Locita

Jangan Mengejek SN

SN berdoa di hadapan Kyai Saleh. Ilustrasi: Luki Ahmad Hari Wardoyo.

SANDI NARANG namanya. Dia populer dengan nama inisialnya; SN. Wajahnya tampan, senyumnya menarik. Usianya sudah 60an tetapi masih terlihat segar.

SN adalah pejabat publik yang disegani. Dia seorang politisi yang sudah berada di puncak karir. Dia juga kaya. Duitnya banyak, rumahnya mewah, dan mobilnya ada lima.

Kehidupan rumah tangganya harmonis. Isterinya cantik jelita. Dua anaknya sedang kuliah di luar negeri. Sebagai manusia, dia sempurna.

Namun, akhir-akhir kehidupan SN tak tenang. Dia tersangkut kasus korupsi yang sebenarnya sudah lama dikait-kaitkan dengan dirinya.

SN tampaknya sulit berkelit. Tiba-tiba tersiar kabar. Tadi malam, dia terkena musibah. Mobil mewahnya menabrak tiang lampu penerang jalanan. Mobilnya lecet sedikit, tiang lampu jalan tetap berdiri tegak, supirnya tidak apa-apa, namun SN harus dilarikan ke rumah sakit.

Konon, kepalanya terbentur keras. Bahkan, pengacaranya tampil di media memberi kesaksian.

“Pak SN sedang dirawat. Kemungkinan besar beliau akan mengalami geger otak dan kemungkinan akan amnesia!”

Lalu, cuitan ramai berseliweran. Tidak banyak yang tahu. Di malam SN kecelakaan itu, dia baru saja pulang mengikuti pengajian Kyai Saleh di masjid Nurul Autar.

SN memang butuh seorang kyai. Sejak tersangkut kasus korupsi, SN linglung. Begitu banyak cemoohan dan ejekan yangditerimanya. SN terpuruk. Hidupnya tidak tenang.

Seorang kolega menganjurkannya untuk mengikuti pengajian Kyai Saleh. Merasa tidak punya pilihan, SN mengikuti saran itu.

SN tiba di masjid Nurul Autar ketika Azan Magrib berkumandang. Agar tidak memancing perhatian, SN menanggalkan pakaian mewahnya dan memakai baju supir yang kebetulan ada di mobil.

Usai salat Magrib, SN sengaja mengambil tempat bagian belakang dan mendengarkan ceramah Kyai Saleh.

“Orang yang teraniaya adalah kekasih Allah. Nabi Muhammad diturunkan selain untuk misi teologis, juga untuk misi pembebasan manusia dari situasi ketertindasan,” demikian kata Kyai Saleh.

“Siapa orang teraniaya itu Kyai?” Tanya Dani dengan kening mengkerut.

“Orang yang haknya diambil secara paksa. Rakyat miskin itu orang tertindas karena haknya diambil secara paksa oleh para koruptor.”

Wajah SN memerah. Kalimat-kalimat Kyai Saleh menyinggung dirinya. Dia ingin segera pergi, tetapi situasi tidak memungkinkan. SN mengikuti pengajian hingga selesai, dengan perasaan terpaksa.

“Tetapi jadi orang tertindas itu sebenarnya nikmat. Dapat pahala tanpa bekerja. Orang yang teraniaya akan mendapatkan pahala dari orang yang menganiayanya. Jika kamu menganiaya orang dan kamu tidak minta maaf, maka pahalamu akan diberikan kepada dia. Jika pahalamu tidak banyak, maka dosanya yang akan diberikan kepadamu.”

Pengajian berakhir. Seorang jamaah berdiri mengumandangkan azan Salat Isya. Seusai salat, SN pulang. Aneh, dia pulang dengan tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya.

“Biar saya yang nyetir mobil, ya,” kata SN.

“Jangan pak. Saya tidak enak”

“Tidak apa-apa. Sepertinya tidak lama lagi aku akan dipenjarakan. Biarlah malam ini aku yang membawa mobil. Giliran kamu yang jadi bos.”

“Jangan pak!”

Tetapi SN tetap memaksa. Supir pribadinya mengalah. SN mengelilingi kota Makassar dengan kecepatan sedang. Kira-kira 30 km per-jam.

Lalu, entah kenapa SN seolah kehilangan kendali. Mobilnya menabrak salah satu tiang lampu penerang jalanan.

***

Berita menyebar cepat. Peristiwa kecelakaan itu menjadi headline media lokal, media nasional, dan media sosial.

Foto-foto SN yang terlihat lemas, botol infus, dan kepalanya yang diperban viral di media sosial. Komentar nyinyir, mengejek, mencela, mencaci SN pun memenuhi ruang virtual dari setiap akun yang memposting foto SN.

#savetianglistrik menjadi trending topik. Demam cacian pun mewabah hingga ke dunia nyata.

Beberapa orang di sudut Warung Kopi Daeng Nompo, dekat Masjid Nurul Autar ikut memperbincangkannya.

“Ah, SN ini hanya pura-pura. Dia pasti sengaja menabrakkan diri ke tiang listrik. Nanti pura-pura amnesia, agar bisa terlepas dari jeratan hukum.”

“Kalasi memang ini orang. Sudah korupsi, cari-cari lagi cara untuk menipu hukum. Dasar!”

“Tidak jantan sekali. Bikin malu-malu saja.”

Itu sekelumit obrolan yang memenuhi ruang sosial warga Kalimana. Sikap SN membuat publik muak. Segala jenis sumpah serapah pun ditumpahkan. Dunia maya dan dunia nyata dalam sepekan menjadi simulakra cacian, hinaan, dan murka.

“Kalian sedang terjebak dalam permainan SN,” kata Kyai Saleh ketika murid-muridnya mempertanyakan kasus kecelakaan itu.

“Maksud Kyai?” Yusran mengernyitkan dahi.

“Yang dilakukannya adalah upaya spritual agar Tuhan berkehendak menyelamatkannya.”

“Ah, kalimat Kyai terlalu rumit dipahami. Sederhanakanlah!” Kata Ais menyela.

“Dia sedang berupaya menjadi orang yang teraniaya.”

“Loh… siapa yang menganiaya? Bukannya dia sendiri yang menganiaya. Kalau benar dia terbukti korupsi. Dialah yang menganiaya rakyat miskin, Kyai,” Tesa ikut nimbrung.“

“Ya…benar. Karena perilakunya itulah, SN sekarang sulit hidupnya. Dia tidak bahagia meski kaya. Dia ketakutan terus menerus. Dia terus mencari cara agar terhindar. Dan memilih cara sekarang ini?”

“Cara apa?”

“Kecelakaan.”

“Kecelakaan? Bukankah itu kebohongan publik?”

“Kalau itu betul maka dia akan berdosa dengan perilaku itu.”

“Lalu?”

“SN sedang ingin menambah pahalanya dari kalian semua.”

“Maksudnya, Kyai?”

Yusran, Tesa, dan Ais semakin kebingungan.

“Siapa diantara kalian yang tidak menghina dan mengejek SN gara-gara kecelakaan ini.” Semua terdiam.

Yusran menumpahkan kemarahannya di akun twitternya. Tesa sudah membuat meme yang “mengejek”, dan Ais baru saja ikut nimbrung mengolok-olok SN di akun facebooknya.

“Tanpa kalian sadari, kalian secara sukarela membantu SN agar Tuhan menyelamatkan dia, baik di dunia terlebih lagi di akhirat.” Lanjut Kyai Saleh.

“Membantu bagaimana Kyai? Mana sudi saya membantu orang kalasi seperti itu.”

“Tapi baru saja kamu membantunya.”

“Ah, Kyai dari tadi membingungkan kata-katanya.”

“Begini. Setiap cemoohan, hinaan, dan ejekan kalian terhadapnya sejatinya kalian telah menyumbangkan pahala kalian kepada SN. Ingat pengajian kita minggu lalu tentang orang teraniaya. Kalau kalian defisit pahala, dosa SN yang akan diberikan kepada kalian.”

“Itu kan, nanti di akhirat, Kyai!”

“Pahala dan dosa itu juga terkait dengan kehidupan dunia. Orang yang banyak pahala akan mudah mendapatkan kasih sayang dari Tuhan.”

“Jadi, Kyai?”

“Saya khawatir, pahala-pahala yang kalian sumbangkan ke SN menjadi tameng pelindung baginya. Pahala-pahala kalian menjadi jalan baginya disayangi oleh malaikat.”

“Apa itu mungkin?”

“Sangat mungkin. Maka, jangan mengejek. Tahanlah diri kalian untuk mengangkat derajat orang yang terhina dengan hinaan kalian.”

Kyai Saleh melangkah dan meninggalkan para muridnya yang terbengong dengan kalimat-kalimatnya.

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.