Locita

Kegaduhan Kata-Kata di Dunia Yang Sebenarnya Hening

Krrinnnnngg! Kriingg!

Alarm hape Ais meraung-raung di subuh hari yang tenang. Cuaca yang dingin sehabis hujan membuatnya enggan beranjak. Alarm itu dibiarkannya berbunyi dan berharap segera off. Namun, nafas bunyi alarm itu ternyata panjang. Suaranya nyaring mengganggu telinga Ais. Tidak ada pilihan bagi Ais kecuali segera meraih hapenya.

Meski masih tersandera rasa ngantuk, Ais segera melangkah ke kamar mandi. Suara azan dari masjid Nurul Autar sudah terdengar di sela-sela suara hujan yang turun sejak beberapa jam yang lalu.

Seusai berwudhu, perhatian Ais tersita oleh ratusan jumlah notifikasi di salah satu grup WA yang diikutinya. Ais tertarik membukanya. Rupanya, ada perbincangan seru tentang kasus Habib Rizieq yang diperiksa oleh kepolisian Arab Saudi. Pro kontra muncul dengan tensi perdebatan yang cukup panas. Ais hanya tersenyum melihat perdebatan itu. Hampir saja, dia ikut nimbrung komentar tetapi urung dilakukan karena suara Sampara yang mengumandangkan iqamat terdengar nyaring.

Hujan sudah reda. Ais melangkah menuju masjid. Ini hari Jumat. Ais tidak takut terlambat karena biasanya Kyai Saleh membaca surah Sajadah yang cukup panjang pada subuh Jumat.

*****

“Kyai, kenapa orang sekarang mudah sekali ribut?” Ais mengajukan pertanyaan ketika Kyai Saleh memberi kesempatan.

“Ribut bagaimana, Ais?”

“Kemarin banser bakar bendera ribut. Sekarang Habib Rizieq diperiksa polisi Arab gara-gara bendera, ribut lagi. Presiden sebut sontoloyo, ribut. Prabowo sebut muka Boyolali, ribut lagi. Begitu terus.”

Kyai Saleh hanya terdiam. Dia memandang sejenak ke arah Ais.

“Dunia maya ini memang aneh. Dunia ini gaduh tetapi sebenarnya hening. Era dimana kata-kata menjadi representasi kebenaran, tanpa bunyi, tanpa nada. Kebenaran yang sunyi tetapi memicu kegaduhan dimana-mana.”

“Ada juga yang bilang era post truth, Kyai!” Sela Yusran

“Apa itu post truth, Yusran?” Kyai Saleh balik bertanya

“Anu, Kyai. Orang tidak penting lagi mencari tahu informasi itu benar atau tidak. Dia hanya cukup percaya bahwa itu benar atau tidak benar!”

Kyai Saleh mengangguk-angguk mendengar penjelasan Yusran.

“Ya, kira-kira begitu. Orang menggunakan berita bukan untuk kepentingan mencari kebenaran tetapi untuk mengalahkan lawan debat. Kita mendangkalkan kebenaran di bagian permukaan kata-kata. Tanpa bersabar untuk mendalami situasinya. Akibatnya, dengan mudah pertentangan terjadi.”

“Saya belum mengerti, Kyai!” Tesa menyela.

“Begini. Kata-kata itu bukan realitas untuk dirinya, tetapi mewakili realitas yang bermakna, tetapi bukan dirinya.”

“Deeh, susah sekali dipahami kata-katata, Kyai.” Celoteh Sampara sembari menggaruk-garuk kepalanya. Semua santri tersenyum melihat tingkah Sampara.

“Dengarmi saja, Sampara!” Timpal Ale.

“Mengertiko kah?” Sampara menyergap dengan pertanyaan.

“Makanya tunggumi penjelasannya Kyai.”

“Seperti kata Allah.” Kyai Saleh segera berbicara untuk menghentikan ‘perdebatan’ Ale dan Sampara, “kata Allah, bukanlah Allah tetapi kata yang mewakili konsep tentang Zat Yang Maha Agung. Allah adalah konsep, nama dari Zat itu. Kata ini bisa berubah menjadi Puang Allah Taala, Gusti Allah, Karaeng Malompoa, Rabb, God, Tuhan, dan sebagainya tergantung kebudayaan umat Islam tetapi rujukan Zat Maha Sucinya tidak bisa berubah.”

“Jadi benar pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan semua agama sama?”

“Kita percaya Tuhan hanya satu. Tidak ada Tuhan selain Allah. Laa ilaha Illa Allah. Konsep tentang Tuhan yang muncul dalam setiap agama bisa jadi berbeda. Konteks umat Islam dalam memahami Tuhan bisa jadi berbeda dengan agama lain. Bukan karena DIA banyak atau berbeda-beda, tetapi bahasa yang digunakan sebagai perwakilan atau representasi memiliki konteks yang berbeda-beda pula.

Jadi, saya tidak berani mengatakan bahwa Tuhan dalam semua agama sama, sekaligus saya juga tidak berani mengatakan berbeda. Dalam hal seperti ini, saya lebih memilih meyakini apa yang harus saya yakini, tanpa harus menengok ke keyakinan orang lain.”

“Aii… tambah bingungka, Kyai!” Sampara menyela. Kali ini, tidak ada yang mengejek Sampara. Tampaknya semua santri yang hadir juga kebingungan dengan kalimat-kalimat Kyai Saleh.

“Kyai. Jadi, kata Allah itu kata biasa?” Ais bertanya.

“Ya, dia adalah rangkaian huruf alif-lam-lam-ha. Kalau disadur ke dalam Bahasa kita, terangkai dari huruf a, el,el, a, dan ha. ALLAH!”

“Jadi kata ini tidak suci hakikatnya?” Ais kembali bertanya. Kyai Saleh tersenyum mendengar pertanyaan kritis santrinya itu.
“Semua huruf memiliki derajat yang sama. Tetapi ketika huruf itu dirangkai menjadi kata yang mewakili konsep tertentu, maka nilainya menjadi berbeda-beda. Kata ALLAH menjadi suci karena dia mewakili Zat Yang Maha Suci. Melalui kata itu kita bisa berkomunikasi, meminta, merengek, memuja kepada DIA. Kita harus mensucikan kata ini, karena kata inilah yang mengantar kita kepada Zat Yang Maha Suci.”

Ais terdiam. Melihat para santrinya terdiam, Kyai Saleh melanjutkan.

“Setiap kata atau kalimat yang kita ucapkan mewakili dua makna, denotasi dan konotasi. Denotasi, makna yang terlihat, terindera, terasakan, makna permukaan. Konotasi adalah makna yang tersembunyi, tersirat, konteks, dan ide. Dia berada di kedalaman. Makna konotasi sulit terlihat, tetapi dia adalah bagian penting dari setiap kata yang diucapkan.”

“Contohnya Kyai?” Ale akhirnya ikut bertanya.

“ Bendera hitam bertulis kalimat la ilaha illa Allah.”

“Bagaimana itu maksudnya? Saya masih kurang mengerti.”

“Bendera itu punya makna denotasi, seperti yang terlihat. Karena itulah ada yang menyebutnya bendera tauhid. Tentu yang mereka maksud adalah bendera yang bertulis kalimat tauhid. Tetapi itu tidak cukup. Bendera itu tidak hadir begitu saja. Ada kelompok yang memproduksinya, ada yang menggunakannya secara berulang-ulang, sehingga terassosiasi dengan dirinya. Di sini rangkaian konteks akan terlihat. Karena itu, meski bendera itu tertulis kalimat tauhid tetapi sebagian orang melihat rangkaian makna konteksnya. Di Arab Saudi, bendera hitam bertulis tauhid dengan model huruf tertentu terassosiasi dengan ISIS. Karena itu, ketika ada bendera hitam meski bertulis tauhid tetap menjadi persoalan di Arab Saudi. Bukan karena kalimat tauhidnya, tetapi konteks di balik bendera itu.”

“Jadi, tidak apa-apaji memang tawwa banser bakar karena ada konteksnya.”

“Dua minggu lalu sudah di bahas. Membakar di depan publik itu juga memicu tafsir yang berbeda-beda. Itu bisa melanggar etika publik. Wajar jika ada reaksi!”

“Apa hubungannya dengan pertanyaan awal Ais tadi, Kyai?” Tanya Yusran.

“Ya, keributan terjadi karena dua orang yang berdebat tidak utuh melihat rangkaian simbol itu. Satu mengambil bagian denotasinya, yang satu mengambil bagian konotasinya. Perdebatan terjadi. Dan ingat, perdebatan ini juga memiliki konteks, memiliki konotasi. Ujungnya bisa ditebak, dari kelompok ini menggunakan ini, yang lain menggunakan itu. Ketika situasi berubah, kelompok-kelompok ini bisa jadi saling menyerang dengan cara yang digunakan lawan pada situasi sebelumnya.”

“Idealnya, Kyai?”

“Nikmati makna denotasinya dan resapi makna konotasinya. Maka, perdebatan akan menjadi obat yang menyehatkan bagi peradaban kita.”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Add comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.