Locita

Indah Lestari, dari Profesional Paling Berpengaruh, Milenial, hingga Pekerjaan Uniknya

RAMBUTNYA sebahu, berwarna agak cokelat kemerahan. Wajah wanita ini menampakkan guratan perpaduan antara keanggunan khas perempuan Bugis dan lelaki Jawa. Bicaranya teratur dan tegas, namun terdengar lembut. Karakter ini tak terlepas dari darah yang mengalir dalam tubuhnya.

Indah sapaannya, adalah putri seorang Purnawiran TNI AD, tampak pula ia mewarisi karisma dari sang ibu yang berdarah Bugis.

Perpaduan karakter yang dimiliki Indah, terlihat dari jaket kulit hitam, dan celana jins yang membalut kulit cokelatnya malam itu.

***

Nama lengkapnya Nur Indah Hayati Lestari Murni (36). Saya menjumpai wanita berdagu lancip ini, pada Jumat malam (3/11) di pusat perbelanjaan, TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Perjumpaan saya dengannya di pekan pertama November lalu, terkait tugas dari redaksi guna menulis profil dirinya. Anak dari pasangan H. Gempur Waseso dan Hj. Abida Laguni ini memang baru saja mencatat prestasi membanggakan.

Dia terpilih sebagai salah satu dari 30 profesional muda Indonesia yang berpengaruh dan berprestasi di dalam karirnya, versi LinkedIn. Daftar ini dirilis pada September lalu dengan tajuk “LinkedIn Power Profiles 2017”. Namanya terapit bersama pendiri Gojek, Nadiem Makarim dan Bukalapak, Achmad Zaky.

Indah terpilih sebagai sosok profesional paling berpengaruh di kategori Sumber Daya Manusia (Human Resources). Dirinya kini menjabat sebagai AVP Talent Acquisition Home Credit Indonesia.

Profesi wanita kelahiran 14 Agustus ini terbilang unik. Indah merupakan seorang Human Resources Digital Marketing. Selama ini kita mengenalnya sebagai dua bidang kerja yang amat berbeda. Human Resources berfokus pada bagaimana mensinergiskan strategi perusahaan dan kebutuhan bisnis dengan strategi pemberdayaan karyawan sehingga tujuan bersama dapat tercapai. Sementara Digital Marketing ialah strategi pemasaran dengan menggunakan saluran komunikasi digital untuk menggapai target audience-nya.

Kemampuannya dalam menggabungkan kedua strategi dalam profesi yang digelutinya saat ini membuat LinkedIn mengganjar wanita yang mengenyam Advanced Intercultural Management Course, dari Mendozza College of Business, University of Notre Dame, USA ini sebagai sosok yang berhasil menunjukkan transformasi bagi perusahaan dan industri Human Resources di Indonesia secara lebih luas.

Indah mewarisi jiwa militer dari sosok ayahnya serta keanggunan ibu yang berdarah Bugis. (foto: Cafe Betawi Crew).

***

Diterpa lampu temaram Kafe Betawi malam itu, Indah menceritakan panjang lebar, profesi yang telah digelutinya selama lima tahun terakhir ini. Obrolan kami ditemani semangkuk sup ayam, serta segelas jus buah, guna melawan udara dingin selepas hujan di luar. Perbincangan di meja bundar dengan sandaran kursi khas Betawi malam itu, membuat obrolan kami menjadi hangat dan begitu santai. Berikut bincang-bincangnya.

Apa manfaat dari profesi yang sekarang Anda jalani bagi perusahaan?

Saat ini profesi HR, terutama talent acquisition (pencarian orang untuk kebutuhan perusahaan) telah mengalami transformasi yang sangat signifikan, dari sebelumnya menjalani peran administratif menjadi sebuah profesi yang strategik karena saat ini dan kedepannya kita dituntut untuk menjadi lebih customer centric (dalam hal ini employee centric).

Jadi, apa yang bisnis terapkan ya kita coba untuk bisa menerapkannya juga sehingga memiliki bahasa dan speed yang sama. Begitu juga dengan target audience kami yang saat ini sudah beralih ke digital. Ketika saya akan menerapkan strategi talent acquisition (TA) untuk jangka panjang, saya harus juga memahami perilaku calon karyawan yang sudah melek digital. Apa yang mereka minati, bagaimana pola mereka mencari pekerjaan, bagaimana mereka mencari informasi tentang pengalaman bekerja di perusahaan dan bagaimana keseharian mereka.

Seberapa baru sih profesi ini di Indonesia?

Profesi ini sebenarnya bukan baru, sebab perkembangan industri yang terus bergerak maju memunculkan profesi yang baru pula. Di Amerika, bidang Human Resource and Digital sendiri sudah menjadi benchmark sebagai profesi masa depan.

Kemampuan untuk menggabungkan kedua pekerjaan ini dalam sebuah divisi khusus sangat diperlukan perusahaan kedepannya. Apalagi di tengah menjamurnya perusahaan-perusahaan teknologi digital seperti teknologi finansial dan industri e-commerce. Jadi bukan profesinya yang baru melainkan metodenya yang terus diperbaharui sesuai dengan trend.

(Alumnus Hubungan Internasional (HI) Universitas Hasanuddin (UNHAS) ini, beberapa kali melambaikan tangan kepada pelayan. Ia merasa kelaparan setelah menembus macetnya Ibukota sepulang kerja sore tadi)

Indah merupakan alumnus Hubungan Internasional, UNHAS tapi memiliki profesi ‘unik’ HR & Digital Marketing. (Foto: Aco Pamatte)

Bisa diceritakan lebih jauh profesi ini cakupannya seperti apa?

Profesi ini tidak hanya merekrut karyawan tapi membuat branding bagi perusahaan sehingga menarik bagi para pencari kerja. Gue bertugas bagaimana membuat para pencari kerja ini merasa ‘wah keren nih, bisa kerja di perusahaan ini’ gitu, jadi gak sekedar HR.

Bekerja di bidang HR selama lebih dari lima tahun belakangan mengajarkan gue satu hal, yakni bagaimana pull factors yang gue tawarkan sesuai dengan apa yang diminati atau setidaknya menjadi solusi bagi para kandidat, mencoba lebih memahami kandidat, lah.

Contoh konkret ketika gue mau pindah kerja, maka gue akan mencari faktor yang paling penting bisa bekerja di tempat yang memiliki value yang sama dengan gue.

Cara kerjanya?

Ya itu tadi, bangun awareness melalui kegiatan employer branding yang tentunya didesain sesuai dengan startegi, setiap touch point-nya diukur efektifitasnya hingga dia menjadi pelamar dan akhirnya menjadi karyawan.

Bukankah kita masih punya banyak pencari kerja?

Yup, kita punya banyak. Kalau dilihat dari jumlah lulusan perguruan tinggi yang dapat diserap oleh industri, gapnya lumayan tinggi. Banyaknya lulusan perguruan tinggi menganggur karena adanya ketimpangan antara profil lulusan universitas dengan kualifikasi tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan. Jadi demand banyak, supply melimpah namun gak ketemu nih spesifikasinya.

Hal ini menjadi tantangan buat industri, dimana talent war terjadi ketika kita rebutan orang-orang karena skillset-nya masih sedikit di pasar. Contohnya, untuk rata-rata IT, mereka bisa pindah kantor 2–3 kali dalam setahun, ini buat yang skill-nya bagus ya.

 

Berarti mereka bukan tipe karyawan yang setia?

Apakah ada sekarang pekerja yang setia pada atasan dan kantor? Gak ada, mereka hanya setia pada dirinya. Nah, kita di industri gimana? Ya bajak-bajakan talent. Trus pengagguran masih ada? Masih banyak. (Tertawa)

Kan masalahnya ada gap kompetensi antara yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dengan yang diperlukan oleh industri.

Untuk itu, perguruan tinggi juga sudah harus melek digital marketing. Maksudnya apa? Identifikasi skillset yang diperlukan oleh industri dalam beberapa tahun ke depan, perbaharui kurikulum-nya supaya memenuhi standar industri lalu riset di mana target mahasiswa sering eksis. Ya, media sosial.

Jadi ini salah satu alasan Anda harus mampu memiliki kemampuan digital marketing?

Iya, makanya kenapa gue harus pintar digital karena gue incar anak muda 20 tahun sampai 35 tahun yang sudah mobile shifting alias digital sehingga kalau gue buat digital campaign dan investasi di platform digital harus bisa mentarget segmen ini. Misal ngapain (pasang iklan) di majalah atau koran kalau mereka ternyata gak baca koran.

Oh, iya Anda lulusan Hubungan Internasional, di Makassar padahal sekolah dasar, hingga tamat menengah atas di Jakarta. Mengapa tiba-tiba memilih ke daerah?

Ibu saya di Makassar (ibu Indah lahir di Luwu, Sulawesi Selatan) Saya waktu itu pengen bantu usaha ibu, akhirnya berkuliah di sana. Saya ngerasa sangat bersyukur karena banyak hal yang saya tidak dapatkan kalau saya tidak berkuliah di UNHAS.

(Di tengah perbincangan kami, kru Kafe Betawi yang sebelumnya telah saya minta memotret kami mengambil ancang-ancang. Indah tiba-tiba berhenti berbicara dan sejurus kemudian membersihkan serangkaian alat makan di meja, melap dan menyembunyikan botol air minum kami. Ia tertawa ketika saya berucap : “Kak Indah sedang menerapkan profesi public relation?)

Kenapa?

Jadi saya ngerasa menjadi anak daerah peluangnya lebih banyak tergantung diri kita mau fight apa enggak. Contoh kalau saya dulu tidak mewakil UNHAS sebagai delegasi di Harvard Model United Nations (HMUN) sebagai salah satu dari tiga orang mewakili Indonesia mungkin gak akan ter-highlihgt seperti sekarang ini. Kesana dulu saya dibantu oleh Gubernur Lemhanas Agum Gumelar dan Gubernur Jakarta Sutiyoso.

Dan itu jadi salah satu nilai jual ketika saya masuk bekerja kemanapun karena saya bisa menjelaskan pengalaman saya dan proses yang saya lalui, bukan sebuah proses instan. Mulai dari tes dengan advisor, bikin paper hingga terpilih.

Selain itu, support dari senior UNHAS dirasa sangat besar bagi saya (perantauan) mengingat kekerabatannya seperti keluarga besar yang mungkin cerita ini akan berbeda (jika) saya berkuliah di Jakarta saat itu. Itu yang membuat saya merasa bersyukur bisa berkuliah di sana karena ada value yang saya dapatkan.

 

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.