Locita

Doa yang Tertukar?

PERTANYAAN berkelabat dalam kepala Ais seketika saat bertemu dengan Kyai Saleh yang saat itu sedang bersiap pulang ke rumah, usai Salat Asar.

“Kyai, benarkah itu istilah doa yang tertukar?”

“Siapa sede bilang begitu?”

“Itu, Kyai. Doa Kyai Maimun Zubair yang salah sebut nama. Jadi bahan politik lagi. Ada politisi yang bikin puisi. Itumi judulnya doa yang tertukar.”

Kyai Saleh hanya tersenyum. Lelaki tua nan karismatik ini tidak segera menjawab pertanyaan Ais. Dia lebih memilih merapikan sajadah dan berdiri.

“Ikutlah ke rumah. Ajak yang lain. Ada sesuatu yang ingin kuceritakan kepada kalian. Enak sambil makan pisang goreng dan minum kopi. Kemarin saya dapat kiriman utti manurung dari kampung.”

Ais tersenyum ceria. Dia beranjak keluar dari masjid sembari mengikuti Kyai Saleh bersama beberapa orang santri lainnya.

Setelah kopi dan pisang goreng tersedia, Kyai Saleh menepati janjinya untuk menceritakan sesuatu yang pernah terjadi puluhan tahun lalu. Kala itu, Kyai Saleh masih nyantri ke Mbah Bisri.

****

Subuh itu, Barak yang bertugas azan. Pukul 04.00 dia sudah bangun dan membangun dua orang kawannya, Saleh dan Jafar. Ketiga santri ini berjalan menembus dinginnya hawa subuh.

Langkah kaki tiga santri ini tertahan ketika tiba di masjid. Dua orang berpakaian lusuh dan bertampang seram sedang tertidur dalam keadaan duduk di sudut masjid.

“Siapa mereka?” bisik Barak dengan nada ketakutan.

“Jangan-jangan mereka orang jahat yang sering merampok warga kampung itu.” Kata Jafar dengan nada pelan pula. Mereka berjalan perlahan mendekati dua orang lelaki yang sedang mendengkur.

“Jangan bangunkan. Ayo kita panggil Mbah Bisri. Kalau mereka bangun bisa gawat. Ilmu silat kita belum matang.” Bisik Saleh. Jafar dan Barak menghentikan langkah. Usulan Saleh cukup masuk akal.

Ketiga santri itu segera berlari menuju rumah Mbah Bisri.

Mereka melaporkan kejadian itu kepada Mbah Bisri dengan napas terengah. Mbah Bisri segera menuju masjid.

Setiba di masjid, Mbah Bisri dengan pelan membangunkan kedua lelaki itu. Cukup lama Mbah Bisri berupaya membangunkan namun keduanya tetap terlelap. Mbah Bisri memberi isyarat kepada Saleh untuk mengambil air di sumur.

Kedua lelaki itu gelagapan ketika Mbah Bisri menyiram air ke wajah mereka.

Para santri bersiap siaga. Mereka khawatir kedua lelaki itu akan menyerang. Ternyata tidak. Kedua lelaki itu malah sujud di bawah kaki Mbah Bisri dan memohon maaf.

“Ampun Kyai. Semalam kami berniat mencuri di pesantren ini. Tapi entah kenapa kami tersesat ke masjid ini. Kaki dan tangan kami seperti terikat. Kami tidak bisa keluar dan tertidur. Sekali lagi, ampun dan mohon maafkan kami.”

Mbah Bisri lega. Para santri pun ikut lega. Mereka yakin keramat Mbah Bisri-lah yang menyebabkan kedua lelaki ini terperangkap di masjid.

“Berarti Tuhan memberi isyarat baik. Kalian disesatkan ke masjid. Itu tanda baik. Bayangkan kalau kalian tersesat di hutan dan diterkam oleh binatang buas. Habis kalian. Inilah tanda kasih sayang Tuhan kepada kalian.”

“Tuhan menyayangi kami? Tidak salah, Kyai. Kami ini perampok dan sering melukai orang. Apa kami punya tempat untuk dikasihi oleh Tuhan?.”

“Kasih sayang Tuhan tak terbatas kepada siapapun. Mungkin saja kalian pernah melakukan kebaikan kecil yang tulus kepada seseorang. Dan, Tuhan membalasnya dengan menuntun jalan kalian ke masjid ini.”

Kedua lelaki itu terdiam. Mereka mengais-ngais ingatan tentang kebaikan yang pernah mereka lakukan. Tetapi mereka tak menemukan secuilpun kecuali ingatan-ingatan tentang kejahatan yang muncul dengan acak.

“Kami ingin taubat, Kyai.” Kata salah seorang setelah sekian lama terdiam.

Mbah Bisri tersenyum lembut. Disentuhnya tangan lelaki itu.

“Alhamdulillah. Kalau begitu kalian ambil wudhu dan ikut salat subuh bersama kami. Jafar tolong ke rumah minta sarung dan baju kaos ku sama ibu!”

Barak segera mengumandangkan azan Subuh. Para santri lain mulai berduyung-duyung mendatangi masjid.

“Jika kalian ingin bertaubat, bertaubatlah dengan sungguh-sungguh! Tinggalkan kejahatan yang selama ini kalian kerjakan. Pulanglah dan bekerjalah dengan baik. Lakukan hal-hal baik meski itu kecil.” Kata Mbah Bisri seusai salat Subuh.

Kedua lelaki itu menganggukkan kepala.

“Kyai, bolehkah kami minta didoakan agar sukses. Saya punya sepetak tanah peninggalan bapak. Saya ingin mengelolanya.”

“Saya juga Kyai. Saya punya perahu dan pukat yang bisa saya gunakan mencari ikan di laut.”

“Siapa nama kalian?”

“Saya Abdul Kadir, Kyai.” Jawab lelaki yang ingin menjadi petani itu.

“Saya Abdul Salam, Kyai.” Kata lelaki yang ingin menjadi nelayan tadi.

“Wah, nama kalian bagus-bagus. Baik para santriku…. Mari berdoa untuk kedua orang ini.” Mbah Bisri segera menadahkan tangan. Para santri mengaminkan dengan seksama dan khusyu.

“Ya Allah…. Kami memohon berkat-Mu. Jadikanlah Abdulsalam sebagai petani yang sukses. Dan Jadikanlah saudara kami Abdul Kadir sebagai nelayan yang berhasil. Berkatilah setiap usaha mereka.” Mbah Bisri mengakhiri doa dan mengusap wajahnya.

Saleh mengernyitkan dahi. Dia merasa ada yang keliru dalam ucapan doa Mbah Bisri. Keanehan itu juga rupanya dirasakan oleh santri yang lain. Namun, mereka tidak mengatakan apa-apa.

Perhatian mereka teralihkan dengan sikap kedua orang yang didoakan ini. Keduanya menghambur ke arah Mbah Bisri sembari menangis.

Setahun kemudian, kedua lelaki itu datang lagi ke pesantren. Mereka datang dengan wajah yang berbeda. Pakaian mereka bersih dan rapih. Tak ada kesan jahat di wajah mereka.

Namun, bukan itu yang membuat para santri tersenyum bahagia, melainkan oleh-oleh yang dibawa oleh mereka. Abdul Kadir telah sukses menjadi petani buah dan Abdul Salam telah berhasil menjadi nelayan. Mereka datang ke pesantren membawa satu mobil buah segar dan beberapa keranjang ikan laut. Tak lupa mereka memberi sangu kepada setiap santri yang ditemui.

“Terima kasih, Kyai. Atas doa Kyai, kami telah menjadi orang yang benar.” Kata Abdul Kadir. Mbah Bisri memberi senyum terbaiknya.

Setelah sejam lebih bercerita, kedua lelaki itu pamit.

“Kyai. Ada satu pertanyaan yang mengganjal hati saya selama setahun ini.” Kata Saleh begitu kedua lelaki itu menghilang dari pandangan.

“Apa itu, nak Saleh? Apa yang membuatmu bertanya-tanya?”

“Setahun lalu, Kyai salah menyebut nama ketika berdoa. Kyai menyebut nama Abdul Kadir untuk menjadi nelayan yang baik, padahal dia minta didoakan sebagai petani. Juga, Kyai salah sebut untuk Abdul Salam yang minta sebagai nelayan, Kyai malah doakan sebagai petani.”

Mbah Bisri tersenyum kecil, “Lalu apa yang mengganjal di hatimu?”

“Saya khawatir gara-gara Kyai salah sebut nama, kedua orang ini tertukar rezekinya. Tapi ternyata tidak. Mereka sukses sesuai dengan cita-citanya.”

“Anakku. Kalian tidak bisa berfikir bisa menipu Tuhan dengan salah ucap atau salah kata. Hari itu boleh jadi saya salah sebut nama karena kesilafan saya sebagai manusia. Tetapi Tuhan Maha Tahu yang ada di hati saya dan juga yang terbaik untuk hamba-Nya. Permintaan manusia melalui doa hanyalah ikhtiar. Berdoa adalah adab kepada Tuhan. Penanda posisi diri kita sebagai hamba yang meminta. Selebihnya Tuhan-lah yang berkehendak,” kata Mbah Bisri.

***

Kyai Saleh menghentikan cerita sembari menyeruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Jadi istilah doa yang tertukar, bagaimana Kyai?” Ais menegaskan pertanyaannya.

“Saya ikut kata guruku Mbah Bisri.  Bahwa Tuhan Maha Tahu. Tuhan tidak akan tertipu dengan kata-kata yang tertukar atau tersilap. Yang menganggap doa bisa tertukar, berarti meragukan Tuhan sebagai  zat yang Maha Tahu.”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

7 comments

  • Wow…keren sekali. Memberi sentilan kesadaran pada pembaca agar tidak terlalu mudah terbawa arus pemikiran bernuansa politik.

  • I actually wanted to make a small note so as to express gratitude to you for all of the splendid guides you are writing on this site. My prolonged internet research has finally been honored with pleasant details to talk about with my neighbours. I would state that that most of us site visitors actually are undeniably blessed to live in a good network with so many brilliant individuals with very beneficial tips. I feel quite lucky to have come across your web site and look forward to tons of more enjoyable minutes reading here. Thanks a lot once more for a lot of things.

  • I’m commenting to make you be aware of of the amazing discovery our princess obtained reading through yuor web blog. She figured out plenty of pieces, which included what it is like to possess an excellent giving mindset to make other folks completely completely grasp a number of hard to do subject areas. You really did more than my expectations. Many thanks for producing these informative, trusted, explanatory and even unique guidance on the topic to Ethel.

  • I precisely wanted to appreciate you yet again. I am not sure the things that I might have carried out without the entire strategies documented by you directly on that field. It was before a very traumatic concern in my view, however , spending time with the specialised avenue you solved that made me to leap for contentment. I am thankful for your assistance and then trust you recognize what a great job you are putting in educating men and women via your site. Probably you’ve never met all of us.

  • Thanks for all your valuable efforts on this website. My mom really loves working on internet research and it’s really simple to grasp why. I know all concerning the dynamic method you render practical things via this web site and therefore inspire participation from other ones on that subject matter and our favorite daughter is always discovering a lot. Enjoy the rest of the year. You have been conducting a glorious job.

  • Thanks so much for providing individuals with an extremely terrific chance to read articles and blog posts from here. It’s always so superb and as well , packed with a good time for me and my office acquaintances to search the blog more than thrice in one week to read through the newest guides you will have. Of course, I am also usually satisfied considering the powerful guidelines served by you. Some two points in this article are surely the finest I have ever had.

  • I’m also commenting to make you be aware of what a beneficial discovery my friend’s girl enjoyed reading yuor web blog. She mastered several issues, with the inclusion of what it is like to possess an incredible helping heart to have the others easily have an understanding of a variety of complex subject areas. You undoubtedly surpassed our expected results. Thank you for showing these interesting, trusted, revealing and in addition easy tips on the topic to Evelyn.

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.