Locita

Menghormati Yang Tidak Puasa

Warung bakso Mas Gino yang baru buka sebulan menjelang Ramadhan menarik perhatian warga Kalimana. Rasa bakso yang gurih dan nikmat membuat warung Mas Gino dengan cepat memperoleh tempat di hati dan lidah warga.

Warung yang buka setiap jam 10.00 siang itu tak pernah sepi hingga tutup menjelang Magrib. Semua kalangan datang. Tak hanya dari warga Kalimana, warga dari kampung sebelah pun ikut datang.

Warung Mas Gino membawa keceriaan dan sekaligus menjadi ruang pertemuan sosial bagi warga yang tak punya waktu untuk bertemu. Saling sapa ketika menunggu dan usai makan menjadi fenomena sosial yang menarik.

Kyai Saleh pernah ikut merasakan racikan Mas Gino. Sebagai orang yang kurang menggemari bakso, Kyai Saleh merasakan bakso racikan tangan Mas Gino enak di lidahnya.

Kyai Saleh pun mafhum dengan popularitas instan warung bakso itu. Bagi warung makan, cita rasa adalah jalan tol rezeki. Dan, Mas Gino sedang berada di jalur yang tepat.

Namun kegembiraan itu berubah buram.

Segerombolan warga tiba-tiba datang berkumpul dan berteriak garang di depan warung Mas Gino. Gara-garanya, warung Mas Gino tetap buka di hari pertama puasa. Warga merasa Mas Gino tidak menghargai bulan puasa.

Kyai Saleh tiba di tempat itu sebelum suasana meningkat runyam. Beberapa orang warga mulai ancang-ancang ingin menyita beberapa asset warung.

“Jangan!!!” Teriak Kyai Saleh. Teriakan Kyai Saleh membuat warga menghentikan niatnya itu.

“Kenapa Kyai? Orang ini tidak menghargai bulan Ramadhan. Dia dengan seenaknya membuka warung di bulan puasa. Dia membuat puasa kita makruh, Kyai.”

Kyai Saleh memandang sejenak, “Lalu apakah perbuatan kalian yang marah ini menghargai puasa? Tuhan meminta kita menahan diri, menahan amarah di Bulan Ramadhan.

Menahan makan adalah simbol dari pengendalian diri. Lalu atas alasan apa kalian semua marah? Menghakimi orang yang tidak menghargai puasa? Tidakkah kalian juga tidak menghargai bulan puasa?”

Warga terdiam.

“Saudaraku. Mencegah kemungkaran dengan cara mungkar adalah kemungkaran itu sendiri,” lanjut Kyai Saleh.

“Tapi, Kyai. Bukankah Kyai juga mengajarkan kalau nahi mungkar adalah juga kewajiban.”

“Ya. Dan sebaik-baik nahi mungkar adalah amar dan amal ma’ruf. Jika kalian semua mengikuti anjuran puasa yang benar, maka saya bisa pastikan tak cukup tiga hari warung Mas Gino ini tutup dengan sendirinya. Lagi pula, saya butuh warung Mas Gino tetap buka di siang hari.”

Warga saling berpandangan. Mereka tidak bisa mencerna dengan baik kalimat Kyai Saleh. Bagaimana bisa seorang Kyai membutuhkan warung Mas Gino buka siang hari.

“Kami tidak mengerti Kyai?”

Kyai Saleh tersenyum, “saya akan jelaskan nanti di pengajian Jumat subuh. Datanglah! Mas Gino tetap boleh membuka warung, kalau dia mau. Tidak ada yang boleh datang menutup warung ini dengan paksa. Kecuali Mas Gino sendiri.”

Warga bubar dengan rasa penasaran.

Kyai Saleh benar. Hanya tiga hari warung itu buka di siang hari. Di hari kamis, warung Mas Gino tidak lagi beroperasi.

*****
Suasana Jumat subuh lebih ramai. Warga masih penasaran dengan sikap Kyai Saleh yang membela warung Mas Gino di hari pertama puasa.

“Kyai, saya masih penasaran dengan sikapta tempo hari. Kenapaki bilang, butuh warung Mas Gino untuk tetap buka?” Yusran memulai pertanyaan.

“Tentu saja. Warung Mas Gino itu adalah ukuran saya. Penting saya untuk tahu. Jika kalian yang ikut pengajian saya, ikut menikmati warung Mas Gino di siang hari saat puasa maka berarti saya gagal untuk meyakinkan kepada kalian tentang agama. Itu adalah kegagalan saya. Berarti saya harus mengubah metode ceramah saya.”

Yusran dan para warga manggut-manggut.

“Tempo hari Kyai bilang, sebaik-baik nahi mungkar adalah amar ma’ruf?”

“Ya. Amar ma’ruf adalah juga nahi mungkar. Kalian tahu kenapa warung Mas Gino hanya tiga hari buka?”

“Tidak Kyai?”

“Jawablah Mas Gino.”

Mas Gino yang juga hadir di pengajian sedikit kikuk. Dengan menggaruk kepalanya, dia berkata. “Anu, Kyai. Nggak ada yang datang makan!”

“Nah. Ketika semua kita beramal dan beramar ma’ruf , maka tujuan kita untuk menutup warung Mas Gino misalnya di bulan puasa tercapai. Tanpa perlu marah-marah, tanpa perlu menunjukkan kesucian diri kita di hadapan orang lain. Cukup dengan semua warga berpuasa, Mas Gino akan menutup sendiri warungnya. Lihatlah betapa dahsyatnya amar dan amal ma’ruf itu.”
Para jamaah mengangguk-angguk sekali lagi.

“Tapi saya pernah dengar beberapa tahun yang lalu, ada yang bilang. Kita harus menghargai orang yang tidak berpuasa. Bagaimana itu Kyai?” Ale ikut bertanya.

Kyai Saleh terdiam sejenak.

“Anakku. Kalimat itu bermakna banyak. Bisa konstruktif bisa kontraproduktif. Kata itu bisa bermakna sufistik dan sosiologis.

Seorang yang berpuasa adalah seorang yang sanggup mengendalikan suasana. Tidak perlu suasana khusus, karena suasana puasa adalah dirinya sendiri. Ini bersifat khas.

Kedua, di tengah kita ada non muslim yang butuh makanan, ada ibu hamil, ada perempuan haid, ada musafir yang butuh makanan dan kita tidak bisa menyediakan semua itu, kecuali warung makanan. Kita pun patut menghargainya. ”

“Lalu kontraproduktif bagaimana Kyai?” Yusran tak sabar menunggu jawaban dari Kyai Saleh.

“Begini. Puasa dalam masyarakat Islam bukan semata peristiwa religi tetapi juga peristiwa kebudayaan. Bulan Ramadhan adalah bulan mulia.

Sepatutnya ada perilaku khusus untuk kehadiran bulan mulia. Contoh jika ada kematian di lingkungan sekitar, maka kita wajib menunjukkan empati dengan cara mendatangi, tidak ribut, memberikan suasana duka.

Kita semua memberikan suasana duka. Bisa jadi saat itu, kita sedang gembira. Kita menekan perasaaan gembira kita agar suasana duka itu tercipta.”

Kyai Saleh jeda sejenak. Ada batuk kecil yang menginterupsinya.

“Ramadhan adalah bulan mulia. Butuh suasana mulia. Butuh partisipasi semua agar bulan Ramadhan terasa mulia. Kalau suasananya sama saja dengan bulan lain, apa mulianya?

Lagi pula, tidak semua orang berada level yang sama. Di antara kita, ada anak-anak yang baru belajar puasa, ada muallaf yang baru berjuang untuk berpuasa, ada orang yang baru puasa tahun ini, ada yang ngiler setiap melihat bakso.

Sepatutnya mereka juga dihargai, dengan cara sederhana. Berikan mereka suasana berbeda selama puasa, agar mereka-mereka ini bisa menjalankan puasanya dengan baik. Bantu mereka!”

Pagi telah menjelang. Kyai Saleh segera menutup pengajian.

*****
Esok hari, warung Mas Gino kembali buka. Kali ini buka seusai salat tarawih hingga waktu sahur. Para warga kembali mengerumun di warung Mas Gino seusai menjalankan Salat Tarawih. Cita rasa memang tidak pernah bisa dikhianati.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

3 comments

  • Mantabs…!
    Figur Kyai Shaleh sangatlah dibutuhkan, terutama di kalangan warga yg masih perlu penerangan mengenai esensi beragama. Namun apa jadinya, jika tdk ada figur macam kyai shaleh? Tentu pendewasaan itu akan tetap ada, proses belajar akan terus ada, selama kita mau berpikir akan kebaikan dan kebaikan.

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.