Locita

Orang Gila Mengamuk di Masjid

Pukul 15.12.

Cuaca kota sedang tidak bersahabat. Sinar matahari masih panas menyengat meski telah masuk ke garis sore hari. Kyai Saleh dan dua orang santrinya, Yusran dan Ale sedang dalam perjalanan pulang dari suatu acara. Kyai Saleh terlihat menguap beberapa kali. Wajahnya tampak lelah. Kendaraan tidak bisa melaju dengan cepat karena suasana jalan raya sedang padat.

Setelah melepaskan diri dari jalan protokol, mobil tua perlahan memasuki jalan persimpangan menuju Kampung Kalimana. Mereka sedikit lega karena telah terhindar dari suasana hiruk pikuk jalan. Jalan menuju Kampung Kalimana memang tidak sepadat jalan raya protokol.

“Kyai, di depan ada keributan sepertinya. Banyak orang berkumpul depan masjid.” Kata Yusran dengan nada cukup tinggi. Kyai Saleh yang duduk di tengah mengangkat tubuhnya dan menyaksikan kerumunan warga.

“Menepi sebentar! Kita lihat apa yang sedang terjadi.”

Yusran mengangguk dan menepikan mobil. Mereka segera turun dan menuju ke arah kerumunan warga.

“Kenapa?” Yusran bertanya kepada salah seorang warga.

“Ada orang masuk masjid marah-marah.”

Kyai Saleh segera menerobos kerumunan. Yusran dan Ale menyusul di belakang. Tampak seorang lelaki berpeci sedang berdebat dengan seorang lelaki. Tidak terlalu jelas apa yang menjadi perdebatan.

“Ini kenapa?” Tanya Kyai Saleh

“Ada pencuri di rumah saya lari ke masjid. Dan orang ini melindunginya.” Kata lelaki bermata sipit itu dengan nada tinggi dan pongah sembari menunjuk lelaki berpeci di depannya.

“Bohong itu, Pak. Saya dari tadi di sini. Tidak ada orang yang lari ke masjid ini. Dia pasti salah lihat.” Kata lelaki berpeci.

“Bohong bagaimana? Saya ikuti dari belakang dan saya liat dengan mata kepala saya sendiri, pencuri itu lari ke dalam masjid.”

Lelaki itu tidak mau kalah. Dia bersikukuh dengan pendapatnya.

“Mana???? Ini masjid terbuka. Silahkan cari orang itu kalau memang ada sembunyi di masjid.” Lelaki berpeci kembali berbicara dengan wajah merah padam. Dia sangat kesal melihat tingkah orang.

“Hantam saja!!!! Bukanji Islam itu!!” teriak salah seorang warga dari arah kerumunan.

“Iyaa…… sombong sekali ini orang!”

“Hajar!!!!!”

Palappoki!!”

Teriakan semakin liar. Anehnya, lelaki bermata sipit itu tidak menunjukkan wajah takut sama sekali. Beberapa orang merangsek ingin mendekati lelaki bermata sipit itu. Beberapa orang mencegah. Kyai Saleh ikut mengangkat tangan untuk menahan gerakan orang-orang ini.

Lalu, Kyai Saleh mendekati lelaki bermata sipit itu. Dipandanginya sejenak lelaki itu.

“Plaakkkk!!!!”

Tiba-tiba Kyai Saleh mengayunkan tangan dan menampar lelaki itu. Semua yang hadir di situ terkejut, apalagi Yusran dan Ale. Baru kali ini mereka melihat Kyai Saleh menampar orang. Semarah apa pun, Kyai Saleh tidak pernah berbuat kasar kepada siapa pun. Kedua santri itu terpana dan memandang wajah Kyai Saleh. Tidak perubahan di raut wajah sang Kyai. Tetap tenang dan berwibawa, seperti biasa. Tidak ada kesan marah meski telah menampar orang.

“Kamu muslim atau bukan?” Tanya Kyai Saleh.

“Bukan….” Jawab lelaki bermata sipit itu dengan agak terbata.

“Anda seharusnya menghargai rumah ibadah kami. Tidak mungkin pencuri berlindung di masjid. Kalau ada, sudah dipukuli duluan sama warga.” Kata Kyai Saleh. Lelaki bermata sipit itu terdiam.

“Tetapi saya lihat lari kesini……pak.” Nada bicara lelaki itu mulai turun tetapi wajahnya celangak celinguk. Dia seperti masih yakin kalau pencuri yang dicarinya bersembunyi di masjid. Kyai Saleh menangkap kesan tidak wajar dari pandangan mata lelaki itu.

Tiba-tiba, dari arah kerumunan warga muncul dua orang perempuan. Satu berumur dan satu lagi masih belia.

“Aduuh, tabe daeng-daeng semua. Ini kodong kakakku mulaimi miring pikirannya. Sejak meninggal istrinya dua bulan lalu sering menghayal. Dia selalu teriak ada pencuri masuk rumahnya.

Memang ini istrinya meninggal karena dirampok di rumahnya. Jadi, saya bawa ke sini supaya jauh dari rumahnya. Saya mohon maaf kodong……. Jangki apa-apai.” Kata perempuan berumur itu dengan nada memelas.

Kyai Saleh memandang sejenak lelaki itu.

“Oh…. Bawami pulang bu ini saudarata. Tolong diawasi. Untung saja dia ke masjid. Orang ke masjid itu tujuan beribadah jadi Insya Allah tenang dan tidak mudah marah. Tapi kalau masuk rumah warga teriak-teriak begitu, bisa babak belur ini saudara ta.”
Warga bubar. Si lelaki bermata sipit dibawa pulang. Perempuan berumur yang memapahnya tak henti-henti meminta maaf.

Kyai Saleh memberi kode kepada Yusran dan Ale untuk melaksanakan salat Ashar di masjid ini. Seusai salat, mereka melanjutkan perjalanan ke Kampung Kalimana yang sudah tidak jauh lagi.

“Kyai. Kenapaki tadi tampar itu orang?” Ale akhirnya meluahkan pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.

“Memang harus ditampar orang yang masuk masjid kurang ajar .”

“Tapi, saya ingat di pengajian dulu kita pernah cerita tentang orang Badui yang kencingi masjid. Para sahabat sudah marah ingin memukul pria itu tetapi rasulullah melarang dan malah menyuruh sahabat membersihkan bekas kencing si Badui setelah selesai.”

“Situasinya berbeda. Lagipula, saya bukan nabi dan mereka tadi bukan sahabat. ”

“Kan kita harus mencontoh perilaku nabi. Begitu ajaran Kyai Saleh selama ini, kan?” Yusran mendebat.

“Betul. Saya sudah mencontoh nabi tadi dengan menamparnya.”

Yusran dan Ale kebingungan, “maksudnya, Kyai?”

“Mencontoh nabi tidak harus sama perilaku tetapi sama tujuannya. Tujuan nabi mencegah sahabat kepada orang Badui yang kencingi masjid adalah menghindari kekerasan. Begitu pula dengan saya tadi?”

“Tapi kita tampar. Bukankah itu kekerasan juga?”

“Apa kamu tidak marah melihat ada orang arogan masuk masjid, apalagi dia non muslim?”

“Marah lah, Kyai.”

“Apa kamu ingin memukulinya?”

“Iya, Kyai. Naik darah juga tadi saya lihat orang itu. Nanti saya tahu kalau dia stress baru turun marahku.” Ale menyela.

“Nah, saya mewakili amarah kalian. Di antara orang yang berkumpul tadi, beda-beda karakternya. Saya yakin sudah ada yang mau pukul. “

“Iye, Kyai. Emosi semua tadi orang saya lihat.”

“Nah, lebih baik saya yang tampar. Saya ini sudah tua. Tamparan saya tidak keras lagi. Jadi saya menampar dia untuk mencegah anak-anak muda dan orang lain memukulinya. Itu baik bagi lelaki tadi. Dalam kaidah ushul fiqhi, jika kamu diperhadapkan pada dua pilihan sulit, pilih yang paling kecil mudaratnya.”

Kyai Saleh jeda sejenak. Dia meraih botol air mineral dan meneguknya. Ale melakukan hal yang sama.

“ Tetapi, kalau kejadian ini terjadi di masjid kita, saya akan membiarkan dia pergi tanpa melakukan apa-apa.”

“Kenapa bisa, Kyai?”

“Karena kalian santri saya. Kata-kata saya cukup untuk mencegah kalian. Seperti ketika Nabi mencegah para sahabat untuk memukuli si Badui yang kencing itu.”

Yusran dan Ale manggut-manggut.

“Lagipula, tamparan saya tadi itu ada baca-bacanya. Insya Allah, setelah ini dia tidak akan berbuat begitu lagi.”
Yusran dan Ale tersenyum. Meski nada bicara Kyai Saleh ringan dan bercanda, namun kedua santri itu percaya.

Kyai Saleh lalu merebahkan diri dan tertidur di sisa perjalanan pulang.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.