Locita

7 Puisi Menyambut Hantu-Hantu PKI dan Bayangan Kejombloan Kita

Foto: Republika

Momentum 30 September sudah pasti akan diwarnai dengan ingatan-ingatan akan bangkitnya “hantu-hantu PKI. Namun ada sebagian dari banyak orang yang memilih tidak reaktif dan adem-ayem saja menyambut tanggal 30 September itu. Buya Syafii Maarif dengan sangat bijak mengatakan, “PKI yang sudah masuk kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan. Sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan lagi diracuni oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab.”

Ada satu kelompok yang akan diuntungkan pada momen 30 September yang tidak kebetulan jatuh pada hari Sabtu atau malam Minggu ini. Mereka adalah orang-orang yang jomblo yang telah memiliki agenda nonton bareng film G30SPKI. Akhirnya, momentum 30 September bisa ji menyelamatkan para jomblo dengan maraknya pergelaran nonton bareng. Namun sayangnya, ada satu kelompok pula yang sangat dirugikan dalam momen 30 September ini. Mereka adalah orang-orang jomblo yang memilih untuk tidak bersikap reaktif dan ogah-ogahan menonton film G30SPKI. Dimana mereka akan berlabuh? Disaat semua orang sedang asyik-asyiknya membangun perayaan nasionalisme di akhir September.

Tulisan ini mungkin bisa menjadi penolong, anggap saja sebagai jalan untuk keluar dari “hantu-hantu” PKI dan kesendirian yang mengebiri bayangan-bayangan tanpa kekasih. Berikut 7 puisi yang bisa menemani kalian, para jomblo di malam mingu, yang bertepatan dengan tanggal 30 September 2017. Selamat menikmati!

  1. Wiji Thukul- Sajak Tanpa Kata

Inilah kata-kataku yang pertama,

biarlah negeri ini hancur ,

sebab negeri ini sudah carut-marut tak karuan

para senimannya asyik beronani dengan seninya, para elit politiknya ribut tak karuan, mulutnya berbusa, sedangkan tangannya yang hitam

bergentayangan dimana saja

mereka bersilat lidah menyembunyikan tangannya yang berlumur darah dengan meminjam bait-bait suci dari tuhan, negeri ini sudah tak bertuan kawan

sebab, para penguasa hanya sibuk bersuara tanpa makna

karna itu kita mesti kepalkan tinju

memukul mulut mereka yang bau memotong tangan mereka yang penuh dengan dosa, apalagi yang kalian tunggu.

menunggu takkan menghasilkan apa-apa, selama badut-badut itu masih bisa kentut kita pasti akan di tikam dari belakang, selama badut-badut itu masih bisa bernapas kita pasti akan di gilas,

mari bersama-sama kita lemparkan mereka ke kantong sampah, kita benamkan ke lumpur hitam,

agar mereka diam tak bersuara

lalu mati,….. tak bertenaga,…..

  1. WS Rendra- Kangen

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti segala lukaku
karna cinta telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.

Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi

Itulah berarti
aku tungku tanpa api.

  1. Mario F Lawi- Panen

Dengan ukuran kematian, kami mendepa panjang lintasan dosa dan kebangkitan. Hujan sungguh tak ada, Tuan, sebab lambungmu belum ditikam. Kepak gagak yang menjauh berusaha mengelak dari cahaya pukul tiga. Matahari dari balik detak-hentimu adalah yang paling menyilaukan, karena bumi yang terbelah akan lebih baik menghentikan lajur-hidup benih gandum. Ladang telah kami garap, demi kehidupan dan rasa sakitmu. Lima langkah dari ibumu, para pemanen menundukkan kepala. Berkas-berkas telah dipisahkan dari antara ilalang. Para pekerja mulai memindahkan mereka ke dalam lumbung demi musim-musim yang sekarat. Sebagai benih-benih gandum, Tuan, kami mesti kaujatuhkan ke tanah, meski rekuiem musim tak pernah mampu menaksir arah cuaca yang mengeras di antara kedua matamu.

(Naimata, 2013)

  1. Remy Sylado- Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan

jika

laki mahasiswa

ya perempuan mahasiswi

jika

laki saudara

ya perempuan saudari

jika

laki pemuda

ya perempuan pemudi

jika

laki putra

ya perempuan putri

jika

laki kawan

ya perempuan kawin

jika

kawan kawin

ya jangan ngintip.

  1. Acep Zamzam Noor- Menjadi Penyair Lagi

Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga

Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecokelatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal

Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya

O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi

  1. Sutardji Calzoum Bachri – Hilang (Ketemu)

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

 

Kau kehilangan aku

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

Kamu ketemu aku

  1. Chairil Anwar- Persetujuan dengan Bung Karno

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.