Locita

Kyai Saleh Calon Menteri Agama Kabinet Tronjal-Tronjol

Sumber Gambar (Ilustrasi. abc.net.au)

HUJAN baru saja mereda. Warga Kalimana dikejutkan dengan suara sirene kendaraan meraung-meraung memasuki wilayah kampung. Suaranya memekak telinga. Warga penasaran dan berhamburan ke pinggir jalan.

Tampak 3 mobil Jeep dan puluhan motor sedang bergerak. Di atas mobil seorang lelaki berusia 50 tahunan berkumis tebal melambaikan tangan dan menebar senyum ramah. Meski warga tidak mengenalnya, tetapi lambaian tangannya tetap disambut.

Rombongan yang ramai cukup menjadi penanda kalau orang yang melambaikan tangan itu adalah orang penting.

Arak-arakan mobil berhenti di depan rumah Kyai Saleh. Sang lelaki bersama rombongan turun dan bergegas menuju rumah Kyai Saleh. Salah seorang di antara mereka berinisiatif mengetuk pintu rumah Kyai Saleh.

“Assalamualaikum, Kyai!”

Setelah tiga kali mengucapkan salam, pintu terbuka. Kyai Saleh mengernyitkan dahi ketika melihat keramaian di depan rumahnya. Dia tidak mengenali satu pun di antara mereka.

“Assalamualaikum, Kyai!” Lelaki tadi langsung bergerak menciumi tangan dan memeluk Kyai Saleh. Kyai Saleh masih terpana.

“Waalaikumsalam,” jawab Kyai Saleh dengan sedikit terbata.

“Kalian siapa?” tanya Kyai Saleh.

“Kamu tidak mengenalku kyai?” Kata lelaki itu dengan tetap tersenyum.

Kyai Saleh menggelengkan kepala.

“Ehh.. Pak Nurhadi!!” teriak Ais yang tiba-tiba muncul dari arah kerumunan warga. Seperti warga lain, Ais pun penasaran dengan iringan massa. Dia terkejut demi melihat sosok yang mengunjungi rumah Kyai Saleh.

“Nah, Adik Manis, ini pasti pengguna media sosial?” tanya lelaki yang dipanggil Nurhadi itu.

“Saya follow Twitternya, Pak, kok tidak di folback?

“Sabar. Saya lagi sibuk keliling. Nanti saya folback,” kata Nurhadi sembari tersenyum dan menaikkan alis. Ais ikut tersenyum.

Kyai Saleh masih sibuk merapikan kebingungannya. Ais melihat rautan kebingungan itu dan berusaha menetralisirnya.

“Kyai…ini capres favorit di media sosial. Nomor urut 10.”

“Bukannya cuma dua calon?”

“Ndak kyai. Ada tong calon alternatif yang lagi ramai di media sosial. Inimi orangnya. Dan…. Saya tidak menyangka akan bertemu beliau di sini.”

Nurhadi tersenyum.

“Begini, Kyai. Saya ingin memasukkan Kyai Saleh sebagai calon menteri agama di kabinet saya. Pemilu nanti saya yakin menang, karena saya tahu orang Indonesia butuh pemimpin yang asyik. Dan Kyai Saleh adalah orang yang asyik.”

“Anda kenal saya dari mana?”

“Kita sama-sama imajiner Kyai. Mudah bagi saya untuk menemukan dan mengenali Kyai. Intinya, saya tahu bahwa Kyai Saleh adalah orang yang asyik dan cocok untuk masuk sebagai menteri saya. Menteri Agama.”

“Wah… sepertinya anda salah orang. Tetapi melihat karakter anda ini, sepertinya cocok dengan kawan saya, Kyai Jafar.”

“Kyai Jafar?” Nurhadi mengernyitkan dahi.

“Iya. Kawan saya. Sama gilanya dengan anda. Sering melakukan hal-hal mengejutkan seperti yang anda lakukan.”

“Ah, saya sudah gila Kyai. Sama-sama orang gila, sudah tidak asyik. Saya butuh Kyai Saleh.”

“Baik. Kamu ingin mengurusi agama seperti apa?”

“Lah, itu terserah Kyai Saleh sebagai menterinya. Sebagai presiden, saya yang penting asyik.”

“Ya, saya harus tahu dong visi keagamaan, Anda.”

“Sudah, Kyai. Tidak perlu visi misi, jalani saja dulu, siapa tahu cocok.”

Ais tersenyum kecil melihat wajah Kyai Saleh yang melongo melihat jawaban konyol Nurhadi.

“Baik, Kyai. Saya anggap, Kyai sudah setuju. Habis pemilu saya akan menghubungi Kyai untuk ke istana.”

Lelaki tadi bersama rombongannya pulang.

*****

Setengah jam setelah rombongan berlalu, Kyai Jafar bersama Ale datang.

“Kyai, tadi ada rombongan Nurhadi datang,” kata Ais kepada Kyai Jafar.

“Oh… begitu. Wah, telat aku. Dia pasti datang meminta Kyai Saleh menjadi menteri agama,” kata Kyai Jafar sembari menebar senyum.

“Lohh.. bagaimana antum tau, Kyai.” Kyai Saleh melongo.

“Sebelum aku ke Makassar, dia sudah pernah datang ke tempatku dan memintaku menjadi menteri agamanya. Nah, aku bilang punya sahabat di Makassar yang cocok jadi menteri mu. Namanya Kyai Saleh.”

“Jadi, gara-gara antum pale.”

Kyai Jafar tersenyum dan menyulut rokoknya.

“Ais… kamu ke dapur bikinkan kopi,” kata Kyai Saleh.

Ais segera menuju ke bagian dalam rumah.

“Pantas orang itu bisa tahu alamatku. Ternyata antum yang beritahu.” Kyai Saleh mengulangi perkataannya.

“Ya, Kyai. Aku pikir antum ini cocok masuk di kabinet tronjal-tronjol.”

“Kenapa?”

“Karena antum butuh tronjal-tronjol.”

Kyai Saleh mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti maksud Kyai Jafar.

“Apa dibilang tronjal-tronjol, Kyai?” Ale ikut nimbrung.

“Tronjal-tronjol itu wadah kosong untuk semua keasyikan di muka bumi ini. Ini resep kenapa si Nurhadi itu bisa sukses dikenal di Indonesia.”

“Maksudnya, Kyai?” Ale mengernyitkan dahi.

“Tronjal-tronjol itu simbol kelas bawah. Bahasa kampung yang lugu. Bahasa rakyat. Sebenarnya vulgar tetapi karena diucapkan dengan jujur, malah jadi asyik.”

“Hubungannya dengan Nurhadi bisa terkenal?”

“Dia muncul ketika politik mulai tidak asyik. Yang lucu menjadi serius. Cebong-Kampret itu awalnya lucu-lucuan, tapi kesini-sini malah jadi musuh-musuhan. Jadi serius. Di level elit juga ndak lucu. Lihat. Para filosof kampret rela putar kepala untuk memenangkan debat. Para ilmuwan cebong rela basah kuyup untuk membela tuannya. Kalau kampret yang ngomong, Indonesia seperti sedang berada di neraka. Semuanya buruk. Sedangkan kalau cebong yang ngomong, kita seperti di dunia dongeng. Semuanya fantasi. Dua-duanya Tidak asyik, tidak tronjal-tronjol.”

Kyai Jafar menghentikan perbincangan demi melihat Ais datang membawa gelas kopi yang masih mengepul. Dia segera menyeruput kopi panas itu. Kyai Saleh dan Ale ikut minum, sembari menunggu penjelasan Kyai Jafar selanjutnya.

“Nah. Si Nurhadi datang dengan cara berbeda. Dia tukang pijat. Mewakili kelas pekerja. Kelas yang biasanya punya banyak masalah. Kelas yang seharusnya mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi yang tidak se-ideal kampanyenya dulu. Tetapi Nurhadi datang dengan kelucuan dan senyum yang dikembangkan. Dia ingin bilang kepada para kampret kalau Indonesia tetaplah negeri yang tersenyum, lucu, dan penuh harapan. Tidak seseram yang dikampanyekan kiri-kanan. Indonesia butuh keasyikan, dan Nurhadi memberi itu.”

Suasana hening. Kyai Saleh, Kyai Jafar, Ale, dan Ais memilih menikmati minuman.

“Lalu, kenapa antum merekomendasikan aku sebagai menteri agama kabinet tronjal-tronjol?” Kyai Saleh mengulangi pertanyaannya. Dia masih belum puas dengan jawaban Kyai Jafar.

“Ya.. karena antum seorang kyai yang punya akidah yang kuat dan pengetahuan yang luas. Antum juga penyayang, lembut, dan senang membantu orang. Yang lebih penting dari itu, antum sangat butuh tronjal-tronjol,” jawab Kyai Jafar dengan cuek.

Kyai Saleh melongo.

“Sudah… aku mau mandi. Ini sudah menjelang magrib,” kata Kyai Jafar ketika isapan rokoknya sudah habis dan kopi di gelas juga tersisa ampas.

Ale dan Ais penasaran. Mereka segera meraih gawai dan mencari arti dan makna kata tronjal-tronjol di laman pencarian Google. Lalu, keduanya tersenyum-senyum.

“Kenapa kalian senyum-senyum?” Tanya Kyai Saleh.

“Ndak ji Kyai.” Kata Ale sembari menahan senyum.

Kyai Saleh segera meminta gawai Ale. Meski ragu, Ale menyerahkannya kepada Kyai Saleh.
Sang Kyai ikut tersenyum tersipu, “Awas kau, Kyai Jafar!”

 

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

2 comments

  • Wadah/ruang kosong, ini kata yg sy garis bawahi bung pepi. Saat ambiguitas menghampiri suasana kehidupan orang-orang tertentu, mereka butuh kompesasasi guna memenuhi apa yg diidealkan. Ini manusiawi. Namun terkesan tidak realistis, meskipun akan cenderung kreatif. Setiap manusia tentu dihadapkan pada pilihan. Guna memilih pilihan itu manusia perlu memiliki keterampilan dalam memecahkan sebuah masalah, ya pilihan itu. Ketika muncul pandangan dari orang-orang tertentu yang tidak bisa memilih kedua pilihan itu dan memunculkan pandangan baru, ini yang saya maksud sebagai kreativitas. Orang-orang ini sudah melampaui orang-orang yang sudah memilih di kedua pilihan itu. Dia mampu mengevaluasinya. Menurut saya, fenomena ini adalah penanda akan gersangnya kepercayaan pada pilihan dan kebosanan menjadi epigon (pengekor). Ini hal yg bagus. Ini menandakan, sebagian rakyat di tanah air ini kian berpikir untuk menentukan pilihannya, apapun itu.
    Bravo bung pepi!!

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.