Locita

Hoax, Alan Sokal, dan Kyai Saleh

Sumber Gambar. (Ilustrasi Spectator.co.uk

Alan Sokal. Nama yang membuat Yusran penasaran. Nama ini muncul dalam perdebatan tentang hoax antara Reynald Kashali dan Rocky Gerung di salah satu stasiun teve nasional.

Alan Sokal telah melalukan penipuan ilmiah yang oleh Rocky Gerung disebut sebagai asal usul hoax dalam suatu acara TV nasional beberapa minggu lalu.

Yusran segera mengambil laptop dan mulai berselancar mencari tahu tentang peristiwa Alan Sokal. Ketemu. Nama Alan Sokal muncul dibagian dari laman google search.

Dia mulai memilah-milah berita yang tertera di layar laptopnya. Dia memutuskan untuk membuka salah satu artikel yang dianggapnya menarik. Yusran mengambil kaca matanya dan bersiap untuk membaca.

Alan Sokal adalah seorang professor fisika yang menulis artikel transgressing the Boundaries, Toward a transformative Hermeneutics of Quantum Gravity. Artikel setebal 39 halaman ini ditulis dengan bahasa yang menarik dan ambisius.

Ada jawaban-jawaban mengejutkan dalam dunia fisika yang sangat menarik untuk dipublish. Walhasil, artikel ini dikirimkan ke jurnal ternama di Amerika Serikat, Social Text dan berhasil diterbitkan.

Tak diduga, Alan Sokal rupanya sedang membuat fake paper (makalah palsu). Metode yang digunakan adalah metode satire, asal-asalan.

Bukan makalah ilmiah. Sokal sengaja melakukannya untuk menguji standar intelektualitas dengan membuat makalah yang “dekat” dengan ideologi para pemilik jurnal itu. Sokal berhasil membuktikan bahwa intelektualitas dengan mudah dikalahkan oleh emosi ideologis.

Yusran geleng-geleng kepala. Alan Sokal bermain-main dengan kebenaran untuk menguji “akal sehat” tim redaksi jurnal terkemuka di Amerika. Hasilnya mencengangkan. Hoax Alan Sokal ditelan habis-habis.

Yusran mulai paham mengapa hoax cepat merasuki otak politik Bangsa Indonesia.

Yusran segera menutup laptopnya dan bergegas menuju masjid. Azan magrib sudah berkumandang dari masjid Nurul Autar.

******

“Kyai. Saya sudah mengerti mengapa hoax mudah meraja lela dalam dunia politik kita.” Kata Yusran kepada Kyai Saleh selepas salat Magrib. Sore ini tak ada jadual pengajian. Yusran dengan cepat mendekati Kyai Saleh.

“Oh, ya? Bagaimana itu.”

“Orang mudah percaya karena kesamaan kelompok. Jadi apapun yang diucapkan oleh orang dalam kelompoknya, pasti dipercaya tanpa berupaya untuk mencari tau dulu kebenarannya.”

“Cocok. Persis kasus Ratna Sarumpaet, dulu. Semua ramai-ramai percaya kalau Ratna dipukuli. Bahkan sampai bikin konfrensi press. Deeehh!” Tesa menyela.

“Ka… janganmi itu jadi contoh Tesa. Na, dipihak Jokowi juga banyak tongji begitu-begitu.” Sampara bersungut-sungut.
Kyai Saleh tersenyum.

“Sudah-sudahmi berdebat tentang pilpres. Sudahmi juga orang memilih. Tinggal sabar tunggu hasil dari KPU.”

Tesa dan Sampara diam tersipu malu.

“Mengapa bisa begitu analisismu Yusran?”

“Begini Kyai. Ada kecenderungan kita ini kalau sudah satu kelompok atau satu pihak pasti membenarkan apa saja yang ada. Sebaliknya dari kelompok lawan pasti salah. Subyektifitas kita mendahului kritik kita.”

“Keadilan berfikir.” Gumam Kyai Saleh.

“Apa Kyai?” Yusran meminta Kyai Saleh mengulang ucapannya yang terdengar samar.

“Sebagian dari kita mulai kehilangan keadilan berfikir.”

“Behh… canggih sekali istilah ta Kyai?”

Kyai Saleh tersenyum, “Para ilmuwan dari jenis ilmu pengetahuan manapun, termasuk agama tidaklah gegabah dalam menentukan kebenaran. Ilmu fiqih menggunakan macam-macam istinbath atau metode dalam menetapkan kebenaran. Tidak asal sesuai atau tidak sesuai dengan cara pandang kita langsung terima atau tolak.”

“Betul, Kyai. Saya suka bahasa Rocky Gerung. Hoax yang dibuat Alan Sokal adalah untuk menguji kepekaan tim editor Social

Text terhadap ilmu pengetahuan yang dekat dengan ideologi para tim editor. Hasilnya diterima. Sebaliknya, andai Alan Sokal menulis karya ilmiah beneran tetapi dengan cara pandang berbeda pasti tertolak mentah-mentah.”

“Cocokmi.. dia juga kena jebakan Ratna Sarumpaet. Dia seperti editor Social Text dan Ratna seperti Alan Sokal. Karena temannya, langsung percaya. Kenapa? Karena Rocky terjebak dalam emosi pertemanannya dengan Ratna.”

“Kenapa kah Ratna Sarumpaet terus kau mubahas Tesa.!” Sampara bersungut-sungut.

“Kau iya. Mubela terus itu nenek-nenek!” Tesa balas menyeringai.

Semua yang hadir tersenyum.

“Siapa itu Alan Sokal?” Tanya Kyai Saleh.

“Itu Kyai… baruji juga kutau dari google.” Yusran lalu menjelaskan sedikit yang dia ketahui tentang Alan Sokal. Kyai Saleh manggut-manggut.

“Kalau menurut kita bagaimana Kyai?”

“Tujuan pengetahuan sebenarnya mulia. Untuk membantu manusia menemukan jalan keluar dari permasalahan kehidupan.

Teknologi misalnya diciptakan untuk kebaikan manusia. Sayangnya ada jenis manusia yang menggunakan pengetahuan untuk kepentingannya sendiri.

Di sini masalahnya. Pengetahuan sudah terlanjur dianggap sebagai sumber kebenaran. Jika para intelektual menggunakan pengetahuan untuk kepentingan pragmatis, maka intelektualisme akan mati. Ironisnya, dia mati karena dibunuh oleh kaum intelektual itu sendiri.”

“Jadi, pengetahuan sudah mati.”

“Ya, ketika pengetahuan berada di tangan yang salah. Dia telah mati. Dia gagal menjadi solusi, bahkan sebaliknya pengetahuan menjadi sumber masalah. Para intelektual menjadi hamba dari para politisi dan kaum kapitalis.

Mereka menghadirkan pengetahuannya bukan untuk kepentingan kebenaran, tetapi membenarkan keberpihakan.

Lihatlah perdebatan para intelektual di televisi. Mereka hanya mempermainkan kata-kata. Berkelit ketika tersudut. Mencari-cari alasan dengan diksi yang aduhai. Padahal, dia sedang membela tuannya.”

Para santri terdiam mendengar kalimat serius Kyai Saleh.

“Yang paling berbahaya apabila agama diperlakukan demikian. Seorang mengaku ulama tampil dengan ayat-ayat. Berbagai tafsir tanpa rujukan kuat dilontarkan.

Padahal tujuannya dukungan politik. Agama telah terjual murah oleh para agamawan sendiri.”

Para santri masih terdiam. Kalimat Kyai Saleh seperti senandung lirih. Seorang Kyai yang sedang gundah melihat agama dipertarungkan di medan politik.

“Yang korban umat. Disuguhi dengan pengetahuan yang politis. Satu direndah-rendahkan.

Satunya lagi dilebih-lebihkan. Umat tentu percaya saja dengan para tokoh agamanya.

Seperti kalian percaya dengan saya. Kalau saya bohong dengan menggunakan ayat pun, kalian pasti percaya.

Itulah bebanku. Itulah tanggungjawabku. Allah menitipkan pengetahuan agama kepadaku. Maka betapa hinanya, jika pengetahuan agama ini kugunakan untuk saling memperkelahikan umat. Hayhata, Hayhata!”

Monolog Kyai Saleh membuat suasana malam terasa lebih hening. Para santri terdiam. Wajah Kyai Saleh sedang menunjukkan keseriusan. Ada semburat sedih di wajahnya meski agak samar. Tetapi cukup menjadi tanda bagi para santri kalau Kyai Saleh sedang berduka.

“Tesa, Sampara! Berhentilah berdebat tentang presiden. 01 dan 02 sudah berlalu. Kalian harus menjadi pelopor dari persatuan. Jangan menjadi bagian dari mereka yang sedang bersiap perang. Negara kita adalah warisan ulama. Kita wajib menjaganya sampai kapan pun.”

Tesa dan Sampara mengangguk pelan.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

14 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.