Locita

Pak Lurah Yang Tidak Pernah Ikut Salat Jumat

Matahari sedang terik. Panas menyengat. Kubangan fatamorgana terlihat di sepanjang jalan. Sayup-sayup terdengar suara masjid melantunkan shalawat. Jam sedang menunjuk pukul 12.15. Sebentar lagi waktu salat Jumat akan masuk.

Kyai Saleh bersama Yusran sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota.

“Kyai. Salat jumat dimana kita ini?” Tanya Yusran.

“Sepertinya kelurahan Kampung Baru tidak jauh dari sini. Kira-kira masih dapat ndak kalau terus kesana?”

“Masih bisa, Kyai. Sepuluh menitji ke sana.” Kata Yusran meyakinkan sembari mempercepat laju mobil.

Tak lama berselang. Mobil mereka tiba di Kampung Baru. Yusran segera mengarahkan mobil ke masjid terdekat.

“Ada Kyai Saleh!!” teriak salah seorang jamaah demi melihat sosok lelaki tua memasuki masjid.

Jamaah lain terkesiap. Mereka tidak menyangka akan kedatangan seorang Kyai terkenal itu. Mereka segera berdiri dan menyambut takzim kehadiran Kyai Saleh.

Kyai Saleh segera didaulat untuk membaca khutbah Jumat. Meski sudah berkali-kali menolak, namun jamaah tetap memaksa.

Ustad yang semestinya menjadi khatib Jumat pun sudah memberi isyarat persetujuan, meski dengan wajah yang berat. Kyai Saleh tak punya pilihan lain. Dia tidak ingin membuat suasana berlarut-larut karena waktu Jumat telah masuk.

Kyai Saleh segera naik mimbar dan menunaikan tugas sebagai khatib. Di tengah khutbah, mata Kyai Saleh teralihkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian kumal. Kyai Saleh seperti mengenalinya.

Sesuai salat Jumat, takmir masjid memberikan amplop tetapi Kyai Saleh menolak. Dia meminta takmir menyerahkan amplop kepada ustad tadi.

“Ini rezekinya!” Kata Kyai Saleh.

Sang ustad tersenyum malu sembari menerima amplop itu.

“Dimana rumah lurah Sudarman?” Tanya Kyai Saleh.

“Kenalki Pak lurah, Kyai?”

“Iye. Dia salah seorang murid saya. Tahun lalu dia dilantik menjadi lurah di Kampung Baru ini kan?”

“Muridta itu Kyai??” Si jamaah masjid terperanjat.

“Iya. Kenapa?” Kyai Saleh mengernyitkan dahi. Dia menangkap sesuatu tidak beres terjadi. “Apa Sudarman tidak bagus memimpin?”

“Tidak, Kyai.”

“Apa dia korupsi?”

“Tidak, Kyai. Dia orang yang jujur dan ramah. Tapi….” Kalimat lelaki itu tertahan, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk berbicara.

“Tapi apa? Cerita saja.” Kyai Saleh jadi penasaran.

“Anu, Kyai. Tidak pernahki datang sembayang Jumat. Satu kali ji. Waktu usai pelantikan. Setelah itu tidak pernahmi. Baru adaji selalu di rumahnya.”

“Ah, masa? Dia salah seorang santri saya yang baik. Dia bahkan juga pernah ikut belajar sama Kyai Jafar di Jawa beberapa bulan.” Kyai Saleh mengernyitkan dahi. Kalimat warga itu sulit untuk dipercayainya.

“Mari maki kuantar ke rumah Pak Lurah, kalau tidak percayaki Kyai. Pasti adaji, baru tidak ada tadi salat Jumat.”
Kyai Saleh dan beberapa orang jamaah Masjid berjalan menuju rumah Pak Lurah.

******

“Kyai…….!!!” Pak Lurah Sudarman terperanjat kaget melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya. Dia segera membungkukkan badan, meraih tangan Kyai Saleh dan menciuminya sepuas hati.

“Wah… Saya lihat wajahmu semakin bercahaya. Sepertinya kamu sedang menerapkan ilmu dari Kyai Jafar.”
Sudarman tersipu malu. Dia mengerti kemana arah perkataan Kyai Saleh.

“Kebetulan maki Kyai ada di sini. Kami ini mau tanya. Sudah lama jadi perbincangan warga. Kenapa Pak Lurah cuma satu kali pergi masjid untuk Salat Jumat. Setelah itu tidak pernah lagi terlihat. Padahal, orang bilang ada jaki selalu di rumah.” Jamaah yang mengantar Kyai Saleh meluahkan protesnya, seperti suara demonstran yang sedang orasi.

Kyai Saleh tersenyum. “Tadi, pak Lurah ada di masjid.”

Warga terkesiap sambil menatap wajah Kyai Saleh tajam.

“Dimana Kyai? Kami kenalji pak Lurah. Tidak ada tadi di masjid. Jangan permainkan kami Kyai.”

“Saya mengenal Sudarman sejak lama. Tidak mungkin ada murid saya melalaikan salat Jumat. Tadi ada di masjid. Saya sempat melihatnya di shaf bagian belakang. Dia tidak bisa menipu pandangan saya.”

“Benarkah Pak Lurah?” salah seorang warga bertanya ke Pak Lurah Sudarman.

Dengan pelan, Pak Lurah Sudarman menganggukkan kepala.

“Apa kalian tidak memperhatikan orang berpakaian kumal dengan cambang dan rambut awut-awutan yang duduk di shaf belakang?” Tanya Kyai Saleh.

“Oh iye, Kyai. Memang setiap jumat selalu ada orang aneh duduk di situ. Paling lambat datang, paling cepat keluar.” Kata salah seorang jamaah.

“Itu kita pak Lurah????” tanya warga lainnya.

Pak Lurah hanya tersenyum kecil. Warga semakin keheranan.

“Mengapa Pak Lurah bersikap begitu?”

Pak Lurah Sudarman tidak menjawab. Dia memandangi Kyai Saleh sejenak. Kyai Saleh tersenyum simpul dan mengangguk kepala.

“Wargaku. Saya mohon maaf. Saya ingin datang ke masjid itu sebagai Sudarman bukan sebagai pejabat!” Jawab Sudarman pelan.
Warga saling berpandangan mata. Mereka tidak mengerti maksud Pak Lurah.

“Begini. Di minggu pertama saya dilantik sebagai Lurah, saya ikut salat Jumat. Para warga sangat mengistimewakan saya. Meski saya agak lambat datang, kalian memaksa saya duduk di depan, belakang imam.”

“Tidak apa-apa kan? Itu bentuk penghormatan warga kepada pak Lurah.”

“Biar guruku Kyai Saleh yang jawab.”

Kyai Saleh tersenyum kecil. Baru saja Kyai Saleh mau menjawab, tiba-tiba istri Pak Lurah datang dengan nampan berisi kopi. Kyai Saleh menunda sejenak dan memilih menyeruput kopi yang masih mengepul itu.

“Begini. Masjid itu milik bersama. Di dalam masjid, semua manusia setara. Manusia yang sedang ingin beribadah kepada Allah. Di depan Allah, tidak ada manusia yang istimewa.

Setinggi apapun jabatan di dunia ini, di masjid tidak ada artinya. Sudarman diajarkan oleh Kyai Jafar begitu. Jadi ketika kalian mengistimewakan dia karena jabatannya, dia merasa terhina.

Baju jabatan yang melekat di tubuhnya justru membuatnya tersiksa. Akhirnya dia memilih cara ini.” Kyai Saleh berhenti sejenak dan kembali menyeruput kopi.

“Nah, seperti tadi kalian memperlakukan saya. Saya datang sebagai jamaah, tapi kalian menyambut sedemikian istimewa, dan bahkan memaksa saya menjadi khatib.

Apa kalian lupa, kalau kalian telah membuat saya malu di hadapan Tuhan? Membuat saya terlihat istimewa di rumah-Nya? Ingat masjid adalah tempat ibadah, bukan tempat jago-jagoan karena atribut duniawi.”

Warga terdiam.

“Jadi kalau mau ke masjid, datanglah sebagai hamba, bukan sebagai raja.”

Suasana hening. Warga merasa bersalah telah menuduh Pak Lurah yang bukan-bukan. Keheningan dan suasana kaku mencair seketika ketika ada kode dari istri Pak Lurah, bahwa makanan untuk santap siang sudah tersedia.

“Laparki semua to… ayo makan dulu!” Ajak Pak Lurah Sudarman dengan ramah.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

2 comments

  • Kalau boleh berkomentar isi dari cerita ini menggambarkan atau mengingatkan kita untuk bisa menempatkan diri sesuai posisinya. Ini sama saja ketika kita harus berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang, baik pendidikan, ekonomi, politik, bahkan agama. Bukan bermaksud seperti bunglon, dengan metode mimikrinya dapat mudah berganti kulit sesuai dengan dahan atau pohon yang dihinggapinya. Melainkan penyesuaian diri yang lebih kepada empati dan simpati kepada sesama. Kalau lu kepada sesama manusia harus seperti itu, apalagi kepada Tuhan.
    Selamat bung pepi yang telah Menulis artikel yang bagus ini sehingga bisa menjadi pengingat diri kita masing-masing untuk bisa menyesuaikan diri sesuai dengan tempat yang kita datangi.

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.