Siapa

Abdul Rahman Farisi: Pemimpin Muda, Teori Ekonomi dan Negara Kesejahteraan

FENOMENA pemimpin muda bukan hanya milik dunia perpolitikan Indonesia. Di negara lain juga terjadi hal sama, tengok pemilihan presiden Prancis yang digelar Mei lalu, yang memunculkan sosok Emmanuel Macron.

Macron terpilih sebagai presiden termuda dalam sejarah Perancis modern pada usia 39 tahun. Ia hanya lebih tua setahun dari Luis Napoleon Bonaparte pada 1848. Adapula, Justin Trudeau yang terkenal dengan parasnya, terpilih sebagai perdana menteri Kanada pada usia 43 tahun.

Di Indonesia Pada Pilkada serentak 2017 lalu, memunculkan pemimpin muda seperti Adriatma Dwi Putra yang dilantik sebagai Walikota Kendari di usia 27 tahun. Sebelum Adriatma, ada Bupati Trenggalek, Emil Dardak dan wakilnya, Mochamad Nur Arifin yang masing-masing berusia 31 tahun dan 25 tahun.

Keterlibatan anak muda dalam Pilkada kita, tak lepas dari kehadiran Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Undang-undang ini mensyaratkan batas usia calon gubernur/wakil gubernur minimal 30 tahun, sedangkan calon wali kota/wakil wali kota dan calon bupati/wakil bupati minimal 25 tahun. Kesempatan bagi generasi muda untuk berkompetisi di ajang pilkada sangat terbuka.

Di antara ratusan nama ‘anak muda’ yang akan turut berlaga pada palagan Pilkada serentak 2018 nanti. Muncul satu nama yakni Abdul Rahman Farisi. Pria yang akrab disapa Boge’ oleh teman-temannya ini, tengah merajut asa dengan semangat-semangat khas anak mudanya, memimpin provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

***

MENTARI masih mengintip malu, ketika bis yang saya tumpangi meluncur membelah jalanan Ibukota. Ditemani alunan musik pop, hari itu, Sabtu di pekan ketiga September. Saya duduk termangu di kursi penumpang bus Trans Jakarta, mencoba mengingat-ingat seseorang bernama Abdul Rahman Farisi. Hari ini memang saya janjian wawancara sambil diskusi dengannya. Saya berhasil mengingat sepintas, Abdul Rahman Farisi atau yang biasa disapa Boge’ itu, adalah pria yang mulai menghiasai layar kaca televisi beberapa bulan belakangan.

Kalimat-kalimat yang meluncur darinya, perihal permasalahan ekonomi Tanah Air. Ketimpangan ekonomi yang sudah mencapai gini ratio 0,39%  baginya sangat mengkhawatirkan. Tak hanya ketimpangan ekonomi, juga tentang mewujudkan negara kesejahteraan yang menghiasi pikiran saya.

Setelah menempuh perjalanan selama  40 menit. Hari itu saya akhirnya bertatap muka dengannya, di lantai 5 sebuah pusat perbelanjaan, kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Ditemani sang keponakan, Boge’ yang hari itu mengenakan kemeja putih bergaris, diserasikan celana kemeja hitam serta sepatu kets, menjawab setiap pertanyaan saya. Ia bercerita alasan dari pencalonan dirinya di usia yang sangat muda, mengikuti Pilkada Sultra di usia 39 tahun, nilai-nilai yang dianut, hingga tindak ekonomi yang seharusnya melahirkan negara kesejahteraan bernama Indonesia. Berikut petikannya:

Ada fenomena baru kepemimpinan di negara kita bahkan dunia, coba diambil alih oleh para anak muda. Apa hal ini turut jadi alasan anda mencalonkan diri?

Kini (pemimpin muda) memang jadi fenomena politik, kenapa? karena pemimpin muda itu lebih progresif lebih kekinian terhadap tantangan, lebih suka menyelesaikan masalah jadi memang saya melihat ada tren itu tetapi sekali lagi itu hal yang masih teka-teki karena itu harus dibuktikan.

Tapi pengalaman dua Pilgub terakhir di Sultra selalu yang muda, Ali itu terpilih gubernur umur 42, dan Nur Alam itu 41 tahun. Dua gubernur Sultra itu selalu termuda di pemilihannya.

Dari pemimpin muda di Indonesia Anda melihat ada sosok insiprasi?

Tidak juga, mereka masih berproses tapi maksud saya mereka berani untuk maju mengambil beban, dan tanggung jawab politik untuk berjuang. Kita liat hasilnya nanti, semua orang mengatakan Zainul Majdi di NTB relatif berhasil. Kita menunggu ini Zumi Zola karena dia baru setahun menjabat gubernur sementara di Trenggalek dan Banyuwangi juga. Kita sebagai pemimpin lebih muda tentu ditantang membuktikan kemampuannya.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah disebutkan bahwa persyaratan batas usia calon gubernur/wakil gubernur minimal 30 tahun, sedangkan calon bupati/wakil bupati minimal 25 tahun. Dengan persyaratan itu, apakah ini yang mengakibatkan anak muda terjun di politik?

Anak-anak muda membawa terobosan-terobosan. Mereka membawa hal baru, karena kita hidup di era dimana masalah masyarakat semakin kompleks. Kita butuh pendekatan baru, warna baru, dalam model pengelolaan pemerintahan. Jadi karena itu, ketika masalah masyarakat makin kompleks, dia butuh penyelesaian yang juga baru.

Boge’ menjelaskan berbagai teori ekonomi. Bagaimana membentuk negara kesejahteraan (Foto: Ersan)

Bagaimana awalnya sehingga Anda memutuskan untuk terjun di dunia politik pada usia muda?

Motivasinya pertama saya dari sisi pengalaman rekam jejak pribadi, saya lahir dari keluarga di mana ayah saya seorang pamong camat beberapa kali di kabupaten Muna. Ketika menjadi camat, saya terbiasa berada di sekitar orang tua saya dan melihat lebih dekat mengikuti perjalanan orang tua saya. Menyaksikan dari dekat ayah saya melayani masyarakat dengan sangat ikhlas.

Itu yang pertama, kedua kakek saya juga kepala desa selama 32 tahun di pesisir pulau Buton yang secara administrasi masuk kabupaten Muna. Jadi pengalaman ini menjadi inspirasi saya bahwa menjadi pemimpin itu adalah menjadi pelayan bagi masyarakat.

Ketiga di masa sekolah, sejak sekolah dasar sampai kuliah saya gemar berkumpul dan berorganisasi. Ketika SMP, saya menjadi ketua Osis, kalau di kampus mulai dari eksternal di wakil ketua majelis tinggi mahasiswa Unhas hingga Sekertaris Jenderal Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI). Dari seluruh pengalaman organisasi ini mendekatkan saya pada penyelenggaraan negara untuk belajar lebih dekat.

(Tiba-tia seorang ibu paruh baya menghampiri kami dan menyalami kami satu per satu. Ibu ini berasal dari Sultra dan mengenal Boge’. Wawancara terpakasa berhenti guna membiarkan sang ibu bercerita persoalannya kepada Boge’)

Dengan latar belakang seorang ekonom. Bagaimana menerapkan ilmu ini untuk kesejahteraan masyarakat jika Anda terpilih?

Iya memang selama ini saya konsen pada Ilmu Ekonomi, mempelajari tentang ilmu ilmu kesejahteraan dan juga tentang ekonomi publik dan regional. Di sana saya belajar bagaimana kebijakan ekonomi suatu negara dapat memberi harapan dan manfaat bagi orang yang lemah.

Sehingga saya jadi tahu secara teori bahwa kadang kebijakan itu hanya menjadi judulnya saja untuk rakyat tapi, di dalamnya ketika dipraktekkan lebih banyak memberi  manfaat bagi pelaksananya. Jadi saya melihat banyak hal tentang bagaimnana pembangunan suatu daerah yang lebih maju dan tidak maju.

Melihat bagaimana potret kepemimpinan suatu daerah yang maju dan tidak maju sehingga akumulasi dari semuanya itu ditambah lagi Sultra adalah provinsi yang relatif pembangunannya tidak terlalu bagus padahal alamnya bagus. Pemimpinnya menurut saya tidak terlalu optimal membangun daerah.

Kita punya sumber daya alam yang sangat melimpah, tapi tidak terkelola dengan baik begitupula dengan negara kita. kan

Seorang Ibu paruh baya menghampiri kami, ketika proses wawancara berlangsung (Foto: Ersan)

Potret maju atau tidak majunya daerah seperti apa?

Banyak indikator tapi saya lebih suka melihat dari indikator kesejahteraan rakyat. Misalnya soal tingkat kemiskinan, berapa indeks pembangunan manusianya, ketiga bagaimana tingkat pengangguran, dimana keduanya di Sultra lebih tinggi dari nasional. Yang keempat soal, pendidikan.

(Boge’ tiiba-tiba menerima telepon, sang keponakan mengambil potret kami beberapa kali).

Bagaimana cara menyelesaikan masalah di daerah?

Demi menyelesaikan masalah, misalnya soal masyarakat yang terkait ekonomi, tidak bisa diurai dengan kita akan membangun daerah itu dengan jargon besar. D Sultra nanti saya akan membangun Industrial Park, kita akan membangun sebuah pusat industri yang menggabungkan seluruh produk hasil olahan yang didapatkan dari masyarakat Sultra.

Produk itu khususnya yang menjadi hasil pangan dari mayoritas masyarakat Sultra produk perkebunan seperti jagung, kakao, nilam, maupun produk perikanan yang jadi komoditas mata pencaharian masyarakat.

Intinya selama ini saya berkeliling di hampir seluruh desa di Sultra menjelaskan secara detail dan real kepada masyarakat itu kita mau maju seperti apa, jangan hanya jargon-jargon besar yang tanpa sesuatu kerangka konseptional  dan operasional sebagai tujuan kita di masa depan.

Anda berkeliling selama tiga tahun, tentu telah menemukan banyak hal. Apa tanggapan dari masyarakat yang telah dikunjungi?

Elektabilitas masih nunggu Indobarometer tapi antusias masyarakat itu iya. Dari berkeliling saya melihat memang ada hal yang selama ini nyaris terlupakan, di tengah hingar bingar pesta demokrasi. Selama ini yang sampai ke masyarakat tentang hingar bingar politik itu soal artis, soal atribur, baliho tapi soal permasalahan rakyat soal keluhan hal-hal yang mendera nyaris tidak terlalu dibahas.

Salah satu hal yang paling serius menurut saya di Sultra itu ialah ketidakpastian harga. Menjadi soal misal harga rumput laut, harga jagung, nilam yang tiba-tiba turun, nah harga yang turun itu kan sama saja dengan petani atau nelayan itu ‘kecurian’. soal permodalan dan aspek lain.

Saya membahas itu secara kontinyu dari desa ke desa dan kecamatan mereka memang merasa 20-15 tahun terakhir nyaris mereka tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah.

Bagaimana cara Anda menyelesaikannya nanti?

Cara menyelesaikan itu misal tentang permodalan sampai sekarang ini di Sultra di saat semua provinsi bikin Jamkrida (Jaminan Kredit Daerah) Sultra belum, malah belum berpikir kesana itu artinya apa? Itu berarti dari sisi itu memang tidak terlalu menganggap bahwa masalah rakyat adalah masalah yang perlu diselesaikan.

Saya dalam perjalanan tiga tahun terakhir ini juga melihat apakah ada peran saya atau ada hal yang perlu saya perjuangkan dan semua calon lain tidak menyinggung sedikitpun.

Tiga tahun ini memang saya menemukan itu bahwa hal-hal menyangkut kesulitan rakyat keluhan itu nyaris tidak menjadi perhatian pemerintah. ada hanyak yang akan kita lakukan, mimpi saya menjadikan Sultra sebagai pusat komoditas unggulan produk pertanian maupun kelautan, kita akan bekerjasama dengan pihak dari regional maupun internasional agar bagaimana Industrial Park ini nanti dapat menjadi pusat di Indonesia Timur.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

7 Puisi Menyambut Hantu-Hantu PKI dan Bayangan Kejombloan Kita

Next post

Pesan Dokter Ochie dari Rohingya yang Mengetuk Nurani