Locita

Tuhan, Dimana Engkau Saat Palestina Digempur?

lukisan di Jalur Gaza (http://www.netmedyouth.org/)

Suasana batin Yusran berubah seketika. Ada amarah yang tiba-tiba muncul melihat video di layar ponselnya. Tentang tentara Israel yang dengan pongah menyerang kota Gaza.

Satu bangunan runtuh, teriakan menggema, dan seruan takbir dengan nada cemas terdengar dari berbagai sudut. Sungguh mencekam, sungguh brutal.

Tanah leluhur para Nabi itu telah menjadi arena pertempuran keangkuhan manusia, untuk berkuasa atas nama warisan agama. Rasa marah yang berkecamuk berubah menjadi sedih ketika di bagian akhir video itu terlihat wajah polos seorang anak perempuan Palestina yang menatap kosong dengan latar belakang lagu “atunaa thufuli” (kembalikan masa kecilku). Tubuhnya berpeluh debu. Wajahnya tersapu kebingungan. Ada tetes darah terlihat mengalir pelan dari dahi kanannya.

Yusran seketika meleleh.

Situasi ini mengingatkan Yusran pada kalimat Gilang (sahabatnya yang ateis) beberapa tahun lalu. “Dimana Tuhan saat Palestina digempur?” satu pertanyaan yang membuat lidahnya kelu. Gilang menjelaskan dengan sangat rasional tentang ketidakhadiran Tuhan di Palestina.

“Yus, sudah berapa doa yang terpanjat untuk rakyat Palestina. Sudah berapa kutukan yang dihujamkan kepada tentara Israel yang katanya pongah itu. Sudah berapa simpati dari penjuru dunia untuk Palestina.

Semua agama sudah memanjatkan doa keselamatan. Tetapi situasi tidak banyak berubah. Mereka, Israel bedebah itu tetap saja menyerang dengan senjata terbaru mereka. Lalu dimana Tuhan-mu, Yus? Mengapa Dia diam saja melihat penindasan? ” Kata Gilang dengan nada khasnya, satir nan filosofis.

Ada banyak jawaban penolakan yang ingin terlontar dari hati Yusran kala itu tetapi terpenjara dengan argumen rasional Gilang. Dia ingin menolak tetapi kata-kata Gilang masuk akal. Doktrin tentang doa orang teraniaya sepertinya menguap begitu saja dalam kasus Palestina.

Mengapa Tuhan diam melihat penderitaan anak-anak Palestina? Israel bahkan seperti menentang Tuhan, karena menyerang Palestina di hari pertama Bulan Ramadhan. Bukankah bulan ini adalah bulan mulia?

Yusran mulai didera kebingungan. Ada ruang kecil di batinnya yang sedang bertanya, “Apa yang sulit bagi Tuhan untuk memenangkan Palestina?”

Dia butuh Kyai Saleh.

******
Yusran tiba di rumah Kyai Saleh. Seperti lazimnya, Kyai Saleh pasti berada di teras rumah setiap sore, membaca kitab, buku, atau menulis artikel. Satu-satunya yang berbeda adalah gelas kopi. Tak ada kepulan asap kopi yang menemani sore Kyai Saleh sepanjang bulan Ramadhan.

Tak banyak basa-basi, Yusran segera mengajukan pertanyaan yang tersimpan di hatinya dan membuatnya gelisah.

“Tuhan adalah misteri yang sempurna, Yus! Semakin dicari, semakin tersesat akal kita. Tuhan tak terjangkau oleh pemikiran karena itu kita menggunakan instrumen lain; keyakinan!”

“Tapi kenapa Tuhan diam melihat penindasan di Palestina?”

“Tuhan bekerja dengan cara-Nya, bukan dengan cara yang kita fikirkan.”

“Maksudnya?”

“Kamu ingat peristiwa kelahiran Nabi Musa?”

Yusran mengangguk-angguk tetapi tidak bisa menebak arah pembicaraan Kyai Saleh.

“Dari sudut pandang manusia, kelahiran Nabi Musa adalah tragedi kemanusiaan.”

Kening Yusran semakin mengkerut.

“Coba timbang. Untuk menghadirkan seorang Nabi Musa di muka bumi. Ada berapa bayi lelaki yang harus dikorbankan. Firaun membunuh semua bayi yang lahir pada malam kelahiran nabi Musa, untuk memastikan bahwa ramalan tentang lahirnya seseorang yang menumbangkan kekuasannya.

Apa salah bayi-bayi lain hingga harus dikorbankan demi kelahiran seorang Nabi Musa? Tuhan lah yang punya jawabannya. Jawaban yang tak harus Dia bagi dalam pengetahuan sejarah manusia.”

Sebenarnya Yusran sudah mulai bisa meraba maksud Kyai Saleh. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya tetapi anehnya dia tidak punya kalimat untuk pertanyaannya itu. Dia lebih memilih diam dan membiarkan Kyai Saleh merangkai kalimat selanjutnya.

“Juga, ketika Nabi Khaidir tiba-tiba membunuh seorang anak lelaki karena masa depan anak lelaki itu buruk untuk kehidupan keluarganya, bukankah ini aneh?”

Yusran kembali kebingungan. Apa hubungan semua perkataan Kyai Saleh dengan pertanyaannya tentang kehadiran Tuhan pada tragedi di Palestina.

“Nak! Manusia hanya mampu mengamati satu serpihan dari kisah kehidupan alam semesta. Padahal, semesta sungguh teramat luas. Apa yang terjadi, tidak selalu kita bisa pahami.

Manusia itu terbatas. Sayangnya, dalam keterbatasan itu manusia seolah-olah menjadikan dirinya sebagai pusat pengetahuan dan bahkan berupaya menuhankan dirinya.”

“Menuhankan diri?”

“Ya. Dia bicara seolah-olah bisa mewakili Tuhan. Dia berpandangan seolah-olah mewakili pandangan Tuhan. Atau dalam kasus pertanyaanmu, kamu merasa Tuhan membiarkan penderitaan orang Palestina. Bahkan orang-orang agnostic dan ateis semakin menggunakan asumsi itu untuk menguatkan pandangan mereka tentang ketiadaan Tuhan.”

Yusran terdiam. Dia merasa Kyai Saleh bisa membaca pikirannya.

“Tragedi Palestina adalah tragedi manusia. Satu kelompok merasa berhak atas tanah dan bernafsu menyingkirkan manusia lainnya. Yang terjadi di Palestina bisa terjadi dimana pun, jika ada sekolompok orang merasa berkuasa atas orang lain. Lahirlah tragedy. Ada korban dari tragedi ini. Kita berdoa, negara berdiplomasi, ada yang memberi bantuan, itu yang bisa kita lakukan.”

“Dan Tuhan?”

“Dia Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Korban yang meninggal dalam sebuah tragedy, entah perang atau korban bencana alam. Bagaimana mereka kini? Dimana dia ditempatkan oleh Tuhan? Jangan-jangan justru mereka berbahagia.

Hanya Tuhan yang tahu dan punya urusan. Sebagai manusia, saya tidak punya jawaban. Saya hanya meyakini, bahwa Tuhan selalu ada untuk manusia, dengan cara yang tidak diketahui oleh manusia.”

“Kyai membela Tuhan? Bukankah Tuhan tidak perlu dibela.”

Kyai Saleh tersenyum kecil, “siapa saya bisa membela Tuhan. Saya hanya ingin mengembalikan pikiranmu ke frekwensi manusia. Jangan coba-coba merambah wilayah Tuhan. Tak ada satu pun manusia yang bisa.”

“Kyai, apakah saya salah mempertanyakan Tuhan?”

“Tidak anakku. Nabi Ibrahim pun pernah begitu. Dia pernah meminta Tuhan membuktikan keberadaan-Nya. Lalu Tuhan memerintahkan untuk menyembelih seekor burung dan memotongnya menjadi empat bagian. Ke empat bagian itu di tempatkan di tempat terpisah.

Lalu Ibrahim memanggil burung itu, keempat potongan burung itu kembali utuh. Itu salah satu cara yang digunakan untuk membuktikan kehadiran Tuhan. Tetapi tidak selalu bisa seperti itu. Karenanya, kita-kita ini diminta untuk meyakini dan mengikuti para Rasul yang telah diutus. Sebagai umat Islam kita diminta untuk meyakinkan diri sebagai umat Islam yang percaya kepada Tuhan.”

Yusran bernafas lega. Beban di hatinya pelan-pelan terangkat, meski pertanyaan-pertanyaan ragu masih menggelayut.

“Tapi, Tuhan sudah memberi batasan. Manusia jangan coba-coba memikirkan Zat Tuhan, jika ingin mencari Tuhan lihatlah dirimu, lihatlah ciptaan di sekitarmu. Lalu bersyukurlah!”

Azan Magrib berkumandang dari masjid Nurul Autar, Kyai Saleh dan Yusran segera beranjak menuju masjid.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

18 comments

  • Tuhan akan selalu ada. Manusialah yang kadang lupa menyadari ke-ada-an Tuhan.

  • Hi! Would you mind if I share your blog with my facebook group?
    There’s a lot of folks that I think would really appreciate your content.
    Please let me know. Thanks

  • Hey I know this is off topic but I was wondering if you knew of any widgets I could add to my blog that automatically tweet
    my newest twitter updates. I’ve been looking for a plug-in like this for quite some time and was
    hoping maybe you would have some experience with something like
    this. Please let me know if you run into anything.
    I truly enjoy reading your blog and I look forward to your new updates.

  • Greate post. Keep writing such kind of info on your
    site. Im really impressed by your site.
    Hi there, You have performed a fantastic job. I will definitely digg it and in my view suggest to
    my friends. I’m confident they’ll be benefited from this web site.

  • locita.co is quite a good read. I just now passed this on 6/5/2019 to a coworker who has been doing some work of his own on this topic. To say thanks, they just bought me lunch! So, let me express my gratitude by saying: Thanks for the meal!

  • Definitely consider that that you stated. Your favourite reason appeared to
    be on the net the easiest factor to bear in mind of.
    I say to you, I definitely get irked whilst folks consider worries that
    they just do not understand about. You controlled to hit the nail upon the top and also outlined
    out the whole thing with no need side effect , other folks
    could take a signal. Will probably be again to get more.
    Thanks

  • When I initially commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and now each
    time a comment is added I get several e-mails with the same comment.
    Is there any way you can remove people from that service?

    Thanks a lot!

  • Hey! Quick question that’s totally off topic. Do you know how to make your site mobile friendly?
    My weblog looks weird when viewing from my iphone 4. I’m trying
    to find a theme or plugin that might be able to fix this issue.
    If you have any recommendations, please share.
    Cheers!

  • Hi there would you mind stating which blog platform
    you’re using? I’m going to start my own blog in the near future but I’m having
    a difficult time choosing between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal.

    The reason I ask is because your layout seems different then most blogs and I’m looking for something completely unique.
    P.S Sorry for getting off-topic but I had to ask!

  • I’m not sure where you’re getting your info, but good topic.

    I needs to spend some time learning more or understanding more.
    Thanks for wonderful information I was looking for
    this info for my mission.

  • With havin so much content do you ever run into any issues of plagorism or copyright violation? My website has
    a lot of exclusive content I’ve either authored myself
    or outsourced but it seems a lot of it is popping it up all
    over the web without my authorization. Do you know any techniques to
    help reduce content from being ripped off? I’d truly appreciate
    it.

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.