Locita
Sumber gambar: Pikiran Rakyat

Kyai Saleh di antara Cebong, Kampret, dan Golongan Putih

SEPERTI kampung lain di negeri ini, Kalimana pun terkena demam politik. Pendukung Jokowi dan Prabowo pun ada. Perbincangan tentang siapa capres terbaik dalam versi masing-masing pun menggema dimana-mana.

Yang pilih Jokowi punya argumentasi panjang untuk mendukung dan menolak Prabowo, begitu pula pendukung Prabowo. Narasi saling menyerang satu sama lain dengan intensitas yang sedang pun kerap terjadi.

Hampir semua orang di Kampung Kalimana sudah menyatakan pilihan, kecuali Kyai Saleh.

Tak sekalipun Kyai Saleh menyatakan dukungan kepada salah satu calon. Para santri pun merasa penasaran tentang siapa pilihan sang Kyai.

“Siapa nanti kita pilih di pilpres, Kyai?” tanya Tesa di suatu sore.

“Ada tong,” jawab Kyai Saleh yang membuat Tesa dan beberapa santri lain garuk kepala.

“Masa tidak ada pilihan ta?”

“Tadi saya bilang ada to. Saya ndak bilang tidak ada.”

“Iye, Kyai. Tapi bagus tong kalau kita tau pilihan ta. Tidak golput jaki to?”

“Ndak lah. Saya warga negara dan warga politik. Ketika negara kita meminta jari kita untuk memilih, lakukanlah. Tidak susah ji to?”

“Jadi, siapa ji nanti kita pilih ini, Kyai?”tanya Tesa kembali.

“Kalau kamu sendiri pilih siapa, Tesa?” Kyai Saleh balik bertanya.

“Saya pilih Jokowi, Kyai.” Jawab Tesa dengan mantap.

“Kau, Sampara?”

“Saya pilih Prabowo nanti Kyai,” jawab Sampara juga dengan nada mantap.

“Nah, coba bayangkan. Kalau pilihan saya diketahui oleh salah satu dari kalian. Kelak kalian akan menyeret-nyeret saya dalam perdebatan kalian. Saya tidak ingin pilihan politik saya membuat yang berbeda merasa kecil hati atau yang sama pilihan dengan saya berbangga hati. Dunia ji inie.”

Para santri tertawa.

“Kalau Yusran pilih yang mana?” tanya Kyai Saleh kepada Yusran yang diam sejak tadi.

“Saya belum tentukan, Kyai. Soalnya tidak ada yang punya kebijakan untuk binatang. Saya kan pecinta kucing. Tidak ada yang singgung-singgung kucing dikampanyenya. Jadi saya masih amati dulu, sampai hari H.”

“Jangan-jangan golput ko, Yusran!” sergah Tesa.

Kenapai kah? Tidak apa-apa ji to? Bagaimana, Kyai?” Yusran mengalihkan wajah ke arah Kyai Saleh sembari menghindari pandangan Tesa yang mendelik.

“Memilih itu pada prinsipnya hak bukan kewajiban. Hak ini bisa digunakan, bisa pula tidak. Artinya kalau ada orang dengan kesadaran tertentu memilih untuk tidak memilih, ya itu hak dia. Tidak ada yang bisa melarang. Tetapi ketika haknya disiar-siarkan ke publik dan mengampanyekan golput. Dia akan berhadapan dengan sistem yang telah diatur oleh negara. Ada larangan untuk mengkampanyekan golput, kan?”

“Tapi menurut saya, tidak ada ji gunanya golput di saat sekarang ini.” Sampara ikut menimpali.

“Eh, sama saja kalau saya bilang, tidak adaji gunanya memilih kalau dua-duanya hampir sama corak kebijakannya,” kata Yusran.

“Sudah, sudah! Tidak perlu berdebat. Kalau sudah sepakat dengan demokrasi, berarti sepakat dengan perbedaan. Beda pilihan, memilih atau tidak memilih adalah hak warga. Tidak ada yang bisa memaksakan itu. Kita ini levelnya warga, tugasnya memilih salah satu dari dua pilihan. Jangan jadi tim sukses!”

“Yang saya tidak suka Kyai, karena ada istilah cebong dan kampret di politik kita kali ini.” Yusran menyela.

“Istilah ini menurut saya merusak tatanan kemanusiaan kita Kyai. Masa gara-gara politik kita berubah jadi hewan. Kalau setuju dengan Jokowi, otomatis dipanggil cebong. Kalau setuju dengan Prabowo, pasti disebut kampret.”

“Kalau tidak setuju dua-duanya, apa namanya?” tanya Kyai Saleh.

“Hantu, Kyai!” Sampara menjawab.

“Hahahahahhahaha…….” Tesa tertawa keras.

“Jadi yang golongan putih ini hantu, ya. Sampara!”

“Iya. Karena tidak ada ji pilihannya tapi ikut tong komentar.”

Kyai Saleh tersenyum. Wajah Yusran agak memerah. Kalimat Sampara tampaknya ditujukan kepadanya.

“Begini. Politik itu hanya cara, bukan tujuan. Tujuan bernegara adalah kesejahteraan, keadilan hukum, dan kedamaian bersama. Para pejuang telah bersepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai pegangan bersama semua warga Indonesia. Tak peduli apa warna kulitnya, rambutnya, agamanya, semua harus hidup bahagia di Indoesia. Pilihlah pemimpin yang menurut kalian bisa memastikan hal tersebut tetap berlangsung di Indonesia.”

“Cocokmi Kyai. Pilihan saya bisa melakukan itu dan sudah terbukti,” kata Tesa.

“Kasih tawwa kesempatan pilihan saya. Pasti juga dia bisa melakukannya.” Sampara tidak mau kalah.

“Nah, kalau kalian berdua yakin pilihannya bisa membawa kepada kebaikan bangsa ini. Lalu, apa yang membuat kalian harus berdebat? Kalian bukan tim sukses kan?” kata Kyai Saleh. Tesa dan Sampara menganggukkan kepala.

“Ingat! Suatu ketika Ali r.a ditanya oleh seorang warga. Apa rahasia Abu Bakar, Umar, dan Usman bisa memimpin dengan baik. Ali r.a menjawab, karena saya warganya.”

“Maksudnya Kyai?”

“Kualitas kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh pemimpinnya tetapi juga warganya. Jika warganya berkualitas setara dengan pemimpinnya seperti Ali yang setara dengan para khalifah, maka kepemimpinan dengan mudah bisa dilaksanakan dengan baik.”

Yusran, Tesa, dan Sampara mengangguk-anggukan kepala.

“Dan, kalian harus minta maaf sebesar-besarnya kepada cebong dan kampret.”

“Kenapa Kyai?”

“Mereka itu tidak tahu apa-apa. Tapi kalian seret-seret dalam perdebatan politik. Bayangkan, kalau ternyata ada cebong betulan yang mendukung Prabowo dan ternyata ada kampret betulan yang mendukung Jokowi. Apa kalian tidak pertimbangkan perasaaan mereka? Apakah kecebong yang ternyata pendukung Prabowo itu harus disebut kampret? Apakah kelelawar pendukung Jokowi itu harus disebut cebong. Jangan kacaukan dunia mereka?”

“Hahahhahahaha… Sambarang ta Kyai. Memangnya ada binatang ikut memilih.” Tesa berbicara sembari melepas tawa.

“Kalau hantu, Kyai?” Sampara bertanya dengan nada memancing.

“Bukannya ini memang makhluk tidak jelas dari sananya.”

Tesa dan Sampara kembali tertawa. Yusran pun ikut larut. Sore telah memendar semburat kemerah-merahan.

Langit yang tadi mendung, kembali menjadi terang. Sampara segera bergegas ke masjid untuk melantunkan azan Magrib.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Add comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.