Locita

Gempa dan Ujian Kemanusiaan Kita

Allahu Akbar-Allahu Akbar!!

Suara azan Sampara terdengar lirih dari Masjid Nailul Autar, tak seperti biasanya. Pelan dan nyaris tak bertenaga.

Sampara, sang muadzin Masjid Nurul Autar tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ceruk hatinya sedang terisi gelisah. Nuraninya sedang cemas. Istri Sampara, dua hari yang lalu berangkat ke Palu untuk menengok ibu mertuanya yang sedang sakit. Dan kemarin, Palu dihantam gempa berskala 7.7 skala richter dan Tsunami yang konon meratakan sebagian wilayah Kota Palu, Donggala, dan sekitarnya.

Daeng, gempaki Palu… demikian pesan terakhir istrinya. Lalu hening. Tak ada lagi kabar. Berkali-kali Sampara menghubungi ponsel istrinya dan semua keluarga yang ada di sana. Namun, tak ada yang tersambung. Seperti gila, Sampara terus mencoba. Meski dia tahu jaringan komunikasi sedang rusak, tetapi Sampara berharap sedikit keajaiban. Berharap mendengar kabar tentang istri dan kerabatnya.

Tapi hening! Sampara pasrah. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali merapikan cemasnya dengan doa dan beberapa bacaan zikir penenang jiwa.

Jika kali ini, suara azan Sampara terdengar sumbang dan tidak sampai pada oktaf bisanya, maka pahamilah. Gelisah sedang menderanya.

*****

“Sebelum memulai pengajian, mari kita berdoa untuk saudara-saudara kita di Kota Palu, Donggala dan sekitarnya. Agar mereka semua diberi keselamatan. Dan, yang telah meninggal dunia mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah subhanahu wa taala!” demikian kata Kyai Saleh.

Semua mengucap amin, kecuali Sampara. Dia hanya diam dan terpaku sembari melantunkan doa.

“Mari juga kita doakan semoga, isteri dan keluarga Sampara selamat dan dalam keadaann sehat.”

“Aaamiin!” Sampara mengangkat pandangan. Dia berharap dengan sungguh-sungguh, doa yang diucapkan Kyai Saleh menjadi tuah bagi keluarganya.

“Kenapa gempa beruntun terjadi di negara kita, Kyai?” Tanya Ais tiba-tiba. Kyai Saleh yang baru saja membuka kitab memandang lurus ke arah Ais.

“Saya tidak paham penjelasan ilmiahnya. Tetapi setahu saya, ada memang daerah yang rawan gempa. Carilah informasi, biasanya suatu tempat yang terkena gempa, sebelumnya sudah pernah terkena gempa”.

“Iye, Kyai. Ini saya searching di internet ternyata memang Palu rawan gempa. Sudah 18 kali sejak tahun 1800an. Bahkan istilah sesar palukoro diberikan oleh ahli geologi J.A. Katili, Kyai.”

“Nah, ini bisa dikatakan bahwa struktur bumi di daerah Palu itu rawan gempa.”

“Tapi ada yang bilang gempa ini adalah azab karena kelakukan kita yang penuh dosa, Kyai? Bagaimana itu?” Tanya Ale.

“Status bencana alam itu sebagai azab, musibah, atau ujian tidak ada manusia yang bisa tahu pasti. Itu hak Allah. Dia yang berhak menetapkan apakah gempa Palu itu azab atau hanya musibah biasa.”

“Tapi, saya baca di media sosial katanya karena ada ulama yang dikriminalisasi, makanya Tuhan marah karena kita tidak menghargai ulama.” Yusran ikut berbicara

“Iye, Kyai. Saya juga baca. Palu di azab karena banyak maksiat disana.” Sambung yang lain.

Kyai Saleh tidak lantas menjawab. Lelaki separuh baya itu menghela nafas berat.

“Itu bisa benar bisa juga tidak,” ucapnya pelan

“Maksudnya, Kyai?”

“Dalam Alquran dan hadits Nabi memang dijelaskan bahwa Tuhan sudah memperingatkan agar manusia tidak banyak berbuat kejahatan agar dunia tetap berada dalam keseimbangan. Nafsu serakah manusia dalam mengeksploitasi alam menyebabkan hutan gundul dan tidak memiliki kemampuan menjaga keseimbangan. Musibah banjir pun datang.”

“Jadi benar, musibah ini adalah azab Tuhan.”

“Saya sudah katakan tadi, itu benar-benar hak preoregatif Tuhan. Tidak ada satu pun manusia yang ada di bumi ini yang bisa memastikan, dosa jenis mana yang menyebabkan gempa di Palu dan kenapa itu terjadi di Palu, bukan di tempat lain. Tidak ada kuasa manusia untuk mengetahuinya. Semuanya bersifat spekulasi!”

“Lalu kenapa ada orang yang yakin bahwa itu karena azab.”

“Tanyakanlah pada orang itu. Tentu dia memiliki alasannya sendiri. Tetapi, urusan Tuhan janganlah menjadi urusan manusia.”

Kyai Saleh terdiam sejenak. Diraihnya botol air mineral yang ada di depannya sembari menunggu pertanyaan dari para santrinya. Namun, para santri ikut terdiam.

“Suatu hari, Ibrahim putera Nabi Muhammad meninggal dunia. Beberapa saat setelah itu terjadi gerhana matahari. Nabi kemudian melarang untuk mengaitkan fenomena itu dengan kematian dan kelahiran. Nabi Muhammad hanya meminta sahabat untuk berdoa.”

“Apa maksudnya, Kyai?”

“Nabi melarang kita mengaitkan-ngaitkan fenomena alam dengan sesuatu yang kita tidak bisa yakini kebenarannya. Hakikatnya, fenomena alam yang terjadi adalah ujian kemanusiaan kita, baik sebagai hamba maupun sebagai makhluk sosial. Apa yang sudah kita lakukan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah? Perenungan apa yang kita peroleh saat bencana datang.”

“Tetapi kan tadi Kyai bilang, musibah di dunia ini terhubung dengan perbuatan manusia. Dosa manusia yang menyebabkan kerusakan alam terjadi.” Tesa ikut menyela.

“Betul. Itu rumusnya. Tetapi memastikan bahwa jenis dosa ini yang memicu gempa di Palu misalnya itu adalah pengetahuan Tuhan yang tidak dititipkan kepada manusia. Rumus agama yang mengatakan bahwa musibah adalah akibat dari perbuatan manusia adalah pengingat abadi untuk memperbaiki diri. Setiap terjadi musibah atau fenomena alam seharusnya menjadi pengingat diri sendiri. Bukan sebaliknya, musibah dijadikan sebagai alat untuk mengambil alih pengetahuan Tuhan. Itu bisa takabbur!”

“Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa karena banyak dosa disana, maka terjadi gempa?”  Tesa kembali bertanya.

“Kalau kamu sudah memiliki tingkat spiritual yang sangat tinggi dan berhasil menembus catatan spiritual di  Arasy dan kamu bisa memastikan jenis dosa mana yang mengakibatkan gempa, silahkan!”

“Aii… tidak ada yang bisa begitu kayaknya, Kyai.”

“Maka dari itu, sebaiknya kita menahan diri. Kita yang aman-aman saja di sini tidak berarti bahwa kita lebih mulia dari mereka yang terkena musibah. Bayangkan jika kamu berada di posisi mereka, lalu mendengar orang berkata, kalian di azab! Betapa hancurnya hatimu.”

Lalu hening. Kata-kata Kyai Saleh meresap ke dalam batin mereka.

“Jika tidak bisa menghibur mereka yang sedang duka lara, setidaknya janganlah menambah luka di hati mereka.”

Suasana kembali hening. Suara azan dari masjid kampung sebelah. Kyai Saleh segera menutup pengajian.

“Baiklah. Ais, Tesa, Ale, dan yang lain besok bikin posko sumbangan untuk korban di Palu dan sekitarnya. Dan, ingat! Jangan menambah luka mereka dengan perkataan yang tidak penting di media sosial. Mari berdoa!”

Penulis: Pepi Al Bayqunie

 

 

 

admin

tukang utak-atik locita.co

Add comment

Tentang Penulis

admin

tukang utak-atik locita.co

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.