Locita

Mixtape 7 Lagu yang Menggambarkan Pengungsi Rohingya Catatan dari Pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya di Bangladesh (Sumber Foto: Dhihram Tenrisau)

SEBAGAI orang yang dapat kesempatan berangkat ke daerah pengungsi Rohingya. Berangkat di tengah marak-maraknya isu yang lebih nge-hits seperti, pidato pribumi oleh Anies Baswedan. Ya, isu pengungsi Rohingya memang sedang mendingin di tanah air.

Namun terlepas dari ketidak terkinian isu ini. Beberapa teman dan sanak menghubungi saya. Pertanyaan pertamanya pasti seperti ini,

“Bagaimana kondisi di sana?”

Bayangkan bagaimana menjawab pertanyaan klise itu oleh puluhan kali. Belum lagi dengan anak-anak pertanyaan yang sedikit kepo tentang kondisi pengungsi, bagaimana mereka hidup, ataupun bagaimana anak-anak mereka. Untuk menjawab semua itu saya akan membuat mixtape yang mampu menjelaskan kondisi mereka.

Banyak dari lagu ini memang diwakili oleh generasi 60-an dan 70-an di mana lagu-lagu protes anti perang menjadi mengemuka. Dan kali ini saya akan menjadi seorang Adrian Cronauer, seorang pembawa acara yang melihat para pengungsi ini, tanpa harus berenang dalam kesedihan dan air mata.

  1. Gimme Shelter — The Rolling Stones

Lagu ini mewakili bagaimana anak-anak dan pengungsi menjadi titik korbannya. Bayangkan mereka berjalan bermil-mil jauhnya untuk mencari tempat yang aman, “rumah” dalam artian sebenarnya. Tidak jarang dari mereka haruslah merenggang nyawa dalam perjalanan itu. Mick Jagger dan Keith Richard tepat sekali menggambarkan itu.

2. Blowin’ in the Wind — Bob Dylan

Bob Dylan dan “Blowin’ in the Wind” adalah icon generasi protes tahun 1960-an akan Perang Vietnam dan pergolakan politik di Amerika. Nyatanya, lagu ini masih digunakan hingga hari ini untuk menggambarkan perihal serupa. Lagu ini bercerita akan ketidakpastian hidup.  Kehidupan pengungsi adalah ketidakpastian, di kampung orang, dan jawabannya hanya deru angin yang mampu menjawab.

3. Neo Universe — L’arc en Ciel

Seburuk apapun tempat pengungsian ini, bagi para Rohingya ini, Kamp pengungsi adalah harapan terbaik untuk mereka kini. Di sini mereka dapat merasa aman dari terjangan peluru dan ketakutan akan terbunuh. Sekalipun pada nyatanya mereka masih harus bertarung akan ketidakjelasan di masa depan. Sama seperti bagaimana kutipan lagunya yang sudah dialihbahasakan, It’s a reborn season/It’s a season too painful to bear/Like the sky, let’s tie into one/neo universe.

https://www.youtube.com/watch?v=04v98c4fDi0

4. Georgia on My Mind — Ray Charles

Sekalipun bukan lagu ini asli ciptaan seorang pianis Ray Charles. Namun tak bisa dipungkiri Ray Charles adalah penyanyi yang paling baik dan total dalam mendalami tarikan bait dan nadanya. Lagu ini bercerita tentang kerinduan akan kampung asal, sekalipun kampung tersebut sudah tidak mampu memberikan keamanan dan kenyamanan. Yang tersisa hanyalah nostalgia. Lagu ini diasosiasikan dengan masa-masa rekonsiliasi rasisme di Amerika.

5. Baba O’Riley- The Who

Townshed, sang empunya lagu menciptakan lagu ini untuk ironi yang terjadi di Woodstock, beberapa anak muda menikmati musik, sementara lainnya meninggal dan overdosis. Sama halnya, anak-anak muda yang berbaris dan berswafoto ria di hadapan deburan ombak pantai Cox’s Bazar yang terpanjang di dunia, sementara anak muda lainnya kurang piknik dan bersibuk dengan membangun rumah dari bambu dan terpal. Yes, it’s teenage wasteland.

6. Borders — M.I.A

Serupa dengan krisis di Rakhine, M.I.A adalah orang turut mengalami menjadi pengungsi ke London saat perang sipil terjadi di Sri Lanka. Lagunya ini mereka dedikasikan untuk krisis migran yang terjadi di tahun 2015. Terlepas dari beberapa kontroversi videoklipnya, kira-kira itu yang akan mudah kita dapatkan saat bercerita dengan para pengungsi di sini.

7. Communist Daughter — Neutral Milk Hotel

Album In the Aeroplane over the Sea, merupakan salah satu album yang menceritakan krisis kemanusiaan dalam kemasan lo-fi.  Mereka mengakui bahwa diari Anna Frank, salah satu kesaksian holocaust di Perang Dunia II. Banyak menganggap trek ini adalah bentuk tersirat dari cerita pemerkosaan pada lirik, Semen stains the mountain tops. Ya, disini memang banyak korban pemerkosaan.

*Penulis sementara ini bertugas dalam tim Dompet Dhuafa, dan Indonesian Humanitarian Alliance untuk Pengungsi Rohingya, di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.