Locita

Jokowi Yang Terpilih, Tetapi Prabowo Pemenangnya

Sumber Gambar: Detiknews

Tesa dan Sampara sejak dari tadi siang duduk di depan TV. Keputusan sidang MK (Mahkamah Konstitusi) akan memasuki babak akhir. Kedua santri Kyai Saleh itu duduk dengan kepentingan berbeda. Tesa berharap MK akan menolak permohonan tim 02 yang berarti kemenangan Jokowi. Sedangkan Sampara berharap MK mengabulkan tuntutan tim 02.

Suasana semakin menegangkan bagi keduanya ketika Ketua MK berbicara dan akan mengambil keputusan penting itu.

“Dengan ini dinyatakan seluruh permohonan tim BPN ditolak!” Kata Hakim Ketua MK dengan suara datar, dingin, dan tanpa ekspresi wajah berlebihan.

Tesa berdiri dan berteriak kegirangan. Sedangkan, Sampara menyambut dengan wajah dingin.

“Sudah mentong ku duga, anu sekongkol semua ini.” Kata Sampara dengan ketus.

“Eh, jangko begitu Sampara. Itu artinya kau tuduh semua hakim. Hati-hati, bisa jatuh jadi fitnah itu bicaramu.” Tesa tak terima dengan tuduhan Sampara.

Lalu, keduanya berdebat. Keduanya merasa di sudut yang benar.

Kyai Saleh beranjak ke ruang tengah. Keseruan perdebatan dua santrinya itu menggodanya untuk menunda istrahat sejenak.

“Ada apa ini ribut-ribut?”

“Ini Kyai. Sidang MK sudah diputuskan. Jokowi sah sebagai presiden untuk dua periode.”

“Oooo……..” Kyai Saleh mengangguk-angguk dengan ekspresi datar. “Trus, kenapa kalian masih berdebat?”

“Ini Kyai. Sampara belum bisa terima.”

“Kenapa bisa Sampara?”

“Karena saya yakin ada sesuatu di balik keputusan ini.”

Kyai Saleh tersenyum. “Memang keadilan akan sulit dirasakan jika kita berada pada pihak yang kalah. Sebenarnya kita tidak menuntut keadilan tetapi menuntut kemenangan. Yang kita maksud keadilan adalah ketika suara hakim memenangkan kita. Coba lihat Tesa. Kamu merasa ini sudah adil kan Tesa?”

“Iye, Kyai. Semua sudah terang benderang. Sidang dibuat terbuka. Semua kita bisa menilai. Nah, tidak ada lagi alasan untuk tidak menerima. Apa lagi?” Kata Tesa dengan wajah sumringah.

“Nah, andai hakim MK memutuskan sebaliknya, saya sangat yakin hari ini ekspresi kalian bertukar. Tesa yang akan berteriak tidak adil, Sampara yang kegirangan. Begitulah apabila keadilan disandarkan pada perasaan. Sangat subyektif.”

“Jadi, bagaimana seharusnya sikap saya Kyai?”

Kyai Saleh diam sejenak.

“Anakku. Suatu ketika Ali r.a kehilangan jubah perang di malam hari. Ternyata jubah dipungut oleh seorang non-muslim, ada yang menyebut orang Yahudi. Ali mengajukan tuntutan kepada hakim agar jubah itu dikembalikan. Namun, ternyata pihak Ali r.a tidak dapat membuktikan kalau si Yahudi itu mengambil jubah Ali. Hakim memutuskan bahwa jubah itu milik si Yahudi.”

“Maksudnya Kyai?”

“Itu contoh bahwa keinginan kita terhadap keadilan tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Meski kita benar, seperti baginda Ali. Keputusan hakim telah adil secara prosedur karena si Yahudi ini tidak bisa dibuktikan atau tidak terbukti mengambil jubah milik Ali r.a. Tidak ada jalan lain bagi baginda Ali kecuali menerimanya sebagai kebenaran. Keputusan ini tidak adil bagi Ali r.a karena dia yang kehilangan, tetapi hakim tidak bisa menjatuhkan hukuman atas dugaan atau asumsi saja tanpa pembuktian yang kuat. Meski ujung cerita itu, si Yahudi menyadari kesalahannya dan mengembalikan jubah milik baginda Ali.”

“Bagaimana kalau sekongkol semua ini memenangkan 01, Kyai?” tanya Sampara.

Baca Juga : Dedi Corbuzier Masuk Islam dan Akan Kembali Ke Gereja, Kelak.

“Itu adalah dosa berat yang akan mereka pertanggungjawabkan, kelak. Tetapi kalau para hakim ini ternyata jujur dan tidak seperti yang kamu tuduhkan Sampara, maka bersiap-siap juga kamu nanti pertanggungjawabkan tuduhanmu.”

Sampara terdiam.

“Kita ini hanya mendengar informasi dan menduga. Jangan terlalu cepat memberi kesimpulan untuk hal-hal yang masih dugaan. Saya berulang kali mengatakan ini di pengajian. Itu tidak baik untuk kita. Kecuali, kamu benar-benar punya bukti dan informasi kalau mereka adalah jaringan kecurangan. Bukankah itu yang sedang ingin dibuktikan tetapi ternyata tidak cukup kuat dan akhirnya dinyatakan kalah?”

“Kalau menurut Kyai, adil mi kah sidang ini?” Tanya Sampara sekali lagi. Dia masih sulit menerima hasil keputusan MK ini.

“Jika seluruh syarat-syarat pengadilan dipenuhi, maka keputusannya adil. Kalau ada yang tidak puas, itu lain soal. Kalau ada pandangan hukum lain ya tidak apa-apa. Tetapi yang paling penting ada keputusan yang jelas dan mengikat. Kita tidak diombang-ambingkan lagi. Bagi saya, ini jauh lebih penting untuk bangsa kita.”

Lalu hening. Di layar teve sedang terlihat wajah Prabowo-Sandi dan rombongan. Running text teve menyebutkan Prabowo akan memberi respons terhadap keputusan sidang MK.

Wajah Prabowo terlihat datar, Sandi senyum kecil. Dengan suara khas, Prabowo membacakan tanggapannya atas hasil sidang MK yang baru saja selesai.

Kyai Saleh tersenyum lega mendengar ucapan Prabowo. Dia secara ksatria menghormati hasil keputusan sidang MK dan meminta kepada para pendukungnya untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang bisa merugikan keutuhan bangsa.

Selang beberapa saat kemudian, layar teve berganti fokus. Kali ini menyorot pasangan Jokowi-Kyai Ma’ruf. Ucapan Jokowi pun membuat Kyai Saleh tersenyum.

“Bagus, bagus, bagus!” gumam Kyai Saleh.

“Kenapa Kyai?”

“Kedua pemimpin ini menunjukkan cintanya kepada negara. Keduanya merespon dengan baik. Jokowi terpilih menjadi presiden lagi dan Prabowo adalah pemenang politiknya.”

Tesa mengkerutkan dahi. Demikian pula Sampara.

“Maksudta Kyai? Kenapa bisa Prabowo pemenang? Na Jokowi yang menang?” Tesa memberondong dengan beberapa pertanyaan.

“Begini. Pidato Prabowo tadi barusan adalah pidato dari jiwa pemenang. Dia tidak ingin melihat bangsa ini tercabik-cabik. Saya yakin mereka tidak puas dengan hasil sidang MK.

Sampara saja yang tidak terlibat merasakan kesedihan dan tidak terima apalagi mereka yang pelaku politik. Nah, bisa saja Prabowo menyatakan hal lain yang membuat bangsa ini kacau, tetapi dia tidak melakukannya.

Dia dengan berwibawa meminta pendukungnya tenang dan tetap berfikir untuk persatuan bangsa. Bagi saya ini adalah pidato kemenangan dari orang yang sedang kalah politik. Ini adalah kemenangan politik yang sesungguhnya.”

Tesa mengangguk-angguk.

Sampara tersenyum. Ucapan Kyai Saleh sedikit memberi hiburan atas kekecewaannya hari ini.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

2 comments

  • Pemikiran seperti ini yang sayangnya masih kurang dipahami oleh sebagian bangsa kita. Keadilan, tidak seluruhnya dipandang dengan konsep dan perspektif yang sama sehingga apa yang terjadi kemudian adalah perdebatan yang tiada ujung. Jika perdebatan itu hanya di antara Tessa dan Sampara, ada Kiai Saleh yang akan hadir menjadi penengah dan pencerah pada keduanya. Namun, siapakah yang bisa tampil sebagai ikon Kiai Saleh atas polemik bangsa ini?

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.