Locita

Masjid (Terpapar) Radikal, Adakah?

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Kyai Saleh bergegas menuju bagian tengah gedung Dewan Ulama Kota. Hari ini, Dewan Ulama Kota mengadakan rapat khusus untuk merespon hasil penelitian salah satu lembaga penelitian nasional tentang adanya sejumlah masjid yang terpapar radikal. Sebagai salah satu anggotan Dewan Penasehat, Kyai Saleh sangat diharapkan untuk hadir.

Kyai Saleh datang ketika ruang rapat sudah diisi oleh para ulama sepuh dan ustad-ustad muda. Bangku yang tersisa adalah milik Kyai Saleh. Tampaknya, para peserta rapat sangat antusias dengan isu rapat kali ini.

Melihat semua kursi sudah penuh, Kyai Abdul Hamid sang ketua Dewan Ulama Kota membuka sidang.

“Assalamu Alaikum warahmatullah wabarakatuh!”

Serempak para peserta sidang menjawab salam Kyai Abdul Hamid. Setelah membaca beberapa kalimat pembuka dalam Bahasa Arab, Kyai Abdul Hamid langsung menjelaskan tujuan pertemuan.

“Para alim ulama dan para tokoh agama yang saya hormati. Baru saja saya mendapat edaran dari Dewan Ulama Pusat tentang hasil riset satu lembaga penelitian, bahwa ada beberapa masjid yang terpapar radikal. Dewan pusat meminta kita untuk merespon hasil riset ini untuk kepentingan bersama. Bagaimana pendapat antum?”

Ustad Zaitun Nur angkat tangan. Wajahnya bersih dengan janggut rapi yang menghiasi dagunya. Dia dikenal sebagai ustad yang keras dalam dakwah.

“Kyai. Penelitian ini kesannya memojokkan umat Islam. Kenapa kita selalu dicurigai? Kenapa masjid selalu jadi sasaran? Dulu, pesantren yang dicurigai sarang teroris, sekarang masjid. Apa maunya negara ini?” Kata Ustad Zaitun Nur berapi-api.

Salah seorang peserta lainnya angkat tangan, “ Betul. Rezim ini betul-betul sangat buruk. Umat Islam senantiasa dipojokkan. Kita ini selalu dianggap biang keladi dari segala persoalan bangsa. Padahal, kita lah yang berjasa untuk membangun bangsa ini. Tanpa umat Islam, Indonesia tidak bisa merdeka!”

Forum menjadi riuh. Suara lantang dari keduanya mendapatkan respon riuh dari peserta sidang lainnya.

“Saya menolak apabila masjid dianggap radikal. Tidak ada itu. Ini hanya permainan pemerintah untuk mengkerdilkan peran umat Islam! Saya berharap kepada bapak ketua untuk mengirim surat kepada Dewan Ulama Pusat, bahwa ulama di sini menolak dengan tegas apabila ada masjid disebut sebagai masjid radikal.” Kata seorang ulama lainnya.

“Bukan masjid radikal, tetapi masjid terpapar radikal.” Sela Kyai Abdul Hamid.

“Apapun itu, Kyai. Ini hanya permainan diksi. Kepentingan jelas bisa kita baca.”

Kyai Saleh hanya tersenyum kecil melihat keriuhan para peserta. Kumpulan orang-orang yang dilabeli muli oleh umat Islam. Kyai Saleh pun tersenyum melihat raut wajah Kyai Abdul Hamid yang kebingungan melihat respon para peserta yang sedemikian semangat.

“Bagaimana pendapat Kyai Saleh?” Kyai Abdul Hamid tiba-tiba mengajukan pertanyaan. Kyai Saleh tampak sedikit terkejut. Sejujurnya, dia tidak berselera untuk memberi pendapat.

“Apa yang harus saya beri pendapat, Kyai? Bukankah para ulama kota sudah memberikan pendapatnya dan pendapat mereka sudah jelas.”

“Tetapi kalau menurut Kyai Saleh sendiri, bagaimana? Apa setuju dengan pendapat para peserta yang sudah bicara?”

Kyai Saleh tidak segera menjawab. Dia lebih memilih menyeruput kopi yang kepulan asapnya masih terlihat jelas. Suasana mulai hening. Para ulama menanti jawaban Kyai Saleh.

“Saya setuju dan sekaligus tidak setuju.”

“Maksudnya, Kyai?” Ustad Zaitun Nur menyela.

“Pendapat yang mengatakan bahwa kata-kata radikal adalah cara penguasa untuk mengerdilkan umat Islam dengan pengawasan. Saya setuju. Itu harus dilawan! Kita ini pernah merasakan bagaimana sulitnya berekspresi sebagai umat Islam di zaman orde baru.

Kalimat-kalimat ulama yang tidak sesuai dengan kepentingan penguasa akan mudah diperkarakan. Saya setuju, kita bersuara keras kepada pemerintah untuk menghentikan segala tindakan yang membuat tokoh agama tersudut dengan cara-cara politis, termasuk dengan mengawasi masjid dan membuat kesimpulan terburu-buru terhadap masjid.

Saya setuju dengan semua itu. Itu juga berarti kita berada pada garis ulama, yang memberi nasihat kepada penguasa sekaligus melindungi umat dari perlakuan yang semena-mena. Saya setuju dengan anda semua!”

Suasana hening. Meski suara Kyai Saleh tidak berapi-api tetapi setiap kalimatnya mendentum semangat. Para tokoh agama yang hadir merasa senang dengan ucapan Kyai Saleh.

“Tabe Kyai. Terus yang Kyai Saleh tidak setuju apa?” salah seorang peserta bertanya.

Kyai Saleh tersenyum kecil. Dia kembali memberi jeda sejenak.

“Tidak usah terlalu tegang. Minumlah dulu! Kopi itu bisa menyegarkan pikiran antum semua!” Kata Kyai Saleh sembari menyeruput gelas kopi yang kepulan asapnya semakin lemah dan sebentar lagi hilang. Sebagian yang lain mengikuti.

“Setujukah kalau negara kita ini negeri damai, bukan negeri perang?” Tanya Kyai Saleh.

“Iya, Kyai. Kami setuju. Indonesia dar salam bukan dar el-harb!”

“Sepakatkah kita, bom bunuh diri dalam suasana damai adalah sebuah kesalahan?”

“Sepakat, Kyai. Tentu saja. Sikap kita tegas. Bahwa perilaku kekerasan seperti bom bunuh diri adalah kesalahan.”

“Sepakatkah kita bahwa terorisme adalah sikap yang kita tidak setujui bersama-sama!”

Para peserta sidang menganggukkan kepala.

“Baik. Berarti kita sudah bersepakat pada dua hal. Kita bersepakat agama tidak boleh dijadikan alasan untuk berbuat kekerasan dalam situasi damai. Dan kita bersepakat dengan negara tidak boleh melakukan pengerdilan terhadap dakwah agama. Benar kan?” Kata Kyai Saleh menegaskan.

Para tokoh agama yang hadir kembali manggut-manggut.

“Saya lanjutkan, tugas negara adalah melindungi rakyat dari segala bentuk tindakan yang berujung pada hilangnya nyawa rakyat. Pemerintah punya kewajiban untuk menjaga keberlangsungan hidup. Hak hidup adalah salah satu hak yang dilindungi dalam Islam. Jika kita sepakat bahwa teror bom yang dilakukan adalah tindakan yang menghilangkan nyawa umat manusia, apapun agamanya. Itu berarti kita harus bersepakat kalau negara wajib mengambil tindakan guna mencegah munculnya kejadian-kejadian seperti itu. Meski itu kurang enak rasanya bagi kita.”

“Tapi, bukankah Kyai tadi mengatakan bahwa pengawasan masjid adalah pengerdilan umat Islam?”Salah seorang peserta rapat bertanya dengan suara protes.

“Ya. Saya membacanya dari dua sudut pandang.Sudut pandang kita sebagai ulama. Sekarang saya ingin membaca sudut pandang negara. Biar kita adil dalam bersikap.”

Suara Kyai Saleh sedikit meninggi.

“Bagi saya, negara berhak untuk memberikan perlindungan kepada rakyatnya dari kemungkinan pikiran-pikiran yang bisa mengakibatkan tindakan kekerasan seperti teror bom. Tentu saja, ketika negara menggunakan asumsi perlindungan itu untuk mencurigai dan menghabisi para ulama, saya tidak bersepakat.”

“Lalu apa sikap kita menurut Kyai Saleh?” Tanya Kyai Abdul Hamid.

“Sebelum sampai ke situ, saya ingin ingatkan. Tokoh agama adalah panutan, teladan. Ulama adalah penutur kebenaran. Kita semua ini punya komunitas, punya santri, punya jamaah. Apa yang diucapkan dan dilakukan oleh ulama akan ditiru oleh jamaahnya.

Ketika seorang ulama berteriak kasar, maka itu bisa menjadi pembenaran bagi jamaah atau santri untuk melakukan hal serupa, bahkan bisa lebih dari itu. Toh, mereka menirunya dari tokoh agama yang mereka idolakan. Jadi, jika kita mengatasnamakan diri sebagai ulama, tokoh agama, atau apapun, berupayalah untuk memberi perspektif yang luas kepada jamaah untuk satu peristiwa.”

Lalu, bagaimana seharusnya kita merespon surat tentang masjid yang terpapar radikal, Kyai?”

“Kita buktikan bahwa masjid tidak ada yang terpapar radikal, tidak ada yang menganjurkan terorisme, Islam agama damai dan rahmatan lil alamin. Mengayomi, mencintai, melindungi. Mari kita buktikan! Mari kita buktikan bahwa penelitian itu memang keliru.

“Bagaimana kalau ternyata memang pemerintah hanya menggunakan sebagai alat untuk mencurigai umat Islam?”

“Mari kita lawan! Tapi ingat baik-baik! Yang antum sebut pemerintah adalah juga umat Islam.”

Suara azan dhuhur terdengar dari masjid raya. Kyai Abdul Hamid menutup sidang. Sikap selanjutnya akan dirapatkan oleh tim kecil, para pemimpinan teras Dewan Ulama Kota.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

1 comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.