Locita

Kalend Osen, Kampung Inggris, dan Kemurtadan Berbahasa

SAAT ini, siapa yang tidak mengenal Kampung Inggris, Pare. Sebuah kota kecil yang berdiri di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Di kota kecil dan sederhana ini pelajar dari berbagai daerah dari Indonesia bahkan mancanegara berdatangan. Mereka datang hampir dengan tujuan yang sama, agar bisa memiliki kemampuan berbahasa asing utamanya, Bahasa Inggris.

Di tempat ini, ratusan lembaga kursus berdiri. Bahkan kota ini pernah diteliti oleh antropolog kaliber dunia, Clifford Geerts. Bagaimana Pare bisa menjelma menjadi sebutan Kampung Inggris. Berikut wawancara locita.co dengan Muhammad Kalend Osen yang selama ini dikenal sebagai pendiri Kampung Inggris, Pare. Sabtu (13/01/2018).

Bisakah Anda menceritakan sejarah adanya nama Kampung Inggris ?

Jadi yang memberi nama Kampung Inggris itu bukan saya, itu wartawan. Saya hanya bikin kursus biasa saja, kursus bahasa inggris. Tiba-tiba di tulis tahun 1995 di Kompas dengan sebutan Kampung Inggris. Tapi waktu itu belum ada yang perhatikan. Dikira iseng saja.

Sumber Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Setelah memasuki tahun 2000 an baru mencuat sebutan  itu. Saya tidak pernah merasa menjadi tokoh dari berdirinya Kampung Inggris. Kronologisnya begini, ada wartawan yang waktu itu berada di Pare, entah berapa hari. Karena waktu itu bertemu dengan tukang becak yang bisa ngomong Inggris dengan penumpangnya. Kemudian dia datang ke warung, ketemu juga dengan tukang warung yang bisa ngomong Inggris.

Lah, apakah dua orang itu sudah cukup untuk menamai Kampung Inggris. Itu pertanyaannya, ko tiba-tiba ditulis.  Saya kira belum cukup syarat dengan hanya dua orang saja. Itupun sebenanrnya yang tukang becak itu bukan tukang becak sungguhan. Itu murid saya yang main becak, minjem becak . Dikira tukang becak sungguhan, yang tukang warung itu memang hobinya Bahasa Inggris, Almarhumah Ibu Sri Utami, orang singgahan sini dulu. Memang senang Bahasa Inggris.

Kemudian Jtv tahun 2012 memperkuat lagi sebutan itu. Tapi dia punya alasan sendiri. Alasannya menamai Kampung Inggris karena banyaknya kursusan. Sekarang ini sekitar 150 tempat kursus. Kalau dipikir ini kan kecamatan ko bisa sebanyak itu.

Apakah itu berarti menegaskan Anda tidak ingin disebut sebagai pendiri Kampung Inggris ?

Oh iya, jadi bukan mendirikan Kampung Inggris, mendirikan kursus inggris BEC. Dan saya mau meng-clearkan diri saya bahwa saya tidak pernah terlibat, karena sebenarnya ini kebohongan. Saya tidak mau diikut bohongkan disitu, saya apa adanya.

Saya hanya mengurusi lembaga kursus bukan mendirikan Kampung Inggris. Kemarin disana ada ditulisan bahkan ada gambar saya, ditulis disitu ketua yayasan Kampung Inggris, kapan saya jadi ketua, saya suruh ipar saya copot. Itu kan nanti saya tanggung jawab.

Lalu bagaimana dengan sejarah berdirinya lembaga kursus Basic English Course (BEC)?

Mengapa bisa sampai terjadi Kampung Inggris kan bermula dari BEC. Berarti kita kembali ke awal lagi. Bicara masalah kegiatan kursus Bahasa Inggris ini tidak bisa dihindari dari pribadi saya. Saya kan asli Kutai, Saya di Jawa tahun 1972, dulu saya berada di Gontor.

Pada tahun 1965, bapak saya meninggal. Pada tahun  itu juga alat berat mulai datang di hutan Kalimantan. Saya berpikir belum tua begini sudah habis kayunya. Saya ketakutan.

Saya tidak senang dengan alat itu, karena akan menghabiskan hutan secepatnya. Benar khayalan saya itu jadi kenyataan. Sekarang habis di kampung saya, tidak ada kayu berdiri. Lalu nanti saya kerja apa, masyarakat akan kerja apa.

Jadi saya berpikir akan lari dari sana, entah dimana, saya belum berpikir jauh. Nah kebetulan ada mubalig yang sudah sekolah di Gontor, tertariklah saya ke sana. Informasi yang saya dapatkan, orang yang pernah belajar di Gontor, dua tahun saja dia belajar itu sudah hebat. Saya itu mau membuktikan, masuklah saya di Gontor tahun 1972.

Setelah saya belajar satu tahun, saya tidak menemukan apa yang dikatakan orang, apanya yang bikin orang hebat? Ilmu apa? Saya pikir saya sudah tua, saya minta, ya Allah tolong saya, ilmu apa yang bisa temani saya. Alhamdulillah Tuhan beri petunjuk, saya ketemulah Abdul Jalil, dari Makasssar itu. Abdul Jalil masuk Gontor dia sudah bergelar DRS, tapi umur dia masih dibawah saya.

Nah saya pikir, ini sudah DRS ko mau masuk Gontor, saya beranikan bertanya. Saya datangi, maaf Jalil teman bilang Anda ini sudah selesai kuliah. Anda kan sudah bertitel DRS. Kenapa masuk Gontor? Dia bilang, saya itu satu yang saya takuti saat pulang kampung. Tahu-tahu Pak Camat minta tolong di kantornya ada orang asing dan saya diminta bicara tapi saya tidak tahu apa-apa. Itu yang paling saya takuti.

Oh berarti anda belum karuan Bahasa Inggris ya. Nah dari situ, saya berpikir bahwa saya harus belajar Bahasa Inggris. Memang yang suka Bahasa Inggris cuman 25 persen. Bahasa Arab seratus persen. Dari situ saya belajar Bahasa Inggris dengan teman.

Kami berempat setiap saat berbahasa Inggris. Nah setelah setengah tahun itu terasa sekali peningkatannya. Singkat cerita di kelas 5 dana saya sudah mulai habis. Pada 4 tahun 9 bulan saya bertekad untuk meninggkalkan Gontor karena saya tidak punya biaya lagi.

Saya dengar di Pare ada seorang tokoh yang pandai  9 bahasa asing. Disitulah saya berangkat. Kesini, tahun 1976 lalu saya belajar Bahasa Inggris, sampai sekitar 5 bulan. Nah itu yang berkaitan dengan kursus itu.

Setelah saya belajar 5 bulan. Ada tamu dua orang, mahasiswa IAIN katanya untuk melengkapi persyaratan Ujian Negara, mereka wajib lulus dahulu, ujian Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Lalu dua mahasiswa itu mencari Ustads Yazid, guru saya itu untuk belajar Bahasa Inggris.

Datang ke rumah Ustads Yazid, beliau tidak ada di rumah dia sedang berada di Majalengka, dan sebulan lagi baru pulang. Sedangkan kebutuhannya ini mendesak. Tapi Ibu Yazid memberi solusi, katanya nak kamu nggak perlu khawatir kalu tidak ada Pak Yazid, itu orang yang nyapu di Masjid, nunjuk saya bisa ngajarin, itu pernah belajar di Gontor.

Lalu ketemu saya, Alhamdulillah dapat pengalaman . Saya tanya, buku apa yang bisa jadi pedoman kita untuk belajar Bahasa Inggris. Mereka bilang tidak bawa buku tapi  bawa berkas soal, dia tunjukan kepada saya, ada 350 soal. Waktu itu kita semangat, kita garap saja. Saya bilang saya tidak ngajarin, kita jawab bersama saja soal ini.

Alhamdulillah 5 hari 5 malam selesai soal itu. Begitu selesai mereka berangkat ke Surabaya, sebulan berikutnya mereka membawa berita hangat kalau mereka lulus. Berarti mereka sudah mencapai DRS waktu itu meskipun saya belum mendapat gelar itu.

Nah, timbulah pemikiran dan tekad membuat kursus tahun 1977. Tepatnya 15 juni 1977 resmi BEC dibuka pertama kali.

Pernah membayangkan Pare akan menjadi sebuah Kampung Inggris di mana orang sangat ramai berdatangan ?

Saya tidak pernah membayangkan itu. Cuman saya punya harapan, mudah-mudahan lancar. Gitu.

Sumber Foto: test-pare.com

Sebelum menjadi terkenal seperti sekarang ini, pernah ada yang merasa kecewa ternyata sebutan Kampung Inggris itu tidak terbukti ?

Dulu tahun 1997 dua tahun setelah ditulisnya itu ada orang yang merasa kecewa. Ini yang seringkali terjadi. Orang mendengar sebutan Kampung Inggris menduga semua orang disini bisa Bahasa Inggris. Kan begitu dugaannya, dan dugaan itu menurut saya pantas.

Ya, kalau saya ditanya untuk mempertanggung jawabkan itu. Saya tidak sanggup dan saya tidak tanggung jawab. Sepertinya itu omong bohong. Sebutnya Kampung Inggris, tapi tidak ada orang ngomong Inggris. Nah itu Prof. Zaki, waktu itu Rektor UII Jogjakarta. Beliau sengaja 300 meter jalan kaki pengen dengar orang Bahasa Inggris, kecewa beliau. Itu kan yang bikin orang kecewa to. Tapi saya bilang, saya tidak memberi nama itu.

Apa yang kurang dan perlu dibenahi dari Kampung Inggris saat ini ?

Tidak terlalu saya pikirkan, saya pikirnya masih ada yang lebih bertanggug jawab. Kan ada camat, ngapain saya pikirkan banget. Tapi kalau di BEC itu memang tugas saya. Disni yang paling rentang saya lihat pergaulan agak bebas itu yang kurang saya terima.

Anda pernah berkata jika berkarya, kita harus memberikan manfaat kepada orang lain. Apakah prinsip itu yang membuat BEC bisa melahirkan banyak lembaga kursus ?

Saya tidak pernah menghalangi orang mendirikan lembaga kursus. Orang mau hidup sendiri, silahkan. Itu kos-kosan kasian tetangga saya tidak punya pekerjaan. Ada tetangga saya yang ndak punya pekerjaan tapi sekarang ada kos, ada yang hasil laundry bisa sekolahkan anaknya. Kuliahkan dua anaknya bahkan.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Add comment

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.