Locita

Si Pelit

Di kampung tetangga Kalimana, ada seorang kaya yang dikenal sangat pelit. Namanya Haji Dollah. Rumahnya megah, sawahnya luas, punya pabrik, dan sumber penghasilan lainnya. Tetapi dia sangat pelit. Dia tidak pernah menyumbang ke masjid, ke panti, atau kegiatan sosial lainnya. Kalaupun menyumbang, dia memberi paling sedikit.

Tesa dan Yusran sudah mendengar kisah pelit H. Dollah. Hari ini mereka ingin membuktikan. Kebetulan masjid Kalimana sedang direnovasi dan membutuhkan bantuan dana.

Tesa dan Yusran tiba di halaman rumah H. Dollah kira-kira pukul 16.00. H. Dollah sedang duduk santai di teras depan rumahnya. Kedua santri Kyai Saleh itu mengucapkan salam dan memberi tahu tujuan kedatangan mereka.
Haji Dollah terdiam sejenak. Dia masuk ke ruang dalam dan kembali dalam waktu yang tidak lama. Haji Dollah menyerahkan amplop kepada Tesa.

Tak ingin berlama-lama, Yusran dan Tesa pamit pulang. Di luar rumah, Yusran dan Tesa membuka amplop yang diberikan oleh H. Dollah. Keduanya membelalakkan mata. Amplop itu berisi dua puluh lembar uang 1.000 kertas. Jumlahnya hanya Rp. 20.000.

“Sekke mentong ini orang. 20.000 ji nasumbang untuk masjid. Yang lebih miskin saja lebih banyak sumbangannya.”

Dengan perasaan dongkol, kedua santri Kyai Saleh itu beranjak kembali ke Kampung Kalimana.

Yusran baru saja membunyikan motor. Tiba-tiba, satu mobil berwarna hitam berhenti di dekat mereka.

“Darimana dek?” Lelaki yang berada di dalam mobil menyapa.

“Dari rumah H. Dollah minta sumbangan untuk renovasi masjid.”

“Masjid mana?”

“Masjid di Kampung Kalimana pak.”

“Oooo masjidnya Kyai Saleh?”

Kedua santri Kyai Saleh menganggukkan kepala.

“Dikasiji to?”

“Ada 20.000. Pembeli bensinji ini.” Ucap Tesa masih dengan perasaan dongkol.

Lelaki dalam mobil itu tertawa.

“Ikut saya ke rumah!” ajaknya.

Yusran dan Tesa mengikuti arah mobil meski dengan perasaan tanya menyelimuti pikiran mereka.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah rumah yang asri. Rumahnya asri dan terkesan klasik. Tesa dan Yusran mengikuti lelaki itu hingga ke ruang tamu.

Tak lama berselang, lelaki itu muncul dari ruang dalam. Dia membawa amlop yang cukup tebal.

“Dek.. Bulan ini kebetulan bisnis saya berjalan baik. Kami ada keuntungan yang besar. Ini saya sumbangkan setengahnya ke pembangunan masjid di Kalimana. Salam sama Kyai Saleh ya?”

Yusran dan Tesa menerima dengan senang. Amplop itu tebal dan cukup berat. Tanpa basa-basi lagi, keduanya kembali ke Kampung Kalimana.

******
“Wow! Dua puluh juta…..!!” Teriak Tesa ketika selesai menghitung uang dalam amplop yang diberikan lelaki tak dikenalnya itu.

“Beda mentong dengan H. Dollah!” kata Yusran

“Bukan lagi beda…….. beribu-ribu beda!” Timpal Tesa sembari merapikan uang.

“Ada apa ini, heboh sekali?” Tiba-tiba terdengar suara Kyai Saleh dari arah pintu masjid. Para santri yang sedang berkumpul di masjid sembari menghitung jumlah sumbangan yang diperoleh membalikkan badan.
Yusran segera menceritakan kisah H. Dollah dan lelaki yang menyumbang banyak itu. Kyai Saleh manggut-manggut mendengarnya.

“Bagaimana menurut Kyai?”

“Keduanya mulia di mata Allah.”

“Biar H. Dollah, Kyai? Hanya 20.000?”

“Seluruh dunia ini tidak berharga bagi Allah. Yang dinilai oleh-Nya adalah keikhlasan. Jadi, siapapun yang menyumbang untuk kebaikan yang terhitung bukan jumlahnya tetapi keikhlasannya.”

Para santri terdiam.

“Itu cara Tuhan. Kalau cara manusia, tentu 20 juta lebih baik dari 20 ribu!” kata Kyai Saleh dengan nada bercanda.

“Nassami, Kyai!” Tesa menimpali. Para santri lain yang ada ikut tersenyum.

*****

Dua bulan kemudian. H. Dollah meninggal dunia.

Kabar tentang kematiannya menyebar cepat hingga ke kampung Kalimana. Salah seorang utusan keluarga H. Dollah datang ke kediaman Kyai Saleh. Dia meminta Kyai Saleh datang untuk mengimami salat jenazah H. Dollah.

“Itu permintaan khusus H. Dollah, Kyai!” Kata utusan itu.

Kyai Saleh menganggukkan kepala. Dia meminta beberapa orang santrinya ikut melayat ke kediaman H. Dollah.
Waktu menjelang dhuhur sudah tiba. Kediaman H. Dollah mulai dikunjungi para pelayat. Tidak terlalu ramai untuk ukuran orang sekaya H. Dollah. Kyai Saleh dan para santrinya tiba. Mereka disambut oleh lelaki dermawan yang tampak sangat terpukul dengan kepergian H. Dollah.

Yusran dan Tesa takjub. Lelaki ini sungguh baik hati. Apa hubungan lelaki ini dengan H. Dollah? Mengapa dia tampak yang paling sedih dengan kepergian H. Dollah? Yusran bertanya dalam hati.

Setelah proses pemandian jenazah sudah selesai, mayat H. Dollah dibawa ke masjid untuk disalati. Kyai Saleh menjadi imam salat Jenazah. Lelaki dermawan berdiri paling depan. Dia tampak sangat khusyu. Air matanya pun kembali mengalir.

“Aku mencium aroma wangi dari tubuh H. Dollah!” ujar Kyai Saleh. Para jamaah yang hadir saling berpandangan. Pikiran mereka tidak bisa mencerna kalimat sederhana Kyai Saleh. Bagaimana bisa tubuh H. Dollah wangi? Bukankah dia orang yang sangat pelit.

Tiba-tiba, lelaki dermawan itu angkat suara.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, mohon waktunya sejenak. Sebelum kita membawa jenazah H. Dollah ke liang kubur, ada yang ingin saya ceritakan kepada kalian tentang Haji Dollah!”

Lelaki itu mengambil nafas sejenak, “Yang kalian pikirkan tentang H. Dollah pelit, itu salah besar. Dia adalah orang yang paling dermawan yang pernah saya kenal. Saya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan beliau.”

Yusran dan Tesa mengernyitkan dahi.

Lalu, lelaki itu bercerita.

Sebelum bertemu H. Dollah, dia hanyalah seorang sarjana pengangguran. H. Dollah merekrutnya menjadi karyawan di salah satu toko miliknya. Melihat bakatnya, H. Dollah kemudian menghadiahkan toko itu untuk dikelola olehnya. Dengan perjanjian, seluruh keuntungan yang diperoleh dibagi dua. Bagian H. Dollah tidak diberikan kepadanya melainkan untuk disumbangkan kepada siapapun yang membutuhkan. H. Dollah tidak hanya melakukan ini kepada dirinya, tetapi kepada beberapa orang.

“Dua bulan lalu santri Kyai Saleh datang meminta sumbangan kepada H. Dollah sebesar 20 ribu. Itu adalah kode kepadaku agar aku menyumbangkan 20 juta keuntungan yang menjadi bagian beliau. Kalau hari itu saya tidak bertemu dengan adik-adik santri ini, H. Dollah pasti menelponku untuk mengantar langsung ke masjid. Saya dilarang menceritakan ini. Tetapi, saya merasa perlu untuk meluruskan desas-desus warga yang sering mengejek H. Dollah itu pelit.” Kata lelaki itu menutup kalimatnya.

Seluruh jamaah terperangah.

Kyai Saleh tersenyum kecil.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.