ruang rapat komisioner, ruangan untuk menentukan hukuman bagi pelaku bisnis yang melakukan praktik monopoli.

Saya membayangkan, di ruangan itulah komisioner KPPU berdebat perihal sanksi yang tepat bagi korporasi yang melanggar persaingan usaha. KPPU sekarang memang semakin garang, dan hal itu terlihat dari banyaknya kasus yang berhasil ditangani.

Syarkawi punya jawaban atas keberanian mereka, bagi Syarkawi pribadi kegarangan sebagai Ketua KPPU tak lahir begitu saja, ia ditempa melalui pendidikan keras khas suku Mandar, prinsip, serta ada sosok-sosok yang menginspirasinya. Sstt… Salah satu sosok itu ialah tokoh di novel Saman, karya Ayu Utami yang terbit di masa-masa reformasi. Siapa sosok itu? Temukan jawabannya pada bincang-bincang kami bersama suami dari Elsya Dwiyanti ini, di Commission Lounge kantor KPPU, Jl. Ir. H. Juanda, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (15/9) siang.

Seperti apa awal kisah Anda hingga ke Jakarta?

Syarkawi menerawang melihat sebentar ke atap ruangan yg bercat putih. Seperti berusaha mengingat sesuatu.

Awal Saya ke Jakarta itu akhir tahun 1999, tujuannya untuk kuliah S2 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Sambil kuliah, waktu itu ada program di UI, bagi mahasiswa yang IPK-nya tinggi dan berminat, bisa langsung kuliah S3, diberi kesempatan tanpa menyelesaikan S2. Saya salah satu yang diberi kesempatan, akhirnya sebelum S2 selesai, saya langsung lanjut S3 lagi. Ndak tau apa programnya itu waktu. Saya selesai ujian S3 itu tahun 2005.

Bagaimana suka duka waktu Anda awal tinggal di Jakarta?

Waktu S2 lumayan susah, karena kuliah dengan biaya sendiri, jadi S2 saya sambil kerja.  Waktu kuliah itu saya tinggal di asrama mahasiswa UI, Depok, bareng dengan mahasiswa  S1, S2 dan S3. Di situ yang paling murah, kalau di luar sudah 700 ribu, di asrama UI hanya 250 ribu per bulan. Tapi yah dilalui saja.

Faris di samping saya tiba-tiba turun dari kursinya, sejurus kemudian dia membidikkan layar ke hadapan kami. Entah dia sedang mencari angle terbaik atau menjawab pesan singkat dari gawainya.

Sesulit apa, seringkah Anda naik bus atau jalan kaki?

Mulai dari naik bus, naik ojek, kereta, pokoknya semua kendaraan termasuk jalan kaki. Saya pernah nginap di Taman Ismail Marzuki (TIM), nginap di sana setelah jalan kaki dari Stasiun Cikini (tertawa).

Dari tadi Faris mengendap-ngendap membidik kesana kemari mencari angle terbaik. Foto: Sirajuddin

Jadi kapan mulai merasakan hidup “enak”?

Mungkin 2002, itu saya kerja di PT Media Otonomi Daerah yang didirikan Andi Alfian Mallarangeng*. Waktu itu saya sebagai analyst dan sudah selesai S2. Saya dengan Bang Andi dekat waktu di Makassar kan, saya sebagai aktivis mahasiswa. Waktu itu di Unhas tidak ada senat universitas, saya sering jadi koordinator setiap diskusi, selain sebagai ketua senat Fakultas Ekonomi. Sementara Bang Andi baru pulang dari Amerika, dan sangat idealis masih mau ikut kegiatan-kegiatan mahasiswa. Demo terakhir kan kita menguasai Bandara Hasanuddin, naik truk kita ke bandara.

*Andi Alfian Mallarangeng adalah anak dari Andi Mallarangeng Walikota Parepare tahun 1969–1972.

Syarkawi menerima Locita.co di Commission Lounge, lantai dua, Gedung KPPU. Foto: Muh. Farid Salman Alfarisi

Apa hubungan Andi Alfian dengan jalan cerita hidup Anda di Jakarta?

Setelah selesai S2 ada teman kasitahu saya, kamu dicari Bang Andi. Akhirnya saya menghadap beliau, dan diminta saya kerja di situ (Media Otonomi Daerah), mulailah dari situ saya sudah bisa naik taksi. Sejak saat itu mulai keluar fase susah, meskipun masih sering susah juga. Haha.

Syarkawi menceritakan hal ini dengan santai, memang yah kalau masa susah sudah dilewati itu bakal jadi bahan tertawaan. Dia menyebut fase paling susahnya mulai 2000-2002. Masa itu ojek masih mahal juga yak. Selain bekerja dia juga diterima menjadi dosen di Unhas.

Nilai-nilai idealisme saat mahasiswa masih ada sampai saat ini?

Oh iya harus, karena nilai-nilai idealisme itu kan untuk kepentingan banyak orang, kita berbuat untuk kepentingan dan kemaslahatan umat.

Tidak takut banyaknya pihak yang merasa dirugikan dengan sikap Anda, utamanya tugas memberantas kartel di KPPU?

Kenapa takut? Yang perlu takut itu kalau berbuat salah, semua ada konsekuensinya, berbuat benar maupun salah. Kalau saya sudahlah, saya menjadi ketua KPPU kan tidak lama, jadi komisioner juga tidak lama. Kalaupun diperpanjang lima tahun lagi, artinya waktunya sempit. Inilah yang harus kita benar-benar manfaatkan untuk kepentingan bangsa dan negara. Karena sebaik-baik manusia itu kan yang bermanfaat bagi orang lain. Apa gunanya kalau kita punya sesuatu tapi tidak ada manfaatnya untuk orang lain, kan tidak ada value-nya.

Syarkawi menatap layar telepon pintarnya, nampaknya ada pesan masuk. Selepas wawancara memang ia mengatakan akan ada rapat bersama Menko Maritim. 

Syarkawi menjelaskan prinsip hidupnya. Nilai-nilai Macca=Pandai;Cerdik. Lempu=Jujur, Warani=Berani & Getteng=Tegas; taat asas, serta empati berusaha diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Foto: Muh. Farid Salman Alfarisi

Prinsip dan nilai kehidupan selama ini didapatkan dari siapa?

Orangtua saya kan guru, ibu guru Sekolah Dasar, bapak guru SMP. Sebagai guru yang dari dulu ditanamkan berbuat baik sama orang. Itu aja, bahkan orang jahat sama kita malah disuruh berbuat baik. Berusaha untuk tersenyum kepada orang lain itu yang saya pegang sampai sekarang. Saya itu cuma sampai SD bersama orangtua, tamat SD dikirim ke pesantren enam tahun, kuliah dan sampai sekarang terus sendiri.

Syarkawi melanjutkan, berada di pesantren IMMIM, Makassar selama enam tahun. Dia belajar banyak hal, utamanya tentang kemandirian agar tidak bergantung pada orang lain. Hal itu nampaknya ia tularkan pada anak-anaknya. Putra sulungnya tinggal dan belajar di sebuah boarding school.

Anda berasal dari Sulawesi Barat, di sana nilai-nilai budaya seperti apa yang diperoleh?

Di Polewali itu kan agamanya sangat kuat. Filosofinya yah agama. Ajaran paling dasar agama itu, berbuat baik kepada sesama manusia, hubungan ke Tuhan itu tidak ada artinya jika hubungan antar manusia itu tidak dipelihara. Filosofi kami orang Mandar, juga Bugis, maupun Makassar hampir sama Macca, Getteng, Warani, dan Lempu tambah empati, sama lah filosofi Pak Barlop*.

*Maksudnya adalah Baharuddin Lopa, mantan Jaksa Agung tahun 2001. Sosok yang dijuluki dengan Pendekar Hukum dari Mandar. Baharuddin Lopa berasal dari daerah yang sama dengan Syarkawi, Pambusuang, Sulbar.

Sosok idola?

Di bidang hukum yah Baharuddin Lopa, buat saya itu panutan luar biasa karena jujur, sederhana dan mampu membangun integritasnya. Waktu saya mahasiswa beliau Ketua Komnas HAM, tahun 1997 itu ada kerusuhan etnis di Makassar, di situ beliau sebagai ketua sering datang. Ada hal yang paling saya ingat waktu itu kita rapat dengan mahasiswa di Unhas.

Dia itu kan perokok saya juga perokok berat, kemudian dia meminjam korek dari seorang mahasiswa. Tiba-tiba dikantongi dan lupa, korek itu terbawa hingga Jakarta, tak lama kemudian dia balik lagi ke Makassar untuk kembalikan korek itu ke mahasiswa tadi.

Sementara di ekonomi ada Iwan Jaya Azis, salah satu ekonom yang paling inilah di UI, dan memang ilmunya sangat dalam, salah satu paling saya suka bukunya, Model Ketidakseimbangan Antar Kawasan di Indonesia.

Sebelum saya lanjut melemparkan pertanyaan, staf khusus Syarkawi tiba-tiba memotong pembicaraan, “Kasih masuk ki itu tadi penting itu! Nilai-nilai Bugis nah,” katanya dengan logat Makassar.

Seperti apa nilai Macca, Getteng, Warani, dan Lempu itu dipraktekkan dalam kehidupan?

Modal pemimpin itu kan harus cerdas, harus berani, harus berempati supaya keputusan tidak merugikan orang lain, dan amanah. Banyak orang cerdas tidak berani ambil keputusan, karena setiap keputusan itu ada konsekuensinya, probabilitas untuk gagal dan sukses. Banyak hal kita lakukan di KPPU, memperkarakan banyak perusahaan strategis kan bukan tanpa beban tinggal bagaimana caranya mengelola ini sehingga benefit-nya ini banyak menonjol untuk banyak orang. Lembaga seperti KPPU kan sangat strategis bagi kepentingan ekonomi kita, mengambil keputusan yang salah resikonya besar dan kedua dibutuhkan pengambilan keputusan yang cepat.

Sembari melemparkan jawaban, tiba-tiba telepon genggam Syarkawi yang tergeletak di meja depan kami, berdering. Syarkawi saya dengar janjian makan malam bersama aktivis asal Makassar, pada hari Rabu.

Anda senang baca buku apa?

Saya suka buku ekonomi, utamanya terkait dengan perbankan maupun persaingan. Kalau untuk buku sastra yang paling saya suka itu Saman, Ayu Utami, menarik ceritanya, banyak hal selain romantisnya.

Kapan dan Kenapa suka baca buku Saman?

Waktu itu saya mahasiswa semester akhir, dan saya beli di TIM, lagi ada kunjungan ke Jakarta dan kebetulan sedang jatuh cinta. Makanya bukunya membekas banget jadi romantismenya dapat. Kata-kata yang sampe sekarang saya masih ingat itu, kalau tidak salah kucinta kau bukan karena keseluruhan dirimu. Kuinginkan mulut yang haus dari lelaki yang kehilangan masa remajanya, di antara pasir-pasir tempat menyisir arus. Kisahnya saya sangat suka, sampai sekarang masih ada buku itu saya simpan.

Syarkawi menceritakan melalui novel tersebut, dia bisa mengenang masa romantismenya, bersama Elsya Dwiyanti, istrinya. Elsya merupakan juniornya di Fakultas Ekonomi angkatan 1998 yang ia nikahi pada 2003. Elsya sosok yang amat dia kagumi, meski awal menikah memiliki kesempatan berkarir sebagai bankir, dia memilih bekerja dari rumah membesarkan anak-anak mereka kelak. Syarkawi mengaku agak egois sebagai suami, akan tetapi sang istri tak kalah tabah padanya.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Kampus-Kampus yang Menjajah Mahasiswanya

Next post

Pesan Moral