Locita

Membakar Kalimat Suci

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Sampara celangak celinguk.  Kertas baca-baca pemberian Kyai Saleh hilang. Baca-baca itu berisi kalimat syahadat dan beberapa lafadz doa agar kehidupannya selalu dilancarkan. Karena Sampara tidak terlalu kuat menghafal, dia minta agar Kyai Saleh menuliskan untuknya. Lengkap dengan tulisan latinnya. Kertas itu disimpan baik-baik, bahkan meski lecet tetap Sampara simpan.

Dan, tulisan itu hilang! Sampara mencarinya hingga ke sudut rumah.

“Tidak lihat kertasku?” Tanya Sampara kepada istrinya yang sedang bersih-bersih rumah.

“Kertas apa, daeng?”

“Itu kertas baca-baca yang dikasih sama Kyai Saleh.”

Kening isteri Kyai Saleh mengkerut. Dia mencoba mengingat-ingat. Dalam beberapa hitungan detik, wajah istri Sampara berubah.

“Kertas yang tulisan warna merah?”

“Iya.. itu!” Wajah Sampara berubah cerah. Harapannya untuk menemukan kertas itu kembali, setelah beberapa saat putus asa.

“Anu, daeng……..” suara isteri Sampara terputus. Kata-kata selanjutnya seolah tak mudah untuk diucapkan. Sampara menatap tajam wajah istrinya.

“Kenapa?”

“Sudah kubakar” suara istri Sampara lemah, nyaris tak terdengar. Tapi di telinga Sampara terdengar dengan jelas.

“Apaaa???” Sampara terkesiap kaget. Harapannya untuk menemukan kertas berisi kalimat suci kembali sirna. Kali ini, untuk selamanya.

Sang istri hanya terdiam. Dia sama sekali tidak mengerti kalau kertas kusam yang tercecer di bawah meja itu adalah kertas yang berharga. Tak ada yang bisa dilakukan selain meminta maaf.

“Berdosako membakar kertas itu. Kau tahuji isinya. Syahadat dan doa-doa. Kamu bakar berarti kamu sudah tidak mencintai syahadat.” Kata Sampara melampiaskan rasa kesalnya.

Sang istri hanya tertunduk lesu. Dia benar-benar merasa bersalah. Kata-kata “kutukan” Sampara membuatnya lemas.

Sore semakin senja. Waktu Maghrib hampir tiba. Sampara bergegas ke masjid Nurul Autar. Setiba di masjid, Sampara langsung mengumandangkan azan. Meski sedang kesal, namun Sampara tetap mengendalikan diri dan tetap khusyu’ mengumandangkan azan.

*****

“Kyai, kita dengar kejadian baru-baru ini?” Tanya Yusran kepada Kyai Saleh seusai salat Magrib, ketika sebagian besar jamaah sudah pulang. Kebetulan malam ini tidak ada jadual pengajian. Yusran, Ale, dan Tesa duduk mendekat. Sedangkan Sampara merapikan sajadah dan alat elektronik dekat mimbar.

“Kejadian apa, nak Yusran?” Tanya Kyai Saleh sembari menatap wajah Yusran

“Itu ada oknum banser bakar bendera tauhid.”

“Bendera tauhid?” Kyai Saleh mengernyitkan dahi.

“Bendera warna hitam yang isi kalimat lailahaillallah, muhammadrasulullah.”

“Oooo… ternyata ada benderanya tauhid.” Kata Kyai Saleh tersenyum.

Kita sudah dengar kah?” Yusran ikut tersenyum sembari melontarkan pertanyaan ulang.

“Saya belum dengar. Maklumlah, saya sudah tua sudah tidak update peristiwa terbaru.”

Yusran mengambil handphone dan memperlihatkan kepada Kyai Saleh. Kyai Saleh mengamati beberapa saat.

“Lagi viralki itu. Bagaimana hukumnya itu, Kyai?” Tanya Ale.

Belum sempat Kyai Saleh menjawab, Sampara buru-buru duduk mendekat dan angkat suara.

Tabe Kyai. Tadi istriku tidak sengaja bakar itu kertas yang kita berikan dulu. Padahal ada kalimat syahadat dan doa-doa. Tidak berdosaji itu?”

Kyai Saleh tersenyum melihat mimik lugu Sampara.

“Begini. Ada tiga perspektif yang bisa digunakan dalam melihat kasus yang Yusran dan Sampara tanyakan.”

“Apa itu Kyai?”

Kyai Saleh tidak langsung menjawab. Dia berdiri sejenak dan mengambil botol air mineral yang disimpan di dekat mimbar. Para santri sabar menanti jawaban sang Kyai.

“Secara normatif atau hukum fiqih, perilaku membakar kertas atau kain yang berisi kalimat suci bisa haram, makruh, dan mubah. Haram jika dimaksudkan untuk melecehkan isi kalimat dalam kain itu. Misalnya ada orang yang tidak menyukai umat Islam lalu membakar kalimat-kalimat itu dengan tujuan menghina, maka perbuatannya haram. Jadi memang dia maksudkan untuk menghina.  Makruh, jika perbuatan yang dilakukan itu memunculkan pandangan buruk dari orang lain. Mubah (boleh) atau bahkan dianjurkan apabila dikhawatirkan jika menimbulkan mudharat yang lebih besar.”

“Contohnya yang terakhir itu apa, Kyai?”

“Khalifah Usman bin Affan pernah memerintahkan membakar mushaf Alquran. Setelah penulisan rasm usmani, seperti yang kita pakai saat ini, selesai. Mushaf-mushaf lainnya dibakar. Tujuannya mencegah terjadinya perpecahan di kalangan umat karena perbedaan cara baca. Di zaman Nabi, Rasulullah pernah meminta untuk menghancurkan ada yang bilang membakar masjid Dhirar karena ternyata disalahgunakan oleh kaum munafikin.”

“Jadi kalau yang dilakukan banser kemarin itu bagaimana Kyai?”

“Saya tidak tahu persis kejadiannya. Tetapi jika seperti di video itu, perbuatan itu bisa jadi melanggar secara etika, dan menimbulkan kesalahpahaman. Bisa makruh! Mungki niatnya baik, karena niat tidak ada yang tahu kecuali Allah, tetapi metode yang dilakukan keliru. Orang-orang yang menonton video pembakaran itu menangkap berbeda dan menganggap banser melakukan penghinaan, jadi heboh.”

“Sebaiknya bagaimana kyai?”

“Kasus itu bisa memberi kita pelajaran yang baik. Pertama, tidak semua perbuatan baik dipahami baik oleh manusia lainnya karena itu perlu hati-hati dalam bertindak. Kamu ingat kan dulu, saya pernah menolak salat di gereja meski secara fiqih tidak masalah, untuk menjaga pandangan buruk orang lain.”

Yusran dan Tesa mengangguk-angguk.

Kedua, yang tidak mengerti persoalan seperti kalian-kalian ini jangan memberi komentar yang buruk di media sosial. Mengapa? Karena kalian tidak tahu dengan persis apa yang sedang terjadi. Kalian hanya menangkap dari media sosial. Kalian memberi penilaian berdasarkan pemahaman  yang dangkal dan tidak memahami konteksnya. Nabi Khidir tiba-tiba membunuh seorang anak kecil. Nabi Musa protes tetapi akhirnya mengangguk-angguk setelah memahami konteksnya. Itu pelajaran yang baik bagi kita. Tidak semua perbuatan yang terlihat buruk memiliki konteks yang buruk. Bisa saja, perbuatan yang terlihat buruk itu ternyata memiliki hikmah yang luar biasa bagi kebaikan kita bersama.”

Para santri itu terdiam. Sang Kyai memilih untuk meneguk air mineral.

“Jadi, istri saya tidak berdosaji bakar kalimat Syahadat Kyai?” Sampara tiba-tiba bersuara memecah kebisuan.

“Tidak. Karena dia tidak tahu, bahkan dia menyelamatkan kalimat syahadat itu keburukan.”

“Keburukan apa, Kyai?”

“Kalau jatuh ke wc, diberaki binatang, atau dibuang ke tempat sampah. Kamu tega melihat kalimat suci begitu kondisinya.”

“Apakah orang yang sengaja membakar kalimat tauhid itu berarti dia tidak mencintai kalimah itu.”

“Mencintai itu perkara hati. Ada banyak cara mencintai. Membakar dengan tujuan memuliakan adalah juga cinta. Menyimpan rapi dengan tujuan memuliakan, juga adalah cinta. Cinta adalah kunci memuliakan, dan jangan menghakimi cinta dari satu perbuatan yang berbeda dengan keinginanmu. Nanti di pengajian besok, kita bahas tentang bagaimana memuliakan kalimah tauhid.”

Semua terdiam.

Sampara sedikit merasa bersalah. Dia telah menuduh istrinya tanpa memahami konteksnya.

“Kyai, itu ada spanduk sudah robek-robek. Spanduk kegiatan ceramah keagamaan di kecamatan beberapa minggu lalu. Ada nama nabi Muhammad di kain itu, ada juga tulisan salawat di situ. Mau diapakan itu, Kyai?” Tanya Ale.

Kyai Saleh mengarahkan pandangan ke bagian luar masjid. Terlihat tumpukan kain spanduk di salah satu sudut masjid.

“Bakarmi saja. Kasihan nama baginda Rasulullah dan kalimat salawat diletakkan begitu saja di sudut masjid.” Kata Kyai Saleh.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

3 comments

  • Makasih yai atas pencerahannya…

    Semoga kita senantiasa diberkahi olehNya

    🙂

  • Bagus ini di share biar semuanya ngerti tentang kalimat tauhid. Tidak membuat ricuh bagi yang kurang memahami konteksnya… makasih Pak Kyai Saleh…

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.