Locita

Pemuja Ketidaktahuan

Para santri berkumpul sejak pagi di ruang tengah rumah Kyai Saleh. Mereka sengaja berkumpul untuk menyaksikan peristiwa politik yang penting. Puncak dari perhelatan pilpres 2019 yang lalu.

Hari ini menteri baru akan diumumkan oleh presiden Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin setelah tanggal 20 Oktober 2019 keduanya dilantik secara resmi sebagai pemimpin negara selama lima tahun ke depan.

Sampara sedikit tegang. Dia mendengar Prabowo akan jadi menteri. Sebagai pendukungnya, Sampara tidak percaya dengan rumors itu dan berharap hal itu tidak terjadi.

Namun harapan Sampara sirna. Prabowo tampak datang ke istana bersama dengan beberapa orang lain yang sudah diduga akan menjadi menteri. Wajah Sampara semakin memerah ketika Jokowi benar-benar menyebut nama Prabowo sebagai Menteri Pertahanan.

“Aiii…. Ternyata jadi menteri ji!!.” Teriak Tesa.

Sampara hanya terdiam sembari menyeruput kopi yang sudah hampir dingin. Dia tidak bersedia membalas kalimat Tesa yang terdengar seperti ejekan.

“Itu artinya Prabowo dan Jokowi mau lihat Indonesia baik. Mereka lupakan pertarungan politik dan bersama-sama membangun bangsa.” Celutuk Yusran.

“Bahasamu Yusran. Kayak tong Roky Gerung.” Tesa membalas celutuk Yusran.

Kyai Saleh hanya tersenyum kecil mendengar celoteh para santrinya di depan televisi.

“Eh, menteri agama tentara. Bisanya!” Yusran kembali berujar.

Tesa dan Sampara tidak menyahuti. Keduanya hanya memandang televisi sembari mendengar Jokowi menyebut nama-nama anggota kabinetnya.

“Tawwa…. Mudanya ini mendikbud. Baru tiga puluh tahunan ini bosnya Gojek.”

“Aii… kenapa bu Susi diganti. Padahal bagus sekali itu menteri!” Sampara kali ini ikut berkomentar setelah dia berhasil menata perasaan kecewanya.

Kyai Saleh tampak tidak memerdulikan para santrinya yang sibuk menjadi komentator politik. Sang kyai lebih asyik membaca buku sembari menghirup kopi dengan hirupan pelan.

“Bagaimana menurutta Kyai?”

“Apa-nya?” Kyai Saleh balik bertanya sambil melepas kacamatanya.

“Ini susunan kabinet baru.”

“Saya tidak tahu. Tidak ada urusan juga. Kita ya tetap bekerja saja. Percayakan pada presiden yang sudah terpilih.”

“Itu Prabowo bersedia jadi menteri saya masih heran, Kyai.” Sampara menyela.

“Tidak ada yang aneh. Prabowo dan Jokowi koalisi lama lalu saling berkompetisi. Kalau sekarang bersatu lagi. Ya tidak aneh. Bahkan ini bisa jadi pembelajaran demokrasi yang sangat baik. Bahwa lawan politik tetap harus dirangkul untuk kepentingan bersama. Ini bagus!”

“Tapi kalau kuingat perdebatan cebong dan kampret waktu pilpres, Kyai. Saya ikut ngeri!” Lanjut Yusran.

“Itulah kenaifan kita. Rakyat mudah terpengaruh dan terbelah oleh situasi yang diciptakan oleh para politisi.  Padahal politik itu punya dua panggung. Panggung depan dan panggung belakang. Kita hanya melihat di depan saja dan berdebat atas nama yang di depan itu. Para pengamat politik adalah para penggembira dan penyorak di panggung depan. Dan, masyarakat sipil ikut-ikutan berperang atas nama panggung depan. Itu yang terjadi. Yang terjadi di panggung belakang, kita sama sekali tidak paham.”

“Pernahki baca teorinya Ervin Goffman, Kyai?” Tanya Yusran. Dia terkejut Kyai Saleh menjelaskan alur politik seperti teori Ervin Goffman.

“Pokoknya saya pernah baca seperti itu tapi tidak tahu teorinya siapa.” Kyai Saleh terkekeh. Yusran garuk kepala.

“Tapi mengapa kemarin kencang sekali perdebatan. Sampara dan Tesa sampai-sampai kayak mau baku makan?” Ale yang baru saja datang ikut nimbrung.

Tesa dan Yusran mengangkat wajah memandang ke arah Ale.

“Karena kita telah menjadi pemuja ketidaktahuan!” Jawab Kyai Saleh singkat.

“Maksudnya Kyai?”

“Sebenarnya pengetahuan kita tentang Jokowi, Prabowo dan hal ihwal politik di negeri ini sangat sedikit. Lebih banyak yang tidak ketahui. Tetapi kita membiarkan ketidaktahuan itu, mengabaikan ketidaktahuan kita, agar kita bisa menipu diri sendiri kalau kita sedang bisa. Kita berada dalam ilusi kebenaran. Ini penyakit yang paling berbahaya?”

“Berbahaya bagaimana Kyai?”

“Orang yang terjangkiti penyakit ilusi kebenaran akan berbuat seperti penguasa kebenaran. Dia mudah menyerang orang lain. Dia mudah menempel stigma kepada orang lain. Dia mudah curiga. Dan yang paling gawat. Kebenaran orang lain adalah ancaman bagi dirinya. Orang ini sebenarnya adalah pemuja ketidaktahuan! Membatasi diri untuk tahu lebih banyak karena khawatir pengetahuan yang dianggapnya kebenaran akan terurai dan mencair. Dia menjadikan ketidaktahuannya sebagai pembimbing menuju kebenaran yang dianggapnya sejati. Bahasa kalian, orang sok tahu!”

“Kayak itu Kyai. Ada yang mengkritik kenapa pelantikan hari libur. Padahal undang-undang memang menetapkan pergantian presiden harus dilakukan 5 tahun. Tanggal 20 oktober menjadi patokannya. Tidak penting harinya apa.” Terang Yusran.

Kyai Saleh dan para santri lainnya menganggukkan kepala.

“Bagaimana cara menghindari penyakit seperti ini?”

“Jangan berhenti belajar. Membuka hati dan pikiran untuk menerima perbedaan dan hal-hal baru. Berdialog dengan sebanyak mungkin orang dari latar yang berbeda. Sadarilah bahwa setiap manusia menyimpan serpihan kebenaran yang bisa saja melengkapi kebenaran yang kita punya. Yakinkan diri bahwa kita adalah pembelajar.”

Kyai Saleh berhenti sejenak. Kopi yang sudah tinggal seperempat itu diseruput dengan nikmat.

“Para ulama yang kita akui kealiman dan keluasan ilmu pengetahuannya sekalipun masih memberi peluang dirinya salah. Ada nasihat dari imam fiqih, Imam Malik . Ada juga yang menyebutnya dari Imam Syafii. Nasihatnya begini, ra’yi shawabun wa yahtimul khata’ wa ra’yuka khataun wa yahtamilusshawab. Pendapatku benar tetapi mengandung kesalahan. Pendapatmu keliru tetapi mengandung kebenaran.”

“Maksudnya bagaimana Kyai”

“Dua pendapat yang terlihat berbeda, sebenarnya memiliki potensi untuk dipadukan. Terpulang kepada kesediaan dari dua orang yang berbeda ini untuk memadukan atau membiarkannya terpisah. Jangan menjadi pemuja ketidaktahuan!”

 

 

 

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.