Locita

Piala Adipura

Sumber Foto: membacaruang.com

WALI Kota murka. Piala Adipura yang selama empat tahun berturut-turut diraih tidak bisa dipertahankan tahun ini. Gara-garanya, salah satu kecamatan dinilai jorok oleh tim penilai dari ibu kota. Padahal, tiga kecamatan lainnya mendapatkan nilai tinggi. Bahkan salah satu kecamatan mendapatkan nilai yang sempurna.

Kecamatan yang dinilai jorok itu adalah kecamatan tempat Kyai Saleh menetap dan membuka pengajian. Wali Kota bingung, karena kecamatan itu dulunya meraih predikat sebagai kecamatan paling bersih. Semua berubah ketika Mukaddis, murid Kyai Saleh yang menjadi camat baru.

Wali Kota memanggil Kyai Saleh ke balai kota untuk mendengar tanggapannya. Wali Kota merasa perlu berbicara dengan Kyai Saleh karena selain tokoh masyarakat yang populer, Kyai Saleh jugalah yang ikut merekomendasikan Mukaddis sebagai camat.

Menurut Kyai Saleh, Mukaddis adalah orang yang punya kepedulian tinggi dan bertanggungjawab atas pekerjaannya. Kyai Saleh bahkan mengatakan akan ikut bertanggungjawab kalau Mukaddis tidak amanah atas pekerjaannya.

Wali Kota ingin menagih janji Kyai Saleh itu.

“Kyai. Bagaimana ini? Kenapa bisa kecamatan tempat Pak Kyai tinggal begitu jorok? Saya gagal mendapatkan piala Adipura kelima kalinya. Padahal, saya sudah mengeluarkan dana sedemikian besar untuk proyek ini”, demikian Wali Kota berkata kesal.

Kyai Saleh tersenyum, “kenapa engkau marah kepadaku wahai Pak Wali?”

“Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman Pak Kyai? Dan bukankah Pak Kyai pernah bilang akan bertanggungjawab apabila Camat Mukaddis tidak amanah”

“Iya… saya sudah mengajarkan ke jamaah saya tentang itu, termasuk Pak Camat. Saya sudah mewanti-wanti camat yang kebetulan murid saya itu untuk menjalankan amanah sebagai pemimpin. Dia sudah berjanji kepadaku untuk menjadi pemimpin yang bertanggungjawab dan bekerja untuk kepentingan umat”

“Tapi apaji? kenyataannya? Wilayah kecamatan Kyai ini dinilai paling jorok oleh tim penilai. Saya mendapatkan laporannya. Sampah berserakan. Padahal, Pak Kyai tahu sendiri selama saya menjadi Wali Kota, kota kita selalu mendapatkan piala adipura. Baru kali ini lepas dan itu gara-gara camat yang murid Pak Kyai itu tidak bisa mendukung program saya”

“Mengapa engkau mengangkat dia jadi camat?”

“Dia lulus kompetensi. Nilainya tinggi Pak. Dia memenuhi kualifikasi yang saya tetapkan untuk menjadi camat. Itu bagian dari profesionalitas, Pak Kyai. Lagipula Pak Kyai kan juga memberi rekomendasi”

“Lalu?”

“Saya akan memecat dia Pak Kyai. Dan saya minta Pak Kyai mendukung keputusan saya”

“Apa Pak Wali pernah berkunjung ke seluruh penjuru kecamatan kami?”

“Belum pernah, Kyai!

“Ya… sudah. Dia murid saya yang jujur dan baik. Saya juga ikut bertanggugjawab atas kecerobohannya. Begini, sebelum Pak Wali memecat dia. Bisakah Pak Wali meluangkan waktu untuk berkunjung ke kecamatan kami minggu depan?”

“Untuk apa?”

“Supaya Pak Wali tahu apa yang terjadi. Saya akan mendukung pemecatan camat ini setelah Pak Wali berkunjung”

“Baik Kyai”

Seminggu kemudian, Wali Kota bersama Kyai Saleh berkeliling melihat situasi. Alangkah kagetnya sang Wali Kota melihat situasi kecamatan yang sangat bersih. Tak satupun sampah yang tergeletak di jalan-jalan dan lorong-lorong. Kecamatan ini terasa sangat asri.

“Inikah yang kamu sebut jorok, Pak Wali?”

Pak Wali Kota terdiam. Dia heran dengan laporan tim pemeriksa dari pemerintah pusat yang menyebut wilayah kecamatan ini sebagai wilayah paling jorok.

“Apa pak Kyai memberi tahu kepada Pak Camat kalau saya akan datang berkunjung? Sehingga mereka melakukan persiapan?”

“Tidak Pak Wali. Beginilah, situasi di wilayah kami setiap hari”

“Lalu mengapa dinilai jorok kemarin?”

Kyai Saleh tersenyum dan bercerita. Kyai Saleh dan camat muridnya itu bersepakat untuk melakukan pesta kecil-kecilan menjelang penilaian piala Adipura. Kyai Saleh, Pak Camat, dan lima kepala kelurahan diminta untuk menjamu seluruh warganya sebagai bentuk terima kasih. Sampah bekas pesta ini sengaja tidak dibersihkan hingga tim penilai datang.

“Ini konspirasi menjatuhkan citra saya”

“Bukan Pak Wali. Kebersihan adalah hakikat, bukan citra”

Pak Wali Kota masih dongkol dan tidak terima dengan penjelasan Kyai Saleh.

“Baik Pak Wali Kota, mari kita jalan-jalan ke kecamatan yang kemarin dinilai sebagai kecamatan paling bersih di kota ini.”

Meski tidak mengerti maksud Kyai Saleh, sang Wali Kota juga tidak menolak. Alangkah terkejutnya Wali Kota melihat situasi beberapa kelurahan di kecamatan yang beberapa waktu lalu dianggap sangat bersih. Beberapa tempat tidak terurus. Sampah terlihat menumpuk. Wali Kota menggeleng kepala.

“Piala Adipura seperti inikah yang Pak Wali Kota inginkan? Kebersihan seperti inikah yang bapak cita-citakan? Kebersihan untuk dinilai? Jika memang setelah ini Camat Mukaddis akan dipecat, saya akan mendukung. Karena Pak Wali hanya menginginkan simbol kebersihan bukan kebersihan itu sendiri.”

Pak Wali Kota terdiam.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.