Locita

Non Muslim atau Kafir?

Yusran bergegas pulang. Meski urusan pekerjaan di kantornya belum kelar, dia tetap memilih pulang. Meski sebagian kawan kantor memilih lembur. Dia tidak ingin terlambat ikut pengajian Kyai Saleh, selepas Magrib nanti.

Yusran hanya berdoa agar tidak terjebak macet parah dalam perjalanan pulang. Dia penasaran dengan jawaban Kyai Saleh tentang polemik kata “kafir” yang mewarnai perdebatan di media sosial seminggu belakangan. Apatah lagi, Kyai Saleh sudah berjanji akan membahasnya.

Yusran cukup beruntung kali ini. Dia tiba di rumah bersamaan dengan suara azan Magrib berkumandang dari masjid Nurul Autar. Yusran mengganti pakaian dan segera menuju masjid.

***

“Bagaimana tanggapanta tentang kata kafir yang lagi heboh ini, Kyai?” Ais tiba-tiba bertanya. Yusran sedikit keki. Dia tidak menduga, pertanyaan yang sudah disiapkan sejak minggu lalu ternyata juga menjadi pemikiran Ais dan mungkin jamaah yang hadir.

“Tidak ada masalah. Ini perbincangan lama. Yusuf Qardhawi sudah membahasnya dalam kitabnya Khitabuna Al-Islam fi Ashr Al-Awlamah. Sekitar satu dasawarsa yang lalu.”

“Trus kenapa bisa heboh?”

“Kan, santri googliyah, jamaah fesbukiyah memang begitu. Tanpa pengetahuan memadai ikut komentar. Padahal kalau mereka mau membaca, pasti tidak akan ribut.”

“Kalau menurut Kyai sendiri, bagaimana?” Yusran angkat suara.

“Yang bagian mana mau kamu tanyakan, Yusran.”

“Tentang kata kafir yang mau diganti.”

“Kata dengan akar kata k-f-r disebutkan Alquran dengan varian derivasi yang sangat banyak. Sekitar 525 kali disebutkan. Ada yang bentuk fail, maf’ul, masdar. Ada munfarid, ada jamak. Ada isim ada fiil. Konteksnya pun berlain-lainan.

Bisa berlaku untuk non muslim seperti dalam Surah Al-Kafirun atau dalam Surah Al-Maidah ayat 72-73. Bisa juga berlaku kepada umat Islam.

Misalnya, dikasih wajah cantik tapi masih merasa kurang disebutlah kufr nikmat. Itu ada dalam Surah Ibrahim ayat 7. Atau ada yang sengaja meninggalkan salat, disebutlah kafara jihara. Nyata-nyata kekufuran-nya.

Ini hadis sahih Bukhari-Muslim. Bahkan ada di luar konteks keagamaan dan moral. Seperti dalam Surah Al-Hadid ayat 20. Kuffar diterjemahkan sebagai petani. Jadi macam-macam artinya.”

Kyai Saleh berhenti sejenak. Diraihnya air mineral dan diteguk beberapa teguk. Kyai Saleh tampak kehausan.

“Kata kafir dalam bentuk fail yang paling popular di kalangan kita dalam surah Al-Kafiruun. Ayat ini benar-benar soal akidah. Asbab nuzulnya juga terkait akidah. Orang Quraish mengajak kongsi. Mereka mengajak Nabi untuk setahun menyembah Allah, setahun menyembah tuhan mereka. Lalu, turunlah ayat ini.”

Kyai Saleh kembali berhenti sejenak.

“Alquran juga menggunakan istilah lain seperti Ahlul Kitab, Yahudi, Nashara, Sabiun, Majusi. Jadi Alquran pun sudah menggunakan banyak sekali istilah. Istilah-istilah ini tidak mengubah esensi ketidakberimanan mereka terhadap ajaran Islam.

Dalam Surah Al-Maidah ayat 51 yang pernah popular di pilkada DKI menggunakan kata Yahudu dan Nashara, bukan kata kafir.”

“Trus, apaji pale gunanya buat bahtsul masail kalau tidak adaji masalah.”

“Agama ini dimensinya sangat banyak anakku. Kalau soal teologis, sudah tidak perlu di-bahsul masail-kan. Yang dibahsul-masailkan itu adalah yang bersifat muamalah, siyasah, dan masalah kemanusiaan yang mengalami perubahan-perubahan.

Kategori orang kafir dalam fiqh Islam beragam, sejak era kenabian. Ada zimmi, muwahadah, musta’min, dan harbi. Kenapa harus ada pembedaan? Bukankah semua orang ini menentang dan tidak beriman kepada Allah? Bukankah mereka semua kafir? Lalu untuk apa ada dzimmi, harbi, muwahadah, dan musta’min? Ini untuk menjawab keragaman situasi sosial yang membutuhkan sikap dan perilaku yang berbeda.”

“Trus kenapa muncul berita, mau diganti kata kafir dengan non-muslim?”

“Ini yang saya tidak habis pikir. Dari mana logika-nya. Adakah di antara anda semua memanggil kawan-kawan non muslim dengan sebutan kafir. Misalnya, hai kafir!”

“Tidak ada, Kyai?”

“Kenapa kalian tidak mau memanggil tetanggamu yang berbeda agama, dengan hai kafir!”

“Tidak enak didengar, Kyai.”

“Iye tawwa Kyai. Jelekna itu kalau kita panggil orang Kristen, hai kafir! Ka berkelahi jaki itu e.” Sampara ikut nimbrung.

“Nah.. Kalian enggan menggunakannya secara langsung. Kenapa? Apa anda anti Alquran? Apa anda tidak taat pada perintah Alquran? Tidak. Kalian hanya merasakan bahwa kata itu bisa menyinggung perasaan orang jika diucapkan langsung. Bahsul Masail NU memberi kerangka hukumnya. Selesai!”

“Tapi kenapa bisa ribut?”

“Tanyakan kepada yang meributkan. Apa kepentingan mereka meributkan? Padahal ulama fiqih sudah membahasnya. Dalam madzhab Hanafi juga mengatakan siapa yang mengatakan non muslim sebagai kafir, dan orang itu keberatan. Dia yang mengatai kafir bisa dihukum.”

“Saya masih penasaran, Kyai. Apa sebenarnya kepentingan para Kyai ini membuat usulan menggunakan kata non-muslim? Kenapa dimunculkan sekarang?”

“Begini. Ini agak serius dan akademik. Fatwa NU itu berangkat dari persoalan kebangsaan, bukan akidah. Negara kita adalah negara bangsa, bukan negara agama. Nomenklatur yang saya sebutkan tadi dzimmi, harbi, muwahadah, dan mustamin adalah istilah politik dalam negara Islam. Istilah ini meletakkan non-muslim tidak setara secara politik dengan umat Islam. Wajar karena memang negara agama.”

Kyai Saleh jeda dalam beberapa jenak. Batuk kecil menginterupsi penjelasannya.

“Konteks ini tidak tepat di Indonesia. Kita negara bangsa. Kita semua umat beragama setara sebagai warga bangsa atau muwathinun. Karena setara, maka dibutuhkan istilah yang lebih pas. Untuk sementara ini kata, ghair muslimin atau non-muslim lebih tepat untuk menggantikan kategori dzimmi, harbi, muwahadah, dan musta’min di Indonesia.

Di negara Islam seperti Saudi Arabiyah mungkin tidak perlu. Dzimmi sudah cocok. Tetapi jika suatu saat misalnya negara Indonesia berubah menjadi negara Islam, maka salah satu dari empat kategori itu bisa digunakan sebagai istilah politik kewargaan. Jadi hasil munas NU tidak menghilangkan sedikitpun dari ajaran fiqih Islam tetapi memberi pengayaan yang lebih sesuai dengan karakter nusatara. Ini namanya ijtihadun.”

“Apa itu ijtihadun, Kyai?”

“Upaya para ulama untuk menyesuaikan nilai Islam dengan situasi kekinian, sehingga Islam tidak kehilangan peran dalam membangun peradaban. Ijtihad adalah upaya intelektual yang sangat dihargai dalam ajaran Islam. Seorang ulama yang berijtihad akan mendapatkan pahala yang besar. Sekalipun ijtihadnya salah, tetap diberi nilai pahala atas upayanya itu. Begitu sangat berharganya ijtihad dalam dunia Islam.”

“Jadi, bagaimana kami menyikapi isu yang sedang berkembang ini, Kyai?” Yusran kembali bertanya.

“Banyak membaca buku, biar kalian tidak cepat kaget!!” Jawab Kyai Saleh singkat.

*****

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

3 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.