Locita

Selamat Jalan, Mbah Moen!

Raut wajah Kyai Saleh tiba-tiba berubah sedih. Breaking news di salah satu TV Nasional mebuatnya terhenyak. KH. Maimoen Zubair meninggal dunia, demikian berita di TV. Kyai Saleh meletakkan buku dan duduk di depan TV sembari menatap dengan serius. Perlahan-lahan matanya berkaca-kaca.

“Kenapaki Kyai?” tanya Sampara demi melihat raut kesedihan di wajah Kyai Saleh.

“Mbah Mun telah meninggal dunia.” Ucap Kyai Saleh pelan dan datar. Suaranya sedikit bergetar.

Sampara tidak ingin bertanya lebih lanjut. Aura kesedihan di wajah Kyai Saleh membuatnya memilih untuk diam dan mengamati berita yang sama di teve. Di layar teve tampak sekumpulan orang berdoa di depan mayat yang terbungkus kain kafan.

“Kumpulkan para santri, kita lakukan salat gaib untuk Mbah Mun!” ujar Kyai Saleh setelah merapal beberapa doa.

Sampara mengangguk dan segera beranjak keluar.

Hanya butuh beberapa menit, para santri Kyai Saleh serta beberapa orang warga berkumpul di masjid Nailul Autar.

Kyai Saleh memimpin salat gaib dengan rasa pedih yang mendalam.

“Anakku semua, hari ini dunia berduka, bukan hanya Indonesia. Kita kehilangan seorang ulama besar. Bumi kehilangan satu lagi pakunya. Tanda-tanda kiamat semakin dekat adalah ketika ulama-ulama khas hilang dari bumi satu persatu. Berdoalah agar Allah memanjangkan usia para waliullah yang tersisa di dunia.” Kata Kyai Saleh usai mengajak para santrinya berdoa.

“Amiinnnn!!”

“Mengapa Kyai teramat sedih? Kami jarang melihat wajahta sesedih ini. Seingat saya, setelah ibu meninggal dunia tahun lalu, baru kali ini saya melihat wajah-ta sangat sedih.” Ais bertanya keheranan.

“Anakku. Ulama besar seperti Mbah Maimoen Zubair itu adalah sosok yang langka dan sangat dibutuhkan di negeri kita. Beliau tetap semangat mengabdikan hidup untuk agama dan bangsa, meski dalam kondisi yang tidak prima hingga akhir hayatnya.

Beliau mengajarkan kasih sayang tidak hanya kepada manusia yang seiman, berbeda agama, bahkan salah satu ajaran beliau adalah penghormatan terhadap binatang. Beliau mengajarkan bahwa tindakan kecil seperti menyelamatkan semut dari genangan air, bisa jadi bermakna besar di mata Allah. Beliau adalah potret hidup dari akhlak seorang Nabi. Melalui orang seperti Mbah Mun, kita bisa merasakan kehadiran sang Nabi.”

Para santri terdiam meresapi kalimat Kyai Saleh.

“Negeri ini adalah negeri para ulama. Negeri ini dijaga oleh para waliullah. Jika satu per satu ulama yang khas pergi, bumi nusantara ini terasa kering dan tidak nyaman lagi.” Lanjut sang Kyai.

“Bukankah banyak tokoh agama dan ulama di negeri ini Kyai?” Tanya Yusran.

“Ya, tetapi sekelas Mbah Maimoen sangatlah sedikit. Beliau tetap bersinar sebagai mutiara meski berada di tempat yang mudah sekali orang goyah.”

“Maksudnya Kyai?”

“Beliau aktif di dunia politik tetapi keulamaan beliau tidak pudar. Tidak pula membuat beliau kehilangan semangat jihad untuk mengajarkan agama kepada generasi muda nusantara.”

Lalu hening. Wajah Kyai Saleh masih menyemburatkan sedih.

“Sebentar malam, kita adakan tahlilan dan khataman Alquran.”

*******

Rumah Kyai Saleh ramai dikunjungi oleh para santri. Ais dan beberapa santriwati sudah ada di rumah sang Kyai sejak sore. Mereka bertugas menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu, dipimpin oleh istri Sampara.

Kyai Saleh memimpin tahlilan. Suasana khusyu’ tercipta. Suara tahlilan sungguh terasa lebih spiritual. Setelah tahlilan, Kyai Saleh mengajak para jamaah yang hadir untuk mengkhatamkan Alquran. Setiap orang membaca satu juz. Suara riuh terdengar bersahut-sahutan.

Khataman Alquran selesai pada pukul 21.15. Kyai Saleh memimpin doa pamungkas. Setelah itu, jamaah pamit satu persatu. Kecuali beberapa orang santri yang tinggal membereskan dan merapikan rumah Kyai Saleh.

“Kyai. Mbah Maimoen ini kan orang saleh, taat beragama. Ibadahnya saya yakin lebih bagus dari ibadahku…” kata Tesa usai membereskan kursi.

Kyai Saleh mengarahkan pandangan ke arah Tesa, “Iya, kenapa memangnya?”

“Kenapa kita harus mendoakan padahal beliau sudah alim.”

Kyai Saleh tersenyum kecil. Sang kyai tidak segera menjawab. Dia memilih menyeruput kopi.

“Siapa orang yang paling mulia di muka bumi?” Kyai Saleh balik bertanya.

“Rasulullah.” Jawab Ais, Tesa, dan Sampara hampir bersamaan.

Kyai Saleh tersenyum, “Lalu kenapa kita harus bershalawat kepadanya. Memohon kepada Allah akan keselamatan kepada Rasulullah. Apakah Rasulullah tidak selamat hingga harus meminta bantuan umatnya?”

Para santri terdiam.

“Kita berdoa dan bersalawat kepada Nabi sebagai bentuk cinta dan penghargaan kita kepada beliau. Begitu pula kepada wali-wali Allah, para alim ulama. Mereka adalah orang yang dekat dengan Allah. Kita berdoa untuk mereka sejatinya untuk diri kita sendiri. Nabi bersabda, siapa yang bersalawat kepadaku sekali, Allah akan bersalawat kepadanya sepulu kali.”

“Tapi kan kita ini penuh dosa Kyai. Apakah doa kita ini diterima oleh Allah untuk Mbah Maimun.”

“Anakku. Dalam keyakinan saya, tanpa kita doakan pun Mbah Maimun akan mendapatkan tempat yang layak. Tanpa bersalawat kepada Nabi pun, tidak akan mengurangi kemuliaan rasulullah. Tetapi anakku, kecintaanmu kepada para ulama adalah salah satu tanda kemuliaan agama ini. Para ulama menghabiskan hidup mereka untuk mengabdi kepada agama. Doa kita bukanlah untuk keselamatan mereka tetapi tanda kalau kita mencintai mereka dan segala yang telah mereka lakukan kepada agama ini.

Para santri termenung.

Malam telah menunjukkan pukul 22.30. Urusan rumah Kyai Saleh sudah selesai.
Kyai Saleh bergumam, “selamat jalan, mbah Mun!”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.