Locita

Kyai Saleh dan Salib Yang Terjatuh

“Berhenti sebentar!” kata Kyai Saleh tiba-tiba. Yusran segera menginjak rem. Tesa dan Ale yang sedang asyik dengan gadget-nya terkejut.

“Kenapaki, Kyai?”

Kyai Saleh tidak menjawab. Lelaki tua itu segera turun dan melangkah ke arah belakang mobil. Dari sudut kaca spion, Yusran melihat sang kyai memungut sesuatu.

Tak lama berselang, sang kyai kembali ke mobil sembari membawa sesuatu yang terbungkus dengan kertas.

“Apa itu, Kyai?” tanya Tesa penasaran.

Kyai Saleh geleng-geleng kepala.

“Coba periksa, apa ada alamat yang tertera di bungkusan benda ini.”

Ale segera meraih bungkusan berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 30 meter itu.

“Tidak ada, Kyai!” Kata Ale setelah berkali-kali meneliti detil bungkusan benda itu.

Kyai Saleh mengernyitkan dahi.

“Bagaimana kalau dibuka saja, Kyai?” Tanya Tesa.

Kyai Saleh tidak segera menjawab. Dia memilih diam sejenak, “sebenarnya kita tidak berhak membuka barang yang terbungkus dengan rapi. Siapa tahu itu sangat rahasia bagi pemiliknya.”

“Tapi bagaimana kita mengembalikannya, Kyai? Siapa tahu di dalamnya ada petunjuk.” Ale ikut menimpali.

Ucapan para santri cukup masuk akal bagi sang kyai.

“Begini saja. Kita tunggu disini barang 30 menit. Siapa tahu yang punya barang datang mencari. Setelah itu kita buka.”
Ketiga santri manut. Yusran segera menepi dan memarkir mobil. Mereka keluar dari mobil dan duduk di satu balai yang tak jauh dari tempat mereka.

Sekitar 30 menit mereka menunggu. Tidak ada tanda-tanda si pemilik barang datang mencari.

“30 menitmi Kyai. Jadi bagaimana?”

“Tunggu sebentar lagi. Tidak adaji urusanmu semua to. Baru juga jam 2. Masih bisa dapat salat Asar di masjid.”

Para santri terdiam dan mengikuti arahan sang kyai.

Dugaan Kyai Saleh benar. Dari arah depan, tampak satu sepeda motor datang menyusuri jalan. Mereka celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.

Kyai Saleh segera meminta Tesa untuk menghentikan sepeda motor itu.

“Sepertinya kalian sedang mencari sesuatu?” Tanya Tesa.

Salah seorang pengendara sepeda motor itu turun dan segera mengangguk kepala. “Benar, nak!”

Ale segera berlari menuju mobil dan membawa bingkisan itu.

“Apa bapak mencari ini?” Ale mengangkat bungkusan itu tinggi-tinggi.

Lelaki paruh baya itu tersenyum lebar. Dia mengangguk cepat.

Ale segera berjalan menghampiri.

“Terima kasih semua. Mampirlah ke rumah, tidak jauhji dari sini.” Kata lelaki itu dengan wajah sumringah.

“Terima kasih atas tawarannya. Kami harus melanjutkan perjalanan.” Kata Kyai Saleh.

“Ngomong-ngomong, itu apa pak?” Ale ingin menuntaskan rasa penasarannya.

“Kalian mau tahu?” Si lelaki balik bertanya.

Ale, Tesa, dan Yusran dengan cepat mengangguk.

“Yakin???”

Ketiganya mengangguk lagi.

Meski terkesan ragu, lelaki itu merobek kertas pembungkus benda itu.
Ketiga santri Kyai Saleh terkejut. Yang dipungut oleh Kyai Saleh tadi adalah benda sakral bagi umat Kristen, patung yesus di tiang salib.

Ketiga santri itu terdiam. Kyai Saleh tersenyum melihat perubahan ekspresi wajah ketiga santrinya.
Setelah memperlihatkan isi bungkusan itu, si lelaki bersama kawannya pamit.

*****

“Ternyata salib tadi yang kita amankan, Kyai.” Kata Ale dengan nada sedikit pelan.

“Ya..kenapa memang?” Kyai Saleh balik bertanya.

“Tidak apa-apaji itu, Kyai?”

“Tidak apa-apa. Malah kita dapat pahala membantu mengamankan benda orang. Bagaimana kalau ditemukan orang lain, lalu dijual, dirusak atau dibuang.” Tesa yang menjawab. Kyai Saleh tersenyum.

Sottamu Tesa.” Ale bersungut-sungut.

“Menurut Kyai?”

“Ya, tidak apa-apa. Masa menolong orang harus tanya agamanya dulu. Menebar kebaikan itu adalah sikap personal, bukan tergantung kepada siapa dan apa.”

“Tapi kata Ustad Somad, ada jin dalam salib itu.”

“Wah, pengetahuan saya tentang salib rendah. Jadi saya tidak bisa komentar apa-apa? Mungkin ustad Somad punya argumen sendiri. Sebagai ustad yang memahami agama, tentu beliau tidak mungkin bicara tanpa dasar.”

“Tetapi banyak orang yang menganggapnya penghinaan terhadap agama lain.”

“Narasi yang sudah ke publik itu sudah narasi politis. Maknanya tidak sama lagi ketika dibicarakan secara langsung antara pembicara dan audiens. Karena itulah, saya selalu mewanti-wanti kawan-kawan saya untuk bijak memahami narasi di ruang ketiga, yaitu medsos. Semua pasti menggunakan analisis framing. Apalagi kalau ada memang yang ingin mengobrak-abrik persatuan di negeri kita, Kyai.” Yusran menjelaskan.

Kyai Saleh manggut-manggut.

“Tapi yang saya heran kenapa harus dipermasalahkan sama orang-orang. Itukan kajian untuk umat Islam. Tertutup dan terbatas di masjid.” Kata Ale.

“Iya, tetapi disebar melalui medsos, tidak tertutupmi.” Celetuk Tesa.

Kyai Saleh geleng-geleng kepala.

“Kenapaki geleng-geleng kepala Kyai.”

“Agama itu sebenarnya tidak mengenal batas ruang. Betul ceramah itu disampaikan kepada sesama muslim di masjid. Tetapi orang-orang yang diceramahi ini nanti akan hidup di ruang terbuka. Penanaman ide di ruang yang disebut tertutup itulah yang memengaruhi dia. Nah, kalau orang dari ruang tertutup ini bisa menahan diri, tidak ada masalah tetapi kalau dia menggunakan pengetahuannya di ruang tertutup itu ke ruang terbuka, ya tetap bermasalah.”

“Misalnya kyai?”

“Kalian ikut ceramah saya tentang salib. Saya misalnya bilang negatif. Kalian pegang itu sebagai kebenaran. Sampai di sini, masih tidak ada masalah. Lalu kemudian ketemu dengan tetanggamu yang beda agama. Karena sudah mendengar dari saya dan menganggap kebenaran, lalu kalian menyampaikan kepada tetangganya yang non muslim tentang pengetahuannya itu. Bisa jadi masalah, kan?

“Tetapi ini kan kebenaran, Kyai. Wajib disampaikan.”

“Betul. Kebenaran sangat wajib disampaikan. Itu tugas utama para dai. Tetapi menyampaikan kebenaran juga butuh pertimbangan sosiologis.

Islam mengajarkan lakum dinukum waliya din. Bagimu agama bagiku agama ku. Ayat ini tidak berarti bahwa kita seenak-enaknya menilai orang lain dengan pendekatan agama kita.

Ada efek sosialnya. Karena itu, dalam Surah Al-An’am ayat 108 dijelaskan larangan mengejek sesembahan orang lain, karena mereka nanti akan membalasnya dengan lebih keras.

Coba perhatikan, Allah melaknat perbuatan musyrik tetapi juga melarang mengejek sesembahan orang. Maksud ayat ini apa? Kepekaan sosial. Penanaman akidah harus memperhatikan kepekaan sosial. Itulah sebabnya dasar dakwah Islam adalah penghargaan terhadap nilai kemanusiaan.”

“Tapi kalau saya bertanya kepada Kyai, bagaimana Islam memandang salib.”

“Salib tidak memiliki makna teologis bagi kita, umat Islam. Pengetahuan saya tentang salib juga tidak banyak. Memang, ada pandangan spesifik dalam Islam tentang peristiwa penyaliban. Itulah pegangan kita.

Namun, ada juga yang ayat yang menganjurkan penghormatan kepada umat lain, seperti larangan mengejek sesembahan agama lain tadi. Sekarang, kalian mau mempertebal yang mana? Pertentangannya atau penghormatannya?”

Tesa, Ale, dan Yusran terdiam.

“Bagi kita, Salib itu mungkin tak bermakna apa-apa, karena memang bukan milik kita. Tetapi bagi umat Kristiani, salib itu sakral. Maknanya sangat spiritual. Itu adalah fundamental kekristenan mereka. Memahami ini saja cukup bagi kita. Sebaliknya pun saya berharap demikian. Jangan sampai rumah ibadah dan mimbar keagamaan sebagai tempat mengabadikan pertentangan.” Lanjut Kyai Saleh dengan suara lirih.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.