Locita

Ketika Kyai Saleh Menolak Seseorang Masuk Islam

TABE. Minta waktu sedikit, Kyai!” Sarmidi angkat bicara tiba-tiba. Kyai Saleh yang baru saja selesai berdoa dan menutup kitabnya menoleh ke arah Sarmidi.Keningnya mengkerut. Kacamatanya melorot. Kyai Saleh terlihat bingung.

Baru kali ini, Sarmidi mengangkat tangan. Biasanya si calabai ini hanya diam sepanjang pengajian. Anehnya lagi, Sarmidi mengangkat tangan ketika pengajian sudah ditutup.“Ada apa nak?”

“Ini teman saya Gio. Dia berniat masuk Islam.” Sarmidi dengan nada cepat menjelaskan. Gio yang disebut namanya tertunduk. Mukanya sedikit memerah. Semua pandangan tertuju padanya. Itu yang membuatnya kikuk.

“Oh, ya. Alhamdulillah. Maju ke depan nak Gio.” Kyai Saleh menyapa dengan lembut. Gio menggamit lengan Sarmidi untuk menemaninya maju kehadapan Kyai Saleh.

“Mengapa kamu ingin memeluk Islam, nak?”Gio tidak bersegera menjawab. Dipandanginya sejenak situasi di sekelilingnya. Sarmidi memberi anggukan tanda dukungan.

“Saya merasa damai mendengar suara azan dan suara orang mengaji Alquran, Kyai.”

“Apakah kamu mendapatkan pelajaran agama sebelumnya dari orang tuamu?”

“Tidak kyai. Orang tuaku terlalu sibuk. Dia tidak mendidikku dengan ajaran agama yang dianutnya. Aku dibiarkan tumbuh dan mencari sendiri. Aku tumbuh bersama teman-temanku yang muslim. Entah kenapa saya merasa sangat senang mendengar suara azan dan suara orang mengaji. Di hp saya ada file orang mengaji. Saya sering memutarnya. Saya sangat nyaman dan kadang-kadang menangis mendengarnya, Kyai.”

Meski dengan kalimat terbata-bata dan suara gugup bergetelar, Gio menceritakan pengalaman spritualnya. Kyai Saleh manggut-manggut.

“Sarmidi, tolong antar mengambil air wudhu. Ajari dia berwudhu!” Tanpa pikir panjang, Sarmidi segera menggamit lengan Gio. Keduanya berdiri dan bergerak menuju tempat wudhu. Tak lama berselang keduanya kembali.

“Nak Gio. Ikuti ucapan saya” Gio mengangguk pelan. “Asyhadu an laa ilaha illa Allah” ucap Kyai Saleh. Gio mengikutinya dengan terbata-bata. “Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah” Gio pun mengikuti dengan lafadz yang masih terbata-bata. Kyai Saleh mengulang selam tiga kali. Gio mengikuti tiga kali.

“Hari ini kamu resmi dan sah sebagai penganut agama Islam, nak Gio.” Kyai Saleh mengusap-usap kepala Gio. “Alhamdulillah!” seluruh jamaah masjid menyambut gembira.

Suasana pengislaman ditutup dengan doa. Mata Gio berkaca-kaca. Sejarah besar dalam hidupnya terukir hari ini. Dia segera memeluk Sarmidi dan menciumi tangan Kyai Saleh penuh khidmat.

Gio diminta berdiri. Para jamaah berdiri berbaris sembari menyalami Gio. Dari barisan jemaah perempuan, Ais berinisiatif mengumandangkan shalawat badar.

Para jamaah mengikuti dan menyahuti lantunan shalawat Ais. Suasana terasa sangat haru.Dua minggu berselang. Giliran Faris yang membawa seseorang yang juga berniat masuk Islam. Berbeda dengan Gio yang agak malu-malu, Randi datang dengan memendar senyum percaya diri.

“Kyai! Tabe. Ini kawan saya Randi. Dia sangat ingin masuk Islam.”

“Alhamdulillah. Saudara kita akan bertambah. Mari nak mendekat.” Randi dengan langkah tenang mendekati Kyai Saleh.

“Mengapa kamu ingin masuk Islam, nak?”

“Saya menemukan banyak sekali hal-hal yang tidak logis dalam agama saya, Kyai. Banyak sekali hal yang kontradiksi dalam kitab agama saya. Saya merasa ada banyak kebohongan disana.” Lalu dengan panjang lebar, Randi menjelaskan kepada Kyai Saleh pendapatnya tentang kitab agamanya.

Randi lebih banyak menjelaskan kekeliruan-kekeliruan. Kyai Saleh hanya terdiam. Tidak ada kegembiraan di raut wajahnya.

“Apa orang tuamu mendidik kamu dengan agamamu?”

“Iya pak kyai. Bahkan Saya dimasukkan sekolah agama karena itu saya berkesempatan mempelajari kekeliruan dalam kitab agama saya. Saya ingin masuk Islam karena saya sudah sedikit-sedikit mempelajari agama Islam dan saya tertarik, Kyai.” Randi menjawab dengan nada yang meyakinkan.

Kyai Saleh terdiam sejenak. Lalu berkata, “maaf nak. Sebaiknya kamu mencari kyai lain. Saya bukan orang yang tepat membimbingmu.” Faris, Randi, dan semua jamaah terkejut atas sikap Kyai Saleh.

Kyai Saleh tak peduli dengan keheranan jamaahnya. “Kenapa Kyai?” Kyai Saleh tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala, bersegera menutup kitab dan meninggalkan tempat pengajian.

Sikap Kyai Saleh menjadi polemik di kalangan jamaah. Mengapa Kyai Saleh menerima Gio tetapi menolak Randi? Mereka membincangkan dengan hangat. Faris,Tesa, Yusran, Ais, Sarmidi, dan beberapa warga akhirnya membulatkan tekad menemui Kyai Saleh.

Kebetulan sore itu, Kyai Saleh sedang duduk membaca kitab di teras rumahnya.

“Kami heran dengan sikap Kyai. Mengapa kyai menolak Randi masuk Islam. Bukankah itu berarti Kyai menutup pintu hidayah baginya.” Faris mulai angkat bicara.

“Hidayah itu milik Allah, nak Faris. Manusia seperti saya ini hanya menjadi tempat pengesahan.”

“Bagaimana kalau gara-gara sikap kyai itu dia tidak jadi masuk Islam?” Yusran menyela.“

“Berarti dia memang belum mendapatkan hidayah. Dia baru menemukan jalan menuju kebenaran. Belum hidayah untuk memeluk kebenaran. Ingat ya! Saya tidak melarang dia memeluk Islam. Tetapi, saya yang tidak sanggup membimbingnya. Mungkin ada kyai lain yang bisa membimbingnya.”

“Tetapi mengapa Kyai menerima Gio?” Tesa yang juga penasaran ikut bertanya.

“Gio menemukan kebenaran agama di hatinya. Hatinya kering spritual karena tidak mendapatkan bimbingan yang cukup dari orang tuanya. Dia menemukan Islam
sebagai tempat teduh bagi kekeringan spritualnya. Dia sebenarnya sudah Islam. Sayahanya memberi stempel.”

“Lalu Randi?”

“Dia membenci agamanya sendiri. Membenci kitabnya sendiri. Mencela kitab yang membuatnya tumbuh sebagai manusia, selama ini. Mengejek kitab yang digunakan orang tuanya untuk mendidiknya. Bagi saya, dia belum menemukan Islam. Jadi saya tidak bisa memberinya stempel.”

“Apa salahnya Kyai, kalau dia memulai dengan cara itu. Dia mulai dengan menemukan kesalahan dalam kitabnya sendiri dan menjadikan Islam sebagai tempatnya menemukan kebenaran sejati?” Ais turut bersuara.

“Tidak ada yang salah. Tetapi bagi saya contoh terbaik adalah Waraqah bin Naufal. Sebagai penganut Kristen, dia yang pertama mengakui dan melihat ciri kenabian dalam diri seorang pemuda Arab, yang bernama Muhammad saw. Dia mengenali Muhammad karena dia mengenali kebenaran dalam kitabnya sendiri. Dia mengenali kebenaran dengan kebenaran. Dan saya melihat Randi berbeda. Dia membenci dan menjelek-jelekkan agamanya sendiri. Kelak, jika dia masuk Islam dengan pola pikir seperti itu, maka dia akan melanggengkan kebencian antar agama. Alangkah beratnya bagi orang tua seperti saya membimbing dia menemukan inti ajaran Islam, rahmat dan kasing sayang bagi seluruh alam”. Semua yang hadir terdiam.

Entah mengerti atau tidak. Kyai Saleh hanya tersenyum kecil,  lalu melanjutkan bacaannya.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.