Locita

Kyai Saleh Menolak Naik Haji

Kyai Saleh baru saja hendak berbaring, namun dari arah depan terdengar suara lelaki yang mengucap salam. Kyai Saleh segera membuka pintu.

Lelaki yang berpakaian necis itu tersenyum lebar dan segera menciumi tangan Kyai Saleh. Kyai Saleh mempersilahkan lelaki itu duduk di teras sembari mengingat-ingat lelaki ini. Untuk sementara di kehilangan jejak ingatan.

“Gunawan, Kyai?”

“Gunawan????” Kyai Saleh masih mencoba menelusuri kedalaman ingatannya, namun masih gagal. Nama yang disebutkan tidak membantu ingatannya. Kecuali, wajahnya yang secara samar seperti pernah dikenalinya.

“Saya Kyai. Anak muda yang babak belur gara-gara mencuri ayam Haji Dulla. Untung Kyai datang menolong saya.”

Kyai Saleh semringah. Kalimat Gunawan ini segera menyegarkan ingatan Kyai Saleh.

Dulu, dia adalah pemuda ceking yang dulu hampir meninggal dihajar warga. Kyai Saleh menolongnya. Dia yang menjamin warga kalau Gunawan tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Kyai Saleh meminta Gunawan merantau dan memberikan modal yang secukupnya.

“Wah, kamu gemuk sekarang.” Kata Kyai Saleh.

“Alhamdulillah, Kyai. Doa dan uang yang kyai berikan menjadi berkah bagi saya. Tentu ini mempengaruhi ukuran tubuh saya.” Kata Gunawan.

“Alhamdulillah. Ha ha ha” Ucap Kyai Saleh sambil tertawa.

Lalu, Gunawan menceritakan sekelumit kisah ketika meninggalkan kampung ini dan membuka usaha di negeri Kalimantan, dengan modal uang yang diberikan oleh Kyai Saleh. Usaha yang dirintisnya pelan-pelan berkembang. Dia bahkan telah membuka cabang di beberapa tempat, termasuk di kota ini.

Kyai Saleh mengangguk-angguk mendengar cerita Gunawan.

“Kamu rutin membayar pajak dan zakat.”

“Alhamdulillah Kyai.”

“Naik haji?”

Gunawan tersenyum sembari meyeruput kopi yang baru saja diantar oleh Sampara itu.

“Itulah tujuan kedatangan saya kesini, Kyai.”

“Oh, ya! Baguslah. Itu memang kewajiban kita sebagai umat Islam yang sanggup melaksanakan perjalanan.”

“Iye, Kyai. Tahun ini saya akan naik haji melalui jalur ONH Plus.”

Kyai Saleh kembali mengangguk-angguk.

“Saya ini datang bermaksud mengajak Kyai Saleh ikut naik haji bersama dengan saya.”

Kyai Saleh memandangi Gunawan sejenak. Gunawan tersenyum dengan mata berbinar. Dia meyakini Kyai Saleh senang dengan tawarannya.

“Saya sudah menunaikan kewajiban haji bersama guruku Mbah Bisri dan sahabatku Kyai Jafar beberapa puluh tahun yang lalu.” Kata Kyai Saleh.

“Ooo… cocokmi Kyai. Sudah lama kita tidak kunjungi Mekkah. Bukankah Kyai sering mengajarkan kepada santri tentang pahala salat di masjid haram. Kalau tidak salah seratus ribu kali lipat dengan salat di masjid lain.”

“Betul.” Kyai Saleh mengangguk-angguk.

“Nah, bagaimana Kyai?

“Saya tidak berminat lagi naik haji” Kata Kyai Saleh dengan nada datar.

Gunawan mengernyitkan dahi. Kalimat Kyai Saleh aneh baginya. Seorang tokoh agama tidak merindukan Ka’bah? Bagaimana bisa?

“Kyai tidak merindukan Tuhan? Tidak merindukan Ka’bah?”

“Yang rindu adalah yang berjarak.”

Hening. Gunawan mencoba meresapi kalimat Kyai Saleh. Namun, dia gagal.

“Saya tidak mengerti, Kyai!”

“Tuhan ada di masjid Kalimana, ada di rumah ini, ada di hati kita. Ka’bah saya temukan sehari-hari dalam salat. Lalu apa yang membuat saya rindu? Saya rindu apa? Biasanya yang rindu adalah yang terpisah dan berjarak dari yang dirindukan.”

Gunawan mengernyitkan dahi. “Kalau begitu, saya tidak usah juga naik haji Kyai?”

Giliran Kyai Saleh tersentak. Dia menyadari kalimatnya terlalu filosofis untuk Gunawan.

“Agama itu salah satu ukurannya ketaatan, nak Gunawan. Allah memerintahkan kepada kita untuk naik haji, lakukan. Ini kewajiban yang bersifat formal. Menandakan bahwa kita taat pada perintah-Nya. Tetapi hanya satu kali.”

“Kalau saya ingin melakukan berkali-kali karena saya sanggup?”

“Tidak ada larangan, juga tidak ada perintahnya. Boleh saja!”

“Lalu kenapa Kyai menolak permintaanku?”

“Saya tidak menolak. Saya hanya menjawab bahwa kalau naik haji karena rindu kepada Allah dan Ka’bah, bukanlah motivasi bagi saya. Dan memang saya tidak berminat lagi naik haji.”

“Pahala yang berlipat adalah janji Allah. Apakah Kyai tidak ingin?”

“Sangat ingin.”

“Nah, ini saatnya Kyai. Saya ingin mengajak Kyai.”

Kyai Saleh tersenyum kecil melihat kegigihan Gunawan mengajaknya.

“Nak Gun. Sikapmu membagi rezeki itu sudah benar tetapi bukan pada orang yang tepat.”

“Maksudnya?”

“Kamu tahu kan? Antrian haji di negara kita sungguh panjang. Ada jutaan orang muslim di Indonesia ingin naik haji. Saya dzalim apabila mengambil jatah mereka itu. Saya sudah pernah menunaikan kewajiban haji. Tempat yang kau tawarkan kepada saya itu serahkanlah kepada orang lain yang belum pernah naik haji. Itulah cara saya berbagi.”

Gunawan menganggukkan kepala. Kalimat “penolakan” ini lebih mudah dipahami.

“Jadi, saya harus mencari satu orang lagi untuk mengganti Kyai Saleh?”

“Bisa begitu. Bisa juga uang yang kamu niatkan untuk menghajikan saya, kau sedekahkan. Ada banyak orang di negeri ini yang kesulitan hidup. Banyak anak yatim. Banyak orang terlantar. Ada banyak orang yang setiap hari menanti kematian karena lelah hidup. Berilah kehidupan kepada mereka. Ini pekerjaan yang ditawarkan Tuhan kepada kita di dunia ini. Menyebar kebahagiaan dan menikmatinya bersama.”

Gunawan terdiam. Kalimat Kyai Saleh meresap ke dalam jiwanya.

Semburat merah terlihat di langit, Gunawan pamit pulang.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

6 comments

  • Masya Allah…Alhamdulillah…sungguh mulia hati kyai saleh…
    Dimana bs sy ketemu kyai saleh…??? 😊😊😁

  • Alhamdulillah tulisan ini mengakarkan kepada kita agat tidak ambisius mengambil yg semestinya menjadi hak orang lain. Terkadang kita tamak dan lupa kepada saudara kita yang lain. Luar biasa kiyai SALEH.

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.