Locita

Orang Gila Adalah Orang Yang Paling Berhak Ikut Pemilu

Dulu, Kyai Saleh punya tamu rutin yang datang setiap bulan. Namanya Daeng Jarre. Pakaiannya compang-camping, lusuh, dan gembel. Rambut acak-acakan. Sesekali tertawa sesekali menangis. Orang-orang mengenalnya sebagai orang gila. Lelaki berusia 50-an yang kehilangan akal sehat ketika beban hidup terlalu sulit untuk ditaklukkan.

Suatu ketika, Bu Fatima, isteri Kyai Saleh dikejutkan dengan kehadiran orang asing di teras rumahnya. Lelaki gila itu menyeringai ketika melihat bu Fatima membuka pintu. Bu Fatimah terkejut dan menutup kembali pintu rumahnya.

“Daengg, ada orang gilaa!!!!” bu Fatima berteriak kencang. Kyai Saleh sedang membaca buku, terkejut. Bu Fatima bersuara lembut. Sangat jarang berteriak, apa lagi kalau sedang berada di rumah. Rumah Kyai Saleh tidak terlalu luas. Tidak dibutuhkan suara keras untuk menggapai semua sudut rumah.

“Kenapa-ki?” Tanya Kyai Saleh demi melihat wajah istrinya yang sedang pucat.

“Ada orang gila di depan rumah, daeng.”

Kyai Saleh segera beranjak ke halaman rumah. Tampak seorang lelaki bertampang lusuh duduk dan menyambutnya dengan senyum menyeringai. Kyai Saleh membalas senyum lelaki gila.

“Assalamu alaikum, Kyai.” Sapa orang gila itu. Kyai Saleh terkejut. Dia tidak merasakan adanya ketidakwarasan dari lelaki itu.
“Wassalamu alaikum. Silahkan duduk! Ada apa ini datang bertamu?” sambut Kyai Saleh ramah.

Lelaki itu tidak menjawab. Dia hanya memegang perutnya sembari meringis. Kyai Saleh mengernyitkan dahi berupaya memahami tanda yang diberikan si lelaki gila.

“Lapar-ki?”

Lelaki gila itu mengangguk.

Kyai Saleh segera memanggil istrinya. Sembari memintanya untuk membuat bubur.

Tak lama kemudian, sang isteri datang dengan semangkuk bubur. Lelaki gila itu menyambut dengan sumringah. Dalam sekejap saja, bubur itu habis dilalap. Seusai menghabiskan makanan, lelaki itu menatap Kyai Saleh sembari menunjuk mangkok bubur yang sudah habis. Kyai Saleh mengerti maksudnya.

“Tambahki buburnya bu. Masih lapar kayaknya.”

Sang istri segera kembali ke dapur dan keluar dengan mangkok bubur. Lelaki gila itu tersenyum dan meraih mangkok bubur itu. Seperti tadi, mangkok bubur itu segera dilahap habis. Seusai makan, lelaki gila itu segera pergi.

Sebulan kemudian lelaki gila itu datang lagi. Bulan depannya datang lagi. Dia tampaknya terpesona dengan bubur ayam buatan bu Fatima. Suatu ketika, bu Fatima menyajikan nasi goreng. Orang gila ini menolak. Dia meminta dibuatkan bubur.

“Siapa nama-ta?” Tanya Kyai Saleh suatu ketika.

“Daeng Jarre……” Lelaki itu menyebut namanya. Entah sadar atau tidak, Daeng Jarre menceritakan hidupnya. Dia terhimpit beban hidup yang teramat berat. Istri dan anak-anaknya meninggal dalam satu kecelakaan mobil. Dia satu-satunya yang selamat. Hidupnya hancur. Ingatannya rusak. Nalarnya kacau. Hingga akhirnya dia memilih hidup menggelandang dari jalan ke jalan sebagai orang gila.

“Jadi, kamu tidak gila permanen?”

“Kadang-kadang saya hilang akal, kadang-kadang muncul. Kalau di rumahta, saya merasa normal. Tetapi jika perasaan itu muncul kembali, saya tidak bisa menguasai diri.”

Begitulah. Daeng Jarre setiap bulan pasti datang meminta jatah bubur dari Kyai Saleh. Hingga suatu saat, Daeng Jarre datang dan disuguhi bubur. Setelah mencicipi dua sendok, Daeng Jarre menyimpannya di meja. Rasanya berbeda.
Kyai Saleh paham.

“Daeng Jarre. Ibu sudah meninggal dua minggu yang lalu.”

Daeng Jarre terkesiap. Dia menatap wajah Kyai Saleh. Kata “meninggal” membuatnya meradang. Dia menangis sejadi-jadinya. Kemudian dia pergi meninggalkan rumah Kyai Saleh.

Itulah kali terakhir Daeng Jarre datang ke rumah ini.
*******

Ingatan tentang Daeng Jarre tiba-tiba hinggap di kepala Kyai Saleh setelah membaca headline koran lokal yang membahas keputusan KPU yang membolehkan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) ikut pemilu.

Koran yang sudah dibacanya diserahkan kepada Sampara yang kebetulan sore itu berada di rumah Kyai Saleh. Seperti Kyai Saleh, perhatian Sampara tersita pada berita tentang orang gila.

“Deee…. Sambarangna, Kyai. Masa orang gila didaftar sebagai pemilih. Memangnya orang gila bisa memilih.” Gumam Sampara.

“Demi keadilan, Sampara.” Kyai Saleh menimpali. Sampara menengadahkan wajah dan menatap ke arah Kyai Saleh.

“Keadilan bagaimana, Kyai?”

“Orang gila itu juga manusia. Dia punya hak diperlakukan sama dengan manusia lainnya, termasuk urusan pemilu.”

“Deh bagaimana caranya bisa memilih Kyai. Mereka ini kan orang gila. Tidak sadar, tidak mengerti perbuatannya.”

“Benar. Itu karena kamu tidak mengerti jenis-jenis orang gila.”

“Maksudnya, Kyai?”

“Orang gila itu ternyata punya tingkatan. Ada stress biasa, ada gila sewaktu-waktu, ada juga yang permanen. Nah, semuanya masuk kategori orang dengan gangguan jiwa. Tentu yang sewaktu-waktu sadar ada peluang untuk ikut pemilu.”

“Bukanji akal-akalan politisi ini, Kyai. Mereka mau tambah-tambah suara. Jadi biar orang gila juga didaftar sebagai peserta pemilu.”

“Sampara. Orang gila mi itu puncak dari kebebasan manusia. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa mengintervensi orang gila. Bahkan agama tidak membebaninya hukum-hukum taklifi. Dalam Islam, orang gila tidak wajib salat, puasa, dan beban syariat lainnya. Jika ingin menjadi orang bebas sebagaimana cita-cita banyak orang, maka jadilah orang gila! Jadi, politisi tidak mungkin bisa mengintervensi orang gila.”

“Justru saya kasian Kyai. Kenapa orang gila harus dilibatkan dalam urusan politik. Biarkanmi dia nikmati kebebasannya.”

“Dee… bagus tommi bahasa-mu di Sampara.” Ale yang baru saja tiba di rumah Kyai Saleh menimpali. Sampara hanya tersenyum. Ale datang sembari membawa pisang goreng untuk Kyai Saleh.

“Tabe, Kyai. Ini ada titipan pisang goreng dari rumah.”

“Terima kasih, nak Ale.” Kata Kyai Saleh sembari meminum kopi dan mengambil satu pisang goreng yang terlihat renyah itu.

“Apa dibahas ini, Sampara?” Tanya Ale.

“Tentang berita koran. Itu orang gila didaftar ikut pemilu.”

“Iya di. Saya juga tidak setuju Kyai. Masa orang gila ikut pemilu.”

“Orang gila-mi itu yang paling berhak ikut pemilu, bukan kalian.” Kata Kyai Saleh.

“Maksudnya, Kyai? Setujuki orang gila ikut pemilu?” Tanya Ale.

“Bukankah politik memang dekat dengan kegilaan. Lihatlah para politisi. Dulu berteman akrab karena beda kepentingan tiba-tiba saling menyerang. Bukankah ini gila? Orang tidak bosan-bosan saling menyerang satu sama lain. Yang dibutuhkan oleh politisi adalah kesalahan. Kesalahan lawan adalah kekuatan. Sebaliknya kebenaran lawan adalah kelemahan. Gara-gara politik, martabat manusia turun menjadi sebatas kampret dan cebong.

Bukankah ini gila?”

Kyai Saleh berhenti sejenak menyeruput kopi. Ale dan Sampara tidak memberi pertanyaan. Keduanya hanya menunggu kalimat Kyai Saleh selanjutnya.

“Orang disebut gila karena tidak bisa mengenali kebenaran. Akalnya rusak. Nalarnya terbatas. Ini gila yang masih wajar. Tetapi para politisi tampil dengan kenormalan, bahasa yang tersusun rapi, tetapi isinya adalah kepalsuan. Memanipulasi kebenaran. Dunia politik adalah dunia kegilaan. Lalu mengapa orang gila dilarang ikut berpesta dalam kegilaan ini. Bukankah justru seharusnya mereka yang lebih berhak daripada kita?”

Suasana hening. Ale dan Sampara tertegun meresapi kalimat Kyai Saleh. Sedangkan Kyai Saleh memilih menyeruput kopi dan mengambil satu potong pisang goreng lagi.

“Assalamu alaikum!” Satu suara terdengar dari gerbang pintu pagar yang jaraknya tidak jauh dari teras rumah. Keheningan segera berakhir.

“Wa alaikum salam!” Semua mata tertuju ke arah suara itu. Tampak seorang lelaki berpakaian rapi dengan senyum mengembang. Kyai Saleh, Ale, dan Sampara tampak mengernyitkan dahi. Tak satu pun yang mengenali lelaki itu.

“Saya Daeng Jarre, Kyai!” Kata lelaki itu sembari menciumi tangan Kyai Saleh. Kyai Saleh terpana. Lelaki gila yang setiap bulan datang ke rumahnya meminta jatah bubur, kini datang dengan pakaian yang rapi dan wajah yang bersih.

“Aura rumah ini dan bubur buatan ibu yang membuat pelan-pelan kegilaan saya hilang, Kyai. Ketika mendengar ibu meninggal. Saya sangat sedih. Trauma rasa kehilangan atas kecelakaan itu muncul kembali. Tetapi ajaib,justru itu membuat kesadaranku pulih. Maaf Kyai, baru kali ini bisa berkunjung.”

Kyai Saleh tertegun. Ingatannya melayang ke mendiang istrinya. Beberapa jenak sedih kembali merayap, lalu senyum datang mengganti. Kematian sang istri ternyata menjadi jalan bagi kembalinya akal sehat Daeng Jarre.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

289 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.