Locita

Ketika Dylan Melamar Milya Di Hadapan Kyai Saleh

SAPA yang tidak kenal Milya? Dia gadis tercantik di Kampung Kalimana. Tak ada puisi, metafora, atau kalimat gombal dari penyair manapun yang bisa merepresentasikan kecantikannya. Semakin lengkap, karena Milya punya garis darah yang bagus.

Kakeknya dulu adalah imam kampung dan bapaknya adalah pimpinan tertinggi di Kecamatan Tamalatea. Dari pihak ibu, Milya mewarisi kekayaan yang begitu melimpah. Semua lelaki di Kampung Kalimana mengagumi kecantikannya.

Di antara para lelaki itu, Dylan yang paling tergila-gila. Dylan sudah jatuh cinta kepada Milya, bahkan sebelum bertemu. Milya sudah pernah masuk ke dalam mimpinya berkali-kali. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Milya untuk pertama kalinya di masjid Nurul Autar.

Perempuan yang selalu berjalan dengan kepala tertunduk itu bertemu pandang dengannya. Dylan segera mengenalinya dengan mudah. Gadis itu yang selalu datang tersenyum di mimpinya. Milya, gadis impian Dylan dalam arti yang sesungguhnya.

“Gadis yang terbaik untuk dijadikan pendamping menurut hadis Nabi adalah yang baik hartanya, keturunannya, wajahnya, dan agamanya. Jika kamu mendapatkan empat kriteria itu, kejarlah!” kata Kyai Saleh di suatu pengajian.

Dylan yang duduk di bagian tengah terpapar sumringah. Keempat tipe itu ada pada diri Milya. Dia semakin yakin kalau Milya adalah calon pendamping terbaik.

“Bagaimana cara mengejarnya, Kyai?” Tanya Yusran.

“Jadikan dirimu layak bagi dirinya.”

“Maksudnya, Kyai?”

“Pemuda yang suka mabuk, suka dugem, tidak berakhlak lalu memimpikan gadis baik dan saleha… itu namanya tidak tahu diri.” kata Kyai Saleh sembari menutup pengajian.

***

Keesokan harinya, Dylan menemui Kyai Saleh.

“Kyai.. sepertinya aku mencintai Milya.”

“Milya, anak pak camat itu? ”Dylan menganggukkan kepala.

“Dia memang gadis yang layak dicintai. Empat kriteria yang saya sebutkan semalam di pengajian sepertinya ada pada dirinya.”

“Saya mau melamarnya, Kyai!”

“Bagus. Tetapi setahu saya Pak Camat hanya akan menerima menantu yang saleh, agamanya bagus, dan hafal minimal 10 juz Al-Quran. Apa kamu sanggup?”

Dylan menarik nafas panjang. Sungguh berat persyaratan itu. Jangankan menghafal Al-Quran, membacanya saja Dylan masih belum lancar. Tetapi demi hasrat cintanya yang tak tertahankan, dia menganggukkan kepala.

“Nak, cinta itu memang berat kalau kamu tidak sanggup jangan memaksakan diri. Jatuhnya nanti kamu kecewa.”

“Tidak, Kyai. Meski berat, saya akan berupaya. Kalau di ujung usaha ini nanti aku gagal. Setidaknya aku tidak menyesali diri, Kyai! Asalkan Pak Kyai mau membantu saya.”

“Bagus anak muda! Aku akan memberimu alamat Kyai Jafar di pulau Jawa. Dia orang yang tepat untuk membimbingmu. Bawa suratku padanya. Dia akan mengerti. Enam bulan dari sekarang aku akan menjemputmu.”

“Enam bulan Kyai? Apa tidak terlalu cepat?”

“Cepat? Apa kamu pikir Milya tidak akan dilamar oleh orang yang telah memenuhi kriteria itu. Jika kamu berlama-lama, impianmu akan sirna. Enam bulan itu waktu yang panjang. Berupayalah dengan keras. Kyai Jafar akan membimbingmu. Dia seorang sufi!”

Dylan menerima tugas itu. Dia bersegera berangkat ke Jawa menemui Kyai Jafar, orang yang menurut Kyai Saleh akan membantunya mendapatkan Milya, gadis idamannya.

***

Belum enam bulan, Kyai Saleh tiba-tiba muncul di pesantren Kyai Jafar berniat menjemput Dylan.

“Bagaimana perkembangan Dylan, Kyai Jafar?” Tanya Kyai Saleh setelah beberapa lama berbasa-basi dan bernostalgia dengan Kyai Jafar.

“Luar biasa. Tekadnya kuat. Hanya dalam waktu tiga bulan dia sudah menghafal 10 Juz Al-Quran. Saya sangat mengagumi tekadnya. Dia begitu dalam mencintai gadis itu.”

“Tiga bulan? Mengapa engkau tidak menghubungi biar aku cepat menjemputnya. Anak Pak Camat itu sudah banyak yang melamar tetapi aku selalu memberi alasan agar Dylan diberi kesempatan.”

“Tidak, Kyai. Cintanya yang besar justru mengkhawatirkan aku. Karena itu, aku memberinya pelajaran tentang cinta para sufi. Kelak kamu akan melihat hasilnya.” Tidak lama berselang, Dylan muncul.

“Kyai Saleh. Kapan ki datang?”

“Baru sehari. Saya datang untuk menjemputmu.”

“Belum enam bulan Kyai. Saya masih butuh bimbingan Kyai Jafar.”

“Bulan depan, ada alumni Timur Tengah yang akan melamar Milya. Seluruh persyaratan yang disyaratkan oleh ayah Milya bisa dipenuhi. Saya dengar dia seorang hafiz dan seorang agamawan yang mumpuni. Jika kamu terlambat, maka impianmu untuk menikahi Milya akan sirna ”

“Tapi saya belum selesai, Kyai. Saya masih merasa belum berubah.”

“Apa kamu ingin melepaskan Milya?”

“Tidak Kyai. Dia adalah spiritku. Karenanya, aku bisa menghafal Al-Quran. Saya tidak pernah membayangkan bisa menghafal Alquran sebelumnya tetapi gara-gara Milya, semangatku tumbuh.”

“Kalau begitu, ikutlah denganku besok. Saya akan melamarkan Milya untukmu.” Dylan sumringah. Bola matanya berbinar. Dia sama sekali tidak menyangka Kyai Saleh akan membantunya. Impiannya untuk mendapatkan Milya tidak lama lagi akan terwujud.

“Bolehkah saya pulang, Kyai Jafar? Jika urusan saya selesai, saya akan kembali lagi memperdalam ilmu.”

“Kamu bisa memperdalam bersama Kyai Saleh. Ilmu Kyai Saleh jauh lebih dalam daripada aku.” Kyai Saleh tersenyum.

“Dia sedang menggodaku, Dylan. Jika ilmuku lebih hebat dari Kyai Jafar. Buat apa aku mengirim kamu ke sini.”

***

Hari mendebarkan itu tiba. Dylan ditemani Kyai Saleh menuju ke rumah orangtua Milya. Tetapi, Dylan tidak sendiri. Ada orang lain yang datang dengan tujuan yang sama; melamar Milya.

Lelaki itu berwajah bersih, memakai baju gamis, dan surban. Dia memendar wajah ramah kepada setiap orang yang ditemuinya. Namanya Abdul Samad. Lulusan Timur Tengah. Dia mulai dikenali sebagai dai yang cerdas. Dia begitu percaya diri.

“Sungguh hari ini sangat berbahagia bagi saya. Ada dua orang lelaki yang berniat baik kepada putri saya. Sebagai orangtua, saya hanya akan menyerahkan puteri saya kepada orang yang bisa membimbingnya.”

Hati Dylan bergeletar. Entah kenapa, dia merasa tidak layak bersaing dengan alumni Timur Tengah itu.

“Kira-kira, apa syarat yang Bapak inginkan?” tanya Kyai Saleh.

“Saya menginginkan calon menantu saya adalah seorang yang shaleh. Setidaknya dia bisa membimbing anak saya menjadi anak yang saleh. Saya mendambakan menantu yang bisa menghafal Al-Quran.”

Kyai Saleh tersenyum lebar. Dia mempersilahkan kepada Abdul Samad untuk membacakan Alquran. Dengan senyum percaya diri, Abdul Samad melantunkan ayat suci. Suaranya sangat merdu, bacaannya fasih. Orangtua Milya tersenyum senang.

“Sekarang giliran Dylan.”

Dylan menutup mata sejenak. Hati-hatinya berdebar-debar. Entah mengapa dia tidak menyukai situasi ini. Dylan berdiam diri.

“Silahkan, Nak Dylan.” Kyai Saleh sedikit meninggikan suara demi melihat Dylan duduk terdiam.

“Saya tidak bisa, Kyai.” jawab Dylan dengan lesu.

“Kamu tidak hafal Al-Quran. Bukannya Kyai Jafar bilang kamu hafal 10 Juz.”

“Saya tidak bisa Kyai.”

“Kamu tidak ingin Milya menjadi istrimu?”

“Saya sangat ingin, tapi saya tidak bisa melakukan ini Kyai. Permisi.” Dylan segera pamit. Kyai Saleh menangkap sesuatu yang aneh. Kyai Jafar tidak mungkin membohonginya. Kyai Saleh tiba-tiba ingat kalimat Kyai Jafar tentang cinta sang sufi. Kyai Saleh tersenyum kecil. Dylan tampaknya sedang menerapkan pelajaran penting dari Kyai Jafar itu.

“Pak Rahmat. Saya sarankan bapak untuk menerima lamaran Dylan,” kata Kyai Saleh setelah semua tamu sudah pulang.

“Kenapa Kyai? Dia tidak bisa menghafal sesuai persyaratan yang saya ajukan.”

“Tidak Pak Rahmat. Dia bisa menghafal Alquran. Kyai Jafar telah memberitahuku. Dia hanya tidak ingin memperlihatkannya kepada kita semua. Ilmu cinta sang sufi yang diajarkan Kyai Jafar yang membuatnya begitu.”

“Saya belum mengerti?”

“Sebelumnya, Dylan bukanlah anak yang mengerti agama dan Alquran. Karena Milya, dia ingin menghafal Alquran. Saya mengirimnya ke Kyai Jafar, sahabatku. Rupanya dia mengajarkan ilmu cinta para sufi kepada Dylan. Sekarang dia mencintai Tuhan lebih dari cintanya kepada Milya. Dia tidak bisa menggadaikan bacaan Alquran hanya untuk mendapatkan Milya. Dia bahkan rela kehilangan Milya. Saranku pilihlah dia sebagai menantumu.” Pak Rahmat mengangguk-anggukan kepala. Kyai Saleh tidak mungkin membohonginya.

“Saya akan berunding dengan keluarga dulu, Kyai.”

Kyai Saleh menganggukkan kepala, lalu pamit pulang.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Add comment

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.