Locita

Puisi yang Mengoyak Sukma

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

SENJA menjelang. Hujan yang sejam lalu mengucur deras, kini mulai reda. Yang tersisa butiran kecil yang turun dengan sangat pelan. Semburat merah berbias indah di langit. Suara salawat sudah terdengar dari Masjid Nurul Autar. Waktu Salat Magrib akan segera tiba.

Di tengah suasana senja yang indah, warga Kalimana dikejutkan oleh suara azan yang terdengar berbeda dari biasanya. Pekikan nadanya tak beraturan, cempreng, fals dan sumbang. Sesekali terdengar nada falsetto yang melengking melampau notasinya. Sungguh, suara azan sore ini tak nyaman terdengar di telinga.

“Siapa yang azan?” Pertanyaan ini menyergap pikiran warga.

Beberapa orang warga bersegera datang ke masjid. Sekadar memastikan siapa yang sedang mengumandangkan azan.

Oh, rupanya Daeng Gassing. Lelaki renta yang sudah berusia 70 tahun. Warga heran, mengapa bukan Sampara? Bukankah dia sudah ditugaskan sebagai muazin masjid Nurul Autar? Andai kata Sampara sedang tidak di tempat, itu masih bisa dimaklumi. Tetapi, kenyataannya Sampara sudah ada di masjid. Pun, Kyai Saleh. Sang Kyai sedang duduk dengan mata tertutup seperti ‘menikmati’ suara Daeng Gassing.

Akan tetapi, pertanyaan itu harus diendapkan. Tak banyak waktu yang tersedia antara azan dan salat Magrib. Beberapa detik seusai melantunkan azan, Kyai Saleh memberi kode kepada Daeng Gassing untuk membaca iqamat. Masih dengan semangat yang sama, Daeng Gassing mengumandangkan iqamat. Para jamaah harus pasrah mendengar suara itu, sekali lagi.

***

Setelah Kyai Saleh mengucapkan salam pembuka pengajian, seorang jamaah mengacungkan tangan. “Kyai, kenapa tadi yang azan Daeng Gassing, bukan Sampara?”

“Wah, tumben ini cepat sekali bertanya.”

“Penasaran ka Kyai.”

“Saya yang meminta Daeng Gassing azan. Pahala azan itu besar sekali. Itu pekerjaan mulia. Kebetulan Daeng Gassing ada di masjid dan saya memintanya untuk azan.”

“Kan, ada ji Sampara, Kyai?”

“Memang kenapa kalau Daeng Gassing mau azan. Apa dia tidak boleh mendapatkan pahala azan?”

“Ndak ji, Kyai. Tapi tidak seperti suaranya Sampara bela!”

“Maksudmu, suara Daeng Gassing tidak bagus,” Kyai Saleh menyela cepat dengan suara sedikit meninggi.

“Baguskah memang kita dengar, Kyai?” Tanya Yusran dengan kening mengkerut. Kyai Saleh tampak terkesiap. Pertanyaan balik itu sungguh tak diduganya. Setelah beberapa detik terdiam,  Kyai Saleh lalu memendar senyum.

“Memang, suara Sampara lebih enak,” jawab Kyai Saleh.

“Sama jaki Kyai,” jamaah menjawab serempak.

“Tapi bagus tongji tawwa suaranya Daeng Gassing. Apalagi semangatnya. Lihatlah beliau, meski sudah renta tetapi tetap kencang melengking suaranya.” Kata Kyai Saleh dengan sedikit senyum terpendar di bibirnya.

Jamaah ikut tersenyum. Nada ironis terdengar jelas di kalimat Kyai Saleh.

Daeng Gassing tertunduk malu.  Lelaki renta itu  hanya tersenyum lirih. Dia sadar suaranya memang tidak indah. Sesungguhnya dia pun ragu ketika Kyai Saleh menawarinya. Degup kikuk menjalari hatinya. Tetapi, ini adalah kesempatan langka yang tak bisa disia-siakan.

“Terus kenapa memang kita minta Daeng Gassing azan, tadi? Pasti ada alasan ta.” Seorang jamaah kembali bertanya. Tampaknya, Kyai Saleh belum memberikan penjelasan tentang itu.

“Meski suara Daeng Gassing tidak bagus, saya tetap menikmati aura spiritualnya. Kita harus paham bahwa azan itu panggilan spiritual, bukan seni keindahan belaka. Siapapun yang azan, Daeng Gassing yang suaranya tidak bagus atau Sampara yang suaranya merdu tidak mengubah apa-apa dari pesan azan. Azan tetap mulia meski dilantunkan dengan suara yang tidak merdu. Buktinya kalian tetap datang ke masjid kan?”

“Tapi kan bagus tong kalau merdu suaranya yang azan Kyai. Nyaman kedengaran masuk di telinga.”

“Secara seni, suara yang merdu memang enak dan pas. Tetapi apa fungsinya beda? Tidak. Banyak masjid yang azannya sangat menggugah, sangat merdu tetapi yang mau singgah salat, yang mau saja!”

“Berarti ndak salah ji itu puisinya bu Sukmawati.” Ais menyela dari barisan jemaah perempuan.

“Ya. Saya dengar ada puisi dihebohkan. Memang kenapa puisi itu?”

“Banyak yang marah karena dianggap melecehkan azan dan cadar.”

“Ah, masak marah sama puisi!”

“Betul, Kyai. Bahkan ada yang menganggapnya menistakan Islam.”

“Apa isi puisi itu?” Kyai Saleh balik bertanya.

Ais tidak menjawab. Dia segera mengaktifkan ponsel dan membacakan bait-bait puisi yang memantik kontroversi.

Kyai Saleh terdiam. Dia menarik nafas panjang dan membiarkan suasana menjadi hening.

“Menurut kita bagaimana, Kyai?” Suara Ais memecah keheningan. Dia ingin mendengar tanggapan Kyai Saleh, segera.

“Saya bukan ahli puisi. Saya tidak bisa menilai puisi itu. Apakah puisi itu layak disebut puisi atau hanya sekedar kumpulan kata-kata biasa yang didramatisasi. Ada tongji ahlinya itu. Saya hanya penikmat puisi. Khususnya, puisi Ibnu Arabi dan puisi Jalauddin Rumi.”

“Kalau kontennya bagaimana Kyai?” Ais kembali mencecar dengan pertanyaan.

“Ais kan anak sastra. Pasti tahu kalau puisi ditulis dengan bahasa metafor. Maknanya ada di balik kata. Setahuku, puisi dihadirkan untuk menyentak kesadaran tentang sesuatu. Mengadili kata-kata dalam puisi adalah penghianatan terhadap rasa.”

“Tetapi puisi ini menyinggung rasa, Kyai. Dia melebihkan sari konde di atas cadar. Juga, melebihkan kidung dari azan. Seolah ingin mengatakan bahwa kebudayaan jauh lebih tinggi dari pada agama”. Yusran kembali angkat suara.

“Mungkin di situ kelemahannya. Kritik terhadap simbolisme beragama yang ingin ditawarkan melalui puisi ini tidak kontekstual karena mempertentangkan agama dan kebudayaan. Padahal di Indonesia, agama dan kebudayaan menyatu, tidak dipertentangkan. Para ulama bekerja dengan pola itu. Lalu kenapa sekarang mempertentangkannya? Saya kira itu kekurangpekaannya. Tentu yang buat puisi ini punya argumentasinya sendiri.”

“Kenapa kah juga bawa-bawa agama dalam puisi!”

“Wah. Puisi Rumi dan puisi Ibnu Arabi itu bahan bakunya agama. Tuhan menjadi pusat dalam beberapa puisi spiritual Rumi dan Ibnu Arabi.”

Tojengki[1], Kyai?”

“Untuk lebih jelas, saya ingin bacakan satu puisi Rumi.”

Kyai Saleh segera mengambil dan mengaktifkan ponselnya. Sejenak, dia mengutak-atik ponsel dan memperbaiki posisi duduknya. Kyai Saleh menarik nafas lalu pelan membaca puisi Jalaluddin Rumi:

Salib dan umat Kristen, ujung ke ujung sudah kuuji. Dia tidak di Salib.

Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno. Tidak ada tanda apapun di dalamnya.

Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah, dan ke Kandahar Aku memandang. Dia tidak di dataran tinggi maupun dataran rendah.

Dengan tegas, aku pergi ke puncak gunung Kaf. Di sana cuma ada tempat tinggal burung Aqsa.

Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah, Dia tidak ada di sana.

Aku menanyakannya kepada Avicenna sang filosuf. Dia ada di luar jangkauan Avicenna.

Aku melihat ke dalam ke hatiku sendiri. Di situlah tempatnya, aku melihat diri-Nya. Dia tidak ada di tempat lain.

Hening. Para jemaah terhenyak.

Suara Kyai Saleh membacakan puisi Rumi terdengar syahdu. Puisi tentang pencarian “Dia” (entah Tuhan, entah kebenaran) meresap ke dalam sukma para jamaah.

“Kalau membaca puisi ini secara denotatif, bisa saja disimpulkan Rumi telah melecehkan agama. Rumi bilang, DIA yang dicarinya tak ada pada agama yang mengiklankannya. Kalau DIA dalam puisi itu maksudnya adalah Tuhan, maka puisi Rumi sedang bilang bahwa Tuhan tidak ada pada agama-agama itu. Kalau DIA yang dicari  diartikan sebagai kebenaran, maka itu juga tidak ada pada agama-agama itu. DIA yang dicari oleh Rumi, ada dalam hatinya bukan di tempat lain. Makna puisi ini sangat sufistik dan mendalam,” Kyai melanjutkan penjelasannya.

“Kenapa tidak ada yang marah?” Tesa ikut bersuara.

“Mungkin karena  tidak ada yang tahu puisi ini. Setahu saya, peminat sastra puisi tidaklah banyak. Tapi guru saya, Mbah Bisri pernah bilang, ma kharaja min al- qalb dakhala ila al-qalb. Apa yang keluar dari hati, kena juga di hati.”

“Maksudnya bagaimana, Kyai? Apa hubungannya dengan puisi ini?”

“Puisi Rumi diciptakan sebagai bentuk kerinduan kepada DIA. Cinta kepada DIA. Meski rindu dan cinta Rumi itu melabrak dinding agama-agama, namun kita memahami dan meresapi kemana puisi ini hendak berlabuh. Saya ikut-ikutan merasakan kerinduan Rumi dalam puisi itu. Saya bahkan lupa kalau Rumi sedang mendekonstruksi agama.”

“Kalau puisinya bu Sukma?”

“Bisa saja puisinya tidak lahir dari sukma yang tenang, boleh jadi berasal dari sukma yang marah. Tidak spiritually. Sehingga puisi itu mengoyak sukma sebagian yang mendengarnya. Kemarahan sukma pendengar menjadikan puisi bu Sukma tidak bersukma. Sukma telah dikoyak oleh puisi dan menyerang kembali bu Sukma sang pembuat puisi.”

“Kenapa bisa ditanggapi begitu negatif. Bukankah ini puisi? Ekspresi seni yang berasal dari kebebasan berkreasi.” Tesa berkata kembali dengan mimik serius.

“Saya pernah mendengar teori tentang power of language. Salah satunya tentang kekuatan subyek sangat memengaruhi arah bahasa itu. Rumi, orang mengenalnya sebagai penyair sufistik. Orang tahu makam keagamaannya. Orang menerima kata-katanya sebagai kata-kata puitik. Pun, ketika Gus Mustafa Bisri membuat syair-syair yang kesannya mengkritik agama, orang bisa menerimanya karena Gus Mus adalah seorang Kyai yang sastrawan. Nah, bu Sukma dikenali sebagai politisi atau paling tidak bukan penyair, bisa jadi orang menganggap itu bukan puisi tetapi orasi politik yang dipuisi-puisikan. Entahlah!”

“Jadi bagaimana sebaiknya sikap kita kepada puisi itu,  Kyai?”

“Alessandro Duranti, seorang antropolog bahasa bilang, bahasa itu ada dua, privat dan publik. Puisi ini sebenarnya bahasa privat. Dibuat dengan jenis komunikasi tertentu yang berbeda dengan komunikasi publik. Persoalannya, di era media sosial batasan privat-publik sudah kabur. Puisi yang dibacakan dalam ruang privat diviralkan dalam ruang publik yang sebagian besar mungkin tidak memahami bahasa privat itu. Yang terjadi chaos. Kalau saja puisi Rumi tercipta dalam dunia simulakra ini, mungkin juga begini.”

“Berarti sikap marah terhadap puisi itu berlebihan, Kyai?”

“Berlebihan, jika diamukkan dan merusak kemanusiaan. Misalnya, gara-gara puisi bu Sukma,  kita menghina, mencaci, mencemooh. Itu jelas berlebihan. Tetapi kalau puisi bu Sukma dibalas dengan puisi yang indah, satire yang menggelitik, meme lucu itu ndak apa-apa. Tidak berlebihan.”

“Kan, dibolehkan sombong pada orang sombong, Kyai.”

“Betul. Maka balaslah puisi dengan puisi. Jangan sampai kita membela agama dengan cara menghancurkan agama itu sendiri. Karena itu,  Umar bin Khattab pernah mengatakan matikanlah kebatilan dengan mendiamkannya. Janganlah kalian meributkannya sehingga didengar oleh orang yang menyukainya. Jadi, nahi mungkar itu punya banyak cara. Kadang-kadang kita harus berteriak tetapi kadang-kadang kita harus mendiamkan.”

“Saya dengar bu Sukma sudah meminta maaf.”

“Ya, maafkanlah!”

Aii.. kalau kita tidak tegas, nanti akan ada lagi yang berbuat begitu. Sudah berbuat minta maaf lagi.”

“Ya, maafkan lagi. Susakamma![2] Jangan pernah kehabisan stok minta maaf dan memaafkan. Agama ini diturunkan tidak untuk mematikan emosi, tetapi meminta kita untuk meletakkannya di tempat yang tepat. Dan, memaafkan adalah mekanisme penting dalam sebuah relasi yang emosional. Itu ajaran Nabi.”

“Tetapi kan, kita juga tidak bisa melarang orang marah, Kyai!”

“Jika ingin hidup dengan api, bersiaplah untuk terbakar. Jika ingin marah, maka marah juga lah pada gelombang. Yang riuhnya membuat kamu tidak bisa mendengar suara azan. Marah pula-lah kepada badai yang menghancurkan rumah ibadah-mu sehingga kamu tak punya tempat bersujud. Kecuali, hatimu penuh cinta. Gelombang yang riuh dan badai yang meluluhlantakkan tidak berarti apa-apa. Karena, seperti Kata Jalaluddin Rumi, Tuhan ada di hati bukan di tempat lain.”

Lalu, hening.

Waktu salat Isa sudah menjelang. Sayup-sayup suara azan dari masjid kampung sebelah sudah terdengar. Kyai Saleh segera menutup pengajian.

“Apa kalian mengizinkan Daeng Gassing untuk azan salat Isa?”

“Janganmi deh, Kyai. Sampara mo.” Jamaah serentak menjawab.

Kyai Saleh mengangguk tersenyum sembari memberi isyarat ke Sampara.

Sampara maju ke depan melantunkan azan. Kali ini, suara azannya terdengar lebih merdu, lebih dari biasanya.

 

[1]Benarkah?

[2] Susah amat.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

11 comments

  • I have to show appreciation to the writer just for bailing me out of this trouble. Just after checking through the world-wide-web and seeing tricks which were not powerful, I thought my life was over. Living without the answers to the issues you’ve solved as a result of your post is a critical case, as well as ones which may have adversely damaged my career if I had not noticed the website. That mastery and kindness in controlling every part was helpful. I don’t know what I would’ve done if I had not encountered such a step like this. I am able to at this point look forward to my future. Thank you very much for your specialized and amazing help. I won’t think twice to refer your blog post to any person who ought to have counselling about this matter.

  • My husband and i got really cheerful that Jordan could conclude his survey using the ideas he grabbed through the site. It’s not at all simplistic to simply find yourself giving away secrets and techniques that the others could have been selling. And we recognize we need you to give thanks to for this. All the explanations you’ve made, the simple website menu, the friendships you help to create – it’s got mostly spectacular, and it’s helping our son and our family consider that this content is satisfying, and that’s unbelievably vital. Thank you for all the pieces!

  • Thanks a lot for giving everyone a very brilliant possiblity to read critical reviews from this blog. It is usually so good and full of a lot of fun for me personally and my office colleagues to visit your website particularly thrice weekly to read the latest guidance you have got. And lastly, we are always impressed with all the sensational solutions served by you. Some 3 tips in this post are surely the finest I have ever had.

  • I simply had to appreciate you all over again. I am not sure the things I might have created in the absence of these methods shared by you relating to such industry. This has been an absolute frightening problem for me, but noticing this expert mode you resolved the issue took me to cry over delight. I will be thankful for your work and then pray you comprehend what an amazing job you happen to be undertaking educating others via your webblog. I am sure you’ve never met any of us.

  • I would like to convey my affection for your generosity giving support to women who require help on the idea. Your very own commitment to getting the message all through appears to be astonishingly effective and have specifically empowered associates much like me to realize their goals. The warm and helpful recommendations implies this much to me and further more to my fellow workers. Thanks a ton; from each one of us.

  • I am only commenting to let you know what a wonderful encounter my cousin’s child experienced browsing your web page. She discovered a good number of pieces, not to mention what it’s like to possess an awesome giving heart to have a number of people quite simply understand a variety of tortuous matters. You truly exceeded readers’ desires. Many thanks for distributing these precious, safe, informative as well as easy guidance on your topic to Kate.

  • I want to express my gratitude for your generosity in support of people who must have help on this one subject. Your very own commitment to passing the message all around came to be really productive and has without exception encouraged individuals just like me to reach their desired goals. Your own informative help and advice means much a person like me and even more to my mates. Warm regards; from everyone of us.

  • I together with my guys appeared to be going through the good guidelines from your web site while quickly I got a terrible suspicion I never expressed respect to the blog owner for those strategies. All the women were excited to see them and have in actuality been using them. Many thanks for being really thoughtful and for using this sort of superior topics millions of individuals are really desirous to be aware of. Our own honest apologies for not saying thanks to sooner.

  • I have to point out my passion for your kind-heartedness for men who must have guidance on this particular theme. Your personal dedication to passing the message all around had become exceptionally productive and has without exception encouraged those just like me to achieve their targets. Your new informative help and advice entails a great deal to me and even further to my peers. With thanks; from all of us.

  • A lot of thanks for all of the labor on this website. Kate take interest in participating in investigations and it’s really easy to understand why. My partner and i notice all about the powerful way you make good strategies via the web site and encourage response from people on this issue while our favorite princess is discovering a lot of things. Enjoy the remaining portion of the new year. You have been carrying out a glorious job.

  • I together with my buddies were actually reading through the nice solutions found on your site and instantly came up with an awful feeling I had not thanked the website owner for them. My guys ended up absolutely excited to read them and now have unquestionably been using them. Many thanks for being so thoughtful and for deciding upon such important areas millions of individuals are really desperate to be aware of. Our honest apologies for not saying thanks to sooner.

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.