Locita

Kardus Beriak Tanda Tak percaya

SUASANA halaman Masjid Nurul Autar lebih ramai dari hari biasanya. Puluhan warga berkumpul sejak pagi. Hari ini beberapa orang dari pihak KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kota datang menggelar acara sosialisasi tentang pemilu. Tahun 2019, warga Kalimana akan ikut memilih seperti pesta politik rutin setiap lima tahun.

Acara segera dimulai ketika pak Lurah dan Kyai Saleh tiba. Pak Lurah memberi sambutan sepatah dua patah kata. Acara sepenuhnya diambil alih oleh pihak KPU. Salah seorang diantara perwakilan KPU maju ke depan. Wajahnya cukup tampan dan pakaiannya rapi. Setelah memberi kode penghormatan kepada Kyai Saleh dan Pak Lurah, lelaki itu berbicara.

“Saya Ahmad. Salah seorang anggota KPU Kota. Kehadiran kami di sini untuk menjelaskan beberapa hal terkait dengan pemilu tahun 2019 yang sebentar lagi kita hadapi.”

Ahmad, nama lelaki itu, berbicara beberapa menit. Penjelasannya cukup gamblang. Para warga manggut-manggut tanda mengerti. Berbeda dengan pemilu tahun 2014, pada pemilu 2019 akan digelar sistem pemilu serentak.

Presiden dan anggota legislatif akan dipilih secara bersamaan. Para pemilih akan memilih calon anggota DPRD Kab/Kota, DPRD Provinsi, DPR RI dan sekaligus memilih presiden.

Setelah puas memberi penjelasan, dia mempersilahkan warga untuk memberi pertanyaan.
“Apa alasannya KPU menggunakan bahan kardus untuk kotak suara?” tanya Sampara. Lelaki itu sedikit kaget. Dia tidak menyangka warga mempertanyakan soal kotak suara berbahan karton duplex.

“Baik, Bapak! Proses kenapa pihak KPU menggunakan karton duplex sebagai bahan tentu sudah melalui pertimbangan bersama. Pihak KPU tidak serta merta mengambil keputusan sendiri. Kami sudah mempertimbangkan bersama dengan pemerintah dan pihak DPR RI. Dan, semuanya sudah setuju untuk menggunakan karton duplex sebagai bahan kotak suara.”

“Apa bapak sudah mempertimbangkan kekuatan dan keamanannya?” Tesa angkat suara.

“Tentu saja. Kami sudah melakukan uji coba bahan. Bahan karton duplex ini kedap air dan kuat menahan beban. Tidak mudah penyok seperti bahan kardus mie atau air mineral. Jadi untuk mengangkut beban kertas suara seberat 3 kg atau bahkan lebih tidak akan rusak.” Para warga manggut-manggut.

“Saya dengar katanya kardus itu sama kuatnya dengan aluminium? Berarti bisa saya ganti itu cerek sama panci di rumah-ku dengan aluminium di?” tanya salah seorang warga dengan polos.

Hadirin tertawa. Suasana menjadi ramai.

“Bapak ini kayaknya korban media sosial. Saya sendiri lihat banyak sekali ejekan terhadap kami KPU gara-gara menggunakan bahan kardus. Tetapi bagi kami tidak ada masalah. Nah, yang dimaksud sama kuat dengan aluminium itu adalah fungsinya untuk menjaga kertas suara bapak-bapak sama amannya.”

Dia melanjutkan, “Bukan sama kuat bahannya. Kami juga bukan orang yang bodoh-bodoh amat. Tentu aluminium lebih kuat secara bahan. Tetapi keputusan kami menggunakan bahan karton itu dengan pertimbangan ekonomi, ramah lingkungan, efesiensi pemindahan dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Sedangkan untuk menjaga keamanan suara bapak kami haqqul yakin sama kuat dengan aluminium.”

Suasana hening. Tampaknya para warga memahami dengan baik penjelasan dari pihak KPU Kota.
Pukul 11.12. Acara berakhir. Kyai Saleh menutup dengan membaca doa.

“Semoga pemilu tahun depan berjalan dengan baik, aman, dan lancar. Dan kita mendapatkan pemimpin yang benar-benar adil kepada seluruh rakyat Indonesia. Amin.”

*****

30 menit menjelang dhuhur, suasana Masjid sudah sepi. Para warga kembali ke rumah. Pihak KPU dan pemerintah kelurahan sudah kembali ke kantor. Kyai Saleh memilih untuk bertahan di masjid sembari menunggu salat Duhur. Tesa, Yusran, Ais, Sampara, dan Dani ikut serta menemani Kyai Saleh.

“Kyai, bagaimana pendapatta protes orang-orang terhadap kotak suara berbahan kardus itu?” tanya Ais.

“Politik kita kan memang gaduh. Masa kamu tidak paham, Ais.” Muka Ais sedikit memerah.

“Paham Kyai. Saya butuh pendapat Kyai.”

“Saya bukan ahli politik. Tetapi kritik yang muncul adalah tanda bahwa politik kita masih dilandasi kecurigaan. Politik kita belum beranjak dari titik ragu-ragu, curiga, dan tidak percaya.”

“Maksudnya Kyai?”

“Yang protes itu sebenarnya tidak memprotes hasilnya tetapi memprotes jangan-jangan ada kepentingan yang menguntungkan satu pihak. Karena KPU yang menyelenggarakan, maka dicurigailah KPU akan bermain untuk memenangkan pihak petahana. Tidak heran kan? Kalau yang mengkritik kardus ini adalah lawan politik petahana.”

“Bukannya memang harus begitu, Kyai? Kita harus memastikan bahwa pemilu jujur dan adil.”

“Betul. Tetapi keadilan itu adalah persoalan cara pandang dan kepercayaan. Jika belum apa-apa sudah dicurigai, maka hasil akhirnya nanti akan dibuat rangkaian cerita untuk mendukung kalau yang menang misalnya petahana lagi adalah kemenangan yang curang. Jadi kecurigaan ini akan menjadi panjang. Kekalahan satu pihak akan diklaim sebagai pembenaran atas kecurangan itu.”

“Apa yang sebaiknya dilakukan, Kyai?”

“Jika fondasi politik kita adalah ketidakpercayaan, maka sebaiknya lembaga penyelenggara hati-hati dalam menjalankan pemilu. Saya tidak masalah antara aluminium dan kardus. jika disuruh memilih, maka saya lebih merasa aman dengan kotak aluminium. Tentu jauh lebih aman untuk kondisi geografis Indonesia. Tetapi tentu ada juga kelemahannya,” tutur Kyai Saleh.

“Misalnya lebih berat dipindahkan, ketika selesai pemilu, butuh gudang untuk penyimpanan. Kalau tidak dirawat bisa-bisa rusak saat akan digunakan pemilu selanjutnya. Juga berarti butuh biaya perawatan. Dua-dua pilihan ini punya persoalan masing-masing.” Kyai Saleh mengambil napas sejenak.

“Karena KPU sudah memutuskan menggunakan karton dan mereka meyakinkan itu juga kuat digunakan, mari kita bantu KPU. Jangan malah mencemoohnya. Bukankah pemilu ini milik bersama? Kecuali kalau memang di hatimu yang muncul selalu rasa tidak percaya? Ya mending tidak usah ikut memilih!” tegasnya.

Waktu azan Duhur telah tiba. Perbincangan dihentikan. Sampara segera mendekati mikrofon dan melantunkan suara azan.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

5,053 comments