FeaturedSiapa

Saddam Al Jihad dan Ambisi Vlogger HMI Wawancara Bersama Ketua HMI Terpilih, Respiratori Saddam Al-Jihad

RINAI hujan menyambut setelah azan subuh berkumandang. Kota Ambon menyambut pagi dengan gerimis. Di depan lapangan Merdeka, Hotel Orchid, Ambon (26/2/2018), saya disambut dengan seorang laki-laki bertubuh langsing.

Dia tampak bercengkrama dengan rekanannya. Wajahnya terlihat sumringah. Di tangan kanannya terselip rokok yang terbakar serta scangkir kopi di meja.

Namanya adalah Respiratori Saddam Al Jihad, Ketua HMI terpilih 2018-2020. Seorang pemuda kelahiran Tanjung Karang, Lampung, 22 November 1990 silam. Dia tersenyum ramah saat menyambut kru Locita.co.

Lulusan S1 UNPAD, S2 UI, dan kini dia sedang mengejar gelar doktor di IPDN.  Dia menceritakan bahwa tiada terlintas dibenaknya untuk maju di pencalonan Kongres XXX Ambon, selang beberapa bulan sebelum Kongres, Ibunya meninggal. Namun, langkahnya menjadi orang nomor satu di “hijau hitam” ini tidak kandas begitu saja.

Walhasil, kongres yang berakhir Minggu kemarin (25/2/2018), ini menetapkannya sebagai Ketua PB HMI, menyisihkan sembilan kandidat lainnya. Kali ini Locita.co berkesempatan berbincang dengannya soal HMI, populisme, dan perencanaan kerjanya.

Kenapa harus menjadi ketua HMI?

Organisasi ini adalah organisasi yang mengawal kemerdekaan pasca kemerdekaan. Artinya, negara ini masih harus terus dikawal supaya energinya berkelanjutan. Stagnasi organisasi ini terjadi di era millenial. Satu dua dekade ini stagnasi intelektual terjadi di HMI. Mudah-mudahan ini menjadi fase perbaikan HMI.

Kenapa dengan jenjang akademisi saya, saya memilih menjadi ketua HMI? Supaya virus insan akademis menguat. Semestinya iklim pendidikan yang bagus memberikan kontribusi kepada himpunan ini. Anak-anak yang mengejar beasiswa, anak-anak yang sedang berada di strata dua atau tiga, kadang menjauhi HMI, karena kondisi-kondisi yang disebut politik an sich di HMI.

BACA JUGA: Perang Kanda di Arena Kongres HMI

Stagnasi Intelektual? Maksudnya?

HMI kini, intelektualisme terus terjaga tapi branding dan publisitas, untuk masuk wilayah intelektualisme HMI harus lebih dominan dibandingkan bahasan-bahasa yang menjatuhkan atau tidak menarik. Misalnya, kongres rusuh, dinamika politik yang berlebihan.

Harus ada dominasi kader-kader intelektual masuk dalam struktur PB HMI kedepannya. Untuk menimbulkan citra positif bagi HMI. Apalagi kini menyambut momentum tahun politik di 2019. Perlu kita bareng dan guyub. Perlu kita objektif. Ruh organisasi ini adalah independensi dan intelektualisme.

Wacana seperti ini sebenarnya sudah digaungkan sejak tahun 80-an oleh beberapa tokoh, salah satunya Agus Salim Sitompul. Kenapa Anda yakin bisa mengubah itu?

Ikhtiar itu harus tetap ada. Pada akhirnya prosesnya seperti apa, ikhtiar secara sistem harus tetap ada. Artinya, ikhtiar secara sistem itu, HMI harus memiliki forum-forum intelektual keilmuan. HMI kiranya tidak melahirkan politisi muda, tapi negarawan muda. Dan kita branding, ada ruang publik yang kita bangun dan orang yang kita munculkan lintas disiplin ilmu.

Konkritnya?

Sederhananya, misalnya setiap cabang mengutus perwakilannya, berdasarkan kampus dan keilmuwan. Akan ada pertemuan terkait ilmu-ilmu tersebut. Misalnya di bidang ekonomi, akan ada forum ekonomi kebangsaan. Dari forum ini, beberapa orang perwakilan ini punya tanggung jawab untuk terus menulis.

BACA JUGA: Mau Menjadi Ketua HMI? Begini Caranya

Kita tugaskan mereka menulis dan diekspos ke berbagai media. Kita kerjasama dengan media elektronika atau cetak. Di kanal Youtube atau media sosial lainnya. Persoalannya, kita kadang merasa besar dengan intelektualitas kita hanya bisa di internal HMI tapi jarang dilihat di publik.

Menjadi vlogger atau youtuber?

Ya, streaming diskusi juga. Jadi itu perpanjangan Pengurus Besar HMI. Jadi Badko (Badan Koordinasi) ataupun cabang harus mendukung ruang publik digital.

Kalau misalnya di tahun politik 2019 nanti, bagaimana posisi HMI?

Artinya politik tetap ada, tapi HMI akan tetap membangun insan akademis. Realitas politik itu ada, misalnya saja ada kandidat yang berasal dari alumni (dari HMI). Politik harus terobjektivikasi, apakah kualitas insan cita itu ada. Kedua, apakah dapat mengemban visi HMI.

Ketiga, apakah dapat memperbaiki citra HMI dan juga menjaga kedaulatan bangsa dan NKRI. Sudut pandang kita memandang politik adalah ilmu. Konspesi bukan praksis, sehingga bisa independen.

Jadi sekalipun bukan alumni, Anda akan mendukung kandidat tersebut?

Objektivitas itu terjadi apabila kita tidak memandang itu senior atau alumni. Tapi jangan juga salahkan ketika kita memilih senior HMI. Intinya, yang jelas memiliki itu tadi sesuai visi dan tujuan HMI.

Artinya kualitas insan cita itu ada pada pemimpin bangsa ini. Keberpihakan HMI kepada senior ini bukan soal partai politik. Yang jadi keberpihakan itu ketika dia dapat menanggalkan politik an sich masuk ke dalam HMI.

Bagaimana dengan wacana populisme Islam?

Populisme Islam ini harus dilihat. Sejalan tidak, dengan napas HMI. Harus dibedakan antara populisme Islam dan substansial Islam. Dalam konteks hari ini, HMI mengedepankan substansial Islam.

Seperti?

Kita perbanyak kajian khusus. Seperti diskusi NDP (Nilai Dasar Perjuangan, intisari pemikiran HMI) dan karya-karya pemikir Islam. Lebih kita mengedepankan gerakan intelektual Islam. Karena kekhasan HMI sejak zaman Cak Nur, Cak Anas, Islam kebangsaan yang dibangun.

HMI dan 212?

Kalau kita bicara 212, 411, dan seterusnya. Itu gerakan-gerakan yang di mana HMI harusnya tidak terjebak di situasi politik nasional. Kita bisa mendukung, tapi kita juga harus menengahi. Apakah dukungan kita berdasarkan hal substansial tadi.

Berdasarkan konsepsi-konsepsi sesuai dengan objektifitas. HMI itu harusnya melihat apakah itu gerakan politik atau tidak. Gerakan itu bisa kita dukung dengan membuat frame baru. Kita harus menjadi leading sector. Kita harus memimpin keislaman yang kontekstual. Karena mau tidak mau HMI adalah Islam. Di mana di ruang-ruang keislaman itu harus juga menjaga ruang kebangsaan.

Kira-kira, Anda ingin menjadi Ketua HMI seperti siapa?

Figur-figur ketua HMI itu luar biasa. Kita harus mensinergiskan karakter-karakter mereka. Mereka memiliki kekhasan masing-masing. Ada Bang Akbar dengan pengkaderan. Ada Bang Ridwan Saidi dengan menjaga nilai kebudayaannya. Bang Sulastomo dengan ketegasannya. Bagaimana Cak Anas dengan gaya intelektualitas dan etikanya. Bagaimana sisi enterpreneur di era 2000-an.

Yang jelas lebih anak muda, futuristik. Bagaimana orang-orang masuk HMI itu senang.

Berapa sih, uang yang Anda habiskan selama proses pencalonan ini?

Kita pakai logika sederhana ya. Kalau peserta difasiltiasi keberangkatannya dengan PB HMI. Ada lah sisanya kami tanggung. Tiket pulang dan pergi. Berkat guyubnya para senior-senior Jawa Barat, bisa se-uyunan lah. Kalau ditanya berapa, saya bingung. Luar biasa Ambon ini.

Di salah satu platformnya, Anda fokus hendak memberikan beasiswa bagi para anggota HMI. Bagaimana konsepnya?

Saya ini anak  CSR. Ini sebagai tanggung jawab sosial kepada rumah sederhana. Semua entitas HMI memiliki tanggung jawab sosial. Coba bayangkan berapa banyak anggota dan alumni HMI? Kita kumpulkan setiap bulan, kita berikan kepada anak-anak HMI yang tidak mampu dan tervalidasi.

Kita yang jelas memunculkan nama anak-anak lewat proses seleksi. Agar anak-anak itu semangat ber-HMI. Ini stimulan saja, taruhlah setahun 4 juta, satu alumni HMI untuk satu anak. Tidak perlu dana-dana siluman dari pemerintah.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Bisnis Umroh, Antara Orientasi Umat atau karena Duit

Next post

9 Calon PKS di 2019: Melawan atau Bersama Jokowi?