Locita

Kyai Saleh dan Seorang Atheis.

Sumber Gambar (Ilustrasi. www.Newyorker.com)

“Gilanggg!!!!” dengan setengah menjerit Yusran menyebut nama lelaki yang berdiri di depan pintunya. Lelaki itu tersenyum kecil. Yusran segera memeluknya dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu.

“Gemukko kuliat ini, Yusran!”

Yusran hanya tersenyum. Dia masih merapikan keterkejutannya. Dia benar-benar tidak menduga.. Sejak selesai kuliah, mereka sudah tidak tersandera oleh kesibukan masing-masing. Yusran memilih menjadi wartawan lepas. Sementara Gilang menghilang begitu saja tanpa kabar.

“Kamu kemana saja? Kukira matimoko. Apa kesibukanmu sekarang?”

Gilang tersenyum kecil atas berondongan pertanyaan Yusran. “Saya tidak kemana-manaji. Saya masih setia mewartakan kebenaran!”

Ah, Gilang memang penyuka filsafat. Dia menyukai cara berfikir filsafat yang njelimet tetapi mengasyikkan. Gegara filsafat, Gilang berani mendekonstruksi dogma agama. Dia sangat skeptis terhadap agama dan berniat meninggalkannya.

Setelah beberapa lama bernostalgia, suara azan dari masjid Nurul Autar terdengar menggema.

“Bro, ayo ke masjid salat.” Ajak Yusran dengan sedikit ragu.

“Cie-cie…. Sudah rajinmoko ke masjid di?”

“Kewajiban sebagai umat muslim bro. Lagian di sini ada Kyai yang asyik. Dia bisa mengajari kami cara beragama dengan santai dan penuh persahabatan.”

“Oh, ya. Keren juga itu. Tapi bagiku agama sudah bangkrut. Dia barang kuno yang tidak berhasil menjalankan misinya untuk dunia.

Alih-alih membawa perdamaian seperti janjinya, agama justru menjadi pemicu perang. Bukan hanya antar kelompok agama, di dalam agama yang sama pun terjadi klaim kebenaran. Saya sudah tidak beragama, bro.”

Yusran sejatinya tidak kaget. Ini adalah prinsip lama Gilang sejak belajar filsafat. Dia menyukai Marx dan menggilai Nietzche.

Yusran hanya sedikit heran, Gilang masih berada dalam titik yang sama dan tidak beranjak setelah sekian lama.

“Saya juga dulu skeptis dengan agama, tetapi Kyai Saleh membuatku paham bahwa ada sisi asyik dari beragama yang tidak terjamah oleh akal. Mengasyikkan juga. Sama asyiknya ketika dulu saya menggilai filsafat di kampus.”

Gilang cuek saja. Kalimat Yusran tidak menyentuhnya untuk penasaran. Dia memilih menyeruput kopi buatan Yusran.

“Kamu masih percaya Tuhan, kan?”

“Apa Tuhan memang ada?”

Yusran terkejut. Dia tidak menduga filsafat tidak hanya menjauhkan Gilang dari agama tetapi juga dari Tuhan.

“Saya tinggal dulu, bro. Habis salat Asar nanti ke rumahnya ki Kyai Saleh.”

“Ah, malas ketemu orang seperti itu, kyai, ustad, pendeta, bla-bla. Saya trauma. Mereka semua angkuh. Merasa sebagai pemilik kebenaran. Saya dikatain kafir, munafik, dan segala sumpah serapah. Seolah mereka pemilik kesucian.”

“Saya jamin Kyai satu ini berbeda. Saya tinggal dulu na. Jangan ngacir. Anggap saja rumah sendiri.”

Gilang hanya tersenyum kecil dengan wajah tak berminat.

Yusran segera menuju masjid dengan langkah cepat. Suara iqamat sudah terdengar.

*****

Gilang akhirnya luluh, setelah Yusran beberapa kali mendesaknya. Dengan langkah yang malas, Gilang mengikuti Yusran menuju ke rumah Kyai Saleh. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 200 meter.

Kyai Saleh sedang membaca di teras rumah ketika Yusran dan Gilang datang. Secangkir kopi dan sepiring pisang goreng tersaji di depan meja, seperti biasa.

“Assalamu alaikum, Kyai.”

“Waalaikum salam. Tadi kamu tidak ke masjid, Yusran?”

“Adaja Kyai. Tapi cepat pulang. Karena ada tamu di rumah.”

“Oooo…Ku kira tidak datang. Itu tamumu muslimji

“Iye, Kyai.”

“Kenapa tidak ajak sekalian ikut salat jamaah.”

Yusran tidak menjawab. Gilang memasang wajah kecut. Kalimat Kyai Saleh adalah kalimat standar seorang agamawan. Ukuran keimanan, kesalehan selalu pada yang formal. Gilang skeptik.

Kyai ini tidak berbeda dengan yang lain, seperti gembar-gembor Yusran. Kalau tidak menghormati Yusran, dia sudah beranjak pergi.

“Kyai. Bagaimana pendapatta tentang ateis?” Tanya Yusran.

Kyai Saleh mengernyitkan dahi dan menatap Yusran dengan serius.

“Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang ateis?”

“Tidakji Kyai. Cuma mau tau saja.”

“Kita pernah bahasa soal ateis ketika Hawking meninggal dunia. Bagi saya, tidak ada orang ateis. Tidak ada orang yang tidak percaya Tuhan. Dia mungkin hanya menolak konsep ketuhanan orang lain. Atau paling tidak dia ingin menggantikan tempat agama yang dianggap sudah tidak sesuai, dengan konsep lain. Misalnya Marx dengan konsep humanis sosialis dan Nietzche dengan konsep adi manusia.”

Gilang terkejut mendengar nama Marx dan Nietzche disebut oleh seorang kyai. Dia mulai menatap wajah Kyai Saleh pelan-pelan. Gilang menemukan keteduhan.

“Tidak, pak!” Gilang menyela, “kami memang tidak percaya kepada Tuhan. Itu hanya buatan manusia untuk menguasai manusia lain atas nama Tuhan.”

“Kami?????” Kyai Saleh mengernyitkan dahi.

“Iya, pak. Saya ateis. Saya tidak percaya Tuhan ada. Mekanisme alam ini terbentuk secara alamiah. Manusia mati ya selesai.

Tidak ada tanggungjawab apapun. Kami moralis. Kami bertanggungjawab terhadap keberlangsungan alam bukan untuk kepentingan akhirat tetapi untuk kepentingan keberlangsungan alam ini agar seimbang.”

Yusran pucat. Intonasi suara Gilang yang relatif tinggi membuatnya cemas. Namun wajah Kyai Saleh yang tenang dan tersenyum membuatnya ikut tenang.

“Kami yang beriman menerima Tuhan dengan cara meyakini-Nya. Sedangkan kamu percaya pada Tuhan dengan cara menolaknya” Kata Kyai Saleh.

Gilang mengkerutkan dahi, sekaligus terkejut. Jawaban Kyai Saleh diluar dugaannya.

“Maksudnya Kyai?” Yusran bertanya dengan wajah yang ikut bingung.

“Ateis menolak kehadiran Tuhan, setelah mempelajari konsep Tuhan melalui agama. Dia menolak Tuhan dalam agama itu, tetapi menghadirkan-Nya dalam bentuk lain. Tidak ada yang bisa membunuh dan menyingkirkan Tuhan, bahkan Nietzche pun ragu-ragu membunuh Tuhan.”

“Ah, Kyai sok tahu. Nietzche telah membunuh Tuhan. Got is Tot. Tuhan sudah mati.” Gilang menyanggah.

“Ya, Tapi kepada siapa Nietzche meminta bantuan?”

“Maksudnya Pak?”

“Tunggu sebentar.” Kyai Saleh berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia datang dengan membawa buku yang cukup tebal.

“Nietzche mengumumkan kematian Tuhan melalui orang gila. Jelaskan padaku, mengapa Nietzche menggunakan tokoh orang gila sebagai penutur kematian Tuhan?”

Gilang terdiam.

“Ada dua penjelasan. Pertama, orang gila adalah simbol dekonstruksi, simbol kebebasan. Tuhan yang dibunuh orang gila adalah permainan semantik yang dahsyat. Kedua, secara denotasi… yang mengklaim membunuh Tuhan adalah orang gila.”
Wajah Gilang merah padam. Dia merasa tersindir. Tetapi entah kenapa, dia tidak ingin membantah kalimat itu.

“Nak, tahukah kamu melalui Zarathustra, Nietzche pernah memohon Tuhan untuk kembali. Dengarlah puisinya. Saya bacakan.”
Gilang kembali terperangah. Dia benar-benar terkejut Kyai Saleh fasih membincangkan Nietzche.

Kyai Saleh membuka buku dan pelan-pelan membacakan puisi yang disebutnya sebagai puisi Nietzche.

Tidak. Kembalilah dengan semua kesengsaraanmu

Oh, kembalilah kepada penyendiri yang terakhir

Semua linangan air mataku mengalir demi dirimu

dan bara terakhir dari hatiku menyala untukmu

Oh, Kembali-lah

Tuhan-ku yang asing! Deritaku, kebahagiaanku- yang terakhir.

Lalu hening. Gilang terdiam, Yusran terdiam. Kyai Saleh meneguk kopinya.

“Nak, titik pencarian spiritual ada dua. Rasionalitas dan hati. Jalan melalui rasio kadang-kadang terlalu melelahkan. Ada yang bisa, lebih banyak yang gagal. Ateisme adalah titik putus asa dari seseorang yang mencari Tuhan tetapi tidak menemukannya.

Melalui hati, spritualisme justru sangat menenangkan dan menyenangkan. Ya, sesekali membuat gelisah. Jika kelak kamu lelah mencari Tuhan dari jalur pertama, sesekali kamu boleh coba jalur yang kedua.”

Gilang masih terdiam.

“Kyai?” Yusran menyela. “Bolehkah saya menyebut Ateis sebagai orang kafir?”

Kyai Saleh tersenyum.

“Minggu depan di pengajian kita bahas! Minumlah kopi. Hangatkan otak kalian biar jernih.”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Add comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.