Siapa

Dr. Rosita Rivai: Rohingya, Berguru ke Israel dan Pengabdian di Bencana

BERADA dua minggu di kamp pengungsian etnis Rohingya, membuat dr. Rosita Rivai kian memahami kesulitan hidup masyarakat yang dicabik oleh bencana, terlebih karena perang.

Dokter alumnus Fakultas Kedokeran Universitas Hasanuddin tahun 2002 ini, berpengalaman di medan kebencanaan. Alhasil, ia tak henti bersyukur karena dapat hidup bahagia dan aman bersama keluarga kecilnya di Indonesia.

Wanita yang lahir di Makassar, 41 tahun silam ini, telah dipercaya sebagai general manager di lembaga filantropi Dompet Dhuafa. Dirinya ingin terus bertahan di dunia filantropi yang dicintainya itu, hingga usia 50 tahun nanti.

Pada pekan ketiga Oktober lalu, dr. Ochi sapaannya, menghabiskan waktu selama 14 hari di kamp pengungsian etnis Rohingya, Cox’s Bazar, Bangladesh. Ochi bertindak sebagai Health Assistensi Coordinator Indonesian Humanitarian Alliance for Rohingya Refugee 2017.

***

Dua hari yang lalu. Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, mengeluarkan pernyataan yang menghentak, hampir seluruh aktivis kemanusiaan yang peduli pada isu Rohingya. Etnis yang terusir dari tanah kelahiran yang telah ratusan tahun mereka diami.

Setelah pengumuman tersebut. Para aktivis nampak harus bekerja lebih keras setelah etnis yang tinggal di wilayah Rakhine, itu telah benar-benar bertsatus stateless, manusia tanpa status kewarganegaraan. Hal ini dipertegas melalui penyampaian pimpinan junta militer yang sangat berkuasa di negara seribu pagoda tersebut.

Kini tercatat 123 ribu warga Rohingya telah meninggalkan lokasi kekerasan di Rakhine, Myanmar, sejak 25 Agustus . Tak sedikit di antara mereka yang meninggal dunia, setelah menyintas mencari wilayah lebih aman. Saat ini pengungsi Rohingya yang terlunta-lunta di luar Tanah Airnya, tersebar di beberapa negara yang bersedia menerima mereka, seperti di Bangladesh, Thailand hingga Indonesia.

“Hal itu tentu sangat berpengaruh, mereka tidak bisa mengakses layanan apapun termasuk kesehatan di wilayah setempat. Makanya layanan kesehatan yang harus mendekat pada mereka,” kata dr. Ochi mengomentari pernyataan panglima tersebut kepada saya, ketika menjumpainya di Jakarta Cafe, Jakarta. Kamis malam (11/10).

Dari jauh, belasan kilometer dari Ibukota Myanmar, di Jakarta, dr. Ochi terus memperhatikan kondisi terkini para pengungsi. Ochi merupakan salah satu dari dua dokter spesialis yang baru saja pulang dari penampungan pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Ochi Bertindak sebagai tim medis di wilayah yang berjarak 390 kilomter dari ibukota Dhaka. Berada selama dua minggu di negara yang juga tak mengakui etnis Rohingya tersebut. Ia kembali pada 6 Oktober lalu. Ochi menghabiskan waktu bersama para pengungsi, menangani masalah kesehatan mereka seperti bayi kurang gizi, ibu hamil, hingga pengungsi yang mengalami berbagai penyakit kulit. Ia bahu membahu bersama para LSM dari Indonesia membantu pengungsi Rohingya yang mengalami berbagai masalah kesehatan.

***

Kami membincangkan banyak hal, ditemani alunan musik, pertemuan yang awalnya direncanakan di Gedung Sarinah itu berpindah ke sebuah cafe. Bincang yang berlangsung selama dua jam ini kemudian diisi dengan sendau gurau. Turut hadir pula sang suami serta beberapa kawan dr. Ochi. Wawancara ini berakhir hingga tengah malam.

Berikut hasil pertemuan saya bersama dokter yang pernah mendapatkan pelatihan penanganan kebencanaan massal di Tel Aviv, Israel,  pada 16 – 29 Mei 2009 ini.

Mengapa memutuskan berangkat ke kamp pengungsian etnis Rohingya di Bangladesh. Padahal Anda setingkat manajer dan tidak harus turun tangan langsung ke lokasi?

Selain karena memang diutus lembaga, juga karena ini panggilan hati nurani. Dari mahasiswa hingga dokter saya selalu terlibat di kebencanaan, maka saya terpanggil. Saya dokter pula di siaga bencana Kemenkes, jadi hal hal kebencanaan sudah biasa, tapi memang sudah hampir tujuh tahun tidak pernah praktek.
Setelah beberapa tahun ini saya lebih banyak terlibat di program kesehatan sehari hari setelah bergabung dengan Dompet Dhuafa sebagai General Manager kesehatan dan pendidikan. Mereka butuh saya harus turun.
Sejak kapan mulai turut membantu koban bencana?
Sejak mahasiswa sih, pengalaman di kebencanaan mengantarkan saya misal menjadi sekretaris Umum Badan Koordinasi Nasional  Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (BAKORNAS LKMI), ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan MASIKA Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan ketua Komite Penanggulangan Bencana Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) 2006 – 2008). Saya juga pernah terjun langsung ke operasi penanganan bencana banjir di Jambi, gempa bumi Nabire, tsunami Aceh, serta gempa di Tasikmalaya, dan Sumatera Barat.

(Rekan-rekannya menyampaikan kekhawatirannya mengenai keinginan Ochi untuk kembali ke Bangladesh, ketika berjumpa di Jakarta Cafe, Kamis (11/10). Sumber foto: Aco Pamatte)

Anda pernah mengikuti pelatihan kebencanaan di Tel Aviv, Israel?

Iya pernah 2009 lalu, saat itu diutus oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Itu pelatihan penanganan kasus massal, baik karena bencana ataupun kejadian luar biasa seperti bom.

Apa sih tugas yang dibebankan lembaga yang mengutus Anda ke Rohingya?

Saya diminta untuk membuat program kesehatan jangka panjang baik untu Myanmar ataupun Bangladesh. Bantuan kesehatan yang kita berikan kepada mereka itu memang mesti sustain dan long term. Maka kita harus buat perencanaan matang dan pelaksanaannya juga lebih bisa dilakukan teman-teman setelah kami tim advance pulang.

Kami berniat mempunyai klinik mobil dan klinik yang bisa stay di wilayah pengungsi nantinya, dan cita-cita besar kami ingin bisa membangun rumah sakit. Dananya tentu dari donasi masyarakat luas oleh karena itu kami selalu butuh teman media untuk memberitakan hal ini.

(Suami Ochi, Nurhabibie Rifai–disapa Bobby–tiba-tiba datang menghampiri kami. Ochi melambaikan tangan pada sang suami yang datang dari arah belakang, kemudian memanggilnya, “Sayang, di sini, ki’).

 

Menerangkan sistem kerja tim medis untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh. Dr. Ochi berniat kembali ke sana. (Sumber foto: Bobby)

Apa tugas tim Anda selama di sana?

Sebagai tim pertama, kami datang untuk menset-up tim kesehatan bersama dokter Corona Rintawan dari MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center). Kami membantu teman teman (perawat) untuk pelayanan kesehatan. Kami berdua yang membangun sistem kesehatan bersama teman teman dokter Bangladesh.

Tentu banyak kendala karena bantuan terdengar tidak mudah disalurkan bagi pengungsi Rohingya?

Banyak, karena perijinan untuk melakukan bantuan itupun diatur sedemikian rupa, seperti untuk menyalurkan bantuan kita mesti bermitra dengan lokal NGO (Non- Government Organisation). Di sana, NGO juga harus terdaftar pada negara. Sampai saat ini memang belum ada ijin resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Bangladesh untuk semua bantuan. Bantuan hanya boleh dalam bentuk Government to Government dan disalurkan melalui militer.

(Wanita yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia 2015-2018 ini bercerita tentang maraknya aksi perdagangan manusia di sekitar kamp pengungsian).

Bagaimana dengan bantuan masyarakat Indonesia yang dilepas presiden beberapa waktu lalu?

Sampai saat ini memang bantuan atas nama Indonesia mesti diberikan kepada pemerintah Bangladesh dan diatur militer. Memang hubungan Indonesia dengan Bangladesh ataupun Myanmar yang paling bagus sampai saat ini, bahkan orang Bangladesh pun mengakui, bahwa bantuan Indonesia yang paling terasa, atas nama negara mereka sangat berterima kasih.

Bagaimana menyusun sistem kesehatan untuk pengungsi?

Sistem kesehatan di Myanmar dan Bangladesh yang kami susun itu sangat berbeda, kalau di Bangladesh kami kerjasama dengan dokter lokal. Jadi ada dua hari jumat dan sabtu kami bareng mereka, karena memang itu hari libur mereka datang dari Dhaka sedangkan minggu sampai kamis itu full tim indonesia.

Di Myanmar itu kita tidak boleh melakukan pelayanan kita hanya boleh melakukan pelatihan kepada dokter lokal yang akan melakukan pelayanan, jadi sama sekali tidak boleh kontak langsung

(Ochi kemudian bercerita tentang isu SARA yang menimpa termasuk bagi bantuan kesehatan Muslim. Beberapa lembaga donor asing dilarang masuk ke Bangladesh karena memakai simbol agama Islam).

Tidak pernah merasa takut berada di sana?

Khawatir ada. Pokoknya kita paling lambat harus meninggalkan kamp pengungsian itu jam 5 sore. Terus tidak boleh berjalan sendiri apalagi bagi perempuan. Atribut medis juga harus terus dipakai, karena pelindung, sehingga ketika polisi bertanya mereka lebih menghormati.

Jarak dari penginapan tim bantuan ke kamp pengungsi cukup jauh, menurut ibu dari seorang putra ini, butuh waktu dua jam perjalanan hingga sampai di Cox’s Bazaar. Angka penculikan dan pemerkosaan di Bangladesh salah satu yang tertinggi di Asia. Petugas medis sama sekali tak diperbolehkan berjalan sendiri.

Setelah dua minggu apa langkah berikutnya dari tim?

Jadi rencananya kami akan kembali karena dalam waktu enam bulan itu, kan ada Monitoring dan Evaluasi (Monev). Selain mempersiapkan tim disini. Sewaktu waktu jika diperlukan, saya harus kembali ke sana karena sampai bulan Februari untuk Monitoring dan evaluasi.

(Saya menatap wajah sang suami, Bobby. Jika saya jadi dia pasti akan saya larangistri saya kembali ke sana. Ia tampak santai menanggapi niat kepergian istrinya lagi. Saya iseng bertanya.

Kak Bobby rela kalau Kak Ochi berangkat ke Bangladesh?

Bobby: Khawatir sih pasti. Tapi obat kekhawatiran adalah usaha dan doa. Jadi saya bantu persiapannya sebaik-baiknya, beli perlengkapan, sampai menemani sedikit latihan fisik. Sisanya tinggal diserahkan ke Tuhan saja, banyak berdoa dan puasa.

 

Bobby, suami dr. Ochi. Ia tergabung pada salah satu lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada isu keragaman (Sumber foto: Aco Pamatte).

Apakah monitoring dan evaluasi itu sangat diperlukan?

Pengembangan program kan bukan cuma pelayanan ada seperti pojok ASI (Air Susu Ibu), pendampingan terhadap malanutrisi, ibu hamil, hingga perilaku hidup sehat. Karena program program begini memang lebih mendukung program pelayanan karena kalau cuma kuratif saja itu tidak akan selesai penyakit disana.

Sampai kapan rencana untuk turut serta pada bantuan kebencanaan?

Sampai saya tidak mampu di lapangan, karena pastinya untuk turun perlu fisik yang kuat. Tapi nanti saya bisa membantu di bidang lain seperti manajemennya. Mungkin berhenti ketika usia 50 tahun.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Kenapa Papua Unik?

Next post

Masjid Kebanggaan Wali Kota