FeaturedSiapa

Raja Sapta Oktohari: Kita Ingin Indonesia Negara yang Ramah Difabel

SEORANG lelaki berbadan tinggi menjulang. Dibalut baju putih, dia melempar senyum ramah kepada saya. Minggu pagi, (3/12).

Dialah Raja Sapta Oktohari, seorang pengusaha muda Indonesia. Ketua Umum HIPMI periode 2011-2014 menggantikan Erwin Aksa pada Musyawarah Nasional (Munas) XIV HIPMI Makassar.

Raja Sapta Okto adalah promotor tinju dunia termuda versi World Boxing Association. Selain dari itu, Pria berdarah Minang-Bugis ini adalah pemilik OSO Group. Di samping itu ia mengelola usaha di beberapa daerah yang bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, perikanan, transportasi, komunikasi dan perhotelan.

Kali ini dia dimandatkan untuk menjadi ketua panitia penyelenggara perlehatan Asian Para Games 2018 di Indonesia. Saya dan Aco’ Pamatte berkesempatan mewawancarai dia pada “Run for Difabel, Humanity in Diversity” di Monas.

Acara lari bersama itu merupakan bentuk kampanye menghargai hak penyandang disabilitas atau difabel sekaligus rangkaian acara perlehatan Asian Para Games. Berikut petikan wawancara kami:

Bagaimana kesan Anda terhadap seluruh peserta yang mengikuti kegiatan “Run for Difabel: Humanity in Diversity” hari ini?

Alhamdulilah senang. Peserta yang ikut di acara ini sangat luar biasa. Walaupun persiapannya hanya dua minggu tetapi animo masyarakat sangat tinggi untuk mendukung sekaligus memeringati hari difabel sedunia. Saya atas nama Ketua Umum INAPGOC mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Saya juga berterima kasih kepada teman-teman dari Kemenpora, komunitas-komunitas, serta seluruh masyarakat. Saya juga melihat tadi ada teman-teman dari komunitas difabel, ada 200 yang turut berpartisipasi meramaikan acara “Run for Difabel: Humanity in Diversity”, animo mereka terlihat sangat luar biasa.

INAPGOC menyelenggarakan Run for Difabel: Humanity in Diversity sebagai upaya untuk menyambut acara Asian Para Games 2018 yang akan diselenggarakan pada tanggal 8-16 Oktober 2018, tiga minggu setelah ASEAN Games. Kami melakukan banyak aktivasi supaya masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan tersebut untuk mendukung atlet-atlet Indonesia agar bisa menjadi juara.

Untuk persiapannya sendiri, sudah sejauh mana?

Sejauh ini persiapan terus kita lakukan. Kami dalam waktu dekat (minggu depan) akan berangkat ke Dubai untuk melakukan rapat konferensi dan presentasi di depan Asian Paralympic Committee. Kegiatan sosialisasi sudah dilakukan, kegiatan dari kesekjenan, Deputi I bidang support, Deputi II bidang akreditasi, Deputi III bidang Marketing Communication, serta Deputi IV bidang Security, semuanya berjalan simultan.

Artinya, progress berjalan positif walaupun kita ketinggalan beberapa hal tetapi kita terus berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Hasil kegiatan donasi yang dilaksanakan hari ini akan diarahkan ke mana?

Semua donasi yang didapat, seluruhnya akan disalurkan ke komunitas difabel. Tidak ada pemotongan sedikit pun oleh panitia penyelenggara atas seluruh donasi yang telah diberikan oleh para peserta lari hari ini.
Pemenuhan infrastruktur untuk para peserta sudah sejauh mana?

Memang, perihal infrastruktur menjadi tantangan terbesarnya. Pertama, masalah akses. Kedua, venue dan ketiga, masalah atlet village. Atlet Village untuk para peserta masih belum ramah difabel.

Perlu effort lebih untuk menjadikannya sebagai tempat yang ramah bagi kaum difabel. Nah, masalah effort ini tentunya memiliki konsekuensi tersendiri, terutama masalah anggaran.

Kementrian PU-PR selaku pemegang “bola” dalam hal pemenuhan infrastruktur terus berusaha untuk memberikan hasil yang baik. Sementara hasil dari technical delegate meeting perihal venue masih bisa disiasati.

Apa dampak yang diinginkan pascakegiatan Asian Para Games 2018 nanti?

Kita ingin Indonesia menjadi negara yang ramah difabel, karena negara yang ramah difabel adalah negara yang memanusiakan manusia.

Apa pesan untuk masyarakat Indonesia terhadap atlet-atlet Indonesia yang akan berlaga di Asian Para Games 2018?

Keluarga besar kita (baca: seluruh warga Indonesia) 15% persen adalah penyandang disabilitas. Artinya, mereka adalah bagian dari Indonesia yang bisa kita banggakan. Mari sama-sama kita dukung mereka, semangati mereka, karena tahun sebelumnya mereka sudah menjadi juara umum di ASEAN Para Games 2017 Malaysia. Mudah-mudahan kita dapat tetap menjadi juara di Asian Para Games yang selanjutnya.

Mengapa Anda bersedia menjadi ketua panitia INAPGOC, padahal cukup memiliki masalah di awal persiapannya?

Yah, ini adalah amanah bangsa. Saya jalankan karena juga panggilan hati.

Rut Manullang

Rut Manullang

mahasiswi, sekretaris, dan penggemar Juventus

Previous post

Asian Para Games 2018, Tanda Cinta untuk Difabel

Next post

Habib Rizieq, NKRI Bersyariah, dan Sejumlah Tanda Tanya