Locita

Lagu Aisyah Yang Tidak Disukai Tetapi Dinikmati

Azka-Muslim-Aisyah-RA-Reperesentasi-Ulama-Perempuan-di-Zaman-Nabi-Muhammad-SAW-800x480

Kalau kita mau berdamai sedikit, lagu ini sebenarnya melengkapi karakter Aisyah sebagai istri, selain sebagai ilmuwan, atau sebagai patriot

Pukul 10.05.

Seusai berolahraga kecil, Ale segera menuju rumah Kyai Saleh.

Ale segera menyapa Sang Kyai yang tampak sedang duduk santai di teras rumahnya.

“Kyai. Semalam Ais menghubungi saya. Mauki bikin pengajian on-line. Yusran sama Tesa juga. Sudah lama bede tidak mendengar nasihatta.”

“Ais dan Yusran memang dimana?”

“Ais pulang kampung, Kyai. Yusran lagi di rumah kerabatnya di luar kota. Reda-reda pi situasi baru balik ke sini. Itumi mereka usulkan pengajian on-line.”

 “Caranya?”

Ale segera membuka laptop. Dia memperlihatkan dan menjelaskan satu aplikasi meeting on-line yang sedang populer. Kyai Saleh manggut-manggut mendengarnya.

“Baik Kyai. Saya balik dulu mandi. Jam 11 kita on air”

Kyai Saleh menganggukkan kepada. Ale segera kembali ke rumahnya.

*****

Jam sebelas tepat. Kyai Saleh berada di depan laptop Ale. Di layar tampak wajah Ais, Yusran, Tesa, dan beberapa orang santri Kyai Saleh. Beberapa wajah asing yang tidak dikenali oleh Kyai Saleh juga muncul.

Setelah saling menyapa dan berbasa-basi sejenak, Ais yang sedang di hadapan laptop mengajukan pertanyaan. “Kyai, sudahki dengar lagu Aisyah?”

“Lagu yang mana Ais?” Kyai Saleh bertanya kembali. Ais buru-buru mengambil ponselnya dan memperdengarkan lagu versi Annisa Rahman.

“Oh, lagu itu. Saya sudah dengar. Kata Sampara diperdebatkan, ya?”

“Iye, Kyai. Sambarang mentong ini netizen, biar lagu juga na-persoalkan.” Tesa menyeletuk.

“Iye, Kyai. Ini lagu banyak bede tidak suka tetapi nahapalki liriknya.” Salah seorang peserta ikut nyeletuk.

“Menurut Kyai, bagaimana?” lanjut Ais.

“Enak didengar.” Jawab Kyai Saleh. 

“Liriknya, Kyai. Banyak yang permasalahkan. Katanya Aisyah digambarkan seperti perempuan manja.”

“Tidak ada itu perempuan yang tidak mau manja sama suaminya. Almarhum ibu juga dulu suka manja-manja.”

“Anu, Kyai. Katanya mereduksi karakter Aisyah sebagai ummul mukminin”. Yusran menyela. Ais tampak manggut-manggut menyetujui kalimat Yusran.

“Saya sudah dengar lagu ini. Liriknya tidak ada masalah. Semua ada rujukan hadisnya. Dan hadisnya diriwayatkan dari Siti Aisyah ra sendiri.”

“Masa Kyai? Yang liriknya lari-lari bersama nabi?”

“Ada hadisnya dalam musnad Imam Ahmad. Siti Aisyah menceritakan bahwa dalam suatu perjalanan, beliau menantang Rasulullah lomba lari. Karena tubuh Aisyah masih kurus saat itu, beliau bisa mengalahkan Rasulullah. Beberapa tahun kemudian, ketika Aisyah semakin berat badannya, beliau lomba lari dengan Rasulullah dan kali ini Rasulullah mengalahkan Aisyah. Rasulullah  berkata, ini impas dari yang lalu. Kalau bahasa sekarang, satu sama.”

Ais dan yang lainnya manggut-manggut.

Sampara yang datang membawa kopi untuk Kyai Saleh hanya bengong. Dia tidak ingin mendekat tetapi dia juga tidak bisa terlibat. Dia memberi kode ke Ale. Ale memberi isyarat diam. Sampara semakin dongkol.

“Kalau lirik lainnya Kyai?” Ais semakin bersemangat.

“Ada hadisnya. Cari saja diinternet, pasti mudah didapatkan hadis yang menyebutkan sikap Rasulullah kepada istri-istrinya. Beliau pernah berbaring di pangkuan Aisyah, lalu Aisyah menyisir rambut Nabi, Nabi pernah mencuit atau mencubit hidung Aisyah ketika Aisyah marah dan meminta Aisyah berdoa. Nabi pun pernah meminum di gelas bekas Aisyah dan juga pernah makan daging bekas gigitan Aisyah. Lirik lagu itu sepertinya hasil adaptasi dari hadis-hadis yang diriwayatkan dari Siti Asiyah. Sedikit ada kekeliruan ketika menyebut tidur di jilbab dan mengikat rambut. Tetapi kita paham maksudnya apa.”

“Jadi, kenapa bisa ramai Kyai?” Tesa ikut bertanya.  

“Mungkin karena dipopulerkan oleh akun lelaki empat istrinya di dalam mobil itu e. Jadi banyak yang baper Kyai.” Yusran menyela. Semua tertawa. Kyai Saleh pun ikut tersenyum.

“Kenapa bisa ramai, Kyai?” Tesa mengulang pertanyaannya.

“Ingatan sejarah dan konteks” Jawab Kyai Saleh singkat.

“Serumi ini. Mulaimi Kyai mengeluarkan jurus membingungkan. Pasti Sampara pusing ini.” Yusran berbicara dengan nada yang dikeraskan. Sampara mendongakkan kepala mendengar namanya terdengar dari suara laptop.

Kyai Saleh tersenyum.

“Maksudnya Kyai? Apa yang masalah dengan ingatan sejarah dan konteks.” Ais segera menyela.

Sang Kyai tidak segera menjawab. Dia menyeruput kopi yang ada di samping laptop.

“Begini. Aisyah yang diperkenalkan sejarah kepada kita adalah wanita cerdas, sabar, tangguh, dan pemberani. Beliau menghafal ribuan hadis dan menjadi salah satu rujukan hukum Islam setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Tidak ada ingatan sejarah di kepala kita tentang situasi bermanja-manja, meski kemungkinan itu selalu ada. Nah, lagu ini datang dengan cara yang berbeda. Seolah mengoreksi ingatan publik tentang sosok Aisyah. Ini bukan soal salah dan benar. Ini soal cara menghadirkan. Apa lagi istilahnya Yusran?”

Politic of representation, Kyai”.”

“Nah, ideologi bekerja dalam ‘cara menghadirkan’ itu. Cara pandang pembuat lirik dan pendengar mungkin berbeda. Bagi yang kontra menganggap seolah-olah ini mereduksi karakter ummul mukminin. Kalau kita mau berdamai sedikit, lagu ini sebenarnya melengkapi karakter Aisyah sebagai istri, selain sebagai ilmuwan, atau sebagai patriot. Jadi, bukan reduksi. Semua hubungan suami istri di dunia ini ada kisah romantis dan manja-manjanya. Bahkan dalam beberapa kitab disebutkan karakter Siti Aisyah yang pencemburu. Itu relasi khas dalam ikatan suami isteri. Bagi yang jomblo, mana paham?”

Wajah Ais memerah. Kalimat terakhir Kyai Saleh tampak ditujukan kepadanya. Peserta meeting online tertawa.  

“Kalau konteks, Kyai?” Ais melanjutkan pertanyaan. Dia segera mengendalikan situasi agar tidak terjebak dalam rantai ejekan.

“Meski lirik-lirik ini berasal dari hadis tetapi ada konteks yang tidak disertakan. Hadis tentang lomba lari itu berada dalam situasi perjalanan bersama para sahabat. Ini perjalanan dakwah yang ditempuh dengan jalan kaki. Dalam situasi itu, Aisyah mengajak Rasulullah lomba lari.  Ini  bukan sekadar mencerminkan keharmonisan, tetapi bahwa dalam perjuangan fisik, Aisyah juga ikut serta. Jadi konteksnya, perjuangan. Sayangnya, kata lari-lari ini disandera oleh ingatan dan konteks lain. Para pendengar mungkin terbiasa nonton film india atau film romantis yang ada adegan saling mengejar. Jadilah lirik lari-lari itu ke arah sana. Muncullah kritik di media sosial.  Artinya, lagu itu tidak sukses merujuk ke peristiwa antara Aisyah dan Rasulullah, tetapi membelok ke ingatan dan konteks lain. Gaduhmi!”

“Ini perdebatan sesama penonton film India, kayaknya Kyai!” Yusran kembali menyela. Suasana kembali mencair.

“Kalau lirik lainnya, Kyai?” Ais kembali mencecar pertanyaan.

“Hadis tentang Nabi meminum di bekas gelas Aisyah, tidur di pangkuan Aisyah tidak dimaksudkan untuk menceritakan romantisme belaka, tetapi penghargaan terhadap perempuan.”

“Maksudnya Kyai?”

“Kalau yang membaca hadisnya pasti tahu, di semua hadis tentang itu disebutkan bahwa Siti Aisyah dalam keadaan haid. Hadis-hadis ini dalam kitab fiqih biasanya ditemukan dalam bab pembahasan tentang haid. Hadis ini menunjukkan penghargaan Islam terhadap perempuan haid melalui sikap Nabi kepada istrinya. Ini kritik terhadap banyak kebudayaan, termasuk kebudayaan Arab Pra-Islam yang memandang perempuan haid sebagai perempuan kotor. Bahkan ada kebudayaan yang membuat rumah kecil terpisah dari rumah besar, tempat para perempuan haid diisolasi selama masa haid. Haid dianggap sebagai penyakit. Jadi, ini bukan soal romantisme tetapi kemanusiaan.”

Para peserta terdiam sejenak.

“Bagaimana kalau lagu itu menginspirasi orang untuk mendapatkan wanita seperti Siti Aisyah, Kyai?” Salah seorang bersuara memecah keheningan.

Kyai Saleh terdiam sejenak, “Bagus sekali. Berarti dia harus menaikkan level kualitas dirinya mendekati Rasulullah. Wanita mulia untuk pria mulia. Jangan sampai berwatak seperti Abu Lahab tetapi mendambakan seperti Ummu Aisyah. Hayhata!”

Suasana kembali hening. Kyai Saleh mengernyitkan dahi. Jaringan tiba-tiba terputus. Semua wajah di laptop itu meghilang. Melihat itu, Ale buru-buru mendekat. Sembari garuk-garuk kepala, Ale berkata: “Terbatas memang waktunya Kyai. Masih gratis, belum berbayar.”

Kyai Saleh tersenyum kecil.

 

 

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Add comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.