Locita

Sasmita Cinta dalam Pot Bunga Plastik

Air mata Kyai Saleh jatuh.

Hari ini, sang kekasih yang telah mendampingi hidupnya selama puluhan tahun pergi untuk selamanya. Siti Fatima Daeng Kebo, sang istri telah meninggal dunia.

Tubuhnya yang telah menua tak lagi sanggup menahan serangan penyakit kanker usus yang dideritanya beberapa bulan belakangan. Jiwa sang istri terbang bersama malaikat maut  bersama sesungging senyum tersisa untuk Kyai Saleh. Air mata lelaki tua itupun mengalir tak tertahankan.

Segala doa terbaik dirapalkan oleh Kyai Saleh untuk mengiring sang istri pergi. Kenangan menyergap dengan cepat di memorinya. Cinta yang bermula dari perjodohan, terangkai dalam romansa yang indah selama berpuluh-puluh tahun, dan hari ini terpisah oleh kematian.

***

Para santri dan tetangga datang memenuhi halaman rumah Kyai Saleh sejak pagi hari. Mereka dengan cekatan mempersiapkan segala perlengkapan untuk pemakaman bu Fatimah. Semua kelurga inti telah berkumpul. Anak-anak Kyai Saleh yang sedang berada di luar kota sudah tiba.

Menjelang waktu Zuhur, jenazah diantar ke Masjid Nurul Autar untuk disemayamkan. Kyai Saleh mengimami jenazah istrinya. Suaranya bergetar ketika mengucapkan takbir. Airmatanya pun jatuh berderai ketika melantunkan doa. Para jamaah ikut merasakan aura kesedihan yang ditebar oleh Kyai Saleh. Mereka larut dalam doa Kyai Saleh yang menyayat hati.

Sebelum jenazah diantar ke pemakaman, Kyai Saleh meminta kepada para pengantar untuk tetap sopan selama mengantar, khususnya yang menggunakan sepeda motor.

“Istri saya ini akan diantar ke tempat terakhirnya. Saya tidak ingin umpatan dan cacian orang di jalanan karena ulah pengantar mayat menjadi beban dosa kepada istri saya”

***

Tahlilan selama tiga malam usai sudah.

Rumah benar-benar terasa sepi. Kyai Saleh terjebak dalam aura kehilangan. Kopi yang terseduh hangat setiap pagi sudah tidak ada lagi. Suara serak bu Fatima yang terdengar fals ketika mengaji sudah tidak terdengar lagi.

“Janganmi paksa melagu kalau jelek ji suarata… lama-lama malaikat lari,” begitu ejekan Kyai Saleh mendengar istrinya mencoba melantunkan Al-Quran.

Bu Fatima hanya merungut dan tak peduli ejekan Kyai Saleh. Dia tetap saja melanjutkan ngaji-nya. Bu Fatima sepertinya terasuki kenikmatan tekstual dari ayat-ayat Alquran hingga tak peduli dengan produksi suaranya yang sungguh tidak indah. Biasanya, Kyai Saleh hanya tersenyum kecil sembari menyeruput kopi dan melanjutkan bacaannya.

Dan, suara fals yang dulu diejeknya, kini dirindukannya. Kyai Saleh tersenyum kecut.

***

Kyai Saleh tiba-tiba ingat sesuatu.

Sehari sebelum kematiannya, Bu Fatima menitipkan wasiat yang harus dijalankannya.

“Daeng. Saya hanya meminta satu darimu jika kelak aku benar-benar dipanggil oleh Allah,” demikian kalimat Bu Fatima dengan suara agak tertatih.

“Janganlah berkata begitu, sayang. Kamu pasti sembuh. Aku akan meminta kepada Tuhan agar hidupmu bisa lebih lama lagi bersamaku.”

“Tidak, daeng. Rasanya waktuku sebentar lagi tiba. Seperti yang engkau selalu katakan kepada santri-santrimu, kematian adalah kepastian. Tak ada yang bisa melawan kematian walau sedikit pun.”

Kyai Saleh hanya terdiam. Kematian memang kepastian, tetapi kesedihan atas perpisahan adalah juga kewajaran.

“Daeng. Kamu tahu kan? Aku senang memelihara bunga. Aku minta bunga-bunga itu engkau bagikan kepada santri-santrimu atau tetangga kita yang memiliki minat memelihara bunga. Kecuali satu. Saya memintamu untuk menyiramnya setiap hari. Bunga yang pot-nya berwarna hijau. Ada dua pot bunga berwarna hijau. Jika kamu mencintaiku kamu pasti mengerti pot mana yang saya maksud,” demikian pesan terakhir dari mendiang istri Kyai Saleh. Sasmita yang menantang cinta Kyai Saleh kepada istrinya.

***

Kyai Saleh berjalan menuju taman kecil di bagian depan rumah. Hamparan pot-pot bunga menghiasi halaman rumah. Sang istri tampaknya mafhum Kyai Saleh tidak mungkin punya waktu yang cukup untuk merawat bunga, hingga memintanya untuk membagi kepada tetangga atau santri-santri yang menginginkannya. Kecuali, bunga dalam pot berwarna hijau itu.

Kyai Saleh segera memanggil Ais dan beberapa orang santriwati untuk membagi-bagikan bunga milik mendiang kepada tetangga.

“Eh. Ini mawar bulan favorit saya. Bisa ji saya bawa pulang, Kyai,” kata salah seorang santriwati.

“Ambillah sesuai keinginan kalian. Kecuali bunga di pot hijau itu. Simpan ki karena itu wasiat buat saya.”

Tidak butuh waktu yang lama, ratusan pot bunga itu sudah berpindah tempat. Yang tersisa hanyalah dua pot bunga berwarna hijau. Kyai Saleh sedikit mengernyitkan dahi, bunga yang mana yang diinginkan oleh mendiang istrinya untuk dirawat. Nalurinya tiba-tiba menunjuk salah satu pot bunga.

“Ais. Ambil mi itu bunga yang berada di sana. Sepertinya istri saya menginginkan saya merawat yang ini.”

Ais terlihat mengkerutkan dahi. “Ndak salah ji, Kyai?”

“Kenapa, Ais?”

“Itu kan, bunga plastik!”

“Iya kah?” Kyai Saleh menelisik lebih dalam bunga itu sembari mencubit daunnya. Benar, itu bunga plastik.

Kyai Saleh sedikit mengkerutkan dahi. Dia berusaha mengeja kalimat mendiang istrinya. Jika kamu mencintaiku pasti kamu tahu pot bunga mana yang saya maksud. Setelah sekian detik berpikir, Kyai Saleh tiba-tiba tersenyum.

“Tidak salah ji, Nak. Sudah bunga ini yang dimaksudkan oleh ibu.”

Ais masih kebingungan. Kyai Saleh pasti keliru menangkap pesan mendiang Bu Fatima, pikir Ais.

“Apa bukan bunga melati di pot hijau itu, Kyai? Setahuku ibu dulu sangat menyayangi bunga itu.” Ais berusaha  menyadarkan Kyai Saleh dari kekeliruan. Baginya, menyiram bunga plastik adalah kesia-siaan.

“Bukan. Saya yakin bunga ini, Nak.” Kyai Saleh tetap dengan pendapatnya.

“Tapi bunga plastik ini. Masak harus disiram setiap hari. Tidak adaji gunanya, Kyai. Masak ibu suruhki melakukan hal-hal tidak bermanfaat.” Seorang santriwati lain ikut menyela.

“Justru itu…… makanya saya yakin bunga ini yang dimaksudkan.”

Ais dan santriwati lainnya saling berpandangan. Sikap Kyai Saleh membuat mereka kebingungan, “kami belum mengerti Kyai.”

Kyai Saleh tersenyum melihat surat kebingungan di wajah para santrinya itu.

“Bagaimana tanggapan kalian kalau melihat orang menyiram bunga plastik?” tanya Kyai Saleh

Tabe, Kyai. Jangan ki marah, kayak orang tolo-tolo,” kata seorang santriwati

Iye… kayak orang gila, Kyai!” sambut santriwati yang lain.

Kyai Saleh memperlebar senyumnya.

“Itulah maksudnya. Ibu menginginkan saya menjadi orang bodoh dan gila”

“Deeee….bisanya itu, Kyai!” Ais dan para santriwati lainnya serempak menimpali.

Kyai Saleh semakin tersenyum.

“Tahu kah kalian. Hanya orang gila yang bisa memaknai cinta sejati. Kamu tidak akan menemukan cinta dalam rasionalitas. Cinta suci hanya bisa kamu miliki dalam kegilaan. Ingatlah pecinta legendaris dalam sejarah, Qais. Cintanya kepada Laila membuatnya menjadi legenda.  Dialah si Majnun, orang yang gila. Laila Majnun, Laila dan si gila.”

Kyai Saleh berhenti sejenak sembari memandangi bunga plastik itu.

“Ibu memintaku mengabadikan cinta melalui bunga plastik ini. Disana, dia pasti tersenyum setiap kali saya melakukan kebodohan dan kegilaan ini. Pun, saya akan selalu tersenyum karena ibu memintaku untuk melakukan kebodohan dan kegilaan ini. Dalam perbuatan bodoh dan gila ini, cinta kami diabadikan.”

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Add comment

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.